Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Seseorang Membutuhkan Penguatan Anda

Kapan terakhir kali Anda merasa benar-benar dikuatkan oleh orang percaya lainnya?

Banyak dari kita mungkin dapat dengan cepat mengingat suatu percakapan, bahkan mungkin percakapan dari minggu lalu, sementara yang lainnya mungkin kesulitan untuk mengingat momen jelas ketika kita merasa dikuatkan. Beberapa orang akan merasa bahwa mereka telah mengalami penguatan ilahi, meskipun sebenarnya belum. Sementara orang lainnya akan menganggap mereka belum mengalami penguatan ilahi, padahal sebenarnya sudah. Mungkin banyak dari kita yang gagal untuk mengalami dan memberikan penguatan karena belum mengetahui apa itu penguatan.

Cara kita menggunakan penguatan hari-hari ini, sering kali hanya sekadar untuk menunjukkan penghiburan atau pujian belaka. "Kamu melakukan pekerjaan yang bagus dengan proyek itu." "Kamu adalah ibu yang sangat baik." "Semuanya akan baik-baik saja." Akan tetapi, penguatan alkitabiah, yang meskipun kaya dengan pujian, menawarkan sesuatu yang jauh lebih kuat dan lebih menyegarkan. Sementara penguatan yang tidak pada tempatnya dapat mengobarkan kesombongan atau memanjakan rasa mengasihani diri sendiri, penguatan yang sejati dapat menghasilkan kerendahan hati, keberanian, dan, di atas segalanya, pengharapan kepada Allah. Sementara penguatan yang buruk mungkin membenarkan kepasifan, penguatan yang sejati mengilhami hati yang berjaga-jaga dan kesetiaan yang terus diperbarui.

Penguatan sejati bukanlah tentang membuat orang lain merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, tetapi mempersiapkan mereka untuk mengenal, menaati, dan lebih menikmati Allah.

Penguatan atau Sanjungan?

Pujian sendiri bukanlah penguatan. Bahkan, itu mungkin hanya sanjungan berbulu domba. Dan, sanjungan meracuni apa yang dipelihara oleh penguatan.

"Orang yang menjilat sesamanya," kata Amsal 29:5 (AYT), "menebarkan jerat bagi kakinya." Atau, bahkan lebih parah lagi, "Lidah dusta membenci orang yang ditindasnya, dan mulut yang licin mendatangkan kehancuran" (Ams. 26:28, AYT). Sanjungan tidaklah manis atau tidak berbahaya; sanjungan menghancurkan jiwa. Sanjungan adalah riasan yang indah untuk menutupi keegoisan yang kejam. Efeknya tidak mengasihi, tetapi merusak. Menumbuhkan kebiasaan atau budaya memberi penguatan yang benar dapat dimulai dengan menganggap serius kerasnya peringatan Allah tentang sanjungan.

Rasul Paulus membenci sanjungan (1Tes. 2:5), karena ia telah merasakan buah sanjungan yang pahit dan memecah belah. "Sebab, orang-orang seperti itu tidak melayani Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan melayani nafsu mereka sendiri; dan dengan perkataan yang lembut serta kata-kata sanjungan, mereka menipu hati orang-orang yang tidak menaruh curiga." (Rm. 16:18, AYT). Para penyanjung menggunakan rasa tidak aman orang lain untuk melayani keinginannya sendiri demi persetujuan, demi kekuasaan dan pengaruh, dan dalam beberapa kasus, demi keuntungan finansial atau seks terlarang. Sanjungan adalah strategi agresif yang halus untuk memuaskan beberapa bentuk penyembahan berhala. Dan, hal itu mudah dilakukan terhadap orang yang naif -- mereka yang menganggap sanjungan itu manis atau tidak berbahaya. Ironisnya, sanjungan dapat menipu dan menghancurkan si penyanjung dengan membuatnya dirinya sendiri percaya bahwa ia sedang mengasihi.

Jadi, apa yang membedakan penguatan sejati dan penguatan yang berbahaya?

Bagaimana Allah Menguatkan Seseorang?

Allah tidak hanya memberi kita petunjuk dan contoh penguatan yang baik dalam Kitab Suci, tetapi Dia juga merendahkan diri-Nya untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menguatkan hati manusia. Ketika Musa meninggal, tepat ketika Israel hendak menyeberang ke Tanah Perjanjian, Allah menunjuk Yosua untuk memimpin bangsa itu melawan bangsa-bangsa yang lebih kuat dan lebih menakutkan daripada bangsanya sendiri. Siapapun hampir tidak dapat membayangkan panggilan yang lebih menakutkan. Tuhan datang untuk menguatkan -- secara harfiah, untuk memberikan kekuatan dan keberanian -- kepada Yosua,

Gambar: kesendirian

"Jadilah kuat dan berani karena kamulah yang akan memimpin bangsa ini untuk memiliki tanah yang Aku janjikan kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, jadilah kuat dan berani, hati-hatilah bertindak sesuai dengan seluruh hukum yang hamba-Ku Musa perintahkan kepadamu; jangan menoleh ke kanan atau ke kiri supaya kamu berhasil ke mana pun kamu pergi. Bukankah sudah Aku perintahkan kepadamu, jadilah kuat dan berani? Jangan takut atau gentar karena TUHAN, Allahmu, menyertaimu ke mana pun kamu pergi." (Yosua 1:6-7,9, AYT)

Ini adalah penguatan dalam bentuk yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih menarik. Jadi, apa yang membedakan kata-kata ini dari sanjungan?

Mengatakan Kebenaran

Pertama, penguatan yang sejati mengatakan kebenaran. Sanjungan biasanya melebih-lebihkan sebuah aspek kebenaran, memutarbalikkan atau membesarkan suatu hal untuk alasan egois. Penguatan tahu bahwa sesuatu dapat berbuah hanya jika itu setia pada kebenaran. Kita tahu Allah mengatakan yang sebenarnya kepada Yosua, karena Dia tidak bisa berbohong (Bil. 23:19; Tit. 1:2). Ketika Dia berkata, "Kamulah yang akan memimpin bangsa ini untuk memiliki tanah," kita tahu itu akan terjadi persis seperti yang Dia katakan. Jadi, ketika kita memberi penguatan, apakah kita bisa menahan godaan untuk tidak menyembunyikan hal yang mungkin menyakitkan atau untuk tidak melebih-lebihkan hal sebenarnya?

Penyanjung ingin memuaskan kebanggaan dan kesombongan korbannya, jadi dia memilih suatu kualitas yang mengagumkan dan melebih-lebihkannya -- dia membuat pekerjaan bagus terdengar luar biasa, pengorbanan kecil terdengar seperti hal yang besar, buah kecil terdengar seperti taman yang penuh dengan kehidupan -- sambil menolak melihat dan menghadapi dosa dan kesalahan. Atau, dia mengambil suatu kualitas jelek dan membuatnya tampak mengagumkan -- membuat keegoisan terdengar seperti kepedulian terhadap diri, kesombongan seperti kepercayaan diri, kemarahan seperti gairah, keserakahan seperti ambisi, kebohongan seperti cinta.

Sebaliknya, pemberi semangat yang saleh menyatakan kebenaran dalam kasih (Ef. 4:15). Dia mengetahui bahaya rohani dari kesombongan, jadi saat memuji, dia berhati-hati untuk tidak memanjakan atau memicu kesombongan dalam diri orang lain. Dia memuji apa yang terpuji, tanpa merasa perlu melebih-lebihkan. Dia juga tidak mengabaikan atau memaklumi dosa, tetapi menghadapi, mengampuni, dan memulihkan dengan kasih yang sama seperti yang diperkatakannya. Seiring waktu, penguatan yang konsisten tanpa koreksi apa pun mungkin tidak akan mengungkapkan kebenaran secara menyeluruh.

Bertujuan untuk Ketaatan

Kedua, penguatan yang sejati bertujuan untuk taat kepada Allah. "Hanya, jadilah kuat dan berani, hati-hatilah bertindak sesuai dengan seluruh hukum yang hamba-Ku Musa perintahkan kepadamu; jangan menoleh ke kanan atau ke kiri supaya kamu berhasil ke mana pun kamu pergi." Penguatan semacam ini bukan hanya tentang melawan atau mengatasi ketakutan, tetapi tentang memercayai dan menaati semua yang Allah katakan.

Paulus berdoa untuk penguatan yang sama ketika dia menulis, "Sekarang, kiranya Tuhan kita, Yesus Kristus, sendiri dan Allah Bapa kita, ... menghibur dan menguatkan hatimu dalam setiap pekerjaan dan perkataan yang baik" (2Tes. 2:16-17, AYT). Sanjungan tidak membangkitkan kasih kepada Tuhan dan firman-Nya, karena itu meluap dari hati yang mengasihi diri sendiri. Jadi, apakah penguatan kita menghasilkan buah ketaatan yang sulit dalam setiap pekerjaan dan perkataan yang baik? Apakah penguatan yang kita terima membantu kita melawan godaan dan memikul salib kita lagi hari ini?

Memperkuat Harapan pada Allah

Ketiga, penguatan yang sejati memperkuat harapan pada Allah, bukan pada diri sendiri. "... jadilah kuat dan berani? Jangan takut atau gentar karena TUHAN, Allahmu, menyertaimu ke mana pun kamu pergi." Sanjungan membuat Allah tampak baik, tetapi bukan hal yang perlu. Sanjungan mengubah Pencipta dan Pemelihara yang berdaulat atas semua hal seperti pemandu sorak untuk kita yang selalu bergantung pada diri sendiri.

Allah yang memberi penguatan tidak tinggal diam. Dia tidak puas mengirim penguatan ke dunia melalui para utusan yang diilhami, tetapi datang langsung untuk mewujudkan penguatan dalam daging dan darah. Dan, itulah yang Yesus lakukan.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Ada perbedaan yang besar -- bahkan perbedaan yang sangat besar -- antara "Kamu dapat melakukannya" dan "Allah akan menyertaimu." Namun, seberapa sering penguatan kita masuk kategori yang pertama? Seberapa sering kita menekankan pada apa yang telah atau bisa kita lakukan, daripada meyakini apa yang telah Allah janjikan akan Ia lakukan untuk kita dan melalui kita karena Kristus? Penguatan yang sejati mengatakan, "Terpisah dari-Nya, kamu tidak dapat berbuat apa-apa -- tetapi Dia akan bersamamu ke mana pun kamu pergi."

Apakah Anda ingin menguji penguatan yang Anda berikan dan terima dalam hubungan Anda? Tanyakan apakah itu secara konsisten mengatakan kebenaran, bahkan kebenaran yang sulit; apakah itu mengundang dan mengilhami ketaatan yang tepat dan penuh sukacita; apakah itu memperkuat harapan pada Allah dan bukan pada diri sendiri.

Menguatkan hati

Namun, Allah yang memberi penguatan tidak tinggal diam. Dia tidak puas mengirim penguatan ke dunia melalui para utusan yang diilhami, tetapi datang langsung untuk mewujudkan penguatan dalam daging dan darah. Dan, itulah yang Yesus lakukan.

Bahkan pada malam pengkhianatan-Nya, saat bersiap untuk menghadapi gerombolan massa, salib, dan kubur, Yesus berhenti sejenak untuk menguatkan pengikutnya yang rapuh dan ketakutan. Dan, bagaimana dia menguatkan mereka?

"Lihatlah! Saatnya akan datang, bahkan sudah datang bagimu untuk dicerai-beraikan, masing-masing pulang ke tempat asalnya sendiri dan akan meninggalkan Aku sendirian. Akan tetapi, Aku tidak sendiri karena Bapa bersama-Ku. Semua ini Aku katakan kepadamu supaya di dalam Aku, kamu memiliki damai sejahtera. Di dunia, kamu akan mengalami penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu! Aku telah mengalahkan dunia!" (Yoh. 16:32-33, AYT)

Dia mengatakan kebenaran kepada mereka: "Aku akan mati dan meninggalkanmu. Dan, terlepas dari niat baikmu sekarang, kamu masing-masing akan meninggalkan-Ku. Dan, setelah Aku pergi, kamu akan menghadapi kesengsaraan yang lebih buruk." Penguatan-Nya tidak menyembunyikan rasa malu atas pengkhianatan mereka atau kerasnya penderitaan yang masing-masing mereka akan hadapi.

Bagaimanapun juga, Dia memberi tahu mereka kebenaran tentang semua yang akan diperbuat-Nya untuk mereka melalui kegelapan: "Semua ini Aku katakan kepadamu supaya di dalam Aku, kamu memiliki damai sejahtera ... kuatkanlah hatimu! Aku telah mengalahkan dunia!" Pada saat-saat rapuh dan menakutkan itu, Dia tidak membangun kepercayaan diri mereka (malah sebaliknya). Dia melatih mereka untuk bertahan dalam pengharapan dalam Dia.

Dan, dalam menghadapi kemungkinan masa depan yang suram, sembari berjanji untuk menyertai mereka ke mana pun mereka pergi, Dia memanggil mereka untuk taat. "Tetaplah tinggal dalam kasih-Ku. Jika kamu menaati semua perintah-Ku, kamu akan tinggal dalam kasih-Ku" (Yoh. 15:9-10, AYT). Sebab, penguatan sejati menghasilkan ketaatan yang sejati. Dan, ketaatan yang sejati membuktikan bahwa kita hidup dalam kasih Kristus.

Masing-masing kita membutuhkan penguatan yang jujur, penuh harapan, mengarah kepada Allah, minggu demi minggu, saat kita mengikut Yesus (Ibr. 3:13; 10:24-25). Itu berarti seseorang yang kita kenal mungkin membutuhkan penguatan semacam itu juga, bahkan hari ini. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://desiringgod.org/articles/someone-needs-your-encouragement
Judul asli artikel : Someone Needs Your Encouragement
Penulis artikel : Marshall Segal

Komentar