Mudah sekali kita panik ketika melihat kenyataan bahwa keluarga kita retak. Kita berpikir, jika masalah pernikahan, keuangan, dan iman dapat dibereskan, masa depan keluarga kita pun akan pulih, dan voila! -- semuanya akan baik-baik saja. Namun, kenyataannya, keluarga yang retak bukanlah hal baru. Kita semua berasal dari keluarga yang retak karena keluarga Allah pun retak. Akan tetapi, hal ini bukan tragedi seperti yang sering kita bayangkan. Justru dalam keadaan retak itulah Allah menghendaki kita berada -- dan di situlah Dia dapat menyusun kita kembali dengan kuasa-Nya.
Pada mulanya, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Adam dan Hawa adalah sebuah keluarga: seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menyatakan gambar Allah dalam keberadaan mereka dan dalam kesatuan mereka. Namun, sebelum mereka sempat memiliki anak, mereka jatuh dan rusak oleh dosa. Keluarga pertama adalah keluarga yang retak -- terpisah dari hati Allah sendiri.
"Anak pertama lahir ke dalam keluarga yang retak dan kacau ini."
Dalam lima pasal pertama Alkitab, laki-laki dan perempuan menjadi satu, melanggar satu-satunya larangan Allah, lalu melahirkan dua anak laki-laki -- salah satunya membunuh saudaranya. Akibatnya, pada Kejadian 6, penghuni bumi adalah orang-orang yang hatinya begitu condong kepada kejahatan sehingga Allah memutuskan untuk memulai kembali.
"Hati Allah hancur melihat keluarga-Nya yang retak."
Pada kesempatan kedua, hasilnya pun tidak lebih baik. Allah memulai lagi dengan satu keluarga -- kali ini keluarga Nuh. Selama empat puluh hari empat puluh malam, mereka bertahan bersama dengan baik. Namun, setelah Air Bah berakhir, Nuh dan anak-anaknya tersandung, dan kejatuhan keluarga itu terus berlanjut.
- Atas permintaan istrinya yang tidak sabar menantikan anak, Abraham, sang bapa leluhur itu, mengambil Hagar, budak perempuan mereka, sebagai gundiknya dan memperoleh anak di luar pernikahannya dengan Sara.
- Yakub menikahi seorang kakak beradik perempuan, tetapi sebenarnya mencintai -- dan kemudian juga menikahi -- saudarinya yang lain.
- Daud berzina dengan Batsyeba, lalu membunuh suaminya.
- Nabi Hosea dikhianati oleh istrinya yang tidak setia, Gomer, tetapi tetap menerimanya kembali.
Dalam Kitab Suci, kita menemukan keluarga yang dibangun dengan kasih dan kesucian, tetapi juga keluarga yang terbentuk dari pemerkosaan dan dosa. Ada anak-anak yang lahir dari satu ayah dan ibu-ibu yang bersaudara. Ada anak-anak yang lahir dari perzinaan, melalui pelacuran, dan dalam pernikahan poligami. Ada pula anak-anak yang lahir dari keluarga sederhana, lalu diserahkan melalui adopsi kepada para penguasa dan keluarga kerajaan. Karena rasa hormat tidak muncul secara alami dalam hati umat-Nya, Allah bahkan harus memerintahkan mereka untuk menghormati orang tua mereka.
Itu baru Perjanjian Lama. Perjanjian Baru dimulai dengan seorang gadis remaja yang belum menikah -- meskipun sudah bertunangan -- dan sedang mengandung.
Kita semua berasal dari keluarga yang retak, lalu ikut membentuk keluarga lain yang juga retak, sebab semua keluarga memang retak. Bahkan keluarga Allah pun demikian. Dalam keretakan itu, kita berada tepat di tempat yang seharusnya. Terpecah. Berantakan. Berdosa. Membutuhkan pertolongan. Namun, masih dapat ditebus.
Barbara Brown Taylor menulis, "Rasa sakit membuat kita semua menjadi teolog... Rasa sakit adalah salah satu jalan tercepat menuju perjumpaan apa adanya dengan Yang Kudus." [1]
Ada keindahan dalam keretakan.
Allah Pencipta kita sangat rindu menghadirkan anak-anak-Nya ke dalam keberadaan. Namun, hati-Nya tersayat ketika kita lari, bersembunyi, dan menolak kasih-Nya. Allah Bapa kita menetapkan kita sebagai anak-anak-Nya, lalu membiarkan kita berjalan dalam kekerasan hati kita sendiri, tetapi Dia tetap berdiri di jalan, memperhatikan dan menanti kita kembali kepada-Nya. Allah yang memegang masa depan kekal kita merancang penebusan, ketika kita dipulihkan kepada tujuan-Nya yang semula dan ditempatkan dalam relasi yang indah dengan-Nya serta dengan sesama.
Umat manusia adalah keluarga yang retak dan kacau. Kita semua berasal dari keluarga yang retak ini. Keluarga itu sudah rusak bahkan sebelum sepenuhnya terbentuk. Sama seperti usahaku gagal memperbaiki kerusakan dalam keluarga pertamaku dan keluargaku yang kedua, usaha kita pun akan gagal mencapai sasaran jika kita berusaha membuat keluarga menjadi utuh dan sehat dengan kekuatan sendiri di dunia yang retak ini.
Pikirkanlah seperti ini: jika keluarga Allah dahulu dan sekarang pun retak, mengapa kita mengira keluarga kita akan berbeda?
Yesaya 53 menubuatkan bahwa kesembuhan bagi yang retak akan datang melalui saluran yang tidak terduga: Mesias yang diremukkan. Dalam Yesaya 53:2, Raja yang akan datang digambarkan tidak menarik. Tampaknya, tidak ada "keindahan dalam keretakan" di sana.
Dia tidak memiliki bentuk ataupun kemuliaan sehingga kita harus memandangnya; ataupun memiliki keindahan sehingga kita menginginkannya. (AYT)
Pendeta saya, Robert Gelinas, membandingkan keindahan Yesus dengan Fiona dalam film "Shrek". Ada keindahan dalam diri sang putri, tetapi keindahan itu tidak terlihat sampai dia menjadi ogre. Saat itulah Shrek dan orang-orang lain melihat keindahan yang muncul dari dalam dirinya. [2]
Keindahan dari keretakan tampak ketika Hamba Allah yang dihina, Sang Manusia Penuh Kesengsaraan, menanggung kelemahan kita. Yesaya 53:5 menegaskan penyediaan Allah bagi hati yang retak, jiwa yang retak, manusia yang retak, dan ya, keluarga yang retak.
Akan tetapi, dia ditikam karena pelanggaran-pelanggaran kita. Dia diremukkan karena kejahatan-kejahatan kita. Hukuman yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita ditimpakan ke atasnya, dan oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan. (AYT)
Pikirkanlah seperti ini: jika keluarga Allah dahulu dan sekarang pun retak, mengapa kita mengira keluarga kita akan berbeda?
Penulis menjelaskan bahwa kata yang diterjemahkan sebagai "wounded" dalam kutipan bahasa Inggris itu berkaitan dengan luka atau memar -- tanda biru kehitaman yang muncul karena pembuluh darah pecah. [3] Sementara itu, kata "disembuhkan" berasal dari akar kata yang berarti "dipulihkan, diperbaiki, dijadikan utuh sepenuhnya -- diampuni secara rohani." [4] Melalui pembuluh darah-Nya yang pecah dan meninggalkan luka, kita dijadikan utuh sepenuhnya.
Pada suatu titik dalam perjalananku dari keluarga pertamaku yang retak menuju keluargaku yang kedua yang juga retak, aku mulai memahami bahwa keretakan dalam keluargaku yang pertama bukanlah kesalahanku. Allah menuntunku melewati lapisan-lapisan rasa malu dan takut untuk meyakinkanku: aku tidak memiliki kendali atas pilihan orang tuaku. Aku bukan penyebab ayahku pergi. Aku tidak memaksa ibuku untuk minum berlebihan. Dengan lembut, Allah menuntunku kepada firman dalam 1 Yohanes 4:18 (AYT):
Tidak ada ketakutan di dalam kasih, tetapi kasih yang sempurna mengusir ketakutan karena ketakutan berhubungan dengan hukuman. Orang yang takut belum disempurnakan dalam kasih.
Aku menyadari bahwa aku tidak perlu takut karena Yesus telah menanggung hukuman apa pun yang mungkin harus kuhadapi. Oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan.
Dengarkan baik-baik: keretakan yang menimpamu dalam keluargamu yang pertama bukanlah kesalahanmu.
Tahun-tahun berlalu, dan aku menjadi ibu bagi keluargaku yang kedua. Di tengah ketidaksempurnaan dan bagian-bagian diriku yang retak, perlahan aku menghadapi kenyataan bahwa Allah tidak menilai keibuanku dari sempurna atau tidaknya perkembangan anak-anakku. Sebaliknya, Dia memintaku memeriksa pengaruhku terhadap mereka: apakah aku menyerahkan diri kepada kasih-Nya bagiku dan mewujudkan kasih itu dalam hidupku. Titik. Dia tidak memintaku mengendalikan respons mereka, pilihan mereka, atau konsekuensi mereka. Aku bisa saja menutup lubang-lubang di jalan mereka dengan tubuhku sendiri, tetapi mereka belum tentu mengindahkan peringatanku. Aku tidak dapat memperbaiki keluargaku -- baik keluarga pertamaku maupun keluargaku yang kedua -- sama seperti aku tidak dapat memperbaiki diriku sendiri. Aku retak. Mereka retak. Tugasku adalah mempersembahkan diri kepada Allah dan mengizinkan Dia memakai peran keibuanku yang terbaik, meskipun tetap penuh kekurangan, untuk membentuk pertumbuhan mereka.
Oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan.
Walaupun keretakan yang kamu alami dalam keluargamu yang pertama bukanlah kesalahanmu -- ingatlah itu -- mungkin ada bagian-bagian keretakan dalam keluarga pertamamu atau keluargamu yang kedua yang memang menjadi tanggung jawabmu. Jika demikian, akuilah. Tanggung jawabmu adalah memperbaiki kesalahan dan bergerak menuju pemulihan. Aku pernah mendatangi masing-masing anakku dan suamiku untuk mengakui pola asuhku yang terlalu mengontrol, ketakutanku, penghakimanku, dan ketidakmampuanku. Kadang, daftar kegagalanku begitu panjang sehingga tidak mungkin kubereskan sekaligus. Aku menyeretnya ke mana-mana seperti tisu toilet panjang yang tersangkut di sepatuku. Memalukan, tetapi perlu disadari dan dilepaskan.
Hanya Yesus yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan yang retak. Hanya Yesus yang memiliki kuasa untuk menyelamatkan yang hilang. Oleh bilur-bilur-Nya, kita memperoleh kesembuhan. Keluarga yang retak menemukan pemulihan ketika orang-orang yang retak di dalamnya mengakui keretakan mereka dan secara pribadi menyerahkan diri kepada kuasa penyembuhan Allah. Daripada berdoa, "Pulihkan keluargaku," kita berdoa, "Pulihkan aku."
Ketika kita retak, kita berada tepat di tempat yang Allah kehendaki.
Diberkatilah orang yang miskin dalam roh sebab mereka yang mempunyai Kerajaan Surga. -- Matius 5:3 (AYT)
Ketika kita retak, kita miskin total. Ketika kita miskin total, kita bergantung. Ketika kita bergantung, kita berhenti mengandalkan diri sendiri dan terbuka bagi Allah.
Anehnya, kita sering memandang kegagalan kita sebagai alasan untuk tidak layak melayani dengan bermakna, membangun relasi yang bertahan, atau memberi kontribusi yang berharga bagi dunia. Padahal, yang benar justru sebaliknya. Ketika kita jatuh, lalu berpaling kepada Allah untuk menerima pengharapan dan pertolongan yang hanya dapat Dia berikan, kita justru menjadi lebih siap untuk menjalani hidup yang lebih utuh. Keretakan kita membuat kita lebih mampu memberi diri bagi hidup orang-orang di sekitar kita, saat kita membawa kesembuhan yang Allah kerjakan dalam diri kita ke dalam relasi dengan mereka.
Telusurilah halaman-halaman Kitab Suci, dan kamu akan melihat tokoh demi tokoh dipakai dengan lebih kuat setelah kejatuhan mereka daripada sebelumnya. Abraham. Musa. Rahab. Daud. Rut. Yunus. Petrus. Markus. Paulus.
Tidak ada keluarga yang sempurna. Namun, pengharapan muncul ketika kita memahami bahwa keluarga yang retak bukanlah kenyataan yang mustahil ditebus. Belas kasih muncul ketika kita mengerti bahwa kita semua -- setiap kita -- dilahirkan dari keluarga Allah yang retak. Ketika kita menerima kenyataan bahwa kita membutuhkan belas kasihan, kita pun dapat memperluas kasih karunia kepada orang lain. Keluarga yang sehat pada masa kini memang hidup dan penuh semangat, tetapi juga tidak mulus dan sangat nyata -- sebuah tempat yang perlu disusun, bahkan disusun kembali. Ketika kita retak, kita berada tepat di tempat yang seharusnya di hadapan Allah. Di sanalah kita perlu tetap tinggal.
Ada keindahan dalam keretakan.
Dikutip dari The Beauty of Broken oleh Elisa Morgan, hak cipta Elisa Morgan.
[1] Barbara Brown Taylor, "An Altar in the World" (New York: HarperOne, 2009), 157-58.
[2] Robert Gelinas, "Transfiguration: Beautiful", khotbah di Colorado Community Church, 13 Mei 2012; http://www.coloradocommunity.org/media/sermons/sermons-online/?page=4.
[3] "Strong's Hebrew Lexicon", 2250; http://www.eliyah.com/cgi-bin/strongs.cgi?file=hebrewlexicon&isindex=22…; R. Jamieson, A. R. Fausset & D. Brown, "Commentary Critical and Explanatory of the Whole Bible" (Oak Harbor, WA: Logos Research Systems, Inc., 1997), Yesaya 53:5; J. F. Walvoord dan R. B. Zuck, Dallas Theological Seminary (1985), "The Bible Knowledge Commentary: An Exposition of the Scriptures" (Wheaton, IL: Victor Books, 1985), Yesaya 53:5.
[4] "Strong's Hebrew Lexicon", 7495; http://www.eliyah.com/cgi-bin/strongs.cgi?file=hebrewlexicon&isindex=74…; Victoria Neufeldt, David B. Guralnik, eds., "Third College Edition Webster's Dictionary" (New York: Prentice Hall, 1986), 621.
Giliran Anda
Kita semua retak. Setiap orang retak, dan setiap keluarga pun retak. Bahkan keluarga Allah. Bukankah itu sedikit melegakan? Kita dapat datang langsung kepada Tuhan tanpa rasa takut karena Dia sudah tahu bahwa kita retak, kita gagal, kita membuat kekacauan, dan kita membutuhkan kesembuhan-Nya. (t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
FaithGateway |
|
Alamat artikel |
: |
https://faithgateway.com/blogs/christian-books/gods-broken-family |
|
Judul asli artikel |
: |
God’s Broken Family |
|
Penulis artikel |
: |
Elisa Morgan |