Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Prinsip-Prinsip Salib

Edisi C3I: e-Konsel 287 - Berita Tentang Salib

Bagaimana Allah menggenapi penyelamatan atas manusia? Apa yang Dia lihat pada salib penghukuman yang kejam itu? Apa yang terjadi tatkala Putra-Nya yang tunggal dan amat dikasihi-Nya itu mencucurkan darah, bergumul, berseru, "Sudah selesai," dan kemudian menyerahkan nyawa-Nya?

Mari kita lihat dua prinsip ketetapan yang mengakhiri dilema yang timbul karena dosa dan ketidakberdayaan kita, serta karena kekudusan dan kasih Allah: prinsip pengorbanan yang cukup menebus segala dosa dan prinsip kurban pengganti.

Prinsip 1: Dengan salib, pengorbanan Yesus sudah cukup.

Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibrani 9:22). Lewat kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban yang cukup untuk membayar dosa seluruh umat manusia. Kurban hewan pada zaman Perjanjian Lama tidak lagi berlaku, karena sesungguhnya kurban-kurban tersebut tidak pernah dapat menghapus dosa manusia.

Dalam Perjanjian Lama, kurban harus dipersembahkan setiap hari. Satu per satu dari hewan-hewan itu dibawa ke altar untuk disembelih. Tiap-tiap hari dilakukan pembantaian hewan-hewan kurban. Penulis kitab Ibrani memberi komentar atas fakta ini demikian, "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan dan darah domba jantan menghapuskan dosa." (Ibrani 10:4)

Lagipula, kurban-kurban itu hanya ditujukan untuk dosa yang dilakukan karena ketidaksengajaan, ketidaktahuan, atau kelemahan manusia (Imamat 4:2-7). Kurban pada zaman Perjanjian Lama ini tidak dapat dipersembahkan untuk menebus dosa yang disengaja dan telah direncanakan terlebih dahulu. Karena itulah, tatkala Daud memohon pengampunan atas dosa ganda yang telah dilakukannya, yaitu berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, ia tidak mempersembahkan kurban. Namun, ia datang ke hadapan Allah dengan "hati yang patah dan remuk untuk memperoleh pengampunan." (Mazmur 51:18-19)

Oleh kematian-Nya di atas kayu salib, Tuhan Yesus telah berkurban satu kali untuk dosa semua orang (Ibrani 10:12). Diri-Nya adalah kurban yang utuh dan sempurna. Pengorbanan-Nya telah memenuhi tuntutan kekudusan Allah, dan membawa keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada Kristus.

Beberapa alasan yang menunjukkan bahwa pengorbanan-Nya sudah cukup adalah:

  • Dia menjadi anggota keluarga manusia. Dia benar-benar mewakili kita (sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh malaikat) karena Dia memiliki sifat-sifat dasar manusia.

  • Dia hidup tanpa dosa. Walau dihadapkan pada pencobaan fisik, mental, dan rohani, Yesus tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). Oleh karena itu, tatkala Dia mati, Dia pun mati sebagai manusia sempurna. Oleh karena Dia tidak berdosa, lewat kematian-Nya Dia dapat menebus dosa-dosa kita.

  • Dia tetaplah Allah. Meski Kristus menjadi manusia sepenuhnya, sifat ketuhanan-Nya pun tetap utuh. Dia bukan setengah Allah dan setengah manusia; Dia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Keilahian-Nyalah yang membuat pengorbanan-Nya tak ternilai, sehingga mampu menebus dosa yang dilakukan oleh seluruh umat manusia.

Prinsip 2: Dengan salib, Yesus menjadi kurban pengganti.

Sebenarnya, Yesus ingin menyampaikan bahwa Dia akan menjadi kurban pengganti tatkala berbicara kepada para murid bahwa Dia akan menyerahkan hidup-Nya sebagai "tebusan bagi banyak orang". (Markus 10:45)

Entah bagaimana pemahaman para murid terhadap perkataan Yesus itu, yang jelas mereka segera menyadari bahwa Kristus hendak mempersembahkan hidup-Nya untuk melepaskan mereka dari dosa dan kesalahan. Pada kayu salib, Kristus mati menggantikan tempat mereka dan juga tempat kita. Di Kalvari, Dia menanggung kematian yang seharusnya menjadi bagian kita dan hukuman yang sesungguhnya layak kita terima. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal." (Yohanes 3:16) Oleh karena ketidakberdayaan kita, Allah yang penuh kasih telah mengutus Anak-Nya untuk menggantikan kita. Dia telah menukarkan hidup-Nya untuk kita, Dia mati supaya kita hidup (Yesaya 53:5,6; Roma 5:8; 1 Korintus 15:3; 2 Korintus 5:21; 1 Petrus 2:24; 3:18).

Ketika Yesus berkata bahwa Dia datang untuk mempersembahkan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, mereka yang mendengarnya mungkin akan berpikir bahwa pengorbanan yang dimaksudkan-Nya adalah menurut adat pengorbanan orang Yahudi. Sejak kanak-kanak, mereka telah melihat orang-orang membawa domba, lembu, atau burung merpati ke altar untuk disembelih. Mereka juga tahu bahwa kematian hewan berkaitan dengan dosa-dosa mereka. Pada waktu seorang imam meletakkan tangannya pada kepala hewan tersebut, mereka sadar bahwa itu melambangkan dipindahkannya kesalahan orang berdosa pada hewan tersebut. Lalu, saat hewan itu disembelih dan darah tepercik di seputar altar, mereka juga tahu bahwa darah ini melambangkan dihapuskannya kesalahan mereka.

Selanjutnya, prinsip ini digenapi dalam diri Pribadi yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!" (Yohanes 1:29)

Prinsip ini diilustrasikan dengan sebuah kisah yang diambil dari sejarah bangsa Amerika. Konon, ada seorang pencuri ayam di antara penduduk sebuah suku Indian. Kepala suku mengumumkan bahwa apabila si pencuri tertangkap, ia akan mendapatkan 10 cambukan. Namun pencuri itu tidak menghentikan perbuatannya, maka si kepala suku menambah hukuman menjadi 20 cambukan. Walaupun sudah dikeluarkan pernyataan tersebut, pencurian ayam tetap saja terjadi. Dalam kemarahannya, kepala suku itu melipatgandakan hukumannya menjadi 100 kali cambukan -- yang sama artinya dengan hukuman mati.

Akhirnya, tertangkaplah sang pencuri. Namun, kepala suku itu menghadapi suatu dilema yang sulit. Si pencuri ternyata adalah ibunya sendiri!

Ketika hari penghukuman tiba, semua orang berkumpul. Akankah kasih kepala suku itu mengabaikan keadilannya? Orang banyak menahan napas tatkala ia memerintahkan orang untuk mengikat ibunya pada sebuah tiang. Kepala suku itu membuka pakaiannya, memperlihatkan kekuatan tubuhnya, dan memegang cambuk di tangan. Akan tetapi, bukannya melayangkan cambuknya, ia malah memberikan cambuk tersebut kepada seorang anak muda yang gagah berani di sampingnya.

Perlahan-lahan, kepala suku itu berjalan mendekati ibunya, lalu dengan tangannya yang kekar ia memeluk ibunya erat-erat. Kemudian, ia memerintahkan anak muda tersebut mencambuknya 100 kali.

Itulah yang dilakukan Yesus bagi kita. Karena kasih, Dia menggantikan kita dan mati bagi kita. Dia mengatasi ketidaksanggupan kita untuk membayar harga keselamatan. Dalam ilustrasi di atas, hidup seorang ibu diperpanjang karena anaknya, yang dengan kasih rela menggantikannya. Kita juga mendapatkan hidup yang kekal oleh karena kematian Kristus, yang menjadi kurban pengganti bagi kita.

Kematian Kristus sangatlah berharga, karena kematian itu menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia. Mari kita lihat kembali apa yang telah terjadi.

Kondisi Manusia: Terkutuk karena dosa Adam dan dosanya sendiri, tak berdaya untuk melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan dirinya, dan berada di bawah hukuman mati.

Kedudukan Allah: Karena kekudusan-Nya Allah harus menghukum kejahatan. Apabila Dia memberi sedikit ruang bagi kejahatan, itu akan menodai karakter-Nya sendiri. Namun, karena Allah itu juga kasih, Dia ingin menyelamatkan manusia dari hukuman mati.

Ketetapannya: Kristus, Anak Allah, menjadi manusia, hidup dengan tak bercacat cela, lalu mati untuk menggantikan kita. Pengorbanan-Nya, yakni kematian-Nya yang menggantikan kita, memungkinkan kita untuk diselamatkan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Why Did Christ Have to Die?
Judul buku terjemahan : Mengapa Kristus Harus Mati?
Penerjemah : Tan May Lan
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 1983
Halaman : 11 -- 15

Komentar