Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Petunjuk Untuk Konselor Agar Berhasil dalam Konseling

Edisi C3I: e-Konsel 208 - Keterampilan Bagi Konselor

Berikut ini adalah tiga kata penting yang disebutkan oleh Dr. Gary Collins yang perlu dipelajari untuk konselor agar pelayanannya berhasil. Kata tersebut adalah: empati, kehangatan, dan ketulusan.

Empati

Empati adalah kata yang berasal dari bahasa Jerman "enfulung", yang artinya "merasakan di dalam" atau "merasakan bersama". Kebanyakan dari kita pernah merasakan pengalaman duduk di kursi penumpang dalam sebuah mobil yang sedang berjalan cepat. Kita akan ikut menjejakkan kaki kita kuat-kuat ke lantai mobil saat kita merasa bahwa mobil yang kita tumpangi perlu diperlambat jalannya. Pada saat-saat seperti itu kita ikut merasakan situasi yang dialami pengemudi dan kita ikut merasakan bersama dengannya.

Dalam konseling, konselor yang efektif berusaha untuk melihat dan memahami masalah yang dihadapi konseli dari sudut pandang konseli itu. Kita mungkin bertanya-tanya, "Mengapa ia sangat kecewa?", "Bagaimana ia memandang situasi yang dialaminya?" atau "Jika aku adalah dia, apa yang akan kurasakan?". Sebagai seorang konselor kita memang perlu menjaga sudut pandang untuk tetap obyektif, namun kita juga perlu menyadari bahwa kita akan sangat menolong konseli seandainya kita juga mampu melihat permasalahan dari sudut pandang konseli dan membiarkannya mengetahui bahwa kita memahami perasaannya dan sudut pandangnya terhadap masalah yang dihadapinya. Sebaliknya, konseli pun perlu mengetahui bahwa seseorang saat ini sedang berusaha memahaminya. Pemahaman timbal balik antara konselor dan konseli ini akan membangun jalinan rasa simpati dan saling pengertian yang maksimal.

Kehangatan

Kata kehangatan mungkin dapat disamakan dengan kata kepedulian. Kehangatan adalah keramahtamahan dan kepedulian yang ditunjukkan melalui ekspresi wajah atau raut muka, nada suara, bahasa tubuh, sikap badan, kontak mata, dan tindakan-tindakan nonverbal lainnya saat konselor berusaha menghibur konselinya. Kehangatan selalu mengungkapkan, "Saya peduli denganmu dan saya tahu bahwa engkau adalah orang yang baik." Di sini, sama halnya perilaku manusia pada umumnya, tindakan berbicara lebih keras dari pada kata-kata. Konselor yang memunyai kepedulian yang besar terhadap orang lain tidak perlu mengungkapkan penghiburannya secara verbal, setiap orang yang tahu pasti dapat merasakannya.

Ketulusan

Ketulusan artinya apa yang dikatakan konselor konsisten dengan tindakannya. Konselor selalu bersikap jujur terhadap konselinya dengan menghindarkan pernyataan-pernyataan yang dapat dianggap palsu atau tidak tulus. Seorang penulis pernah mengatakan bahwa orang-orang yang benar-benar tulus adalah orang yang spontan tetapi tidak impulsif, memunyai rasa hormat, konsisten dengan nilai-nilai yang dianutnya, sikapnya tidak defensif, sabar akan emosi dalam dirinya, dan mau berbagai mengenai dirinya sendiri serta perasaannya.

Gary Collin selanjutnya berkata bahwa Yesus telah memberikan teladan tentang empati, kehangatan, dan ketulusan. Demikian pula kita para konselor Kristen harus mampu melakukan hal yang sama. Namun pada praktiknya, sebagai konselor kita sering kali bersikap terlalu berlebihan terhadap salah satu dari ketiga karakteristik di atas. Kita mungkin akan terlalu berempati terhadap konseli sehingga kita menjadi kehilangan objektivitas kita, mungkin kita terlalu hangat sehingga konseli merasa dirinya dimanja, atau terlalu tulus sehingga konselor justru kehilangan pemahaman tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan konselinya. Oleh karena itu, konselor harus rajin memeriksa kembali motif yang dimilikinya ketika ia sedang memberikan konseling. Sebagai konselor, kebutuhan kita akan terpenuhi dalam hubungan konseling, tetapi tugas utama kita adalah menolong orang lain dalam menghadapi masalah-masalah atau pergumulannya.

Diterjemahkan dari:

Judul Buku :How To Be a People Helper
Penulis Buku:Gary Collins
Penerbit:Regal Books, U.S.A, 1975
Halaman :33 -- 34

TIPS (2)

Beberapa Hukum Bagi Konselor

Hukum I: Masalah adalah teman kita.

Tugas seorang konselor adalah menangani masalah. Bagi seorang konselor, masalah adalah teman, mengapa demikian? Yesus berkata: "Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat [karena masalah], Aku memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)

Dalam Injil Yohanes pasal 4 ditulis peristiwa Tuhan Yesus bertemu dengan seorang wanita Samaria. Wanita ini memunyai masalah dengan kehidupan rumah tangganya. Masalahnya ini merupakan keberuntungan bagi Tuhan Yesus (Yohanes 4:34). Jika ada orang yang datang mengemukakan masalahnya kepada Anda, sebagai konselor Anda harus menghadapinya dengan sikap sesuai dengan hukum pertama ini, jelas bukan dengan menjawab: "Wah, saya pun masih sedang menghadapi masalah ..." Tetapi jawablah: "Ada masalah? Puji Tuhan, ini adalah kesempatan bagi saya untuk melihat Penasihat itu bekerja dalam diri saya."

Adanya masalah merupakan kesempatan bagi orang tersebut untuk menghampiri Tuhan. Masalah dalam dunia ini mendorong orang mencari Tuhan. Bersyukurlah karena masalah adalah teman Anda yang membuka jalan agar orang lain mencari Tuhan. Hal yang sama juga jika masalah itu mendatangi Anda sendiri sebagai konselor. Masalah membawa Anda bergumul dan menguji diri sendiri, dengan demikian akan membawa Anda ke tempat yang lebih tinggi. Masalah membawa Anda untuk lebih menyelidiki rahasia kerajaan Allah. Biasakan diri Anda dengan sikap memandang masalah Anda sebagai teman Anda.

Jadilah seperti Tuhan Yesus (Yesaya 53:3-5) yang biasa dengan kesakitan, biasa dengan penderitaan. Bangunlah dalam diri Anda suatu sikap biasa terhadap masalah. Yang dimaksud di sini bukanlah sikap biasa dalam arti apatis (biasa dengan kesukaran dan menjalaninya dengan sikap acuh/putus asa); sikap yang harus Anda miliki adalah bahwa masalah merupakan makanan sehari-hari yang membawa Anda kepada keuntungan-keuntungan. Dari setiap masalah, Anda harus memperoleh keuntungan. Setiap kesukaran harus dapat diubah menjadi keuntungan, sebab masalah harus mendorong Anda meneliti Alkitab, sehingga Anda mengetahui lebih banyak karena Anda belajar lebih banyak. Dengan demikian Anda bisa mengerti masalah orang lain bahkan menolong orang lain.

Dalam Roma 8:31-39 dikatakan tidak ada yang dapat menceraikan kita dari kasih Allah. Oleh karena itu, sebagai orang yang mengenal Kristus kita adalah orang-orang yang lebih dari pemenang. Iblis si pembuat masalah sudah dikalahkan 2000 tahun yang lalu di kayu salib. Itu sebabnya masalah yang mendatangi Anda sudah selesai 2000 tahun yang lalu. Jadi, jika masalah mendatangi Anda sekarang sebenarnya Anda sudah menang. Kini yang menentukan adalah sikap Anda dalam perlombaan yang diwajibkan ini. Apakah Anda dalam "perlombaan yang diwajibkan" ini lari berlomba dengan iman, atau tidak?

Karena masalah itu sudah dikalahkan 2000 tahun yang lalu di kayu salib, maka orang Kristen tidak bersorak dan bersyukur setelah bergumul melawan masalah dan menang, tetapi orang Kristen dapat bersorak dan bersyukur begitu masalah datang. Anggap masalah sebagai kesukaan (Yakobus 1:2-5).

Hukum II: Jika masalah datang, jangan tanggung sendiri.

Jika seorang datang kepada Anda dengan masalahnya, mulailah dengan pengakuan: "Tuhan, apa pun masalahnya, silahkan Engkau melayani melalui aku dengan hikmat-Mu." Bersandarlah kepada hikmat-Nya, bukan dengan kekuatan Anda sendiri, bahkan kelak ketika Anda sudah berpengalaman pun juga demikian. Percayalah bahwa Roh Kudus memimpin Anda untuk berkata-kata sesuai dengan kehendak-Nya (Lukas 12:12).

Ketika murid-murid Yesus tidak dapat mengusir setan, Yesus berkata: "Bawa masalah itu kepada-Ku." 50% dari masalah sudah selesai ketika Anda tahu bahwa Yesus ikut terlibat dan sedang menangani masalah Anda. Dengan demikian Anda dapat berdoa dengan iman. Karena itu jadilah tenang dan Anda dapat berdoa dengan iman (1 Petrus 4:7).

Dalam konseling, sadarkan konseli bahwa Yesus ikut campur dalam masalah yang dihadapinya, dengan demikian konseli akan dapat tenang. Barulah selanjutnya Anda dapat mengajarkan bagaimana ia harus berdoa dengan iman dan dalam doa yang tepat.

Hukum III: Jangan pernah menyetujui masalah tapi ubah masalah itu menjadi keuntungan.

Dalam dunia olahraga tinju, seorang petinju memunyai "rekan tinju" (bahasa Inggris: "sparring partner", lawan bertinju dalam latihan-latihan persiapan). Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh dan dengan kekuatan penuh. Seorang petinju berlatih dengan beberapa "rekan tinju" yang masing-masing memunyai keistimewaan tertentu secara bergantian agar ia dapat menguasai dan mengalahkan bermacam-macam taktik dan keahlian lawan kelak dalam pertandingan yang sebenarnya. Masalah merupakan teman berlatih, "rekan tinju" Anda untuk maju. Oleh karena itu, jangan pernah setuju dengan masalah, tetapi lawanlah dengan sungguh-sungguh.

Contohnya, jangan pernah setuju bahwa Anda akan sakit flu jika cuaca buruk. Jika Anda setuju dengan pikiran (yang dibisikkan oleh musuh Anda, yaitu roh-roh jahat) bahwa Anda akan sakit karena kehujanan, maka Anda akan sakit. Walaupun musuh itu adalah "rekan tinju" Anda, jangan pernah setuju dengan pernyataannya, tetapi kalahkanlah masalah itu.

Pengalaman berikut ini adalah kesaksian dari Terry Mize, seorang hamba Tuhan di Amerika Selatan. Dalam perjalanan panjangnya melalui gurun Mexico ia ditodong oleh seorang yang menumpang mobilnya dengan sebuah pistol di perutnya. Penodong itu berkata: "Kubunuh kau!" Terry menjawab: "Engkau tidak dapat berbuat begitu, karena aku hamba Allah." Dan memang si penodong tidak pernah menembaknya. Mengapa? Jangan pernah setuju dengan pernyataan musuhmu. Jika Anda setuju dengan pernyataan musuh, Anda akan jatuh. Jika Anda setuju dengan firman Allah, Anda akan menang. Ini adalah prinsip persetujuan.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:18-20)

Apa yang Anda sepakati di dunia ini itulah yang terjadi. Dibutuhkan keberanian untuk sepakat dengan apa yang dikatakan firman Allah. Inilah iman. Hal yang mustahil akan dapat terjadi bagi orang yang beriman. Beriman berdasarkan firman Allah artinya setuju dengan apa yang dikatakan firman Allah.

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Matius 16:19)

Dengan kunci ini (kunci utamanya: nama Yesus) kita dapat membongkar kuasa dan kekayaan surga. Surga mendukung pernyataan Anda di bumi, karenanya perlu diketahui bagaimana menggunakan kunci kerajaan surga. Kunci itu terletak pada lidah Anda. Apa yang Anda katakan? Apa yang Anda setujui? Itulah yang menentukan nasib Anda. Masalah boleh datang, tetapi apa yang Anda katakan tentang masalah itu yang menentukan nasib Anda. Sebab Anda adalah pemegang kunci kerajaan surga.

"Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: 'Jadilah terang.' Lalu terang itu jadi." (Kejadian 1:1-3)

Ketika Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, Allah melihat bahwa bumi belum berbentuk. Bagaimana tanggapan Roh Allah terhadap keadaan yang dihadapi-Nya itu? Roh Allah menanggapi kekacaubalauan ini bukan dengan keluhan, tetapi dengan firman: "Jadilah terang." Roh Allah memperbarui fakta.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Judul Buku: 
Kursus Pelayanan Pribadi
Pengarang: 
Ev. Ir. Andreas Samudera
Penerbit: 
Revival Total Ministry (Bandung)
Situs: 

http://c3i.sabda.org/ (Christian Counseling Center Indonesia)

Komentar