Cinta pada Pandangan Pertama
Tanya:
Apakah Anda percaya bahwa cinta pada pandangan pertama terjadi pada
banyak orang?
Di era globalisasi yang marak dengan komersialisasi dan gaya hidup hedonis, cinta sejati barangkali menjadi kata-kata yang kian absurd bagi dunia. Namun, tidak begitu halnya dengan kita, para pengikut Kristus. Dengan teladan yang sudah diperlihatkan dan dibuktikan Kristus, kita mengetahui bahwa cinta yang sejati itu ada dan sudah tercurah bagi kita. Bagaimana wujud-wujud cinta sejati itu, dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Mari, simak artikel-artikel yang terkait dengan permasalahan "Cinta Sejati" dalam Fokus C3I bulan Februari.
Tanya:
Apakah Anda percaya bahwa cinta pada pandangan pertama terjadi pada
banyak orang?
Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta -- cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan. Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya. Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta. Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.
Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita.
Pepatah yang berbunyi "Senjata Makan Tuan" nampaknya sangat sesuai dengan kasus berikut ini. Silakan simak!
T : Pacar saya dulunya bukan orang Kristen, tetapi sekarang ia sudah memeluk agama Kristen. Rencananya, dalam waktu dekat, kami akan menikah. Tapi, saya bingung karena sebenarnya saya tidak ingin menikah dengannya. Semua ini mungkin karena salah saya juga. Awalnya, saya menolak menjadi pacarnya karena alasan agama. Dengan begitu, saya pikir dia akan menjauhi saya. Tapi dia ternyata tidak menyerah, sampai akhirnya dia benar-benar menjadi orang Kristen dan menjadi pacar saya. Apakah tindakan saya salah?
Pertanyaan. 'apakah saya masih mencintainya?" bukanlah pertanyaan yang bodoh dari orang bodoh yang tidak mengenal dirinya. Pertanyaan ini juga bukan pertanyaan yang hanya ada dalam hati orang yang cintanya sudah hambar oleh karena berbagai kekecewaan yang dialaminya. Karena pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan eksistensi yang mungkin selalu hadir (meskipun tidak selalu disadari) dalam bathin manusia.