Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pikir dan Rasa

Saya tiba di Bandara Sukarno Hatta Terminal II sekitar satu jam setelah bom meledak di sana. Selain melihat kerusakan fisik gedung, saya pun sempat melihat ceceran darah di tanah-tanda bahwa kekerasan baru saja terjadi dan darah telah tumpah. Sejenak saya merenungkan bahwa sejam yang lalu ada orang mengerang kesakitan namun pada saat yang sama, ada orang tersenyum puas karena tujuan mereka tercapai. Sudah tentu untuk dapat tersenyum puas, kita tidak dapat membayangkan akibat yang begitu penuh darah dan erangan sakit. Untuk bisa tersenyum, kita harus memisahkan darah dari marah.

Pikir dan Rasa adalah dua komponen dalam jiwa manusia yang terkait erat dan seharusnyalah demikian. Masalahnya, sebagian dari kita memiliki Pikir dan Rasa yang terpaut jauh sehingga sewaktu berpikir, kita tidak merasakan pikiran itu dan tatkala merasakan, kita tidak memikirkan apa yang kita rasakan. Sebagai contoh, gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan yang memutuskan relasi antara Pikir dan Rasa. Penderita gangguan ini tidak bisa berpikir secara obyektif dan realistik oleh karena Rasa (khawatir) telah begitu mendominasi segalanya sehingga si penderita tidak bisa lagi melihat apa-apa di hadapannya kecuali ancaman dan bahaya. Dalam kasus ini kita dapat menyaksikan keberdayaan Rasa mengontrol hidup sampai-sampai Pikir mati kutu. Dengan kata lain yang terjadi adalah kita tidak memikirkan apa yang kita rasakan; seantero diri dimuati oleh Rasa belaka.

Sebaliknya ada di antara kita yang tidak dapat memahami perasaan sendiri maupun orang lain. Kita hanya menggunakan pikiran sebagai dasar penentuan ucapan atau tindakan yang akan kita keluarkan tanpa mempertimbangkan unsur perasaannya. Dengan kata lain, Pikir mendominasi sikap dan tindakan kita sehingga Rasa diam tidak berkutik. Dalam bentuk ekstremnya, orang yang hanya dikuasai oleh Pikir tanpa sentuhan Rasa sama sekali adalah mereka yang menderita gangguan kepribadian antisosial.

Keseimbangan antara Pikir dan Rasa mutlak dandatuhkan untuk membangun jiwa yang sehat. Tindakan yang tepat sasaran beranjak dari keseimbangan kerja antara Pikir dan Rasa. Dominasi Pikir dengan mudah menjebak kita masuk ke dalam sikap atau 'tindakan membenarkan diri tanpa peduli pada perasaan orang lain. Semua yang terjadi kita saring dan serap melalui rasio dan sudah tentu, serapan yang masuk nyaris hampa Rasa. Kita tidak menyadari perasaan yang timbul pada diri kita atau kalaupun kita menyadarinya, kita tidak mengenali perasaan itu dengan tepat. Salah satu contoh klasik yang kerap saya saksikan adalah kesukaran orang mengakui diri marah. Rasio menyaring perasaan marah menjadi kecewa dan pada akhirnya kecewalah yang kita serap. namun karena kita pun tidak nyaman dengan perasaan kecewa, kita lalu mengubah rasa kecewa itu dengan upaya intelektual memahami motivasi orang tersebut. Alhasil, kita tidak tahu bahwa sebenamya kita tengah marah; kemungkinan besar kita hanya merasa tidak nyaman.

Sebaliknya, Dominasi Rasa akan membuat kita sukar memahami apa yang sedang terjadi dengan diri kita. Nalar dandatuhkan untuk mencerahkan diri dari kemelut yang kita hadapi sebab tanpa nalar kita akan diombang-ambingkan oleh ombak emosi.. Orang yang dikuasai Rasa akan sandak memaklumi diri namun sebaliknya, menganggap orang tidak mengertinya. Orang ini senantiasa membalut hatinya yang terluka namun gagal melihat kenapa sampai orang melukainya atau apakah memang orang melukainya.

Ketidakseimbangan antara Pikir dan Rasa niscaya juga menciptakan jarak atau bahkan relasi negatif dengan orang. Kita tidak nyaman bersama orang yang hanya peduli dengan perasaannya dan tidak mampu melihat apa yang membuat kita bertindak seperti itu. Kita pun tidak akan suka bersama orang yang tidak dapat melihat dampak tindakannya pada kita barang sedikit pun. Dampaknya sangat jelas: ketidakseimbangan antara Pikir dan Rasa menjauhkan orang dari sesamanya. Selain itu, ketidakseimbangan keduanya membuat orang buta terhadap realitas. Kita tidak melihat hidup secara utuh dan hanya terpaku pada yang sepotong - realitas kita - dan pada akhirnya kita pun terputus dan realitas.

Daud pernah mengalami masa di mana Pikir dan Rasa terbelah dua. Setelah mengetahui bahwa tindak perzinahannya telah membuahkan seorang anak, ia pun berikhtiar menutupi aibnya. Pertama, ia memanggil pulang Uria dengan harapan Uria akan berhubungan dengan istrinya, Batsyeba. Namun Uria menolak mengunjungi istrinya; kesetiakawanannya kepada rekan-rekan seperjuangan yang masih berada di medan perang menahannya untuk bersenang-senang dengan istri yang tidak setia itu. Langkah kedua Daud adalah langkah kematian bagi Uria; Daud menuliskan surat meminta Yoab, panglima perangnya, untuk menempatkan Uria di bagian terdepan untuk kemudian meninggalkannya. Uria mati membawa surat kematiannya sendiri dan Daud mati rasa - menulis surat kematian perwiranya yang setia. Pada detik ia menulis surat itu, Daud hanya didominasi oleh Pikir bagaimana caranya menutupi aib ini - dan tindakan yang keluar adalah kekejaman.

Merasakan yang kita pikirkan dan memikirkan yang kita rasakan adalah keseimbangan yang perlu dan layak kita perjuangkan. Makin keduanya terpaut, makin besar celah jiwa yang tercipta, dan makin sering dosa menyelinap masuk.

Sumber
Halaman: 
3 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Januari Maret 2003, Vol. X, No. 2
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Paul Gunadi Ph.D., Yakub B.Susabda Ph.D., Esther Susabda Ph.D.
Tahun: 
2003

Komentar