Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Takut

Edisi C3I: e-konsel 255 - Merdeka dari Ketakutan

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Mungkin 1 dari 9 orang yang pernah melakukan konseling sering kali meremehkan masalah takut. Padahal, kebanyakan orang sering bergumul dengan rasa takut -- dalam tingkat dan bentuk yang berbeda-beda. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang merasa takut saat naik elevator, takut dengan ketinggian, takut mengalami penolakan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dsb.. Meskipun rasa takut bisa disembunyikan, rasa itu akan terus menjalar dan mencengkeram.

Rasa takut yang berlebihan dapat "menghancurkan" manusia. Alkitab, secara khusus memberikan banyak pembahasan tentang hal ini. Bahkan, dalam banyak kesempatan, Allah menasihati umat-Nya agar "jangan takut". Mengapa perintah ini diulang terus-menerus? Karena Allah tahu betapa nyatanya rasa takut itu bagi manusia, dan betapa perlunya kita diingatkan terus untuk memercayai-Nya di segala situasi dan kondisi.

Transformasi

Mungkin Anda mengerti bagaimana perasaan orang-orang yang terbelenggu dengan perasaan takut, yang di dalamnya seolah tidak ada jalan keluar. Anda mungkin juga mengerti seperti apa realitas siksaan yang dialami oleh orang-orang yang terbelenggu dengan perasaan takut. Betapa ajaibnya mengetahui bahwa Allah sanggup dan bersedia melepaskan kita dari setiap penderitaan, serta memampukan kita agar bebas dari rasa takut. Allah sanggup melakukan transformasi dalam hidup kita.

Macam-Macam Ketakutan

Rasa takut tidak tepat jika digolongkan sebagai penderitaan. Rasa takut meliputi 3 area, yaitu 2 area positif dan 1 area negatif.

1. Rasa Takut yang Alami.

Allah menempatkan dalam diri seseorang suatu insting pertahanan. Rasa takut yang alami adalah rasa takut yang muncul sebagai reaksi alami atas keadaan yang mengancam dan situasi yang mengarah pada bahaya. Pada saat itu, tubuh memompa adrenalin ke aliran darah, melepaskan kekuatan fisik dan mental yang besar, untuk menghadapi dan mengatasi bahaya.

Anda bisa mengingat kembali pengalaman Anda ketika Anda tiba-tiba waswas dan ada energi yang menolong Anda, atau bahkan menyelamatkan hidup Anda. Ini adalah rasa takut yang positif. Ini adalah cara melindungi diri. Namun, jika sikap waswas ini berkecamuk dalam jangka waktu yang cukup panjang, hal ini bisa mengakibatkan bahaya terhadap sistem fisik. Bahkan, ada kesempatan timbulnya rasa takut yang lain, yang disebut rasa takut yang benar.

2. Rasa Takut yang Benar.

Rasa takut ini juga untuk menyelamatkan nyawa. Alkitab menyebutnya "takut akan Tuhan". Rasa ini muncul karena kekaguman, ketakjuban, dan penghormatan akan Tuhan. Rasa takut ini seharusnya memenuhi hati semua orang setelah mengakui kebesaran Sang Pencipta alam semesta. Allah adalah Pencipta. Dialah yang menopang segala sesuatu. Dialah Allah yang adil, yang menghakimi semua orang menurut perbuatannya.

Pertemuan Pribadi

Hanya setelah kita menyerahkan diri kepada Yesus Kristus, Putra Allah, sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita bisa memiliki rasa takut akan Allah. Dengan memohon pengampunan dari Allah, kita dimampukan-Nya hidup dalam takut akan Allah. Rasa takut akan Allah akan terus bertambah seiring pertumbuhan kita di dalam Dia. Mazmur 33:8 mengatakan "Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!" Berdirilah "dengan gentar terhadap Dia"! Apakah ini respons kebanyakan manusia? Alkitab mengajarkan kepada kita, "Takut akan TUHAN itu suci,"(Mazmur 19:9); "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN," (Mazmur 111:10); "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan," (Amsal 8:13); dan "Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan..." (Amsal 14:27) Saat membaca ayat-ayat ini, Anda mungkin berharap bisa benar-benar takut akan Allah. Nabi Yesaya, ketika menyatakan tentang kedatangan Mesias, menubuatkan bahwa "Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang." (Yesaya 11:2-3)

3. Rasa Takut yang Merugikan.

Dalam Yeremia 49:24, nabi Yeremia berkata: "Damsyik telah menjadi lemah semangat, berpaling untuk lari, kegemparan telah mencekam dia, kesesakan dan sakit beranak telah menggenggam dia seperti seorang perempuan yang sedang melahirkan."

Dalam bahasa Ibrani kata takut digambarkan sebagai sesuatu yang "mengikat dan membelenggu". Rasa takut mengakibatkan kesengsaraan. Kesengsaraan secara pikiran dan emosi ini, akan membelenggu kita jika kita tidak berada di dalam Kristus. Namun, dengan menerima Yesus ke dalam hidup kita, tidak berarti kita secara otomatis terbebas dari semua belenggu serangan. Kita harus merebut apa yang telah Kristus bayarkan bagi kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Saat kita belajar bekerja sama dengan Roh Allah, kita bisa menemukan realitas kemerdekaan dari ketakutan, dari segala penderitaan jiwa, dan tubuh. Allah menginginkan kita bisa bebas dari rasa takut yang merugikan.

Ketahuilah Kebutuhan Kita

Langkah pertama untuk mendapatkan kebebasan dari rasa takut adalah dengan menyadari bahwa kita terbelenggu oleh rasa takut, dan kita membutuhkan pertolongan. Jika kita tidak mau menyadari kebutuhan kita, kita tidak akan dapat memperoleh kebebasan. Coba kita perhatikan kisah Bartimeus dalam Lukas 18:40-42. Mengapa Yesus bertanya kepadanya, "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Yesus tentu saja tahu apa yang menjadi kebutuhan Bartimeus, tetapi Dia ingin mendengar pengakuan dari bibir Bartimeus sendiri. "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Setelah itu, Yesus segera menyembuhkannya.

Meskipun kita sulit untuk berterus terang tentang apa yang kita takutkan, cobalah untuk mengakuinya. Jujurlah pada diri sendiri dan orang lain, kita membutuhkan pertolongan. Sering kali saat konseli datang kepada konselor, dia tidak mau mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Mereka hanya menceritakan masalah di permukaan, tanpa mau menceritakan masalah yang sebenarnya. Hal ini sering terjadi karena adanya rasa takut dan rasa malu. Syukurlah, Roh Kudus itu penuh kemurahan dan berkenan menyingkapkan kebutuhan kita, serta memberikan pertolongan.

Setelah kita mengetahui inti masalah kita dan bagaimana roh ketakutan memasuki kehidupan kita, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana berjalan dalam kemerdekaan Allah. Allah menghendaki kita semua bebas dari rasa takut. Namun, kita harus ingat bahwa iblis akan selalu mencari cara untuk mendapatkan keuntungan dalam setiap "situasi yang menakutkan" yang terjadi dalam kehidupan kita. Ingatlah pula bahwa selama kita hidup di dunia, kita tidak akan bebas dari serangan musuh. Oleh karena itu, belajar bagaimana kita bisa bebas hanyalah satu hal yang perlu kita miliki. Sedangkan belajar bagaimana menjaga diri agar tidak dikuasai rasa takut adalah hal yang lebih penting.

Langkah-Langkah Agar Bebas dari Rasa Takut

1. Bebaskan diri dari roh takut.

Kita harus menyadari rasa takut yang kita alami lalu mengatasinya. Jika tidak, seberapa pun kerasnya usaha kita untuk tetap berjalan bersama Allah, kita tetap saja akan terjatuh lagi, dan lagi, dan lagi dalam jerat musuh. Jadi, jika kita tidak mau menghadapi dan melawan rasa takut saat kita diperintahkan untuk melakukannya, kita pasti akan hidup dalam ketidakberdayaan.

2. Peliharalah hubungan dengan Yesus Kristus.

Menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat merupakan awal perjuangan. Kita harus terus bertumbuh secara rohani, agar kita dimampukan untuk terus melawan serangan musuh dan memperoleh kemenangan. Kita bisa mengalami pertumbuhan di dalam Kristus dengan cara membaca Alkitab secara teratur dan merenungkannya, menjalin hubungan yang intim dengan Dia melalui doa dan penyembahan, bersekutu dengan saudara-saudara seiman, taat melakukan perintah-perintah Allah, serta hidup sesuai dengan hukum dan prinsip Kerajaan Allah (Roma 14:71).

3. Kenakan senjata Allah.

Efesus 6:13 menyebutkan, kenakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk melawan serangan musuh. Senjata kita bukanlah senjata secara lahiriah, tetapi senjata rohani; yang tidak terlihat. Dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah siang dan malam, kita mampu bertahan dan melawan serangan setan. Bagaimana caranya? Katakan bahwa kita adalah milik Kristus, nyatakan kemenangan kita karena Kristus, dan di dalam Kristus kita kuat, terlindung, benar, penuh dengan damai sejahtera, dan dijagai oleh Firman-Nya.

4. Dipenuhi Roh Kudus.

Dipenuhi oleh Roh Kudus bukan pilihan namun kebutuhan (Efesus 5:18). Kita harus hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan menang atas setan. Setelah kita dipenuhi Roh Kudus, kita pasti bisa melawan setan dan menang.

5. Berjaga-jagalah senantiasa.

Seperti seorang prajurit, sebagai orang Kristen kita juga harus senantiasa berjaga-jaga. Firman-Nya berkata, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya!" (1 Petrus 5:8) Kuasai pikiran Anda, karena pikiran adalah titik utama yang menjadi sasaran dan pintu masuk iblis.

6. Memuji Tuhan.

Puji-pujian adalah senjata penting untuk melawan ketakutan. Selain sebagai persembahan, puji-pujian juga memiliki kuasa yang membebaskan (Ibrani 13:15 dan Kisah Para Rasul 16:25-26).

7. Berhentilah berbuat dosa.

Apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita menabur dosa, kita akan menuai penderitaan dan kebinasaan. Jadi, jika kita sudah berbuat dosa, segeralah mengakuinya dan bertobat.

8. Nyatakan kemerdekaan.

Pengakuan bahwa kita sudah bebas di dalam Kristus, berfungsi seperti tembok perlindungan dari serangan setan. Nyatakan kemerdekaan kita dengan iman, meskipun saat ini kita sedang berjuang.

9. Berpusatlah pada Kristus.

Allah adalah Pencipta dan Sumber kehidupan kita. Oleh karena itu, kita membutuhkan Yesus sekarang dan selamanya. Dengan berserah dan melayani Dia, kita mewarisi Kerajaan Allah dan mengalami damai sejahtera-Nya (Filipi 4:7). (t/Setya)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : Fear Free
Judul bab : The Reality of Fear, Types of Fear, dan Walking Fear Free
Penulis : Graham Powell
Penerbit : Sovereign World Ltd, Chichester 1987
Halaman : 7 -- 19 dan 133 -- 147

Komentar