Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Surat

Berkaitan dengan topik pasangan hidup, berikut ini kami pilihkan salah satu surat dari Sdr. X yang dikirim kepada Redaksi.

Dari: X <x(at)xxxx>
>Saya ingin tanya soal masalah pasangan hidup kita.
>1. Mungkinkah kita bisa salah dalam memilih teman hidup dan dia
>menjadi istri atau suami kita?
>2. Kalo misalnya kita salah pilih, artinya kita harus hidup
>bersama dgn dia selamanya sampai maut datang, bagaimana solusinya?
>karna kalau salah pilih biasanya kita tidak akan akur, selalu beda
>dan ada saja yang diributkan. Terimakasih.

Redaksi: 1. Dalam memilih pasangan hidup, Allah telah memberikan prinsip-prinsip dalam Alkitab yang harus dituruti orang Kristen. Dengan demikian, orang Kristen dapat terhindar dari memilih pasangan hidup yang salah (tidak sesuai dengan kehendak Tuhan). Selebihnya, Allah memberikan kebebasan dan tanggung jawab penuh kepada kita untuk memilih siapa orang yang cocok dengan kepribadian kita untuk menjadi pasangan hidup kita.

Mungkinkah kita salah memilih? Bisa saja. Kalau kita tidak mengikuti prinsip Alkitab yang Tuhan berikan, kita bisa membuat keputusan yang salah. Karena itu, kita harus meminta hikmat dan pimpinan Allah agar kita mengerti dengan jelas prinsip-prinsip Alkitab. Selain itu, kita juga harus mengenal diri dengan baik sehingga kita tidak memilih orang yang tidak sesuai dengan kepribadian kita.

2. Dalam iman Kristen, setiap pernikahan yang sudah terjadi walaupun dengan "orang yang salah pilih," tetap termasuk dalam ikatan "yang sudah dipersatukan Allah" (Mat. 19:6). Dengan demikian, kesalahan memilih ini jangan dilanjutkan dengan kesalahan yang lebih besar lagi, misalnya bercerai. Setiap orang Kristen harus bertanggung jawab dan mengusahakan agar pernikahan yang sudah terjadi itu berhasil dan memuliakan Tuhan, apa pun risikonya. Caranya, mereka harus membangun pernikahan mereka dengan prinsip-prinsip firman Tuhan dan belajar saling mengasihi sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menghalanginya. Melaksanakan hal ini tentu tidak selalu mudah, terutama bagi mereka yang merasa menikah dengan "orang yang salah pilih". Karena itu, mohonlah kasih karunia Tuhan agar kita memiliki kasih, komitmen, dan ketekunan dalam membangun keluarga kita.

Ketidakcocokan pribadi dalam pernikahan memang sering terjadi, termasuk bagi pasangan yang seiman. Tidak ada jaminan bahwa mereka akan hidup bahagia tanpa masalah. Bagaimanapun juga mereka akan mengalami gesekan-gesekan dan masalah. Hal ini wajar-wajar saja. Diperlukan hati yang penuh kasih Tuhan dan tidak mementingkan diri sendiri agar dua pribadi ini bisa belajar hidup bersama. Oleh karena itu, tingkatkan kemampuan berkomunikasi dan kemampuan mengampuni untuk memperkecil masalah dalam perkawinan. Jika hal ini sudah diusahakan, maka percayalah bahwa di dalam Tuhan jerih payah Anda tidak akan sia-sia (1Kor. 15:58).

Komentar