Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Iri Hati, Stres, dan Depresi

Sekali lagi kaitan yang erat antara stres dan depresi dikukuhkan kembali melalui hasil studi yang dilakukan oleh Robert C. Pianta dan Byron Egeland yang dilaporkan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology, Vol. 62, Number 6, December 1994. Dalam artikel mereka yang berjudul, Relation Between Depressive Symptoms and Stressful Life Events in a Sample of Disadvantanged Mothers, mereka memperlihatkan bahwa stres dan depresi mempunyai dampak yang saling mempengaruhi. Artinya, stres dapat menimbulkan gejala depresi tetapi sebaliknya, gejala depresi itu sendiri berpotensi membuahkan stres dalam hidup kita. Studi mereka pun mendemonstrasikan pengaruh gejala depresi terhadap masalah relasi dengan orang lain dan gangguan kesehatan tubuh. Ada banyak hal lain yang diungkapkan melalui penelitian ini namun saya hanya akan memfokuskan pada kaitan antara stres yang berasal dari masalah relasi dengan orang lain dan depresi.

Ada banyak masalah yang dapat meruak ke dalam relasi atau hubungan kita dengan orang lain. Salah satu di antaranya adalah iri hati. Iri hati biasanya tumbuh dari suatu pengakuan bahwa pada dasarnya kita tidaklah sebaik, seberuntung, sekuat, secantik (dan sebagainya) orang lain. Pengakuan ini sendiri sebetulnya sehat dalam arti berhasil mengakui keterbatasan kita. Namun, jika kita berhenti sampai pada tahap pengakuan belaka, kita akan terjebak dan mulai mengecat kanvas kehidupan kita dengan kuas yang tajam dan tinta yang kelam. Sebaliknya, kita mengecat kehidupan orang lain dengan kuas yang halus dan tinta yang berwarna-warni. Akibatnya, kita merasa malu dengan siapa kita dan marah terhadap orang yang lebih "berwarna-warni" dari kita.

Iri hati muncul dari hati yang tidak lagi merasa puas dengan keadaan sekarang ini dan keinginan untuk memiliki apa yang ada di tangan orang lain. Dampak langsung dari iri hati adalah kegetiran dan kemarahan. Sudah tentu kegetiran dan kemarahan mengganggu hubungan kita dengan orang lain dan membuat orang lain enggan bergaul dengan kita. Ibarat bom waktu, kita siap meledak kapan saja dan biasanya orang lain pun melihat gejala ini. Mungkin mereka merasakan kegetiran dan kemarahan kita melalui ucapan-ucapan kita yang bernada menyindir atau pun melalui perkataan-perkataan kita yang mencerminkan keinginan kita memperoleh apa yang dimilikinya. Sikap kita yang seperti ini membuat mereka takut menyinggung perasaan kita dan sudah dapat diterka, hubungan kita dengan mereka semakin memudar.

Semakin kita merasa terkucil dari pergaulan, semakin besar iri hati kita (dan juga kegetiran serta kemarahan kita), dan semakin bertambah besar kemungkinannya kita terlibat dalam masalah dengan orang lain. Misalnya, kesalahpahaman, tersinggung, dan terluka menjadi hal-hal yang semakin sering kita alami dalam relasi kita dengan orang lain. Semua ini menimbulkan stres. Dan orang yang mengalami stres yang terlalu berat tanpa dukungan atau bantuan orang lain dapat membuahkan gejala depresi. Dalam depresi, kita marah, namun menyimpan kemarahan itu; kita geram, tetapi menelan kegeraman kita; kita menyerah walaupun kita belum berserah.

Firman Tuhan datang bagaikan air sejuk. Coba simak dengan seksama, "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." (Ams. 14:30) Hati yang tenang dan iri hati didampingkan bersama bukan sebagai kawan, melainkan lawan. Hati yang tenang berasal dari sikap yang menerima dan mensyukuri pemeliharaan Tuhan meskipun ada hal-hal yang tidak kita mengerti. Hati yang iri keluar dari pemberontakan terhadap kebaikan Tuhan. Mari kita segarkan tubuh kita dan jangan biarkan tulang kita membusuk.

Sumber
Halaman: 
3
Judul Artikel: 
Parakaleo, April Juni 1995, Vol. II, No. 2
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII, Jakarta 1995
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda
Tahun: 
1995

Komentar