Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pertanyaan Anda

Pertanyaan:

Anak kami, usia 7 tahun, inginnya main melulu. Namun sampai saal ini ia tidak melalaikan pelajarannya, meskipun harus disuruh atau diingatkan. Prestasinya pun lumayan baik. Perlukah kami mengurangi waktu bermainnya dan apakah perilakunya ini sehat?

Jawab:

Setiap anak yang lahir ke dunia sudah dilengkapi Tuhan dengan kecenderungan untuk bermain. Sebelum anak memasuki dunia belajar, yakni sekolah, ia terlebih dahulu terjun ke dalam dunia bermain. Seharusnya memang begitu karena bermain berkaitan erat dengan pertumbuhan jiwanya. Pertumbuhan jiwa yang sehat seyogianya diawali dengan bermain dan secara teratur dipupuk melalui permainan. Ada sekurang-kurangnya tujuh manfaat bermain bagi pertumbuhan anak-anak yang akan saya paparkan di bawah ini.

Pertama, melalui permainan yang bersifat fisik, anak melatih keterampilan jasmaninya, misalnya bermain lompat tambang dapat menolong anak mengkoordinasi kedua tangan dan kakinya. Bermain juga baik bagi kesehatannya, mengencangkan otot-otot tubuhnya, dan bermanfaat bagi pertumbuhan tulang-tulangnya.

Kedua, bermain juga berguna untuk melatih daya kreativitas anak. Apabila kita perhatikan, anak sebenamya hampir tidak membutuhkan alat (mainan) untuk bermain. Tinggalkan ia dengan anak-anak sebayanya, pasti mereka akan menciptakan pelbagai permainan. Pada waktu anak menciptakan permainan, sesungguhnya ia sedang melatih fungsi kreativitasnya. Pada saat ia bermain, baik sendiri atau dengan yang lain, ia sebetulnya sedang mengembangkan kemampuan untuk berpikir abstrak - kemampuan yang sangat ia butuhkan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolahnya (berpikir abstrak adalah "membayangkan" tanpa melihat bendanya secara langsung).

Ketiga, bermain merupakan wadah bagi anak untuk menumbuhkan keterampilannya untuk bergaul atau bersosialisasi. Melalui permainan, anak belajar memahami keinginan orang lain dan menaati peraturan. "Hukuman" yang dijatuhkan apabila ia bermain curang sebenarnya menjadi cikal bakal kesadarannya untuk hidup bermasyarakat. Ia disadarkan bahwa ia tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dan bahwa tindakannya membawa dampak pada orang lain. Dengan kata lain, ia belajar untuk tidak bersikap dan berbuat semaunya karena ia harus menempatkan dirinya pada diri orang lain.

Keempat, bermain juga berguna untuk menumbuhkan daya saing dan kemampuan bersaing secara sehat. Melalui permainan anak dilatih untuk berpikir "menang" dan melakukannya secara sehat. Secara alamiah, permainan menimbulkan keinginan anak untuk menang dan untuk mengatasi tantangan. Ia pun mulai belajar untuk tidak mudah menyerah atau putus asa melainkan belajar untuk mengalahkan kesulitan.

Kelima, bermain adalah sarana di mana anak belajar salah satu fakta hidup yang penting, yakni menerima kekalahan tanpa merasa kalah atau bersalah. Permainan memungkinkan anak menerima kekalahan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak mengancam harga dirinya secara fatal. Berbeda dengan sekolah di mana menerima nilai yang rendah sering kali membangkitkan perasaan kalah dan bersalah. Anak merasa kalah karena acapkali yang menerima nilai buruk tidak terlalu banyak sedangkan yang mendapat nilai bagus lumayan banyak. Anak dapat merasa bersalah karena pada umumnya sikap guru dan orangtua mempersalahkan mereka, seakan-akan mereka kurang giat belajar atau kurang serius.

Keenam, bermain juga baik bagi pertumbuhan intelektual anak. Permainan biasanya menuntut kreativitas dan kreativitas memerdekakan wawasan berpikir anak. Dalam permainan, anak belajar memecahkan masalah seefisien dan secepat mungkin. Tantangan-tantangan dalam permainan secara tidak langsung merangsang anak untuk berpikir secara tepat dan cermat. Konsentrasi anak juga dilatih melalui permainanpermainan tertentu dan konsentrasi adalah unsur yang penting dalam proses belajar.

Yang terakhir, bermain bermanfaat pula untuk mengurangi sires. Sires??? Saudara sekalian mungkin terkejut mendengar bahwa anak kecil dapat pula mengalami sires. Namun, memang anak dapat merasa tertekan sebagaimana kita juga rentan terhadap stres. Tuntutan senantiasa menimbulkan tekanan dan tekanan yang di luar kemampuan anak, dapat menyebabkan rasa tertekan yang besar. Perbedaannya adalah, kita bisa mengemukakan perasaan tertekan kita, sedangkan anak tidak begitu fasih, tergantung pada usianya. Bermain berfungsi melegakan anak dari stres akibat tuntutan sekolah dan orangtua, sehingga nantinya anak lebih mampu menyelesaikan tugas dan kewajibannya. Perasaan yang lega sudah tentu mempengaruhi proses berpikir anak; sebaliknya perasaan tertekan membuat anak tidak dapat berpikir dengan jernih.

Sumber
Halaman: 
3 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Januari Maret 1995, Vol. II, No. 1
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda
Tahun: 
1995

Komentar