Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Stres dan Musik

Ada satu hasil penelitian tentang perceraian yang cukup mengejutkan tatkala saya membacanya lebih dari 10 tahun yang lampau. Ternyata, penyebab pertama perceraian di Amerika Serikat adalah masalah keuangan, bukan perselingkuhan atau masalah ketidaksetiaan lainnya. Saya tidak tahu apakah hasil riset itu tetap sama pada saat ini dan saya juga tidak tahu apakah data itu relevan dengan konteks di Indonesia. Tetapi dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang ini, saya pikir ada baiknya kita meluangkan waktu sejenak menelaah imbasan tekanan ekonomi pada hubungan suami-istri.

Aspek finansial merupakan bagian integral dan hakiki dalam kehidupan berumah-tangga. Kesulitan ekonomi tidak bisa tidak akan mempengaruhi segenap sendi kehidupan berkeluarga. Tanpa kita sadari, uang telah menjadi salah satu penyanggah kelangsungan hubungan suami-istri. Banyak aktivitas keluarga yang bergantung pada dukungan moneter, seperti rekreasi, makan keluar, membeli mainan, dan sebagainya. Uang pun bersumbangsih dalam kemesraan relasi suami-istri; bukankah dasi yang menawan bagi suami dan cincin yang berkilau untuk istri memerlukan dana yang tak sedikit? Sudah tentu kebutuhan pokok keluarga juga bersandar sepenuhnya pada pemasukan uang; dengan uang yang cukup kita mencukupi kebutuhan jasmani dan mental keluarga, misalnya pendidikan anak dan les musik.

Melihat begitu menyatu dan berperannya uang dalam kehidupan berkeluarga, kita bisa mafhum bahwa gangguan pada kucuran keran finansial akan dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan berkeluarga. Ada beberapa efek yang berpotensi mengganggu kelanggengan keluarga.

Pertama, kesulitan finansial memaksa kita mengubah gaya hidup kita. Sebagian gaya atau kebiasaan hidup mudah diubah, sebagian susah, tergantung pada berapa besar makna gaya hidup itu bagi kita. Ada yang dengan mudah membatalkan jadwal main golf, namun ada yang mengalami kesukaran melakukannya. Bagi sebagian orang, main golf hanyalah olahraga; tidak lebih, tidak kurang. Namun untuk sebagian orang lainnya, golf sudah menjadi identitas diri. Bagi mereka, golf adalah pergaulan sosial dan penyegaran mental; dengan kata lain, golf sudah menjadi kebutuhan hidup. Akibatnya, sewaktu golf menghilang dari daftar aktivitas mingguan, menghilang pulalah kesegaran tubuh dan j iwa.

Ada banyak contoh seperti golf di mana pada akhirnya kita telah menambah jumlah sembilan kebutuhan pokok menjadi 10. Kesulitan finansial biasanya mengharuskan kita memangkas dan meredifinisi kebutuhan "pokok" yang sudah sekian lama menjadi bagian kehidupan kita. Ketegangan suami-istri-anak dapat muncul dengan mudahnya tatkala kita merasa bahwa pasangan kita enggan mengurangi kegiatan rutinnya sedangkan kita sendiri sudah bersusah payah melakukannya. Kemarahan bisa memuncak sewaktu kita menganggap bahwa pasangan kita egois dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Misalnya jika kita harus mengorbankan sesuatu yang kita sukai; atau apabila kita menyaksikan bahwa pasangan kita bukan saja tidak mendukung usaha kita, malah mensabotasenya. Dalam keadaan seperti ini kerelaan kita berkorban terpengaruh; kita menunggu dulu tindakan pasangan kita. Apabila ia tetap tidak berubah, kita pun tergoda untuk tidak berubah. Pada akhirnya yang muncul adalah kebencian.

Kedua, masalah keuangan, sebagaimana masalah lainnya, akan melahirkan tekanan baru pada hubungan suamiistri. Kita mungkin kehilangan gairah hidup, kurang santai, dan tegang sebab pikiran kita terhanyut dalam kemelut finansial. Kita berupaya untuk tidak terlalu memikirkan masalah keuangan namun tidak kuasa membendung arus berita yang sarat dengan nuansa problem moneter. Ketegangan sudah tentu berdampak langsung pada kemesraan karena kemesraan biasanya muncul dalam suasana santai di mana kita dapat saling menikmati satu sama lain. Pokok pembicaraan pun beralih ke arah problem dan pemecahannya-topik yang berat-tidak lagi pada hal-hal yang ringan, seperti kelucuan tingkah laku anak atau pelayanan. Bahan yang berat sudah tentu akan menambah beratnya beban di hati kita. Suasana rumah pun berubah serius dan tegang bak api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa memercikkan lidah api pertengkaran.

Pertengkaran mudah meletup dalam suasana hati yang tegang dan hambar. Pada umumnya salah satu penyebab pertengkaran pada masa krisis adalah kecenderungan kita untuk saling menyalahkan. Respons a!amiah kita menghadapi problem ialah mencari sumber malapetaka itu dan dalam hal ini, kita mungkin menyesali keputusan atau tindakan pasangan kita di masa lampau. Kita mulai berkata-kata dengan bahasa "seandainya," karena kita berpikir bahwa tindakan atau keputusan yang diambilnya berpengaruh besar dalam penderitaan kita sekarang ini. "Kalau saja ia tidak gegabah menjual rumah itu, seandainya ia lebih sabar dan tidak membeli mobil itu," kira-kira itulah cetusan kekesalan kita (yang mungkin saja sangat beralasan). Namun kita pun tahu bahwa salah-menyalahkan akan mengobarkan api kemarahan dan makin memperlebar jurang di antara kita. Banyak hal lain yang dapat kita kaitkan dengan tekanan ekonomi, namun semuanya itu berdampak serupa pada keluarga kita: Stres!

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan guna menanggulangi masalah stres ini namun kali ini saya akan memfokuskan pada satu hal saja: Musik! Belum lama ini seseorang memberikan saya sebuah buku yang menarik, Music as Medicine, yang ditulis oleh Deforia Lane, seorang music therapist. Ternyata musik berpengaruh besar khususnya dalam proses pemulihan dan perilaku kita pada umumnya. Perhatikan data-data berikut ini. Musik dapat memancing emosi yang kuat, yang kemudian mempengaruhi sistem syaraf otonom di manasyaraf ini akhirnya mengeluarkan hormon dan endorfin tertentu, yang adalah penahan sakit alamiah dari tubuh kita. Musik yang diperdengarkan dengan tempo sedang di pasar swalayan m,enyebabkan kenaikan kuantitas belanja sebanyak 28%. Rupanya kita berjalan sesuai dengan irama musik yang lambat dan ini membuat kita merasa lebih senggang untuk membeli barang. Musik juga dapat menurunkan tekanan darah tinggi, detak jantung dan pernapasan yang cepat. Musik bisa pula mengurangi persepsi kita akan rasa sakit, ketakutan, stres, dan kecemasan. Sungguh mencengangkan kekuatan musik dalam hidup kita! Tidak heran bahwa kitab terpanjang di Alkitab adalah sebuah buku nyanyian!

Jika musik adalah karunia Tuhan bagi kita yang sedang mengalami tekanan, mengapa tidak kita manfaatkan kegunaannya? Saya yakin meski musik tidak dapat menghilangkan problem kita, namun ia bisa membantu kita menghadapinya. Musik memang bukan solusi atas kesulitan kita, tetapi musik dapat menolong kita bersikap lebih tenang dan santai dalam memecahkan masalah yang kita hadapi. Musik tidak dapat menggantikan Firman Tuhan namun musik dapat dipakai Tuhan mengkondisikan kita agar siap mendengarkan Firman dan janji-Nya. Sudah tentu kita perlu arif memilih musik yang sesuai. Senandung yang tenang akan mengisi kalbu kita dengan kedamaian sedangkan lantunan yang gembira akan menceriakan jiwa kita.

Stres merupakan gejala ganda: fisik dan mental. Sewaktu kita tertekan, bukan saja pikiran kita kalut dan hati kita terhimpit, tubuh kita pun lemah lunglai atau tegang, tidak nyaman. Musik memasuki fungsi fisik kita melalui pintu indera pendengaran dan diteruskan ke otak yang mengatur reaksi mental kita terhadap peristiwa yang menimbulkan stres itu. Tatkala otak kita mulai mengalami pengaruh menyejukkan dari musik itu, ia pun akan menebarkan rasa nyaman ke seluruh tubuh kita. Kebanyakan dari 150 pasal di Mazmur (yang berarti "nyanyian") berisikan pergumulan pemazmur mengatasi stres yang menekannya. Dengan kata lain, pemazmur mengungkapkan perasaan hatinya melalui lagu alias musik. Musik menjadi sarana ekspresi diri dan sekaligus wahana pemulihan di mana melaluinya pemazmur berkomunikasi dengan Allah dan menerima peneguhan janjiNya. Saya kira pada masa yang tidak menentu dan mencemaskan ini, itulah yang kita perlukan. "

Sumber
Halaman: 
1 - 2
Judul Artikel: 
Parakaleo, Januari Maret 1998, Vol. V, No. 1
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda, Dr. Esther Susabda
Tahun: 
1998

Komentar