Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Telaga Menjawab

Edisi C3I: e-Konsel 320 - Mengadopsi Anak

Konseli:

Saya memiliki 4 orang anak: sebut saja A (10 tahun), B (6 tahun), C (5 tahun) dan D (3 tahun). A dan B adalah anak angkat saya.

Cerita awalnya seperti ini: suami saya memunyai seorang adik angkat perempuan (mereka empat bersaudara laki-laki semua, sehingga orang tuanya mengangkat seorang anak perempuan). Adik perempuan ini hidup bebas sampai mengandung di luar nikah. Pada mulanya, ia ingin menggugurkan kandungannya, tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama A. Ibunya tidak mau memeliharanya, sehingga menjadi tanggung jawab suami saya karena dia anak pertama.

Tetapi ternyata menghadapi si A ini tidak mudah. Ia sulit diatur, suka melawan, susah makan, dan sebagainya. Saya merasa putus asa. Saya kadang ingin lari dan lepas dari dia, tetapi bagaimana? Kalau dikembalikan kepada orang tuanya, jelas tidak mungkin karena ibunya masih bermasalah, tetapi kalau dimasukkan ke panti asuhan saya juga tidak tega. Si A ini anak yang cuek dan dia tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Tetapi kalau masalah komputer, yang sangat ingin dia ketahui, maka dia akan terus mencari tahu. Dia cepat sekali mengingat segala sesuatu sampai detail untuk hal yang diminatinya.

Menurut Bapak bagaimana saya harus menghadapi si A ini?

Kemudian, ibunya A memunyai anak lagi dari pria lain, di luar nikah lagi. Pada mulanya dia berjanji akan mengurus anaknya sendiri, namun setelah anaknya lahir yaitu si B, dia tidak mau merawatnya. Dan akhirnya, sayalah yang merawatnya.

Berbeda dengan si A, si B ini adalah anak yang penurut dan mudah diatur, sehingga saya lebih menyayangi si B dari pada si A. Tidak lama kemudian, saya mengandung dan melahirkan anak dari kandungan saya sendiri.

Telaga:

Kami merasa kagum kepada Ibu yang telah menunjukkan kasih yang begitu besar kepada anak-anak tanpa orang tua. Kami menghargai kerelaan ibu merawat si A dan si B - suatu kerelaan yang menuntut harga pengurbanan yang tinggi.

Kami pernah membaca riset yang menunjukkan bahwa anak adopsi memang cenderung bermasalah, terutama anak laki-laki. Rupanya anak merasakan penolakan dari ibu kandung meski pada usia bayi. Itu sebabnya, anak adopsi cenderung merasa tidak aman dan membutuhkan perhatian yang besar. Ia pun cenderung "menguji" kesabaran orang tua, seolah ingin memastikan bahwa dia "diinginkan" alias tidak ditolak oleh orang tua angkatnya.

Ada dua hal yang dapat saya sarankan kepada Ibu. Pertama, Ibu dan suami perlu membicarakan perihal statusnya. Yang penting adalah Ibu mengomunikasikan komitmen dan kasih Ibu sebagai orang tua. Jangan sampai dia merasakan bahwa Ibu merawatnya sebagai kewajiban belaka. Pada usia belia ini, Ibu tidak perlu menceritakan asal-usul ibu kandungnya kecuali ia bertanya.

Kedua, si A memunyai pola pikir eksploratif, yang membuatnya sangat baik dalam hal "problem solving" yang penuh tantangan. Itu sebabnya, ia sangat berminat pada komputer. Namun, tampaknya pola pikirnya yang konkret, kurang abstrak. Akibatnya, ia lebih mudah belajar melalui apa yang dilihatnya daripada melalui apa yang didengarnya atau dibayangkannya. Itu sebabnya, ia memerlukan instruksi yang konkret. Kebanyakan anak seperti dia akan mengalami kesulitan belajar di sistem pendidikan Indonesia. Di sini sangat ditekankan kemampuan berpikir abstrak (melalui apa yang didengarkan dan dibayangkan). Sistem pelajaran di sini juga kurang memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi.

Jadi, si A cenderung tidak menyukai pelajaran sekolah, pada akhirnya berprestasi tidak baik. Itu sebabnya, ia makin membutuhkan tanggapan positif yang penuh penerimaan di rumah dan ia memerlukan pula kegiatan kompensasi yang menyenangkannya, seperti komputer. Yang harus Ibu lakukan adalah menurunkan tuntutan Ibu dan lebih memfokuskan pada tanggung jawab belajarnya saja. Hasilnya, tidak terlalu penting. Juga Ibu dapat memberinya banyak pujian atas kemahirannya memakai komputer. Hal ini akan menambah kepercayaan dirinya dan membuatnya merasa dihargai oleh Ibu.

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:58 berkata, "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

Merawat si A adalah "pekerjaan Tuhan"! Biarlah Tuhan menghibur dan menguatkan Ibu.

Diambil dari:

Nama situs : TELAGA.org
Alamat URL : http://www.telaga.org/berita_telaga/tegas_pada_tempatnya
Tanggal akses : 30 Oktober 2012

Komentar