Saat Kita Gagal terhadap Keluarga

By admin

Ketika percakapan telepon dengan saudara perempuan saya hampir berakhir, dia melontarkan kata-kata terakhir yang menyengat setelah kami membicarakan beberapa persoalan keluarga: "Ya, kita semua tahu bahwa kamu orang yang paling rohani di keluarga." Saya menghela napas dalam hati. Saya tahu yang sebenarnya ingin dia katakan adalah bahwa saya orang yang merasa diri paling benar. Karena ingin membela diri dari sindiran yang saya kira sedang dia arahkan kepada saya, saya pun mulai memberikan rentetan penjelasan. Pada akhirnya, semua itu terasa sia-sia. Saya tahu reputasi yang saya bangun bertahun-tahun sebelumnya, pada masa ketika hidup saya masih jauh dari kekudusan, tidak pernah benar-benar dilupakan.

Inserted image

Kenyataannya, saya memang pantas mendapat sebutan itu. Sebagai orang percaya yang masih muda, sombong, belum dewasa secara rohani, dan terlalu yakin pada diri sendiri, saya memandang rendah kegagalan-kegagalan para anggota keluarga saya. Saya juga sering menunjukkan sikap kecewa seperti orang yang berkata, "Sudah kubilang," sampai-sampai saya heran mereka tidak benar-benar mengucilkan saya. Baru setelah saya sendiri mengalami cukup banyak kegagalan, Allah, syukurlah, menghentikan celoteh saya yang penuh sikap Farisi itu untuk selamanya. Ketika mengingat kembali masa-masa awal itu, saya masih merasa malu karena telah mempermalukan nama Kristus dan mencoreng kesaksian orang percaya.

Sayangnya, menyimpan dendam lebih mudah daripada memberikan pengampunan. Reputasi buruk yang sudah terbentuk tidak mudah dibongkar. Walaupun kita memiliki kesempatan yang tidak terbatas untuk menunjukkan kebaikan kepada orang lain, satu ucapan tajam yang beracun atau satu ledakan amarah saja sudah cukup untuk menghancurkan kredibilitas kita dan meruntuhkan kepercayaan yang telah dibangun dalam relasi.

Bagaimana Kita Mulai Memulihkan Relasi

Jadi, dari mana kita dapat mulai memperbaiki semuanya? Mungkinkah ada proses untuk membangun kembali relasi itu? Mungkin Anda sangat ingin memperbaikinya, tetapi Anda tahu ada anggota keluarga tertentu yang tidak akan pernah membiarkan Anda lepas dari bayang-bayang diri Anda yang dahulu.

Jika Anda menghadapi kerusakan relasi keluarga yang telah menumpuk selama puluhan tahun, berikut tiga langkah yang dapat dipertimbangkan. Meskipun rekonsiliasi tidak pernah dapat dijamin, kita selalu memiliki kepastian bahwa Allah berkenan kepada orang yang rendah hati dan remuk hati.

Mintalah pengampunan: "Rendahkanlah hatimu di hadapan Tuhan, maka Dia akan meninggikanmu." (Yakobus 4:10, AYT)

Ingin membuat anggota keluarga yang menyimpan dendam terkejut? Mulailah dengan meminta pengampunan. Tidak banyak hal yang dapat menembus hati sedalam pertobatan yang rendah hati. Jika mereka bertanya mengapa, Anda dapat menceritakan bagaimana Injil telah menerangi dosa Anda sendiri dengan terang kasih karunia Allah. Anda juga dapat menjelaskan bagaimana kerendahan hati Kristus di kayu salib menyadarkan Anda akan kesombongan Anda sendiri, dan bahwa pertobatan kepada-Nya memampukan Anda untuk meminta pengampunan kepada mereka.

Berbicaralah dengan lembut: "Jawaban yang lembut meredakan kemurkaan, tetapi perkataan yang menyakitkan mendatangkan kemarahan." (Amsal 15:1, AYT)

Jawaban yang lembut akan diterima dengan rasa heran oleh anggota keluarga yang belum percaya, terutama jika dahulu mereka menerima sikap yang sebaliknya dari Anda. Mengendalikan lidah akan selalu berbicara lebih keras daripada menggunakannya untuk membuat sayatan rohani baru pada situasi yang sudah rapuh. Ini adalah prinsip umum. Meskipun nada yang lembut tidak selalu meredakan pertikaian yang bergelora, saya yakin luapan amarah tidak akan pernah meredakannya. Bayangkan jalur komunikasi seperti apa yang mungkin terbuka ketika seorang anggota keluarga berkata, "Responsmu benar-benar mengejutkan saya, saya kira kamu akan marah."

Tunjukkan kebaikan: "Jagalah tingkah lakumu yang baik di antara orang-orang yang belum percaya supaya apabila mereka memfitnahmu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik, dan akan memuliakan Allah pada hari pelawatan." (1 Petrus 2:12, AYT)

“Rendahkanlah hatimu di hadapan Tuhan, maka Dia akan meninggikanmu.”

Carilah kesempatan untuk memberkati anggota keluarga Anda yang belum percaya dengan cara yang rela berkorban. Jika Anda tinggal jauh, hubungilah mereka sesekali untuk memberi tahu bahwa Anda sedang mendoakan dan memikirkan mereka. Jika mereka tinggal dekat, sediakan diri Anda bagi mereka. Dengan begitu, mereka akan melihat hati yang mengasihi Kristus sekaligus peduli kepada mereka. Mereka pun tidak akan memiliki alasan untuk berbicara buruk, baik di dalam hati maupun melalui mulut mereka, tentang tindakan Anda.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan hubungan saya dengan keluarga saya saat ini. Mungkin saya tidak akan pernah tahu. Akan tetapi, saya tahu bahwa masing-masing dari kita perlu berterus terang dan bertobat atas kegagalan kita sendiri terhadap keluarga.

Berdoalah bersama saya agar Allah memberi kita kasih yang dibentuk oleh Injil bagi keluarga kita, kasih yang membuat kita lebih kritis terhadap dosa kita sendiri daripada dosa mereka. Berdoalah bersama saya agar Yesus memberi kita hati yang tekun berdoa, semakin rendah hati, dan melimpah dengan belas kasihan serta kesabaran. Berdoalah bersama saya agar Roh Kudus menolong kita mengampuni sebagaimana kita terus-menerus diampuni.

Dan oleh kasih karunia Allah, mereka pun masih dapat memuliakan Dia. (t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

The Gospel Coalition

Alamat artikel

:

https://www.thegospelcoalition.org/article/failing-with-family/

Judul asli artikel

:

Failing with Family

Penulis artikel

:

Ronnie Martin