Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Retrospeksi

Komunikasi merupakan salah satu karakteristik manusia sebagai makhluk sosial. John Doone mengatakan, "No man ia an island." Tak mungkin manusia hidup tanpa komunikasi dengan sesamanya. Firman Allah mengatakan, "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja" (Kej. 2:18). Begitu pentingnya hubungan manusia dengan sesamanya, seolah-olah dapat disimpulkan bahwa manusia kehilangan naturnya sebagai peta dan gambar Allah pada saat ia menolak kebutuhannya akan sesama dan merusak komunikasinya dengan mereka.

Alkitab mencatat betapa kejatuhan manusia dalam dosa ditandai dengan rusaknya komunikasi. Manusia tidak bisa lagi mempercayai sesamanya, karena di lubuk hatinya yang terdalam, ia sering menyimpan rahasia-rahasia pribadi yang begitu busuk, yang oleh Feodor Dostoevski dikatakan, "He cannot reveal even to himself." Sejak itu, defense mechanism yang disebut repression, menjadi bagian integral dari hampiò setiap komunikasi, karena tanpa itu manusia akan menjadi monster-monster yang siap untuk saling melukai bahkan +nembunuh sesamanya. Suatu realita yang menakutkan, yang sering kali melibatkan orang-orang percaya dalam pergumulan yang tidak habis-habisnya.

Apakah sebenarnya komunikasi? Apakah perlu seorang mengkomunikasikan secara utuh apa yang ada dalam hatinya? Apakah diperlukan kejujuran dalam komunikasi? Apakah integritas, ketulusan dan kejujuran dapat menjadi titik temu dalam iman Kristen? Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini terus-menerus dipertanyakan oleh orang-orang percaya yang merindukan kehidupan yang integratif dan utuh. Untuk itu, beberapa hal di bawah ini perlu diperhatikan.

Pertama, kejujuran tanpa ketulusan menghasilkan kekristenan tanpa integritas. Baru-baru ini surat kabar-surat kabar memberitakan tentang panglima pasukan AS di Pasifik, Laksamana R. Macke yang terpaksa mengundurkan diri oleh karena komentar pribadinya yang sangat tidak bijaksana tentang pemerkosaan yang dilakukan tiga serdadu Amerika di Okinawa. Ia mengatakan, "Perbuatan itu sangat bodoh (pemerkosaan ansich baginya bukan kebejatan moral yang harus dikutuki). Berulang kali sudah saya katakan bahwa dengan uang tambahan untuk sewa mobil, mereka dapat memiliki seorang wanita" (Kompas, 20 November 1995). Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa persoalan ini bukanlah persoalan moral tetapi persoalan "kebodohan". Suatu penyangkalan terhadap hati nurani (sumber ketulusan) dan penghinaan terhadap martabat wanita.

Macke adalah seorang yang jujur, tetapi kejujurannya adalah kejujuran tanpa ketulusan. Oleh sebab itu, segera setiap orang (termasuk pemerintahan Bill Clinton) menyadari bahwa panglima yang memimpin 330.000 pasukan Amerika di Pasifik tersebut manusia tanpa integritas. Apa yang dikomunikasikan adalah hati yang tidak mengenal ketulusan. Ia harus segera dipecat.

Kedua, kejujuran yang lahir dari ketulusan tidak selalu dapat dan perlu dikomunikasikan. Amsal Salomo mengatakan, "Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya" (Amsal 18:2). Mungkin ia tulus, mungkin motivasinya baik, tetapi ia disebut sebagai orang yang bebal karena ia membeberkan apa yang ada dalam hatinya. Apalagi jikalau itu dikomunikasikan secara umum, kepada semua orang.

Lady Di (istri Pangeran Charles dari Inggris) adalah salah satu contoh yang paling gamblang untuk kelemahan ini. Ia tulus, dan sesuai dengan hati nuraninya yang ingin membela kebenaran dan keadilan, ia rela diwawancarai oleh BBC London (20 November 1995) dan bahkan menjawab dengan jujur tentang kehidupan pribadinya. Ia tahu bahwa cerita pribadinya akan dikomersilkan oleh BBC dan rahasia pribadinya akan diketahui oleh ratusan juta umat manusia di seluruh dunia. Tetapi otaknya tidak bekerja dengan baik, sehingga ia tidak memakai pertimbangan akal yang bijaksana. Ia tidak memahami bahwa kejujurannya yang memuaskan hatinya sendiri dan mengundang simpati masyarakat banyak ternyata mempunyai dampak perubahan sikap hidup jutaan wanita di seluruh dunia. Kejujuran dan ketulusannya telah melegalisir perzinahan bagi mereka yang merasa cintanya dikhianati.

Komunikasi adalah art yang membutuhkan penanganan yang hati-hati. Komunikasi adalah bagian integral dari pertanggungjawaban iman Kristen. Komunikasi membutuhkan kedewasaan, karena tanpa itu kejujuran dan bahkan ketulusan pun tidak cukup.

Sumber
Halaman: 
4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Oktober Desember 1995, Vol. II, No. 4
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda
Tahun: 
1995

Komentar