Tsunami, Peringatan dari Tuhan?
TANYA
Pak Pdt. Yth.,
Pada 26 Desember 2004 yang lalu, di wilayah negara kita, tepatnya di Aceh dan Sumut, diterpa bencana Tsunami. Bahkan bencana tersebut juga terjadi di negara-negara lain. Melihat tayangan di televisi, betapa mengerikan sekali.
Sebagai orang Kristen, kita seperti diingatkan dengan peristiwa Nabi Nuh karena air yang menjadi teman kita justru menyerang tak kenal ampun. Ironis memang kalau tragedi itu disamakan dengan peristiwa Nabi Nuh. Karena begitu banyaknya pendapat mengenai peristiwa tersebut, maka dengan ini saya menanyakan:
- Apakah benar peristiwa seperti itu bentuk hukuman Allah kepada umat?
- Atau itu hanya peringatan saja?
- Atau tidak kedua-duanya? Mohon penjelasan bagaimana kita sebagai orang Kristen memandang dengan persepsi yang benar?
Atas kesediaan Bapak menjawab pertanyaan, saya ucapkan terima kasih.
Salam,
RP di Rempoa
JAWAB
Pdt. Rudianto Djajakartika:
Sdr. RP yang sedang prihatin,
Kita memang patut prihatin atas bencana Tsunami yang melanda negara
kita dan beberapa negara yang lain. Sebagai orang beriman, kita juga
perlu merenungkan hal ini dan belajar dari peristiwa ini. Saya
sendiri dalam perenungan saya, merasakan betapa kecil dan rapuhnya
kita. Kita yang sering sombong dan merasa dapat mengatur segalanya,
ternyata begitu mudah dilibas oleh kekuatan alam yang mahadahsyat.
Selain prihatin atas terjadinya bencana Tsunami, ada satu keprihatinan saya yang lain. Keprihatinan dan kesedihan mendalam yang saya tujukan kepada saudara-saudara saya sesama umat kristiani. Saya sungguh prihatin atas sikap sombong sebagian umat kristiani yang berdiri di atas derita sesamanya dengan mengatakan bahwa bencana ini adalah bentuk hukuman Tuhan atas mereka yang terkena musibah. Bahkan ada yang lebih sombong lagi mengatakan, ini hadiah Natal dari Tuhan buat umat kristiani. Mana mungkin Tuhan memberi kado dalam wujud ratusan ribu mayat dan keluarga yang tercerai-berai?
Tetapi jika bukan demikian, lalu apa? Bukankah Tuhan Mahakuasa dan semua yang terjadi di bawah kendali-Nya? Bukankah Alkitab menyaksikan bahwa Tuhan menguasai alam raya ini, termasuk juga gempa dan Tsunami?
Saya katakan ya! Tuhan memang berkuasa juga atas gempa dan Tsunami. Mengingkari kemahakuasaan Tuhan ini sama saja dengan mengingkari pengakuan iman kita bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi dengan segala isinya.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan berkaitan dengan
keberadaan Allah sebagai pencipta. Pada waktu Allah menciptakan alam
semesta ini, Ia bukan hanya mencipta, tetapi juga mengatur dan
menetapkan hukum-hukum alam yang mengatur alam raya ini! Misalnya,
Allah mengatur matahari sebagai penerang pada siang hari dan bulan
bintang sebagai penerang pada malam hari (
Nah, yang harus kita sadari adalah bahwa sejak Tuhan menetapkan
hukum-hukum alam ini, maka Allah Yang Mahakuasa secara sengaja
menahan kuasanya sehingga alam semesta ini berjalan sesuai dengan
hukum yang sudah ditetapkan-Nya (bdk.
Bagian-bagian Alkitab yang spesifik dan menunjukkan kemahakuasaan Allah atas alam, tidak bisa menggantikan bagian-bagian Alkitab yang lebih universal seperti kisah penciptaan di mana Allah secara sengaja menahan kuasa-Nya dan menyerahkan kelangsungan alam semesta berdasar hukum alam yang sudah ditetapkan-Nya.
Lalu bagaimana dengan peristiwa bencana gempa dan Tsunami? Bagi saya, gempa ya gempa, ada pergeseran patahan bumi yang kebetulan ada di dasar laut. Akibatnya muncul Tsunami. Pergeseran patahan itu sendiri juga merupakan siklus tertentu yang akan muncul entah berapa tahunan. Jadi, ya semata peristiwa alam biasa.
Tentu sebagai orang beriman, kita perlu merenung dari sisi iman. Saya pun merenung dan mendapatkan betapa kecil dan rapuhnya manusia. Mungkin orang lain mendapatkan hasil perenungannya berbeda dari saya. Itu sah-sah saja! Tetapi, mengaitkan Tsunami kemarin dengan hukuman Tuhan rasanya kok terlalu jauh. Kasihan Tuhan kalau dalam setiap peristiwa alam yang membawa bencana, Dia kemudian menjadi sasaran tembak kita. Bukannya menghukum, saya justru melihat Tuhan menolong dengan cara menggerakkan manusia dari segala penjuru dunia untuk menolong para korban bencana Tsunami.
Di tengah keprihatinan dan kesedihan saya, ada sedikit rasa syukur, bukan atas musibah yang terjadi, tetapi atas bersatunya umat manusia untuk menolong sesamanya yang menderita. Ternyata manusia yang katanya adalah serigala bagi sesamanya bisa bersatu atas nama kemanusiaan! Nah, semoga jawaban ini bisa mengurai keprihatinan Anda.









