Saya tidak akan pernah melupakan serangan panik pertama saya.
Beberapa tahun yang lalu, kami sedang membersihkan salah satu ruang penyimpanan Student Ministry yang lama di gereja ketika, tiba-tiba, dada saya mulai terasa sesak dan semakin sesak hingga saya merasa tidak bisa bernapas. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi karena, beberapa saat yang lalu, saya dan rekan-rekan kerja saya tertawa dan bersenang-senang. Saya duduk, berdoa agar hal itu akan berlalu, dan akhirnya, hal itu terjadi. Itu adalah salah satu perasaan terburuk yang pernah saya alami.
Saya tidak menyangka bahwa ini akan menjadi pergumulan yang terus-menerus dalam hidup saya.
Pada puncak pergumulan saya melawan serangan kecemasan, saya sering bertanya kepada Tuhan mengapa. Mengapa hal ini terjadi? Mengapa saya merasa seperti ini? Mungkin Anda juga mengalaminya. Anda bertanya-tanya di mana Tuhan saat semua ini terjadi dan mengapa Dia seakan tidak peduli. Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya bertanya-tanya, apa yang Tuhan katakan tentang kesehatan mental? Apakah itu sesuatu yang dibicarakan dalam Alkitab? Dan, jika ya, bagaimana firman Tuhan dapat menghibur saya di saat-saat yang sulit?

Pencarian cepat di Google akan menunjukkan kepada Anda bahwa Alkitab tidak secara eksplisit berbicara tentang topik kesehatan mental, karena kata-kata "kesehatan mental" tidak muncul dalam Alkitab. Namun, Alkitab banyak berbicara tentang hati, pembaharuan pikiran, kehancuran rohani, dan kondisi jiwa[1], yang berkontribusi pada kesehatan mental kita. Pada intinya, kesehatan mental dalam Alkitab lebih dari sekadar pikiran; kesehatan mental mencakup hati, pikiran, dan jiwa kita (Matius 22:37).
Mari kita telusuri secara singkat beberapa hal yang akan membantu kita memahami apa yang Tuhan katakan tentang kesehatan mental.
1. Yesus dapat mengubah rasa sakit Anda menjadi kemuliaan bagi Dia dan Anda!
Untuk memahami sepenuhnya apa yang Tuhan, atau Alkitab, katakan tentang kesehatan mental, kita perlu kembali ke awal untuk memahami kondisi manusia. Dalam Kejadian 3, kita melihat dosa masuk ke dalam dunia, yang menyebabkan ciptaan merindukan pemulihan (Roma 8:22). Ketika dosa masuk ke dalam dunia, hal itu juga berdampak pada fisik dan jiwa manusia. Dan, seperti halnya kesehatan fisik kita yang tidak lagi terjamin, begitu juga dengan kesehatan mental kita. Pikiran, seperti halnya tubuh, dapat menjadi sakit.
Charles Spurgeon pernah berkata, "Pikiran dapat turun jauh lebih rendah daripada tubuh, karena di dalamnya terdapat jurang tanpa dasar. Tubuh hanya dapat menanggung sejumlah luka dan tidak lebih dari itu, tetapi jiwa dapat menderita dalam sepuluh ribu cara."[2]
Banyak dari kita, baik yang beragama Kristen maupun tidak, telah menemukan diri kita berada di dalam jurang pikiran yang tidak berdasar seperti yang disebutkan oleh Spurgeon di atas. Hampir seolah-olah kita tenggelam dalam lautan keputusasaan. Dan pada saat-saat seperti itu, kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa penyakit mental adalah akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa; rasa sakit Anda belum tentu merupakan kesalahan Anda. Pertimbangkan dialog antara Yesus dan murid-murid-Nya yang dicatat dalam Yohanes 9:
Ketika Yesus sedang berjalan, Dia melihat orang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya: "Guru, siapakah yang berbuat dosa, orang ini atau orang tuanya sehingga dia dilahirkan buta?" Yesus menjawab: "Bukan dia ataupun orang tuanya berdosa, melainkan supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia." (Yohanes 9:1-3, AYT)
Di sini, Yesus mengilustrasikan sesuatu yang penting untuk Anda dan saya ketahui: Allah mengizinkan orang buta ini menderita, bukan sebagai hukuman atas kesalahannya, tetapi agar karya-Nya dapat dinyatakan. Penderitaan orang ini, yang menyebabkan dia mengalami kesulitan dan rasa malu selama bertahun-tahun, pada akhirnya berujung pada penyataan kuasa Yesus dan keselamatan (penyembuhan jiwa yang kekal) orang itu. Hal itu terjadi untuk kebaikannya. Dia terlahir buta, dan sekarang akan melihat kemuliaan untuk selamanya. Jadi, ketika Anda menderita di bawah beban penyakit mental, ingatlah bagaimana Rasul Paulus memohon kepada Tuhan dalam 2 Korintus 12 untuk menyingkirkan duri dalam dagingnya, tetapi Tuhan mengajarkan kepadanya, "karena kuasa-Ku disempurnakan dalam kelemahan." (AYT)
2. Kita akan bergumul, tetapi Tuhan menyembuhkan dan menyediakan.
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa dosa menyebarkan infeksi kegelapan[2], yang berarti dosa dapat memerburuk penyakit mental. Pada saat-saat tergelap, kita harus mengarahkan pandangan kita kepada Kristus, Sang Terang, karena terang mengalahkan kegelapan [Yohanes 1]. Alkitab juga mengatakan bahwa pada saat-saat gelap, Tuhan tidak meninggalkan kita. Dia melihat kita. Dia menyertai kita, bekerja di dalam dan melalui hidup kita, serta menolong kita dalam pertempuran ini. Kita melihat hal ini di seluruh narasi Alkitab.
Cara lain untuk melihat kesehatan mental dibahas dalam Alkitab adalah melalui kisah-kisah tokoh-tokohnya. Para pahlawan dalam Alkitab menghadapi saat-saat pergumulan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mental mereka. Kita melihat saat-saat kesehatan mental mereka terganggu dalam pergumulan, kelelahan, atau saat mereka putus asa. Kitab Mazmur juga dipenuhi dengan ungkapan dari batin yang terluka dan seruan-seruan jiwa yang hancur kepada Tuhan. Namun berkali-kali, kita melihat Tuhan memulihkan, menguatkan, dan memperbarui hati dan pikiran umat-Nya.
Kita bisa melihat Elia, yang kesehatan mentalnya terganggu selama konfliknya dengan Ratu Izebel. Hingga saat itu, Elia relatif terisolasi (seperti kebanyakan dari kita pada tahun ini) selama tiga tahun sebelum konfliknya dengan ratu tersebut. Dalam 1 Raja-raja 19, kita melihat Elia melarikan diri ke padang belantara dan merasa benar-benar ingin mati. Namun, kisahnya tidak berakhir di situ. Di padang belantara itulah, Tuhan menemuinya, merawatnya, dan memenuhi kebutuhannya. Tuhan memberinya makan dan istirahat. Setelah itu, Dia menguatkan dan mengutusnya dengan tujuan yang baru (1 Raja-Raja 19:15-18). Kisah ini adalah gambaran yang gamblang tentang Tuhan yang memberi kita kekuatan sesuai kebutuhan kita -- untuk melakukan perjalanan, bertemu dengan-Nya, dan menemukan kesembuhan. Jika Anda memiliki waktu luang, bacalah kisah ini dalam 1 Raja-Raja untuk melihat Tuhan muncul dalam suara kecil yang berbisik ke telinga Elia.
3. Anda tidak sendirian.
Teman-teman, Allah tidak meninggalkan kita sendirian dalam peperangan ini. Kita tahu bahwa Allah memperbarui pikiran dan jiwa kita (Roma 12:2; Mazmur 23:3). Dia memberi kita damai sejahtera dan kekuatan (Yohanes 14:27; Yesaya 41:10). Di dalam Dia, kita dapat menemukan kelegaan (Matius 11:28). Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kita, dan Dia dekat dengan mereka yang bergumul (Roma 8:28; Mazmur 34:18). Dia telah menganugerahi individu-individu dengan pengetahuan dan keahlian untuk merawat kesehatan mental kita, berjalan bersama kita, dan membantu kita.
Meskipun penyakit mental dapat menjadi sesuatu yang sering kali disembunyikan atau mendapat stigma negatif, kita melihat di dalam Alkitab bahwa Tuhan menyingkapkan kebenaran-kebenaran yang dapat menguatkan, menolong, dan memulihkan kita dalam peperangan pikiran ini.
(t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
Woodside Bible Church |
|
Alamat artikel |
: |
https://woodsidebible.org/read/what-does-god-say-about-mental-health/ |
|
Judul asli artikel |
: |
What Does God say about Mental Health? |
|
Penulis artikel |
: |
Tim Woodside Bible Church |
- Log in to post comments