Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sampai Hari Tuaku

Edisi C3I: e-Konsel 127 - Para Lanjut Usia

Seperti halnya seorang anak yang mulai memasuki usia remaja, yang sibuk mencari jati diri mereka dan beradaptasi dengan berbagai perubahan baik secara fisik maupun psikologis, demikian pula dengan seseorang yang mulai memasuki usia senja. Adaptasi dengan masa yang baru juga mereka perlukan untuk dapat menjalani sisa hidup mereka. Dalam tanya jawab berikut ini, Pdt. Paul Gunadi Ph.D. akan memaparkan perubahan-perubahan dan adaptasi apa saja yang terjadi ketika kita memasuki usia lanjut. Silakan menyimak!

T : Setiap fase pernikahan memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Bagi
pasangan yang sudah memasuki fase usia lanjut, masalah-masalah
apa saja yang biasanya muncul?
J : Masalah yang biasanya muncul adalah keterbatasan. Kesehatan kita
di hari tua sudah terbatas, tidak sesehat dulu lagi. Contohnya,
dalam hal pendengaran. Pendengaran kita mulai berkurang sehingga
perlu penyesuaian untuk berbicara dengan pasangan. Atau ingatan
kita berkurang sehingga kita atau pasangan kita kembali
menanyakan hal-hal yang baru saja kita bicarakan. Mereka yang
kebetulan memiliki memori lebih kuat bisa menjadi jengkel karena
pasangannya bertanya lagi, padahal baru saja diberitahukan.
Masalah juga bisa timbul karena sering lupa sehingga merepotkan
pasangan. Di dalam keterbatasan inilah sebagai suami-istri kita
harus menghadapi tantangannya. Untuk menghadapi tantangan ini,
kita harus belajar melihat unsur-unsur yang menimbulkan
keterbatasan itu.
Pertama adalah jenis aktivitas. Ada hal-hal yang biasa kita
lakukan, namun sekarang tidak bisa lagi kita lakukan. Misalnya,
kalau kita senang main tenis, sampai usia tertentu kita masih
bisa bermain tenis. Namun, melewati usia tertentu, kita tidak
akan bisa lagi bermain tenis. Pilihannya adalah tidak lagi
bermain tenis atau harus mengganti jenis aktivitasnya karena
tetap ingin hidup sehat. Ada orang yang tidak bersedia dan
berkata, "Saya suka tenis, maka saya akan terus main tenis."
Akhirnya, tulangnya patah atau terkena serangan jantung karena
tenis tidak cocok lagi untuk usia yang sudah lanjut. Atau karena
tidak bersedia mengganti dengan aktivitas lain, akhirnya tidak
olahraga sama sekali sehingga di masa tuanya ia justru
mengumpulkan penyakit-penyakit yang lain.
Kecenderungan bagi pasangan yang sudah lanjut usia adalah adanya
salah satu pihak yang menyangkali keterbatasannya sehingga
pasangannya akan menjadi kesal. Akhirnya, terjadilah percekcokan
yang tidak pernah muncul di usia muda karena masalah ini memang
muncul di usia tua. Sebaliknya, ada juga pasangan yang tidak mau
mengerti bahwa pasangannya tidak lagi sekuat dan selincah dulu.
Dia memaksa pasangannya untuk terus pergi bersamanya. Dengan
demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa kedua belah pihak memang
harus benar-benar saling memahami, menerima, dan terutama
saling memercayai. Jadi, perlu suatu jalinan komunikasi yang
baik dengan berlandaskan saling memercayai dan menghargai.
T : Selain keterbatasan dalam jenis aktivitas, apakah ada hal-hal
lainnya?
J : Hal yang kedua adalah frekuensi. Jika kita terbiasa bermain
tenis, misalkan tiga kali per minggu, ketika berusia lanjut,
kita tidak lagi bisa bermain tiga kali seminggu. Mungkin hanya
menjadi dua kali seminggu. Aktivitas yang biasa kita lakukan
beberapa kali per hari atau per minggu, seiring pertambahan
usia, harus kita kurangi.
Selain frekuensi, yang juga harus kita pertimbangkan ulang
adalah seberapa baik dan memuaskan kualitasnya. Salah satu yang
juga mesti kita sadari adalah relasi suami-istri secara seksual.
Tidak bisa disangkal, relasi seksual pada masa tua akan berubah,
tidak lagi mempunyai kualitas sebaik dulu. Ini bagian yang juga
harus diterima. Ada hal-hal yang masih bisa dilakukan, tapi
tidak lagi sebaik atau sememuaskan sebelumnya. Bagian yang mesti
kita sadari juga adalah berapa lama durasinya. Misalnya, jika
dulu bisa bermain tenis dua jam, maka dengan bertambahnya usia
mungkin harus ada pengurangan dari dua jam ke satu setengah jam.
Bepergian dulu bisa dari pagi sampai sore, sekarang sampai siang
saja harus sudah pulang. Inilah elemen-elemen yang mesti kita
sadari telah berubah dan harus kita terima.
T : Kalau keterbatasan justru mengurangi jenis aktivitas, tidakkah
sebaiknya dicarikan penggantinya? Misalnya, walaupun tidak bisa
menikmati kepuasan seksual, bukankah harus ada sesuatu yang
memuaskan dirinya?
J : Sudah tentu dia harus kreatif mencari bentuk-bentuk aktivitas
lain yang dapat dilakukannya. Namun, kita harus tetap berjalan
di koridor kehendak Tuhan. Jangan sampai kita mencari aktivitas
pengganti yang melawan kehendak Tuhan. Kita memang harus
kreatif dan kreativitas itu bisa diwujudkan. Misalnya, kalau
dulu terbiasa pergi ke mana-mana, sekarang mungkin jalan di
sekitar rumah saja bersama-sama. Dulu biasa pulang malam,
sekarang pulang sore karena mata tidak lagi awas untuk bisa
melihat jalanan dengan baik. Pikirkanlah apa yang bisa dilakukan
di rumah sehingga masih bisa melakukan kebersamaan.
T : Selain faktor keterbatasan, adakah faktor lainnya?
J : Masa tua ini sebenarnya masa mengenang dan menuai. Di masa
seperti ini, kita tidak lagi dapat memandang ke depan sebab
secara alamiah kita tahu bahwa tidak banyak lagi waktu yang
tersisa. Secara fisik pun ingatan jangka pendek kita makin
memudar sehingga kita sering melupakan yang sekarang. Tapi
jangka waktu kita masih ada. Kita bisa mengingat hal-hal yang
dulu pernah terjadi. Itu sebabnya, kalau kita pernah mengalami
kepahitan atau kekecewaan di masa lalu, kita perlu
membereskannya, mengampuni orang yang melukai atau mengecewakan
kita. Bila tidak, di hari tua kepahitan itu akan mengganggu,
membesar, dan benar-benar menguasai kita. Ketika berkunjung ke
rumah orang seperti ini, kita akan selalu disuguhi cerita yang
sama tentang kepahitan dan kebenciannya kepada orang lain.
Masalahnya, orang ini sudah membicarakan kemarahan dan
kekecewaannya berkali-kali kepada setiap orang yang berkunjung
kepadanya. Masa tua adalah masa mengenang dan menuai. Kalau
sebelumnya menabur benci dan dendam, di hari tua kelak kita akan
menuai benci dan dendam dalam skala yang lebih besar.
Sebaliknya, kalau di masa lampau kita menanam banyak pengalaman
indah dengan mengampuni, tidak menggenggamnya sendiri, tetapi
memilih menyerahkan semuanya kembali kepada Tuhan, masa tua akan
menjadi masa yang lebih indah sebab yang kita ingat adalah yang
hal yang indah. Ketika kita tidak menyimpan dendam, maka yang
kita tuai adalah pengampunan dan keindahan. Itu sebabnya, kita
akan melihat mata orang tua yang indah, bersinar, dan menjadi
berkat karena masa lalu yang penuh pengampunan. Tapi ada juga
orang tua yang masih memancarkan kebencian dan kepahitan.
T : Kadang-kadang, ada orang tua yang terus menyesali masa lalunya,
tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena unsur usia.
Bagaimana mengatasi keadaan seperti ini?
J : Dia harus datang kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, ada kerikil
dalam hidup saya. Saya tahu ini tidak benar, saya harus
membereskannya." Nah, dia harus mau membereskan. Tidak saat di
mana kita berkata terlambat untuk mengampuni, untuk
membereskan -- selama masih ada hari, berarti kita masih bisa
mengampuni. Yang penting ada kemauan. Namun, sering kali
kebencian sudah mendarah daging dan menjadi bagian hidupnya
untuk waktu yang lama. Bila ini terjadi, ia tidak dengan mudah
mau atau melepaskan kebencian itu. Jadi semakin hidup ini diisi
oleh kepahitan, yang harus menanggung hal itu justru
pasangannya. Setiap hari pasangannya harus mendengarkan keluhan
kepahitan yang tidak pernah habis. Jadi kalau kita melihat dia
merugikan dirinya sendiri, tapi tidak mau melepaskannya, Tuhan
memberikan pilihan kepada mereka, yaitu datang kepada-Nya
sehingga dimampukan untuk mengampuni atau tetap tidak mau
mengampuni sehingga ia terus dikuasai oleh kebencian.
T : Masih adakah faktor lain pada masa tua ini yang perlu
diperhatikan?
J : Masa tua adalah masa perubahan prioritas. Maksudnya, oleh karena
sedikitnya waktu yang tersisa dan berkurangnya kesanggupan
fisik, kita pun dipaksa menetapkan ulang prioritas hidup kita.
Kita mesti duduk bersama dan membicarakan apa yang sekarang
ingin kita lakukan di sisa-sisa hari kita. Jangan sampai nanti
yang satu mau ke kiri, yang lain mau ke kanan. Sudah tentu di
masa tua tetap diperlukan suatu kerelaan untuk mengalah, untuk
berkata, "Maaf, saya sebetulnya sulit menerima ini, tapi karena
saya tahu ini penting bagimu saya akan mendukungmu." Semua ini
harus dijaga dalam koridor saling mengerti.
Ada kecenderungan di hari tuanya sebagian orang menggunakannya
untuk membalas dendam. Adakalanya mereka memang terlalu pahit di
masa lampau, diperlakukan buruk oleh pasangannya, jadi masa
tua dimanfaatkan sebagai masa pembalasan dendam. Namun, kita
mesti ingat bahwa kita tetap bertanggung jawab atas tindakan
kita sekarang. Tuhan memanggil kita untuk mengampuni -- tidak
membalas kejahatan dengan kejahatan, Tuhan memanggil kita untuk
mengasihi, dan kita bertanggung jawab untuk menunaikan perintah
Tuhan ini.
T : Apakah orang yang sudah lanjut usia tetap perlu mempunyai
cita-cita atau pengharapan untuk masa depannya walaupun hanya
tinggal sedikit?
J : Itu penting sekali. Bicarakanlah apa yang ingin dikerjakan
bersama setahun ini atau tahun depan kalau Tuhan mengaruniakan
kesehatan kepada kita. Jadi, silakan mengisi masa tua dengan
rencana-rencana yang realistik dan dapat dilakukan.
T : Bagaimana dengan harapan-harapan masa lalunya yang tidak menjadi
kenyataan? Bukankah harapan-harapan itu harus ditinjau ulang,
atau malah harus ditinggalkan, dsb.? Bukankah menyakitkan
meninggalkan harapan-harapan yang sudah tidak mungkin tercapai?
J : Di masa tua, kita mesti berdamai dengan diri kita pula.
Maksudnya, waktu kita menengok ke belakang dan melihat hal-hal
yang tidak kita dapatkan, kita mesti duduk dan berpikir dengan
jernih. Jangan menyalahkan orang karena tindakan ini hanya akan
menambahkan kepahitan. Lihatlah, apakah itu bagian kita. Kalau
memang ini kesalahan orang dan orang berbuat buruk kepada kita,
tugas kita di masa tua adalah meminta Tuhan menolong kita
mengampuni orang itu, ini proyek kita. Kita tidak bisa
mendelegasikan ini kepada orang lain, ini adalah tanggung jawab
kita kepada Tuhan. Kalau memang kitalah yang berandil, yang
membuat kita kehilangan kesempatan baik itu, kita juga mesti
berdamai dengan diri kita dan menerimanya. Setelah itu, kita
datang kembali kepada Tuhan dan percaya bahwa meskipun kita
kehilangan itu semua, tetapi rencana Tuhan, anugerah Tuhan bagi
kita cukup, tidak lebih juga tidak kurang.
T : Apa firman Tuhan yang sesuai dengan topik ini?
J : Pengkhotbah 3:11, 13, "Ia membuat segala sesuatu indah pada
waktunya ...; dan bahwa setiap orang dapat makan, minum, dan
menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga
adalah pemberian Allah." Ini benar-benar konsep teologis yang
dalam, yaitu bahwa Tuhan menguasai segalanya. Dia Allah yang
berdaulat; Dia yang memberikan keindahan pada waktunya; Dia
yang membuat seseorang mampu untuk makan, minum, dan menikmati
hidupnya. Tuhanlah segalanya. Jadi, di hari tua kita kembali
kepada Tuhan, bersyukur dan berserah kepada-Nya.
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T032A
Penerbit: 
--

Komentar