Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sukacita dan Kehidupan Kristen

Edisi C3I: e-Konsel 185 - Hidup dalam Sukacita

Sukacita adalah istilah Alkitab yang asli dan unik. Banyak orang yang mengacaukan sukacita dengan kebahagiaan, tetapi ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Kebahagiaan bergantung pada keadaan sekitar, sedangkan sukacita tidak demikian. Kebahagiaan merupakan tanggapan yang dangkal terhadap hal-hal yang baik; sukacita merupakan tanggapan yang jauh mendalam, yang tetap bertahan apakah yang terjadi di sekitarnya itu buruk atau baik.

Pandangan dunia tentang kebahagiaan adalah mengutamakan kepentingan diri sendiri serta merencanakan kebaikan perseorangan dalam segala sesuatu yang Saudara lakukan. Kebaikan yang paling besar itulah kebahagiaan diri sendiri. Ironisnya, sikap seperti itu jarang membawa kita kepada kebahagiaan yang dijanjikan itu.

Pandangan Kristen tentang kebahagiaan sama sekali berlawanan. Jika Kristus tinggal di dalam diri Saudara, maka Saudara tidak memasuki hubungan dengan orang lain dengan tujuan untuk membahagiakan diri sendiri, melainkan untuk memberi diri Saudara sendiri. Kasih yang berkorban ini tumbuh dari roh agape Kristus. Hal inilah yang tidak dapat dilakukan atau pun dibayangkan oleh orang di luar Kristus. Kebaikan orang lain, bukan kebahagiaan Saudara sendiri, merupakan patokan untuk menilai perbuatan Saudara. Jika Saudara mengorbankan diri, Saudara menerima sukacita yang ingin Tuhan berikan kepada Saudara. Jadi, kebahagiaan dan sukacita sama sekali berbeda.

Dalam autobiografinya, "Surprised by Joy", C.S. Lewis memerikan usahanya untuk memperoleh sukacita. Ia berusaha untuk mendapatkannya di dalam humanisme, komunisme, erotisme, dan filsafat serta pencarian manusia lainnya. Akan tetapi, semuanya itu hanya memperlihatkan bekas-bekas sukacita. Ia tidak menemukan sukacita bagi dirinya sendiri sebelum ia menyadari bahwa sukacita hanya akan datang bila mengutamakan Kristus di dalam hidupnya.

Sukacita sendiri tidak pernah menjadi tujuan akhir. Hanya ketika Saudara menjadikan Kristus prioritas utama, maka hampir tanpa disadari sukacita itu datang. Bila Saudara mencari sukacita, Saudara akan kehilangan, sebab sukacita tidak dapat ditangkap.

Orang duniawi tidaklah mencari sukacita, melainkan kebahagiaan. Sukacita adalah sesuatu yang diberikan oleh Kristus. Ibrani 12:2 berbunyi, "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." Dengan tabah, Yesus menanggung semua penderitaan dan kesakitan sebab Ia mengingat akan tujuan akhirnya. Ia telah meneguhkan tujuan-Nya untuk penebusan dunia, jadi Ia tidak pernah mengabaikan sukacita yang menantikan diri-Nya. Dari penderitaan itu akan terbit sukacita bagi-Nya sebab Ia telah memberikan diri-Nya bagi penebusan manusia.

Yesus berdoa agar para murid-Nya memiliki sukacita-Nya, "Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka" (Yohanes 17:13). Sukacita Kristus disalurkan kepada kita sementara kita melakukan tugas untuk memberitakan kepada dunia tentang Dia.

Kadang-kadang kita tidak merasakan sukacita sama sekali. Jikalau kita mulai bertanya di dalam hati apakah kita telah kehilangan sukacita dalam hidup sebagai orang Kristen, kita perlu bertanya-tanya apakah kita sedang mengacaukan cara dan tujuannya. Jikalau sukacita itu menjadi tujuan kita, maka kita akan kehilangan sukacita. Jika kita kehilangan sukacita hidup kekristenan, kita perlu kembali pada segi pandangan yang benar tentang panggilan Allah dalam kehidupan kita dan mempertimbangkan apakah Kristus benar-benar sudah kita nomor satukan dalam kehidupan kita. Sukacita itu tidak "hilang", tetapi bisa "salah letak" bila prioritas-prioritas kita yang lain sudah menyimpang.

Kita tidak bekerja untuk memperoleh sukacita. Sukacita juga bukan suatu sasaran atau tujuan yang harus kita capai. Sebaliknya, sukacita merupakan hasil spontan dari hubungan kita dengan Kristus.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
719 -- 721
Judul Buku: 
Pola Hidup Kristen
Pengarang: 
David Mckenna
Penerbit: 
Gandum Mas, YAKIN, Kalam Hidup, LLB (Lembaga Literatur Babtis)
Tahun: 
2002

Komentar