Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Setelah Perselingkuhan

Edisi C3I: e-Konsel 191 - Pria Idaman Lain dan Wanita Idaman Lain

T: Bukankah mereka biasanya bertekad untuk memperbaharui kehidupan pernikahan mereka dan melupakan yang di belakang?

J: Masalahnya adalah sebetulnya mereka mencoba melupakan "problem" dengan perempuan atau pria lain tersebut. Ketidakcocokan yang sudah ada di antara mereka tidak terselesaikan dengan sendirinya. Terkadang pasangan suami istri beranggapan bahwa setelah perselingkuhan, maka relasi mereka akan bertambah baik, seolah-olah ketidakcocokan yang dari awalnya sudah ada akan lenyap dengan sendirinya. Kenyataannya, ketidakcocokan itu tetap ada.

T: Bukankah itu bisa menjadi pemicu untuk berselingkuh kembali dengan orang yang sebelumnya diselingkuhi?

J: Betul sekali. Itu sebabnya memutuskan relasi selingkuh tidak mudah, karena pada umumnya selingkuh itu dipicu oleh masalah suami istri itu sendiri, kemudian terlibatlah orang ketiga. Kalau ingin diputuskan, pertama, harus putuskan relasi dengan orang ketiga tersebut. Kedua, yang sangat berat, adalah mengharmoniskan kembali relasi nikah itu sendiri. Adakalanya pasangan suami istri gagal melewati ujian yang berat ini dan tergoda untuk kembali selingkuh.

T: Saran apa untuk mengatasi masalah seperti ini?

J: Kita harus menyadari bahwa ketidakcocokan itu tidak pudar dengan berakhirnya perselingkuhan. Inilah masanya membereskan masalah. Jangan sampai lari dari masalah atau menutupi masalah. Akui kita memunyai masalah ketidakcocokan. Mintalah bantuan pihak konselor atau hamba Tuhan untuk menolong menyelesaikan masalah kita.

T: Biasanya, orang yang berselingkuh itu memunyai rasa bersalah yang besar sekali terhadap pasangannya, sehingga dia tidak berani mengambil inisiatif ke konselor?

J: Memang perlu kematangan dari kedua belah pihak untuk mengakui bahwa ada masalah yang memicu perselingkuhan. Adakalanya, misalkan si suami yang berselingkuh, setelah melepaskan pasangan selingkuhnya dan mau membereskan masalah dengan istrinya, si istri tidak siap, membutakan mata terhadap masalah yang sudah ada dan hanya fokus pada adanya orang ketiga. Jadi, perlu kematangan, keterbukaan untuk mengakui masalah. Jangan sampai kita tidak mau mengakui bahwa kita berandil dalam masalah rumah tangga kita dan hanya melemparkan tanggung jawab pada pihak ketiga.

Langkah berikutnya adalah mereka harus bertahan. Target pasangan adalah menyelamatkan pernikahan. Setelah badai selingkuh itu lewat, kita baru menyadari luka dan kebutuhan-kebutuhan yang tak dipenuhi oleh pasangan gara-gara berselingkuh dengan orang lain. Kita marah sekali karena baru menyadarinya. Sekarang pernikahan sudah selamat, pasangan kita tidak lagi bersama selingkuhannya, kita merasa lebih aman, lebih bebas mengungkapkan kemarahan. Biasanya memakan waktu berbulan-bulan bahkan beberapa tahun untuk pasangan yang dilukai mengeluarkan uneg-uneg, kemarahan-kemarahannya. Kalau tidak tahan dan bijaksana dalam menghadapi gejolak emosi ini, pernikahan akan mengalami krisis yang kedua, krisis pascaperselingkuhan.

T: Apakah ada masalah lain yang timbul setelah perselingkuhan itu bisa diatasi?

J: Badai selingkuh acap kali mengobrak-abrik struktur rumah tangga. Jika sebelumnya kita berada di bawah kekuasaan pasangan kita, mungkin sekali sekarang kita sejajar dengannya, atau kebalikannya, mungkin dia dulu berada di bawah kendali kita, sekarang dia berada di atas kita. Mengapa? Karena setelah dia berselingkuh, kita menyadari bahwa kita salah telah mengabaikan kebutuhannya, dan sekarang kita takut kehilangan dia. Perubahan struktur ini menuntut penyesuaian peran, perubahan hak, tanggung jawab. Dulu bebas berbuat apa saja, berkuasa atas pasangan, tapi sekarang tidak lagi memunyai wibawa dan otoritas itu. Sering kali kita ingin kembali ke posisi semula. Namun justru ini yang tidak bisa lagi dilakukan, kita harus menerima fakta bahwa sekarang semuanya telah berubah. Ini adalah proses untuk menumbuhkan kembali kepercayaan pasangan. Kadang kala pasangan nikah tidak bisa menerima perubahan struktur ini dan akhirnya timbul goncangan babak kedua dalam pernik ahan mereka.

T: Setelah mereka bisa mengatasi itu semua, bagaimana seharusnya sikap pasangan suami istri ini terhadap pihak ketiga yang kadang-kadang masih melintas dalam kehidupan mereka?

J: Memang tidak semua situasi sama. Misalkan, pasangan selingkuhnya itu adalah rekan sekerjanya. Kadang-kadang seseorang tidak memunyai banyak pilihan untuk bekerja di tempat lain. Idealnya adalah melepaskan pekerjaannya supaya tidak bertemu dengan mitra selingkuhnya, tapi hidup tidaklah seideal itu meskipun itu yang terbaik. Si korban selingkuh mungkin saja menuntut pasangannya untuk lepas dari pekerjaannya karena takut akan terulang lagi. Namun semua keputusan harus dipikirkan matang-matang, jangan tergesa-gesa, didasari oleh emosi sesaat, perlu melihat apakah ada pilihan yang baik. Jangan sampai gara-gara mau melepaskan diri dari mitra selingkuh akhirnya malah tidak mendapatkan pekerjaan dan menjadi masalah bagi pernikahan.

T: Bagaimana kalau mitra selingkuh itu masih sering berhubungan?

J: Dia harus menjaga batas, tidak ada lagi pertemuan di luar jam kantor, tidak lagi membicarakan masalah pribadi, keluarga. Benar-benar harus menahan diri untuk memutuskan relasi emosional itu. Setiap hal yang terjadi di tempat pekerjaan, harus dibicarakan dengan pasangannya di rumah, sehingga pasangannya tidak usah mencari tahu. Bukankah dia tidak senang kalau diinterogasi oleh pasangannya, jadi sebelum diinterogasi, ceritakan terlebih dahulu sehingga pasangan kita menyadari bahwa kita jujur, terbuka.

T: Sering kali pasangan yang dikhianati mengungkit-ungkit kembali masalah-masalah perselingkuhan itu.

J: Sampai waktu tertentu, memang diperbolehkan dan memang sehat, karena kemarahannya masih tersisa. Berikan waktu antara setahun sampai dua tahun untuk pasangan kita mengalami gejolak emosi itu. Jangan balas bicara, jangan coba menjelaskan. Saat pasangan kita marah atau menangis, menuduh kita, dengan tenang dengarkan dan mintalah maaf. Selalu katakan begitu. Jangan membela diri, sebab hal itu malah akan semakin memanaskan hatinya.

T: Apakah ada firman Tuhan untuk masalah ini?

J: Amsal 22:4, "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." Dua hal dari firman Tuhan ini adalah kerendahan hati dan takut akan Tuhan. Kalau kita rendah hati dan takut akan Tuhan, maka tidak ada selingkuh. Namun kalau sampai kita jatuh ke dalam dosa selingkuh, dosa perzinahan, dan kita ingin bereskan kembali, bangun kembali rumah tangga kita, maka kuncinya adalah rendah hati, mau menerima perubahan, peran baru, mengalami keterbatasan, mengakui kesalahan dan minta maaf, dan terus-menerus takut akan Tuhan. Ini panduan kita karena kita tahu Tuhan mengawasi kita, jangan lagi berbuat dosa.

Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T155A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.

Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org> atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di: ==> http://www.telaga.org/audio/setelah_perselingkuhan

Sumber
Judul Artikel: 
TELAGA - kaset No. T199A (e-Konsel Edisi 191)

Komentar