Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Prinsip-Prinsip Pernikahan Bahagia

Edisi C3I: e-Konsel 192 - Khayalan dalam Pernikahan

Setiap pasangan yang memasuki gerbang pernikahan tentu mendambakan agar pernikahan yang mereka bangun akan menjadi pernikahan yang bahagia dan harmonis seumur hidup mereka. Tetapi sering kali mimpi itu jauh dari kenyataan.

Banyak pernikahan, yang semula dipenuhi dengan cinta kasih, lambat laun berubah menjadi penuh pertengkaran dan pertikaian; yang semula hangat dan penuh kemesraan, berubah menjadi tawar dan dingin.

Alkitab menawarkan kepada kita beberapa prinsip agar sebuah pernikahan dapat terus dipenuhi dengan cinta kasih dan kehangatan.

1. Exodus (Keluar dari Ketergantungan terhadap Orang Tua)

"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya ...." (Kej. 2:24a)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pribadi yang memutuskan untuk menikah, harus lepas dari ketergantungan terhadap orang tua. Mereka harus tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang dewasa. Dalam hal apa saja kita harus lepas dari ketergantungan terhadap orang tua?

  • Keuangan Jangan sampai terjadi orang yang telah memutuskan untuk membangun rumah tangga sendiri, masih terus menadahkan tangan dan meminta bantuan orang tua sampai urusan-urusan kecil seperti membeli beras, bayar listrik, dan sebagainya. Sebagai orang dewasa, kita justru harus belajar memberi dan berbakti kepada orang tua, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus: alangkah lebih berbahagia memberi daripada menerima.

  • Mental Dalam membina rumah tangga, konflik dan kesalahpahaman pasti bisa terjadi pada siapa saja. Mereka yang telah memutuskan untuk membangun rumah tangga harus belajar mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka tanpa melibatkan orang lain, apalagi orang tua kedua belah pihak. Apabila orang tua turut berperan dalam konflik dan pertikaian yang terjadi dalam kehidupan anak-anak mereka, masalah bukannya mudah terselesaikan, tapi malah akan berlarut-larut dan berkepanjangan sebab setiap orang tua cenderung berkata anaknya benar dan menantunya salah. Mereka bukannya akan membantu, tapi malah memperkeruh suasana. Sebab itu setiap pribadi yang menikah harus belajar mengatasi konflik, belajar memahami pasangan, dan belajar menyatakan kasih Kristus dalam hal saling memaafkan dan mengasihi.

2. Oneness (Kesatuan)

"... dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kej. 2:24b)

Firman Tuhan menyatakan bahwa setiap pasangan yang menikah bukan lagi dua melainkan satu tubuh. Apa arti menjadi satu tubuh? Artinya baik dalam keadaan senang atau pun susah, dalam keadaan suka atau pun duka, suami istri harus belajar menikmati dan menghadapinya bersama-sama. Jangan sampai terjadi pada saat senang dan suka kita bisa bersama, tapi di saat susah dan duka kita meninggalkan pasangan, seperti yang pernah dialami Ayub. Di saat dia sangat membutuhkan kehadiran, penghiburan, dan dorongan dari pasangannya, ternyata di saat seperti itu istrinya meninggalkan dia.

3. Keterbukaan

"Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." (Kej. 2:24-25)

Suami istri harus belajar saling terbuka terhadap pasangannya dan belajar memercayai pasangan dalam segala hal. Apabila suami tidak terbuka terhadap istri dan juga sebaliknya -- masing-masing memiliki rahasia yang tersembunyi terhadap pasangannya -- bagaimana rumah tangga yang kokoh bisa terbangun? Rumah tangga yang dilandasi rasa saling curiga tidak akan kokoh bertahan. Sebaliknya, rumah tangga yang dilandasi rasa saling percaya akan tetap kokoh berdiri sekalipun dilanda angin dan badai.

4. Istri Tunduk dan Hormat kepada Suami

"Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu." (Ef. 5:22-24)

Pada saat membaca surat Rasul Paulus ini, mungkin banyak kaum perempuan akan menolak prinsip ini dengan alasan kesetaraan "gender", tapi kita melihat di sekitar kita banyak rumah tangga yang hancur dan berantakan karena tidak menjalankan prinsip Alkitab ini. Rumah tangga ibarat sebuah kapal, dan setiap kapal hanya membutuhkan satu nahkoda. Nahkoda adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab menentukan arah perjalanan serta menetapkan tindakan yang harus dilakukan pada saat bahaya. Bila dalam satu kapal ada dua pemimpin, arah perjalanan mungkin akan terus berubah-ubah sehingga tidak sampai ke tujuan, dan pada saat bahaya, kapal mungkin akan langsung tenggelam karena anak buah bingung harus mengikuti perintah nahkoda yang mana. Demikian juga, kalau suami istri selalu bersitegang dalam setiap pengambilan keputusan, pasti rumah tangga itu akan dipenuhi konflik dan pertikaian. Karena itu, Rasul Paulus menyatakan dalam 1 Korintus 11:3: "Tetapi aku mau, supa ya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah."

Selain itu, Tuhan menciptakan pria dan wanita, dua makhluk yang bukan hanya berbeda secara biologis, tetapi juga berbeda dalam hal kebutuhan psikologisnya. Wanita butuh dicintai dan dilindungi, sedangkan pria butuh dihormati dan dihargai. Kalau seorang pria merasa dihormati dan dihargai oleh istri dan anak-anaknya, dia akan merasa menjadi pria yang berharga dan dapat mengasihi istri dan anak-anaknya. Dan perasaan ini akan terbawa ke tempat kerjanya, memberinya semangat dan tujuan jelas untuk bekerja lebih baik lagi demi keluarganya.

5. Suami Mengasihi Istri Seperti Kristus Mengasihi Jemaat

"Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (Ef. 5:25)

Seorang suami yang ingin dihormati oleh istrinya, harus mencintai dia seperti Kristus mengasihi jemaat. Kristus mengasihi jemaat dengan tindakan dan pengorbanan. Untuk menyatakan kasih-Nya kepada jemaat, Yesus rela menderita bahkan mati di atas kayu salib menjadi korban dan penebusan. Pengorbanan Yesus inilah yang membuat banyak orang tergerak hatinya sehingga tunduk dan hormat pada setiap perkataan Kristus. Demikian pula, jika seorang suami mengasihi istrinya bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan tindakan kasih dan pengorbanan, pasti sang istri akan dengan sukarela tunduk dan hormat terhadap suaminya.

Bunga Rampai:

Seorang istri dijadikan bukan dari tulang kaki untuk diinjak-injak.

Seorang istri dijadikan bukan dari tulang kepala untuk menjadi kepala.

Seorang istri dibentuk dari tulang rusuk yang dekat dengan hati untuk dilindungi dan dicintai.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

START_SUMBER: SUMBER 1: __Halaman :37 -- 40 __Bab : __Judul Artikel : __Penulis Artikel :ND __Nomor Edisi :56/Januari-Maret __Tahun Edisi :2008 __Judul Buku :Warta Sejati (Majalah) __Judul Buku Asli : __Penulis Buku : __Penerjemah : __Penerbit :Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Indonesia __Kota :Jakarta __Status Bahan :Majalah __Tahun Terbit :2008 __Website : __Email : END SUMBER 1 END_SUMBER

Komentar