Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Kejenuhan Ibu Rumah Tangga

Edisi C3I: edisi 360 - Problem Ibu Rumah Tangga

Status seseorang setelah menikah secara otomatis berubah, pria lajang kini menjadi suami, wanita lajang kini menjadi seorang istri, dengan tuntutan dan tanggung jawab masing-masing. Beban seorang istri bertambah dengan hadirnya seorang anak. Istri yang secara purna waktu mengurus rumah tangga di rumah, sering kali mengalami kejenuhan dalam melakukan tanggung jawab tersebut. Karena itu, sekarang kita akan belajar menilai para ibu dengan lebih objektif dan memberikan masukan-masukan untuk menolong mereka mengatasi kejenuhan yang harus mereka hadapi. Penyebab kejenuhan mengurus rumah tangga antara lain:

  1. Tugas keseharian ibu rumah tangga relatif tidak memerlukan dan tidak menimbulkan stimulasi intelektual. Dewasa ini, banyak wanita yang telah mengenyam bangku perguruan tinggi dan mungkin juga sudah bekerja sehingga sudah terbiasa dengan tuntutan profesional yang menimbulkan rangsangan intelektual. Begitu meninggalkan dunia kuliah dan dunia kerja, kemudian terjun ke dalam dunia mengurus rumah tangga secara purna waktu, tidak bisa tidak, dia akan kehilangan sumber stimulasi intelektualnya itu.

  2. Tugas ibu rumah tangga pada umumnya tidak berhubungan dengan manusia lain yang setingkat, setingkat dengan pengertian tingkat pengertiannya, kecerdasaannya, dan keluasannya. Jadi, ibu rumah tangga harus berhadapan dengan anak-anak kecil yang tingkat kecerdasan dan kematangannya jauh di bawah dirinya. Dalam hal ini, ibu hanya memberi dan anak hanya menerima. Sebagaimana manusia normal, sudah tentu dalam bekerja kita membutuhkan, baik itu rekan kerja maupun objek pelayanan yang dapat diajak untuk bertukar pikiran dan berbagi rasa serta pengalaman, tetapi kalau dengan anak kecil kita tidak bisa melakukannya.

  3. Mengurus anak, terutama anak balita, merupakan sebuah tugas yang berat. Jadwal tidur anak yang tidak menentu membuat ibu rumah tangga letih, dan akhirnya membuat tubuh tidak nyaman.

Cara Mengatasi Kejenuhan

  1. Jangan malu meminta bantuan. Entah itu bantuan suami, kerabat, atau bantuan profesional. Mungkin yang diperlukan bukanlah pengalihan tanggung jawab, melainkan bantuan singkat dan praktis seperti minta bantuan seseorang untuk diam di rumah selama dua jam agar dia bisa pergi berolahraga atau bertemu dengan kerabat atau teman untuk bersantai sejenak, dengan memberi pengertian kepada suami tentang beratnya beban ini supaya suami bisa berjalan searah dengan istri dalam menanggulangi masalah ini.

  2. Jangan mengabaikan kebutuhan pribadi. Masa merawat anak balita sangatlah sukar bagi ibu karena tidak mudah untuk meninggalkan anak. Selain kebutuhan anak yang tanpa henti, satu hal lain yang membuat ibu susah beranjak adalah rasa bersalah. Misalnya, rasa bersalah meninggalkan anak demi kepentingan pribadi. Namun demikian, tetaplah penuhi kebutuhan pribadi Anda dan lakukanlah hal-hal yang menyenangkan hati kendati tidak sesering dahulu. Ingatlah bahwa ibu yang bahagia membuat anaknya bahagia juga. Sebaliknya, ibu yang merana pada akhirnya membuat anaknya turut merana.

  3. Jangan menjauh dari doa dan Firman. Menyisihkan kesibukan yang begitu padat dan terus-menerus, akhirnya membuat tubuh dan jiwa terlalu letih untuk berdoa dan membaca firman Tuhan. Walaupun hati ingin membaca, tetapi kesempatan makin menyempit. Karena itu, saya menyarankan mintalah waktu untuk bersaat teduh setelah suami kembali, mintalah kesediaannya untuk mengawasi dan merawat anak selama Anda bersaat teduh.

Firman Tuhan dalam Yeremia 1:5 mengatakan, "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." Tidak ada sukacita yang besar bagi seorang ibu selain melihat anak-anaknya bertumbuh, dibentuk oleh Tuhan, dan mencintai Tuhan.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : TELAGA
Alamat URL : http://telaga.org
Judul transkrip : Kejenuhan Ibu Rumah Tangga (T287A )
Penulis : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Tanggal akses : 20 Februari 2013

Komentar