Kisah Joanie
Kisah berikut ini diambil dari wawancara dengan penulis Joanie Yoder, yang direkam untuk acara televisi RBC, Day of Discovery.
Kisah berikut ini diambil dari wawancara dengan penulis Joanie Yoder, yang direkam untuk acara televisi RBC, Day of Discovery.
Blogger yang menulis artikel ini adalah Susan Verstraete. Susan adalah seorang guru sekolah minggu dan seorang pemimpin kelompok diskusi buku di Faith Community Church di Kansas, North. Di sana, ia juga melayani sebagai sekretaris gereja. Susan dan suaminya, Michael, memiliki dua anak laki-laki yang sudah dewasa, Patrick dan Christopher. Buku yang ditulis Susan, "Your People: Stories from Church History" tersedia di toko buku Amazon.
Ditulis oleh: Ibu Meidy M.
Ketika aku menikah, sebagian dari kebebasanku hilang.
Ketika aku punya anak, sebagian lagi dari kebebasanku hilang.
Semakin kupertahankan statusku sebagai ibu rumah tangga, semakin besar kebebasan yang harus kukorbankan, tetapi apa yang kudapatkan?
Saya ingin menjadi teman yang selalu hadir, yang mengingat setiap hari ulang tahun, yang membuat surat-surat tulisan tangan yang indah, dan yang melontarkan percakapan asyik di Pinterest. Namun sebaliknya, saya adalah teman yang lupa untuk menelepon. Saya adalah teman yang terus-menerus menghilang. Saya adalah teman yang menanyakan alamat Anda kepada Anda berulang kali karena saya tidak pernah ingat untuk mencatatnya.
Saya bukan ibu yang sempurna, dan demikian juga Anda - mari kita perangi rasa bersalah bersama-sama.
Jika Anda seorang ibu yang bekerja seperti saya, saya dapat memberi tahu Anda beberapa hal tentang diri Anda.
Pertama, Anda lelah.
Saya tahu.
"Saya melihat Ayah saya seperti ini," kata T yang berusia 13 tahun. Ia berlutut lalu terlentang di atas lantai. "Ia dibunuh," T menambahkan sambil meneteskan air mata. Salah satu anak Tuhan yang melayani di India, bertemu dengan T di rumahnya yang berkamar dua terbuat dari batu bata, beberapa hari setelah ayahnya dibunuh.
Pada tanggal 10 Januari 2011, ayah T, SP, tidak pernah lagi pulang ke rumah setelah memperoleh pekerjaan baru di dapur pembuatan batu bata, yang dekat dengan rumahnya. Sebenarnya, SP seorang pendeta yang melayani di daerah O, tidak ingin menerima pekerjaan ini. Pria yang menawari pekerjaan ini adalah anggota dari kelompok garis keras dari "agama lain", yang dicurigai terlibat dalam penyerangan brutal terhadap orang-orang Kristen di daerah O pada tahun 2008. Tetapi, SP sangat membutuhkan pekerjaan. Rumahnya telah hancur pada kerusuhan tahun 2008, dan dia harus menafkahi istri, kedua putrinya, dan adik perempuannya.
Suasana Natal sudah menebar di segenap tempat. Mall dan beberapa gedung semarak oleh hiasan Natal. Beberapa penjual mengadakan obral dengan tema Natal. Di beberapa tempat penjualan pelayannya memakai topi mirip Santa Klaus. Banyak hal dikaitkan dengan Natal meski sebetulnya ada kesan pemaksaan. Natal memang hari besar bagi umat Kristen, meski sebetulnya yang terpenting bagi iman umat adalah Paskah, sebab tanpa kebangkitan sia-sialah pengurbanan Yesus. Namun gema Natal jauh lebih berkumandang meriah dibandingkan Paskah.
Ada selintas masa dalam hidupku yang mengguratkan kepedihan mendalam di hatiku. Nyerinya begitu terasa. Dan itu terjadi lima belas tahun yang silam, ketika dalam waktu yang hampir bersamaan aku kehilangan dua orang yang sangat kucintai.
Berikut ini sajian kesaksian yang ditulis Sdr. Hary kepada Redaksi. Silakan menyimak, semoga menjadi berkat.
Salam damai sejahtera di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Berikut ini kesaksian yang dikirimkan kepada Redaksi e-Konsel oleh Meilina, seorang staf sebuah yayasan di Solo.
Saya bertemu dengan suami saya, Tio, sekitar empat tahun yang lalu. Waktu itu kami dikenalkan oleh salah seorang teman. Sejak semula kami sadar bahwa kami berbeda keyakinan dan itu yang harus kami perjuangkan supaya hubungan kami bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Kami tinggal di kota yang berbeda sehingga hanya di akhir pekan saja kami bisa bertemu. Pertentangan dari orang tua mulai saya rasakan ketika saya diperkenalkan kepada keluarganya.