Injil Berbicara kepada Trauma Anda

Dalam dunia yang diwarnai oleh trauma, Injil menawarkan pengharapan dan kesembuhan yang berkelanjutan sehingga memungkinkan orang percaya untuk menemukan identitas, bukan dalam masa lalu mereka, tetapi di dalam Kristus yang telah menebus mereka.

"Bagaimana jika saya berkata bahwa Anda tidak membutuhkan kesembuhan dari trauma Anda?"

Saya mengajukan pertanyaan ini kepada konseli saya, Jim,[1] yang telah saya temui selama beberapa minggu. Jim telah mengalami penderitaan yang mengerikan di dunia militer dan kehidupan sipil, bahkan menghabiskan beberapa waktu di penjara. Meskipun pada awalnya dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini, tetapi pada akhirnya pertanyaan ini justru menjadi katalisator bagi sebuah perspektif baru mengenai penderitaannya -- sebuah perspektif yang pada akhirnya membawanya pada kelegaan dari gejala yang dialaminya.

Anda mungkin bertanya, mengapa saya membingkai pertanyaan seperti itu, dan itu karena kita hidup di dunia yang berbicara dengan bahasa trauma dengan lancar. Nyalakan berita, telusuri media sosial, atau duduklah di sesi konseling, dan Anda akan mendengarnya di mana-mana: "Trauma membentuk kita. Trauma mendefinisikan kita. Trauma perlu disembuhkan." Jadi sekali lagi, saya bertanya, "Bagaimana jika Anda tidak membutuhkan kesembuhan dari trauma Anda?"[2]

Gambar: gambar

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa rasa sakit itu tidak nyata atau penderitaan itu tidak menyakitkan. Saya tidak bermaksud bahwa kita menjadi tabah dan mengabaikan, atau hanya menahan rasa sakit. Alkitab penuh dengan gambaran penderitaan yang jujur dan nyata -- Ayub menggaruk-garuk lukanya dengan pecahan tembikar, Daud berseru di dalam Mazmur ketika dikepung oleh penyerbu, dan Paulus mencatat berbagai pemukulan serta pemenjaraan yang dialaminya. Alkitab tidak menghindar dari peristiwa-peristiwa traumatis, tetapi juga tidak membingkai trauma sebagai sesuatu yang menguasai diri kita, yang menuntut penanganan seumur hidup, atau mendefinisikan jati diri kita. Ketika psikiater Angkatan Darat mendiagnosis bahwa saya mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), mereka berkata bahwa saya perlu belajar mengatasi gangguan ini sebagai hal yang normal. Diagnosis tanpa harapan ini mendorong saya untuk mencari solusi palsu dan berbagai intervensi pseudosaintifik, bukan memandang kepada Sang Penebus yang hidup![3]

Masalah dengan Pandangan Populer tentang Trauma

Orang sering kali percaya bahwa masa lalu mereka adalah identitas mereka, dan identitas ini menentukan kehidupan mereka saat ini. Seorang veteran yang pernah saya bimbing begitu bergumul dengan hal ini. Dia percaya bahwa karena dirinya selamat dari perang dan kawannya tidak, dia harus sengsara dan membenci hidup; jika tidak, dia akan mencemarkan nama baik temannya. Bagi sebagian orang, diagnosis psikologis dapat memberikan rasa lega karena tampaknya memberikan penjelasan atas penderitaan hidup. Buku-buku seperti "The Body Keeps the Score" menyatakan bahwa tubuh Anda menyimpan trauma, yang pada gilirannya membentuk emosi, perilaku, bahkan kesehatan fisik Anda.[4] Namun, kelegaan dari penjelasan itu sering kali memberi jalan kepada keputusasaan ketika penderita menemukan bahwa mereka telah terperangkap, seolah-olah penyembuhan adalah tujuan yang sulit dipahami yang akan selalu mereka kejar tanpa pernah tercapai. Lebih jauh lagi, diagnosis psikologis seperti itu mengarah pada kelegaan gejala daripada penebusan yang sebenarnya. Sebagai contoh, Bessel van der Kolk mengklaim bahwa trauma tertanam di dalam tubuh, melewati ingatan sadar, dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian sebagai masalah fisik dan psikologis.[5] Penjelasan reduksionistik semacam itu cukup meresahkan karena menyangkal bahwa manusia memiliki kebebasan moral dan bertentangan dengan Alkitab, yang menegaskan bahwa pikiran, emosi, dan perilaku terkait dengan jiwa (Amsal 4:23; Matius 15:18-20).

Pandangan Bessel van der Kolk melemahkan tanggung jawab moral dan transformasi, karena jika trauma melewati pemikiran dan pengambilan keputusan, maka perintah untuk memperbarui pikiran kita dalam Roma 12:2 akan direduksi menjadi penawar yang tidak praktis dan tidak cukup bagi orang percaya. Pandangan tanpa harapan yang dianut oleh para terapis yang mempelajari trauma dari sudut pandang sekuler menyatakan bahwa perubahan harus terjadi melalui intervensi tubuh, bukan melalui kebenaran yang berasal dari "mulut Allah" (Matius 4:4), Namun demikian, kita tahu bahwa perubahan yang sesungguhnya hanya terjadi melalui pengenalan dan penerapan dari kebenaran firman Tuhan (Yohanes 8:32). Gagasan bahwa trauma tersimpan di dalam tubuh seseorang dengan cara yang mengabaikan pemikiran manusia dan agensi moral adalah sesuatu yang sia-sia karena membuat orang berpikir bahwa mereka terjebak dalam dan oleh trauma mereka.

Meskipun orang-orang percaya tidak menyangkal realitas penderitaan yang mendalam, Alkitab menawarkan perspektif yang sangat berbeda dengan perspektif Bessel van der Kolk. Alkitab tidak mengarahkan kita pada introspeksi tanpa akhir, atau membiarkan kita dengan label tertentu seumur hidup. Sebaliknya, Alkitab mengundang kita untuk melihat kehidupan kita, terutama di tengah-tengah lembah penderitaan yang paling dalam, melalui lensa kedaulatan dan anugerah Allah. Alih-alih sekadar "penyembuhan" -- pemulihan sementara dari penderitaan untuk merasa lebih baik -- Alkitab mengarahkan kita kepada penebusan.[6] Dalam Yakobus 1:2-4, kita diberitahu bahwa pencobaan menghasilkan ketekunan dan kedewasaan di dalam diri kita. Kedewasaan ini pada akhirnya adalah keserupaan dengan Kristus, yang kita sebut sebagai pengudusan. Selain itu, Paulus berkata dalam Roma 5:3-5 bahwa penderitaan kita menghasilkan pengharapan-pengharapan yang tidak mengecewakan kita!

Pandangan Alkitabiah tentang Penderitaan dan Identitas

Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menulis, "Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru. Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang" (AYT). Perhatikan apa yang tidak dikatakan Paulus. Dia tidak mengatakan, "Jika seseorang ada di dalam Kristus, dia memulai perjalanan panjang dan sulit untuk sembuh dari masa lalunya." Dia tidak berkata, "Kamu masih hancur, tetapi sekarang kamu memiliki Yesus untuk membantumu mengatasinya." Tidak! Dia mengatakan bahwa Anda adalah ciptaan baru. Identitas Anda bukan terletak pada trauma Anda; melainkan dalam Kristus. Bagi Jim, peristiwa traumatis yang dialaminya begitu besar dan luar biasa sehingga hanya itu yang dapat dia fokuskan. Oleh karena itu, perspektifnya (dan keyakinannya yang salah) perlu diubah. Jim perlu mengalihkan pandangannya dari dirinya sendiri dan pengalamannya, dan memandang kepada Yesus. Dia perlu melihat kepada Injil, satu-satunya pengharapan yang benar-benar dapat berbicara kepada orang yang menderita.

Alkitab mengakui penderitaan dunia ini, tetapi juga menempatkannya dalam kisah penebusan yang lebih besar. Penderitaan tidak memegang keputusan akhir dalam hidup Anda. Dan, jati diri Anda tidak ditentukan oleh jumlah total penderitaan yang telah terjadi pada Anda. Anda tidak ditentukan oleh bekas luka Anda. Sebaliknya, Anda didefinisikan oleh persatuan Anda dengan Kristus -- ukuran sejati dari identitas Anda. Di situlah letak pengharapan yang sejati.

Kesembuhan Mungkin Tidak Seperti yang Anda Pikirkan

Ketika Alkitab berbicara tentang kesembuhan, sering kali bukan tentang menghilangkan rasa sakitnya, tetapi lebih kepada mengubah kita melalui pencobaan itu. Pertimbangkan "duri dalam daging" Paulus dalam 2 Korintus 12:7. Paulus memohon kepada Tuhan untuk menghilangkan duri dalam dagingnya itu, tetapi jawaban Tuhan adalah, "Anugerah-ku cukup bagimu karena kuasa-Ku disempurnakan dalam kelemahan" (2 Korintus 12:9a, AYT). Kesembuhan Paulus tidak datang melalui pencabutan duri dalam dagingnya, tetapi melalui ketergantungannya yang lebih dalam kepada anugerah Allah.


Alkitab tidak menghindar dari peristiwa-peristiwa traumatis, tetapi juga tidak membingkai trauma sebagai sesuatu yang menguasai diri kita, yang menuntut penanganan seumur hidup, atau mendefinisikan jati diri kita.
 

Penebusan Kristus lebih besar dari sekadar kelegaan. Ketika kita mulai melihat penderitaan kita melalui kacamata tujuan Allah yang berdaulat dan Maha Baik, kita mulai memiliki pengharapan yang tidak akan mengecewakan kita (Ibrani 6:18-19). Penderitaan kita adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam ketergantungan kepada tujuan-Nya, yaitu untuk melihat bahwa bahkan dalam kelemahan kita, kekuatan Allah menjadi nyata.

Kebebasan untuk Tidak Membutuhkan Kesembuhan

Anda tidak perlu sembuh dari trauma, dan Anda tidak perlu "diperbaiki" seperti yang didefinisikan oleh dunia.[7]

Kesembuhan sejati bukanlah tentang menghapus masa lalu, tetapi tentang hidup dalam realitas saat ini, dan tentang jati diri Anda dalam Kristus. Dan, dengan menghidupi realitas ini melalui identitas kita dalam Kristus, kita dapat merangkul realitas yang lebih besar, yaitu kebutuhan kita sehari-hari untuk bergantung kepada Tuhan (2 Korintus 1:9).

Perspektif alkitabiah ini mungkin tidak meminimalkan rasa sakit Anda, tetapi memperbarui pikiran Anda dan menyesuaikan pemikiran Anda dengan perspektif Tuhan. Perspektif ini mengalihkan pandangan Anda dari penderitaan kepada Sang Juru Selamat. Hal ini membebaskan Anda untuk merasa lebih baik sebagai tujuan akhir, dan mengundang Anda ke dalam damai sejahtera dengan bersandar pada karakter dan firman Allah. Dalam surat 2 Korintus 1:8-9, Paulus mengindikasikan bahwa ketergantungan kepada Allah melalui penderitaan adalah tujuan dari penderitaan kita. Dengan bergantung kepada Allah dan memandang kepada-Nya, Anda dapat beristirahat dalam pengharapan eskatologis yang diberikan Allah, bahwa penderitaan Anda yang ringan dan sesaat ini sedang mempersiapkan bagi Anda kemuliaan yang kekal, yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun (2 Korintus 4:16-18).

Trauma Anda tidak mendefinisikan Anda. Kesembuhan Anda tidak menyelamatkan Anda. Hanya Yesus yang sanggup menyelamatkan Anda, dan itu lebih dari cukup.

Catatan kaki:

  1. Bukan nama sebenarnya.
  2. Menurut APA, "Trauma adalah respons emosional terhadap kejadian yang mengerikan seperti kecelakaan, kejahatan, bencana alam, pelecehan fisik atau emosional, pengabaian, mengalami atau menyaksikan kekerasan, kematian orang yang dicintai, perang, dan banyak lagi." Lihat https://www.apa.org/topics/trauma/. Secara lebih sederhana, trauma adalah penderitaan akibat suatu bencana.
  3. Lih. https://biblicalcounseling.com/resource-library/podcast-episodes/gods-grace-through-ptsd/ and https://biblicalcounseling.com/resource-library/articles/gods-redemptive-use-of-trauma-part-1/
  4. Bessel A. Van der Kolk, "The Body Keeps the Score: Brain, Mind and Body in the Healing of Trauma" (New York, NY: Penguin Books, 2015). Hlm. 3, 88, 94-101.
  5. Ibid., hlm. 54. Untuk memahami topik ini lebih dalam, lih.: Greg E. Gifford "Does the Body Keep the Score? Biblical Counseling and the Body" Musim Semi 2024 | Volume 8 | No. 1 (https://acbcdigitalresources.s3.us-west-2.amazonaws.com/resources/JBSC/Spring2024/JBSC+2024+Spring+Gifford.pdf)
  6. Saya berutang budi pada Dr. Jim Fain mengenai frasa ini.
  7. Karena penjelasan psikologis tentang trauma tidak berkaitan dengan masalah biologis-medis, penyembuhan seperti yang dijelaskan dalam perawatan trauma tidak mengacu pada penyembuhan fisik melalui perawatan biologis-medis. Untuk contoh-contoh perawatan trauma, lihatlah buku Heather Gingrich berjudul "Treatment Trauma in Christian Counseling".

(t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

Association of Certified Biblical Counselors

Alamat artikel

:

https://biblicalcounseling.com/resource-library/articles/the-gospel-speaks-to-your-trauma/?srsltid=AfmBOor3plg2C7Um24jFE5hVG2RAV-Jkn-UE59XR1Wy005XhbW5ueAkB

Judul asli artikel

:

The Gospel Speaks to Your Trauma

Penulis artikel

:

Matthew Statler

Kategori Bahan C3I