Bagaimana Menolong Anak Saya yang Cacat?

>Tanya

Bapak Palau, anak saya lahir dalam keadaan cacat. Kakinya pendek sebelah. Setahun setengah kemudian, ia kehilangan tiga jari tangannya dalam sebuah kecelakaan. Walaupun demikian, ia dapat menulis dengan baik, dapat bermain-main, dan sangat aktif. Akan tetapi, kelak bila ia dewasa, saya pikir ia akan menderita secara psikologis karena ia cacat. Bagaimanakah saya dapat menolong anak saya?

Jawab

Anda tadi mengatakan bahwa keadaan cacat jasmani anak Anda tidak menghalangi dia unggul dalam beberapa kegiatan fisik. Bapak senang mendengarnya. Akan tetapi, Anda belum memberi tahu saya apa yang membuat anak Anda cacat sejak lahir, dan berapa umurnya?

Kedengarannya anak Anda dapat dengan baik mengatasi keadaannya yang cacat. Sudahlah, lumrah bila seseorang yang cacat berusaha menutupi kekurangannya sampai-sampai ia menjadi lebih unggul daripada yang lain. John Powell memberi beberapa contoh di dalam bukunya, "Why Am I Afraid To Tell You Who I Am?" (Mengapa Saya Takut Memberi tahu Anda Siapa Saya?)

Glen Cunningham adalah pelari jarak jauh pertama Amerika yang terkenal. Ia menjadi jagoan mungkin karena usahanya yang tangguh dalam menguatkan kakinya. Kakinya menjadi pincang pada usia tujuh tahun. Pada waktu itu, ia nyaris tewas dalam musibah kebakaran.

Charles Atlas menjadi bina ragawan (body builder) pertama yang terkenal karena ketika remaja ia malu dengan keadaan tubuhnya yang lemah dan kecil.

Saya yakin Anda sependapat dengan saya bahwa Anda tidak khawatir akan keadaan fisik anak Anda. Yang mengkhawatirkan Anda ialah kalau-kalau ia kelak akan menderita secara psikologis. Saya mengerti kekhawatiran Anda. Akan tetapi, sesungguhnya Anda tidak perlu khawatir kalau-kalau jiwanya akan menderita karena tubuhnya cacat. Sedikit-banyak, kita semua juga mengalami penderitaan mental dan emosi.

Efek dari penderitaan itu lebih berkaitan dengan keadaan batin kita daripada keadaan fisik kita.

Konon setiap ketidakberuntungan mempunyai imbangan keuntungan yang sama besarnya atau bahkan lebih besar lagi. Saya menyetujuinya. Keadaan fisik anak Anda sebenarnya dapat menolong dia menjadi lebih kuat secara psikologis. Berilah dorongan agar ia juga unggul secara intelektual, moral, dan sosial.

Mertua perempuan saya terkena penyakit polio pada usia 42 tahun. Sampai sekarang ia sudah 20 tahun menggunakan kursi roda, tetapi ia tidak membiarkan keadaannya yang cacat itu membatasi perkembangan kepribadiannya ataupun hubungannya dengan orang lain. Sebagai contoh, setiap hari Rabu ia memimpin kelompok kaum pemudi. Ia membawa dampak yang baik bagi mereka.

Ada banyak contoh tentang orang-orang yang menjadi unggul kendati keadaan tubuh mereka cacat. Doronglah anak Anda untuk membaca kisah kehidupan orang-orang seperti Florence Nightingale (yang mengorganisasi kembali rumah-rumah sakit Inggris sementara ia sendiri sedang terbaring sakit di tempat tidur), Franklin D. Roosevelt (yang memimpin Amerika Serikat menuju kemenangan dalam Perang Dunia II sementara ia sendiri terbatas ruang geraknya pada kursi roda), dan Helen Keller (yang berhasil mengatasi keadaannya yang cacat dan menjadi seorang dosen dan pengarang yang disegani).

Ada satu buku istimewa yang saya ingin Anda dan putra Anda baca. Saya yakin Anda berdua akan terkesan sewaktu membacanya. Buku itu ditulis oleh seorang gadis. Pada usia delapan belas tahun ia mengalami kecelakaan ketika berenang. Tulang lehernya patah. Sekarang ia menjadi cacat; ia lumpuh dari bagian leher ke bawah.

Nama gadis itu Joni Eareckson Tada; bukunya berjudul Joni. (Sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Joni Di Balik Awan terbitan Gandum Mas -- Red.) Di dalam buku itu ia dengan jujur mengutarakan bagaimana Tuhan menolong dia mengatasi keterbatasan jasmaninya, dan bagaimana Tuhan memimpin dirinya menjalani kehidupan yang aktif, produktif, dan memuaskan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Tough Questions Answered by Luis Palau
Judul buku terjemahan : Pertanyaan yang Sulit
Judul bab : Menjalani Kehidupan Kristen Sulit Sekali
Penulis : Luis Palau
Penerjemah : Rita Widjana
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung 1999
Halaman : 11 -- 14