Rumah Adalah Garis Depan Kehidupan Kristen

Inserted image

Sepasang suami istri paruh baya duduk di hadapan saya di kantor. Mereka adalah anggota yang menjadi penopang gereja kami, tetapi pernikahan mereka sedang melewati masa sulit. Setelah sedikit berbasa-basi, alasan sebenarnya dari kunjungan mereka pun terungkap.

Sang suami ingin saya mengubah istrinya. Sang istri ingin saya mengubah suaminya.

Kami membaca Matius 7:3–5 bersama-sama, lalu saya bertanya apakah ayat-ayat itu mungkin berlaku dalam situasi mereka. Jangan-jangan keduanya sama-sama tidak melihat balok di mata sendiri, sementara berusaha mengeluarkan selumbar dari mata pasangannya?

Ruangan menjadi hening. Mereka belum pernah mempertimbangkan bahwa ayat ini juga berlaku bagi pernikahan mereka. Walaupun sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, ada jarak antara Kitab Suci yang mereka dengar pada hari Minggu dan cara mereka bertindak di rumah.

Seperti banyak orang lainnya, pasangan ini gagal memahami sebuah prinsip yang diajarkan di seluruh Kitab Suci, tetapi sering diabaikan di sekolah teologi dan gereja: tempat pertama kita menghidupi Injil adalah rumah kita.

Rumah Adalah Garis Depan

Ladang pelayanan pertama saya adalah rumah saya sendiri. Istri dan anak-anak saya adalah sesama terdekat saya, dan Yesus memerintahkan saya untuk mengasihi sesama. Rumah adalah tempat pertama saya dipanggil untuk menunjukkan kasih Kristus. Cara saya bertindak di sana penting di hadapan Allah. Kualifikasi penatua dalam Alkitab menyatakan hal ini dengan jelas:

"Ia [Seorang penatua] harus dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan baik dan menjaga anak-anaknya untuk taat dengan rasa hormat. Sebab, jika ia tidak tahu bagaimana mengurus rumah tangganya sendiri, bagaimana ia akan mengurus jemaat Allah?" (1 Timotius 3:4–5, AYT)

Demikian pula syarat bagi diaken:

"Diaken harus suami dari satu istri, dapat mengatur anak-anaknya dan rumah tangganya dengan baik." (1 Timotius 3:12, AYT)

Kualitas-kualitas ini tidak hanya berlaku bagi "orang-orang yang sangat rohani", tetapi bagi seluruh umat Allah. Dalam "Khotbah Perpisahan" yang terkenal, Jonathan Edwards menghubungkan rumah, gereja, dan Injil: "Setiap keluarga Kristen seharusnya menjadi seperti gereja kecil, yang dikuduskan bagi Kristus serta sepenuhnya dipengaruhi dan diatur oleh aturan-aturan-Nya."

Rumah Menyingkapkan Hati

Namun, jika jujur, rumah sering kali menjadi tempat paling menantang untuk menghidupi implikasi Injil. Kepada anak-anak, kita bisa mengatakan hal-hal yang tidak akan pernah kita katakan kepada orang lain. Kepada pasangan, kita bisa meluapkan kemarahan yang kita sembunyikan dari orang lain. Kemalasan yang tidak dilihat orang lain tampak jelas bagi keluarga. Relasi keluarga, yang Allah maksudkan sebagai berkat, dapat berubah menjadi medan perang.

Dalam kasih karunia-Nya, Allah memakai kedekatan hidup di rumah untuk menyoroti berhala-berhala dalam hati saya sendiri. Dia menyingkapkan keadaan hati saya yang sebenarnya agar saya dibentuk menjadi serupa dengan Anak-Nya.

Bagaimana Anda menaati ayat-ayat berikut di rumah Anda?

"Kasih itu bersabar dan bermurah hati ... tidak melakukan yang tidak pantas, tidak mencari kepentingan diri sendiri, tidak mudah marah, tidak memperhitungkan kesalahan orang lain." (1 Korintus 13:4–5, AYT)

"Jangan biarkan perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi hanya perkataan baik yang membangun orang yang membutuhkan." (Efesus 4:29, AYT)

"Hendaklah tiap-tiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara, dan lambat untuk marah. Sebab, amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran Allah." (Yakobus 1:19–20, AYT)

Baik melalui tindakan maupun reaksi, saya melihat diri saya yang sebenarnya.

Rumah Melatih Hati

Namun, Allah tidak membiarkan kita hanya sadar akan dosa kita. Selain memberikan pengampunan, Injil juga memampukan kita untuk hidup kudus. Roh Kudus menolong kita mengenakan Tuhan Yesus Kristus dan tidak memberi kesempatan kepada keinginan daging (Kolose 3:12–14). Orang tua dapat hidup dipimpin Roh, mematikan keinginan untuk memanjakan diri, dan melayani keluarga dengan baik. Roh Kudus memampukan kita untuk bersabar dan bermurah hati tanpa mengharapkan balasan.

Allah memakai rutinitas harian dan pilihan-pilihan kecil saya untuk melatih hati saya mengasihi Dia, mengasihi sesama terdekat saya, dan menyangkal diri. Dalam film "Karate Kid" yang pertama, Daniel meminta Tuan Miyagi mengajarinya karate. Di luar dugaan, Miyagi justru memberi Daniel pekerjaan-pekerjaan biasa, seperti memoles koleksi mobil antiknya, mengecat pagar, dan mengampelas lantai. Ketika Daniel yang kelelahan meluapkan keluhannya, Miyagi menunjukkan bahwa setiap pekerjaan sederhana itu sedang mempersiapkannya untuk menjadi mahir dalam karate. "Poles ke kanan, poles ke kiri" sedang membentuk Daniel dengan cara yang saat itu belum dapat dia pahami.

Mengikut Kristus dapat berarti menegur anggota keluarga yang hidup dalam dosa atau bertahan dengan setia melalui situasi yang sulit.

Martin Luther mengungkapkan hal senada. "Pernikahan adalah sekolah pembentukan karakter yang lebih baik daripada biara mana pun," katanya, "karena di sinilah sisi-sisi tajammu digosok."

Menghidupi implikasi Injil di rumah tidak menjamin kehidupan keluarga yang ideal. Jauh dari itu. Mengikut Kristus dapat berarti menegur anggota keluarga yang hidup dalam dosa atau bertahan dengan setia melalui situasi yang sulit. Hal itu bahkan dapat berarti perpecahan keluarga (Matius 10:34–37).

Lima Langkah

Berikut lima langkah praktis untuk menampakkan keindahan Injil di rumah:

1. Terimalah anak-anak dan pasangan Anda sebagai sarana yang Allah berikan untuk membentuk Anda menjadi serupa Kristus.

Percayalah bahwa Allah sedang bekerja melalui pergumulan keluarga, baik kecil maupun besar, untuk membentuk Anda menjadi seperti Yesus. Percayalah bahwa meskipun "dia tidak sempurna, dia adalah orang yang tepat bagi saya."

2. Perlambat ritme hidup dan perhatikan tindakan serta reaksi Anda sendiri.

Ketika keluarga kita terus berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, kita mudah mengabaikan refleksi diri. Ledakan emosi cepat dilupakan. Memperlambat ritme hidup memberi ruang bagi perenungan diri yang lebih mendalam.

3. Berhentilah mencari pembenaran atas dosa Anda.

Sangat mudah menyalahkan orang lain atas reaksi kita. Namun, kita harus menyadari bahwa tidak seorang pun dapat dijadikan penyebab kita berdosa. Cara kita memperlakukan keluarga menyingkapkan diri kita yang "sebenarnya" dan menunjukkan seberapa besar kita mengasihi Allah (1 Yohanes 4:20). Bahkan ketika orang lain berdosa terhadap kita, kita tetap dapat belajar menyenangkan Bapa surgawi kita (1 Petrus 2:23; 1 Petrus 3:9).

4. Selidikilah Kitab Suci.

Alkitab berbicara mengenai persoalan-persoalan yang Anda hadapi di rumah. Misalnya, hanya dengan membaca Yakobus 1 sambil memikirkan keluarga Anda, Anda akan diingatkan bahwa Anda membutuhkan hikmat, perlu tetap teguh dalam pencobaan, lambat berbicara, menjadi pelaku firman Tuhan, dan mengendalikan lidah.

5. Ingatlah bahwa anak-anak Anda sedang memperhatikan.

Kemunafikan para pemimpin rohani -- termasuk orang tua -- adalah alasan utama yang sering diberikan oleh anak-anak yang menjauh dari iman. Anak-anak kita sedang memperhatikan bagaimana kita bertindak di bawah tekanan kehidupan rumah tangga untuk melihat apakah Juru Selamat kita sungguh membawa perubahan nyata dalam hidup kita.

Panggung bagi Kasih Karunia

Ketika pasangan tersebut meninggalkan kantor saya hari itu, mereka memiliki tekad yang baru. Mereka akan memperlambat ritme hidup, merenungkan tindakan mereka, bertobat bila diperlukan, dan percaya bahwa Sang Juru Selamat sedang membentuk mereka menjadi serupa dengan gambar-Nya.

Rumah adalah tempat pertama -- dan mungkin yang paling sulit -- untuk menjalani hidup dalam terang kasih karunia Allah. (t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

The Gospel Coalition

Alamat artikel

:

https://www.thegospelcoalition.org/article/home-is-front-lines-of-christian-living/

Judul asli artikel

:

Home Is the Front Lines of Christian Living

Penulis artikel

:

Chap Bettis

Jenis Bahan C3I
Kategori Bahan C3I