Penilaian Diri yang Buruk dan Ibu Muda Usia

Dalam bukunya, What Wives Wish Their Husbands Knew About Women, Psikolog Kristen Dr. James Dobson memaparkan hasil angket "Sumber Depresi Di Antara Wanita" yang diberikannya kepada 75 wanita Kristen. Ternyata para wanita ini menunjuk pada "Penilaian Diri Yang Buruk" sebagai sumber depresi nomor satu. Data lain yang menuntut perhatian kita adalah bahwa mayoritas peserta angket ini adalah para ibu rumah tangga berusia antara 27 hingga 40 tahun yang mempunyai anak kecil.

Beberapa waktu yang lalu saya juga membaca satu hasil penelitian akan depresi yang memberikan dukungan terhadap hasil penemuan Dr. Dobson ini. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa wanita memang lebih rawan terhadap depresi dan kelompok yang paling rawan menderita depresi adalah para ibu muda usia yang masih tinggal di rumah (tidak bekerja di luar).

Dr. Dobson mencoba melukiskan pengalaman para ibu muda usia yang memiliki penilaian diri yang buruk ini dan saya percaya sebagian pembaca dapat mengerti perasaan yang timbul dari pengalaman di bawah ini.

"... duduk sendirian di rumah pada siang hari yang sunyi itu, bertanya-tanya mengapa telepon tidak berdering.

... bertanya-tanya mengapakah Anda tidak mempunyai sahabat 'sejati'.

... mendambakan kehadiran seseorang yang dapat Anda ajak bicara, hati ke hati, namun menyadari bahwa tidak ada yang dapat Anda percayai.

... merasa tidak menarik dan tidak seksi.

... merasa bahwa Anda telah gagal sebagai seorang istri dan ibu.

... merasa tidak dikasihi dan tidak layak untuk dikasihi, kesepian dan sedih.

... terbaring di ranjang setelah semua anggota keluarga telah tidur, merasakan kehampaan yang dalam dan mendambakan kasih yang tidak bersyarat.

... mengasihani diri.

... dalam kegelapan malam menghapus air mata yang menetes keluar dari pelupuk mata Anda."

Dr. Dobson mengetengahkan tiga penyebab penilaian diri yang buruk ini dan saya hanya memilih satu untuk pembahasan ini. Pada masa ini para wanita tidak lagi dapat merasa bangga dengan karier mereka sebagai ibu rumah tangga. Dr. Dobson berpendapat, sekarang ini penghargaan atau respek lebih banyak diberikan kepada mereka yang menduduki karier tertentu. Masyarakat modern tidak begitu menghargai panggilan ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga bukan lagi karier idaman tatkala begitu banyak wanita yang berkarier di luar rumah.

Di tempat pekerjaan, kita terbiasa menerima dorongan dan penghargaan, baik dari atasan maupun sesama rekan tatkala kita berhasil melakukan tugas kita dengan baik. Namun sekarang di rumah, siapakah yang memberi kita pujian tatkala kita merasa telah melakukan tugas kita dengan penuh tanggung jawab? Siapakah yang memberi kita dorongan tatkala kita merasa letih dan putus asa? Bukankah di rumah segala sesuatu "memang sudah seharusnya kita lakukan". Kurangnya tanggapan yang menghargai dan mendorong kita terasa bagaikan melempar batu ke tengah kolam - plung, dan tidak timbul lagi, lenyap tenggelam!

Tugas menjadi ibu rumah tangga juga dapat melahirkan rasa terasing dari "kehidupan yang sebenarnya". Kita merasa terkucil dari lingkungan kita di mana kita sebelumnya berkecimpung. Kontak-kontak sosial yang biasa kita nikmati dalam karier kita seperti sapaan, senyuman, ngobrol, ngumpul, tiba-tiba menghilang dari kehidupan kita.

Melakukan suatu tugas yang tidak dapat kita banggakan, yang itu-itu juga dan dengan rasa terpaksa memang dapat membuat penilaian terhadap diri kita negatif. Jika di antara pembaca ada yang merasa bahwa ulasan ini sesuai dengan keadaan Anda, saya ingin memberi beberapa usulan (mudah-mudahan penyelesaian pula!).

Pertama, yakinlah bahwa panggilan menjadi ibu tangga adalah panggilan yang "tiada taranya". Melalui panggilan ini, Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk bersama-sama dengan-Nya membentuk pribadi-pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya. Seorang pengendara mobil dapat merasa bangga mengendarai mobil yang bagus, namun yang paling berbahagia adalah ia yang menciptakan atau merancang mobil tersebut. Para ibu muda usia, pekerjaan Anda adalah merancang dan mencetak pribadi-pribadi yang suatu hari kelak menjadi dewasa dan dapat mempengaruhi lingkungan di sekitar mereka, baik secara positif maupun secara negatif. Pekerjaan Anda memang ibarat investasi jangka panjang yang seolah-olah tidak pernah "jatuh tempo". Namun, ingatlah tatkala satu hari telah berakhir dan malam telah tiba, bahwa Anda telah menabung dan menyenangkan Tuhan kita yang telah mempercayakan tugas mulia ini kepada Anda.

Kepada para suami, tolonglah menjadi "pemantul" terhadap istri - memberi tanggapan, dorongan, pujian dan interaksi. Semakin modern keadaan masyarakat kita, semakin sepi berdiam di rumah, karena semakin menipis ikatan sosial dengan sanak saudara dan kerabat. Penghargaan kita kepada istri niscaya memberi mereka api harapan dan kemenangan kembali. Tuhan memberkati.

Sumber
Halaman: 
2 - 3
Judul Artikel: 
Parakaleo, April Juni 1994, Vol. I, No. 2
Tahun Edisi: 
1994
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta