Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Wanita Karier atau Istri yang Menolong?

Edisi C3I: e-Konsel 350 - Istri dan Karier

Mana yang lebih penting? Apakah seorang wanita Kristen harus kuliah dan menjadi wanita karier? Ataukah ia harus mempelajari segala sesuatu tentang bagaimana menjadi seorang penolong bagi suaminya dan menikmati kehidupan pernikahan yang bahagia dalam hidup? Saya melihat ada banyak kebingungan dan persyaratan dalam budaya kebanyakan orang Kristen zaman sekarang. Ketika karier dan keuangan menjadi lebih penting daripada komitmen dan kasih, banyak orang Kristen baik yang disesatkan.

Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin orang-orang Kristen tersesat? Kadang-kadang, orang-orang Kristen tersesat tanpa sadar karena mereka sudah jatuh ke dalam kesesatan dunia, apa pun bentuknya. Mereka mungkin disesatkan oleh kebohongan bahwa seorang wanita karier itu lebih baik daripada ibu rumah tangga atau menjadi istri. Atau, mungkin oleh kebohongan yang mengatakan bahwa seorang laki-laki harus membiarkan istri menjadi bos baginya untuk alasan apa pun yang bergulir pada saat itu.

Siapakah yang didengarkan orang-orang Kristen? Apa yang ditonton orang-orang Kristen? Apa yang dibaca orang-orang Kristen? Ke mana orang-orang Kristen pergi? Apa yang dipercayai oleh orang-orang Kristen? Dengan kata lain, apa yang kita biarkan masuk ke dalam hati dan pikiran kita, akan menciptakan sistem kepercayaan batiniah kita. Kemudian, kita akan bertindak berdasarkan kepercayaan itu dan menyatu dengannya. Firman Tuhan mengingatkan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan?" (2 Korintus 6:14)

Allah memberi tahu anak-anak-Nya untuk memisahkan diri dari orang-orang yang tidak percaya dan tidak menjadi serupa dengan dunia. Ini berarti, kita tidak boleh membiarkan standar, pola, kebiasaan, dan metode kehidupan dunia merusak iman dan perjalanan kita bersama Yesus. Namun, ketika cara pandang dan perilaku duniawi menjadi lebih penting dalam hati kita daripada prinsip kebenaran, kita sudah berkompromi dengan dunia. Kita membiarkan diri kita sendiri dibebani dengan pola-pola dan kebiasaan-kebiasaan dunia!

Apakah dalam hidup, beberapa orang Kristen membiarkan nilai-nilai duniawi lebih memimpin mereka daripada standar Allah? Sepertinya begitu. Mereka menempatkan kekayaan, karier, dan status pada posisi yang lebih penting ketimbang nilai-nilai pernikahan dan keluarga. Mereka percaya pada cara pandang dan perilaku duniawi yang sebenarnya telah menjauhkan mereka dari Allah! Ketika pasangan masuk dalam pernikahan dengan nilai-nilai yang salah, bagaimana mungkin pernikahan mereka dapat bertahan di dunia ketika pernikahan mereka berada di bawah berbagai jenis tekanan? Inilah penyebab tingginya tingkat perceraian.

Untuk menyatu dengan Kristus, kita harus membangun ulang Kerajaan Allah dengan kembali pada standar dan prinsip-Nya untuk hidup benar. Apakah seorang wanita Kristen muda akan belajar bagaimana menjadi penolong bagi suaminya dengan kuliah? Tentu saja tidak. Hal ini justru akan membuatnya tidak memahami perannya sebagai seorang istri dalam pernikahan, dan kemungkinan besar ia akan menghadapi masalah demi masalah dalam pernikahannya. Inilah sikap yang telah ditanamkan dalam diri perempuan untuk mereka percayai. Perempuan-perempuan muda diajarkan untuk mengejar karier, uang, dan status daripada nilai diri sendiri sebagai seorang wanita, istri, dan ibu. Karena itu, di sinilah sikap feminin mulai mengambil peran.

Untuk belajar bagaimana menjadi seorang istri dan ibu yang baik, diperlukan kesediaan untuk tidak mementingkan diri sendiri, kerendahan hati, dan kebajikan yang sungguh-sungguh. Kita tidak dapat memiliki sikap dan cara pandang feminin apabila tujuan kita adalah untuk menjadi istri dan ibu seperti yang dikehendaki Allah. Panggilan wanita sebagai seorang istri dan ibu bukanlah tentang memiliki pekerjaan yang membuatnya meninggalkan rumah, suami, dan anak-anaknya, melainkan sebaliknya. Bagaimana bisa kita membiarkan diri kita sendiri tertipu dengan memercayai standar, pola, dan kebiasaan dunia sebagai dasar kekristenan? Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Saya rasa, inilah saatnya kita memutar arah perahu kita dan meminta Allah menjadi Nakhoda kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita harus bijak dan kembali pada jalan yang mengarah kepada Allah. Kerajaan Allah sudah ada di sini! Mengapa kita hidup seolah-olah kita masih menantikan sesuatu? Apakah Anda sudah masuk ke dalam Kerajaan Kristus ataukah Anda masih menerapkan standar, kebiasaan, dan cara pandang dunia dalam hidup? "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (Matius 15:8-9) (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Heaven Ministries
Alamat URL : http://www.heavenministries.com
Judul asli artikel : Christian Values: Career Woman or Helpmeet Wife?
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 18 September 2013

Komentar