Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Terang dan Sukacita

Edisi C3I: e-Konsel 186 - Sukacita di dalam Tuhan

"Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya Tuhan, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari." (Mazmur 89:16, 17)

"Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati." (Mazmur 97:11)

"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12)

"Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang akan merampas kegembiraanmu itu dari padamu." (Yohanes 8:12)

"Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita." (2 Korintus 6:10)

Seorang ayah selalu menginginkan anak-anaknya bersukacita. Ia melakukan segala hal yang dapat dikerjakannya untuk membuat anak-anaknya berbahagia. Oleh karena itu, Allah juga menginginkan anak-anak-Nya hidup di hadapan-Nya dengan hati yang bersukacita. Ia telah menjanjikan sukacita kepada mereka. Ia akan memberikannya (Mazmur 89:17, 18; Yesaya 29:19; Yohanes 16:22; 1 Petrus 1:8). Ia telah memerintahkannya. Kita harus menerimanya dan senantiasa hidup di dalam sukacita itu (Mazmur 32:11; Yesaya 12:5, 6; 1 Tesalonika 5:16; Filipi 4:4).

Tidak begitu sukar untuk mengetahui apa alasannya. Sukacita itu selalu merupakan ciri bahwa ada sesuatu yang sungguh-sungguh memuaskan saya dan yang berharga sekali bagi saya. Lebih dari itu, sukacita atas apa yang saya miliki menyebabkan orang lain ingin memilikinya juga. Bersukacita di dalam Tuhan merupakan bukti terkuat bahwa di dalam Allah saya memiliki segala sesuatu yang memuaskan dan mengenyangkan saya, dan bahwa saya tidak melayani Dia karena takut atau melayani supaya terpelihara, tetapi melayani karena Ia adalah keselamatan saya. Sukacita merupakan tanda kebenaran dan nilai ketaatan yang menunjukkan apakah saya senang berada dalam kehendak Tuhan (Ulangan 28:47; Mazmur 9; 119:111). Itulah sebabnya mengapa bersukacita di dalam Tuhan itu begitu berkenan kepada-Nya dan sangat menguatkan orang-orang percaya itu sendiri. Bagi semua orang yang ada di sekeliling kita, sukacita itu merupakan kesaksian yang paling indah mengenai pandangan kita terhadap Allah (Nehemia 8:11; Mazmur 68:5; Amsal 4:18).

Di dalam Alkitab, terang dan sukacita itu sering kali dihubungkan (Ester 8:16; Amsal 13:9; 15:30; Yesaya 60:20). Hal ini memang sesuai dengan keadaan alam. Terang yang menyukakan pada pagi hari membangunkan burung-burung untuk bernyanyi dan menggembirakan penjaga-penjaga malam yang merindukan datangnya siang. Terang wajah Allah memberikan sukacita kepada orang Kristen. Di dalam persekutuan dengan Allah, ia dapat dan akan selalu merasa bahagia. Kasih Bapa itu bersinar seperti matahari atas anak-anak-Nya (Keluaran 10:23; 2 Samuel 23:4; Mazmur 36:11; Yesaya 60:1, 20; 1 Yohanes 1:5; 4:16). Kegelapan yang meliputi jiwa, selamanya melalui dosa atau melalui ketidakpercayaan. Dosa adalah kegelapan yang menggelapkan. Dan ketidakpercayaan juga menggelapkan, karena hal itu memalingkan kita dari Dia yang merupakan terang satu-satunya.

Kadang-kadang diajukan pertanyaan: "Dapatkah orang Kristen selalu berjalan di dalam terang?" Jawaban Tuhan kita jelas sekali: "Barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan." Dosa, yaitu berpaling dari Yesus dan menuruti jalan kita sendiri, itulah yang menggelapkan. Tetapi, pada saat kita mengakui dosa kita dan minta dibersihkan di dalam darah-Nya, kita kembali berada di dalam terang (Yosua 7:13; Yesaya 58:10; 59:1 , 2, 9; Matius 15:14, 16; 2 Korintus 6:14; Efesus 5:8, 14; 1 Tesalonika 5:5; 1 Yohanes 2:10.) Atau, ketidakpercayaanlah yang menggelapkan. Kita memandang kepada diri kita dan kekuatan kita sendiri; kita ingin mencari penghiburan di dalam perasaan kita atau di dalam pekerjaan kita sendiri dan segalanya menjadi gelap. Segera setelah kita memandang kepada Yesus -- kepada kepenuhan dan kesempurnaan persediaan kebutuhan kita yang ada di dalam Dia -- semuanya menjadi terang. Ia berkata, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikuti Aku ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Selama saya percaya, saya memunyai terang dan sukacita (Yohanes 12:36; 11:40; Roma 15:13; 1 Petrus 1:3).

Orang-orang Kristen yang bersedia hidup sesuai dengan kehendak Allah, dengarlah apa yang dikatakan Firman-Nya, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 3:1; 4:6.) Di dalam Tuhan Yesus terdapat sukacita yang tak terkatakan dan kemuliaan yang sempurna. Percayalah kepada-Nya, bersukacitalah dalam hal ini. Hiduplah dengan iman. Kehidupan dengan iman itu merupakan keselamatan dan sukacita yang mulia. Hati yang sepenuhnya diserahkan untuk mengikuti Yesus, yang hidup dengan iman di dalam Dia dan di dalam kasih-Nya, akan memiliki terang dan sukacita. Oleh sebab itu, hai jiwa-jiwa, percayalah. Janganlah hanya mencari sukacita; Saudara tidak akan mendapatnya, karena Saudara hanya mencari perasaan. Tetapi carilah Yesus, ikutlah Yesus, percayalah Yesus, maka sukacita akan ditambahkan kepada Saudara. "Bukan melihat, tetapi percaya, bersukacitalah dengan sukacita yang tak terkatakan dan penuhlah dengan kemuliaan."

Tuhan Yesus, Engkau adalah terang dunia, cahaya dari terang yang tak dapat dihampiri, di dalam-Nya kami melihat terang Allah. Dari wajah-Mu terpancarlah terang sehingga kami mengetahui kasih kemuliaan Allah. Engkau adalah milik kami, terang dan keselamatan kami. Ajarlah kami agar kepercayaan kami kepada-Mu lebih teguh, supaya dengan Engkau kami tidak akan berjalan di dalam kegelapan. Biarlah sukacita di dalam Engkau menjadi bukti bahwa Engkaulah segala-galanya bagi kami dan menjadi kekuatan kami untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau kehendaki bagi kami. Amin.

  1. Sukacita saya karena memiliki sesuatu merupakan ukuran dalam menilai hal itu; kesukaan terhadap seseorang merupakan ukuran kesenangan saya terhadap dia; kegembiraan di dalam suatu pekerjaan merupakan ukuran kesenangan saya akan pekerjaan itu. Sukacita saya di dalam Tuhan dan pelayanan-Nya merupakan salah satu tanda yang paling nyata dari kehidupan rohani yang sehat.

  2. Sukacita dapat terhalang oleh ketidaktahuan, yaitu apabila kita tidak mengenal Allah dan kasih-Nya serta kemuliaan pelayanan-Nya dengan benar; oleh ketidakpercayaan, yaitu apabila kita masih mencari-cari sesuatu di dalam kekuatan dan perasaan kita sendiri; oleh hati yang bercabang, yaitu apabila kita tidak bersedia menyerahkan dan menyingkirkan segala sesuatu bagi Yesus.

  3. Pahamilah perkataan ini: "Orang yang mencari sukacita tidak akan mendapatkannya; tetapi orang yang mencari Tuhan dan kehendak-Nya akan mendapatkan kesukacitaan tanpa dicari." Renungkanlah hal ini: Orang yang mencari sukacita sebagai suatu perasaan, berarti mencari dirinya sendiri; ia ingin bersukacita tetapi tidak akan menemukannya. Orang yang melupakan dirinya sendiri untuk hidup di dalam Tuhan dan kehendak-Nya akan diajar untuk bersukacita di dalam Tuhan. Allah dan hanya Allah sendiri yang merupakan Allah daripada sukacita kita. Carilah Allah, maka Saudara akan memiliki sukacita itu. Saudara semata-mata hanya perlu menerimanya dan menikmatinya dengan iman.

  4. Apabila kita ingin memiliki sukacita yang abadi, kita harus bersyukur kepada Allah atas segala yang dilakukan-Nya bagi kita, dan percaya pada firman-Nya serta segala yang dijanjikan-Nya untuk digenapi-Nya.

  5. "Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati." Tuhan tidak menginginkan anak-anak-Nya berjalan di dalam kegelapan; Iblis adalah raja kegelapan; Allah adalah terang. Kristus adalah terang dunia; kami adalah anak-anak terang. Hendaklah kita berjalan di dalam terang. Hendaklah kita percaya akan janji: "Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu .... Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam ... sebab Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir" (Yesaya 60:19, 20).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Membina Iman
Judul asli buku : The New Life
Penulis : Andrew Murray
Penerjemah : Eviyanti Agus dan Pauline Tiendas-Iskandar
Penerbit : Penerbit Kalam Hidup, Bandung 1965
Halaman : 137 -- 140

Komentar