Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sikap dalam Memberi

Edisi C3I: e-Konsel 333 - Memberi dengan Kasih

Diringkas oleh: S. Setyawati

Yesus Kristus adalah kasih. Dia adalah Allah yang Mahamurah dan suka memberi. Sebagai murid Yesus Kristus, konselor Kristen sudah sewajarnya menjadi orang yang suka memberi. Dalam hal ini, pemberian tidak hanya terbatas pada bentuk materi, namun juga dalam bentuk-bentuk yang lain seperti perhatian, kasih, dan penguatan.

Dalam hal memberi, seorang konselor perlu mengingat hal-hal berikut ini:

  • Memberi adalah berkat bagi yang memberi dan yang menerima. Ketika kita dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, itu berarti kita beroleh kasih karunia. Hal ini dinyatakan Paulus dalam 2 Korintus 8:4. Kita perlu belajar dari orang-orang Makedonia. Mereka "sangat miskin", namun mereka mau memberi dan menganggap kesempatan memberi sebagai "kasih karunia".

  • Memberi memberikan peluang bagi kita untuk mencerminkan watak Allah. Allah adalah Pemberi (Yohanes 3:16; Roma 8:32; Filipi 2:5-8), itu sudah menjadi sifat Allah. Dan, sebagai konselor-konselor Kristen, kita hendaknya berusaha meneladani Dia.

  • Memberi dapat menumbuhkan persekutuan dan persaudaraan. Apabila kita bertindak sebagai mitra yang ikut ambil bagian dalam segi keuangan dengan murah hati dan rendah hati, maka kasih pun diperkuat. "Kasih karunia yang tak terkatakan" (2 Korintus 9:14-15) itulah yang mengikat kasih antara pemberi dan penerima.

  • Memberi dapat menghasilkan kedewasaan. Oleh karena itu, hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini (2 Korintus 8:1,7; 2 Korintus 9:10).

  • Memberi memungkinkan Allah untuk dapat memberi kepada si pemberi. Perjanjian Baru menekankan upah rohani dari hal memberi walaupun upah secara materi juga diberikan (Matius 6:19-21). Apa yang kita berikan menentukan apa yang akan kita terima (Lukas 6:38). Ketika kita memberi segala sesuatu dengan kasih, seperti kita melakukannya untuk Tuhan, kita akan semakin mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang memelihara (Filipi 4:19). Marilah kita menyimpan harta di surga dengan berbuat kebajikan dalam hal memberi (Filipi 4:17). Allah tidak berjanji akan memberikan semua hal yang kita minta. Akan tetapi, Ia akan memenuhi setiap kebutuhan kita, bukan setiap keinginan kita yang mementingkan diri sendiri. Selain itu, mari kita memberi karena dorongan kasih, bukan karena keinginan untuk mendapat imbalan. Tuhan Yesus menyuruh agar kita memberi "dengan tidak mengharapkan balasan" (Lukas 6:35).

Dalam Perjanjian Lama, Allah berjanji untuk memberkati orang Israel secara materi karena kerelaan mereka untuk memberi dengan murah hati. Jadi, dalam hal ini yang terpenting adalah memberi dengan kasih, dengan kerelaan hati. Jika kita memberi supaya dapat menerima imbalan duniawi, kita memalsukan upah surgawi kita (Matius 6:2).

  • Memberi dapat mendatangkan banyak hasil positif.

    1. Memberi menyebabkan orang mengucap syukur dan memuji (2 Korintus 9:11-13).

    2. Memberi menyebabkan orang bersukacita (Filipi 4:10).

    3. Memberi menyebabkan orang berdoa (Filipi 1:4-5).

    4. Memberi mendorong orang lain untuk memberi (2 Korintus 9:2).

    "Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35) Itu sebabnya, kita harus mengatur apa yang kita miliki agar kita bisa memberikan sebagian untuk menolong sesama. Ada saatnya kita menerima, namun usahakan untuk lebih banyak menjadi pemberi.

  • Memberi hendaknya dengan kerelaan hati. Syarat-syarat memberi yang benar bisa dilihat dalam Kitab Keluaran 13:1-16, 23:19 dan Imamat 27:30-32. Jangan pernah menggunakan harta yang Tuhan percayakan hanya untuk kepentingan diri sendiri, dan jangan pernah menipu Tuhan Allah (Maleakhi 3:8-10). Dalam hal memberi, bukan soal sepersepuluh dari yang kita terima, melainkan soal pemberian sukarela sebagai ungkapan kasih dan saling membantu (2 Korintus 8:8-9). Sepuluh persen merupakan titik awal yang baik untuk mendisiplin diri Anda.

  • Memberi harus dengan sukacita dan rela hati (Ulangan 15:7-10 dan 2 Korintus 9:7). Ketika memberi, usahakan untuk melakukannya dengan tulus seperti melakukannya untuk Tuhan, dan sebagai bentuk ucapan syukur kita akan rahmat dan kasih-Nya kepada kita, bukan untuk maksud supaya tidak mendapat hukuman dari Tuhan. Jangan pernah menghakimi orang lain yang memberi lebih sedikit daripada yang kita pikir seharusnya dapat mereka berikan (Roma 14:4-5,10).

  • Besarnya pemberian kita haruslah sebanding dengan penghasilan kita. Sepuluh persen merupakan jumlah yang baik sebagai permulaan. Namun, ketika kita digerakkan untuk memberi lebih dari sepuluh persen, itu jauh lebih baik. Dan, ketika kita berkekurangan, jangan merasa bahwa kita tidak bertanggung jawab untuk memberi atau berpikir bahwa pemberian kita tidak berarti (Lukas 21:1-4; 2 Korintus 8:11-12). Allah tertarik pada sikap hati, bukan pada besarnya pemberian.

  • Memberi hendaknya dilakukan dengan murah hati (2 Korintus 9:6). Allah itu murah hati dan mengambil setiap kesempatan untuk mengungkapkan kemurahan hati-Nya. Alangkah senang hati Tuhan bila kita mencerminkan sifat-Nya.

  • Memberi harus teratur dan sistematis (1 Korintus 16:2). Terkadang, antara niat dan tindakan tidak selalu sama atau sejalan. Oleh karena itu, perlu adanya disiplin mingguan. Walaupun tidak ada sesuatu yang universal mengenai peraturan memberi secara mingguan, merencanakan pemberian sangatlah penting.

  • Memberi hendaknya tanpa pamer (Matius 6:1-4). Seperti biasanya, hal yang penting di mata Allah adalah motivasinya, bukan tindakannya.

  • Sebagai konselor Kristen, bersediakah kita untuk memberi? Jika belum, ingatlah ayat-ayat di atas dan segeralah melakukannya sebelum terlambat.

Diringkas dari:

Judul asli buku : A Compact Guide to the Christian Life
Judul buku terjemahan : Kompas Kehidupan Kristen
Judul bab : Uang
Judul asli artikel : Bagaimanakah Seharusnya Sikap Saya Tentang Memberi?
Penulis : K. C. Hinckley
Penerjemah : Gerrit J. Tiendas
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
Halaman : 211 -- 216

Komentar