Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menjangkau Para Pengangguran: Bagaimana Gereja Tergerak Untuk Melayani Ketika Tingkat Pengangguran Terus Meningkat

Edisi C3I: e-Konsel 196 - Mengatasi Pengangguran

Setelah Tom Burns, seorang agen pemasaran di Dallas, khawatir dan stres karena menjadi pengangguran 2 tahun yang lalu, dia tidak melupakan apa yang dia alami ketika akhirnya dia mendapat pekerjaan baru. Malahan, saat merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang dia pergumulkan selama menganggur -- Bagaimana saya akan memberi makan keluarga saya? Bagaimana saya akan membayar tagihan rumah? -- dia justru mengambil komitmen untuk membantu orang lain yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Determinasinya tersebut

Setelah Tom Burns, seorang agen pemasaran di Dallas, khawatir dan stres karena menjadi pengangguran 2 tahun yang lalu, dia tidak melupakan apa yang dia alami ketika akhirnya dia mendapat pekerjaan baru. Malahan, saat merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang dia pergumulkan selama menganggur -- Bagaimana saya akan memberi makan keluarga saya? Bagaimana saya akan membayar tagihan rumah? -- dia justru mengambil komitmen untuk membantu orang lain yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan.

Determinasinya tersebut berubah menjadi suatu pelayanan, Career Solutions, yang dia luncurkan di gerejanya, First Baptist Church of Dallas.

Pelayanan Career Solutions merupakan satu contoh utama dari lusinan usaha pelayanan dan program yang diluncurkan di seluruh negeri itu. Karena tingkat pengangguran di AS melebihi 9 persen -- dan beberapa memperkirakan 10 persen pada akhir tahun -- beberapa pemimpin gereja melihat kesempatan yang makin terbuka lebar untuk melayani jemaatnya dan menjangkau masyarakat.

"Sebagai orang Kristen, saya percaya ini tugas kita untuk melakukan apa pun yang bisa kita lakukan untuk orang lain, dan penting untuk memberikan pelayanan ini kepada orang-orang yang membutuhkan, yang jumlahnya semakin meningkat," kata Beth Wheatley-Dyson, Pendeta St. Andrew's Episcopal Church di Hanover, Massachusetts.

Pengangguran di Massachusetts mencapai puncaknya setidaknya dalam 16 tahun ini. St. Andrew memulai pelatihan dengan mengajar bagaimana menghadapi stres dan pandangan miring tentang pengangguran dan bagaimana menulis lamaran. Gereja juga menghadirkan pembicara tamu, misalnya pejabat dari kantor administrasi usaha kecil AS setempat, untuk berdiskusi bagaimana seseorang bisa mulai menjalankan bisnis/usaha sendiri.

Di Modesto, California, di mana para guru dan stafnya dipecat karena minimnya dana pendidikan yang ada, First Baptist Church of Modesto telah mencari metode untuk meresponsnya dengan cara yang lebih berarti.

"Ada banyak orang di daerah ini yang menjadi pengangguran atau menjadi korban pemecatan," kata Wade Estes, pendeta senior gereja tersebut. "Orang-orang yang kehilangan pekerjaan di daerah sekolah dan konstruksi lokal telah benar-benar menjadi semakin lamban. Hasilnya, kita bisa melihat peningkatan dramatis jumlah orang yang minta didoakan agar mendapat pekerjaan, jam kerja yang lebih banyak, dan perhatian atas hilangnya rumah mereka atau masalah-masalah lain. Untungnya, kita juga telah melihat campur tangan Tuhan untuk menyediakan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkannya."

Menjadi Pemimpin

Kathy Robinson, seorang konsultan karier di Boston, mengatakan bahwa gereja adalah sumber terbaik untuk mencari pekerjaan.

"Gereja terdiri dari orang-orang, dan semakin Anda dikenal, semakin banyak orang yang tahu bahwa Anda sedang mencari pekerjaan, semakin baik kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan," katanya. "Ini adalah gagasan baru untuk gereja, namun ketika gereja menggunakan sumber dayanya untuk memberikan panduan kepada orang-orang, hal itu bisa menjadi sumber yang luar biasa baik."

Dr. Robert Jeffress, Pendeta First Baptist Church of Dallas, mengatakan gereja sering kali melewatkan kesempatan untuk melakukan pelayanan.

"Saya bukan seorang konselor karier, tetapi saya benar-benar tahu bahwa sebagai seorang pendeta, gereja sering kali, dengan sendirinya, tidak memberikan banyak bantuan kepada para pengangguran," katanya. "Sayangnya, gereja sering kali menjadi tempat di mana seseorang yang membutuhkan bantuan menjadi terperangkap dalam perkumpulan itu dan tidak diperhatikan. Dengan kata lain, gereja juga adalah tubuh orang-orang, orang-orang yang bisa saling menolong ketika mereka tahu apa yang mereka butuhkan dan sumber-sumber yang merekaa miliki."

Di First Baptist, Jeffress mengatakan gereja memandang sumber- sumbernya sebagai satu cara untuk memenuhi kebutuhan fisik, bukan hanya kebutuhan spritual.

"Saya rasa bahwa bila kita sungguh-sungguh melihat semua orang dan program-program yang kita miliki di gereja, kita bisa memberikan beberapa ide yang bisa digunakan untuk membantu orang lain yang memiliki masalah pekerjaan," katanya.

Contohnya, First Baptist membuat halaman khusus di situsnya yang menampilkan riwayat hidup para pencari kerja. Untuk membuat situs tersebut lebih berguna, sumber ini dipromosikan secara aktif kepada masyarakat lokal, khususnya di gereja lain.

"Saya rasa rahasianya adalah memastikan bahwa program tersebut tidak menjadi bursa kerja atau untuk mencari belas kasihan," tambah Jeffress. "Situs kami merupakan pendekatan proaktif yang membantu mereka yang membutuhkan pekerjaan supaya mendapatkan pekerjaan, khususnya dalam suasana ekonomi yang kita hadapi sekarang ini. Program kami ini dimulai di gereja kami sekitar 1 tahun yang lalu, dan orang-orang mulai melamar untuk segera ikut ambil bagian."

Hasil Nyata

Tidak berapa lama kemudian, Janet Russell dan suaminya, Joel, diberhentikan dari pekerjaannya dalam waktu yang sama. Segera setelah dia kehilangan pekerjaannya, Janet mendengar berita tentang program Career Solutions yang dia percaya karena memberinya alat dan kepercayaan diri yang dia perlukan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Pada kenyataannya, tidak lama kemudian dia mengajak suaminya, seperti yang dia katakan, "untuk mengeluh dan berteriak minta tolong" dalam pertemuan kelompok tersebut. Dia kemudian mendapatkan informasi yang berharga pula.

"Saya rasa mencari pekerjaan menjadi salah satu hal yang paling sepi yang harus dilakukan seseorang," katanya. "Suatu hari Anda sedang bekerja, melakukan hal-hal yang berguna, menerima bayaran, menikmati aspek sosial dari bekerja, kemudian tiba-tiba Anda tidak memiliki apa-apa, dan tidak tahu ke mana harus pergi dan kepada siapa harus bertanya supaya Anda bisa kembali ke dunia kerja."

Pertemuan Career Solutions mengajarkan kepada Janet dan Joel bagaimana membuat riwayat hidup yang efektif, dan memberi tips untuk menghadapi wawancara dan negosiasi gaji. Program ini juga memberikan topik- topik yang berkaitan dengan pencari kerja, seperti memangkas biaya hidup dan hidup sesuai dengan dana yang ada.

Seperti halnya Career Solutions, beberapa program yang dijalankan oleh gereja di negara ini memberikan presentasi khusus yang disampaikan oleh para ahli, dan kemudian sering kali dilanjutkan dengan kesempatan untuk mendapatkan jaringan kerja dan melatih keterampilan.

"Program Career Solutions bukanlah sejenis program yang setengah-setengah dan tidak jelas," kata Janet. "Setiap orang boleh datang, tetapi mereka telah disiapkan dengan lebih baik untuk bekerja, karena untungnya, setiap orang yang ada di sana benar-benar mencari pekerjaan. Kami tidak main-main. Hasilnya sudah terbukti."

Jeffress mengatakan bahwa kira-kira setengah dari peserta Career Solutions mendapat pekerjaan dari informasi yang diberikan selama mengikuti sesi di Career Solutions.

"Jujur saja, kami telah membayar beberapa orang dari program yang ada di gereja kami," katanya. "Saya rasa program Career Solutions merupakan jalan yang Tuhan pakai untuk mendapatkan pekerjaan."

Membantu Setelah Mendapat Pekerjaan

Beberapa gereja menawarkan bantuan kepada para peserta meskipun mereka telah mendapatkan pekerjaan, agar mereka dapat terus bekerja.

Misalnya, di United Methodist Church di Milltown, N.J., Bob Stewart, salah satu anggotanya, mengerjakan program pengembangan karier, perencanaan, dan konseling.

"Program ini secara praktis membantu siapa saja, baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja," katanya. "Tidak peduli apakah Anda punya pekerjaan atau tidak, program ini akan mengajarkan kepada Anda keterampilan yang harus Anda miliki, atau, bila Anda sudah memilikinya, membantu Anda menjaga keterampilan itu."

Kursus yang diberikan oleh Steward ini meliputi berbagai topik, termasuk cara untuk menghadapi dan mengatur atasan yang sulit, bagaimana mengendalikan dan meningkatkan keamanan kerja, yang harus dan tidak boleh dilakukan yang berdampak pada keamanan kerja, dan teknik bagi para pekerja untuk "melindungi" pekerjaan mereka. Sesi masa depan akan fokus membahas masalah penampilan.

Pelayanan yang Sesungguhnya

Para pemimpin gereja mengatakan bahwa mereka ingin membantu para pengangguran mendapatkan pekerjaan. Tetapi mereka juga mengatakan bahwa program-program mereka tetap menjaga kemurnian pelayanan: membantu para pesertanya menjadi orang-orang yang lebih baik.

"Saya memerhatikan program kami menjadi satu program yang merespons kebutuhan yang ada," tambah Jeffress. "Saya bukan seorang ahli dalam pekerjaan, tetapi kami memiliki imbal balik yang menyemangati kami dari para peserta program Career Solutions untuk menentukan apa yang sebetulnya mereka butuhkan sehingga kita bisa mengukur apa yang kita tawarkan yang bisa menolong mereka lebih baik lagi. Ini hanyalah masalah bertanya pada diri kita sendiri, 'Siapa yang bisa memberikan yang terbaik untuk melayani kebutuhan ini?' dan mau meminta bantuan kepada mereka untuk program ini. Kami masih dalam tahap belajar, tetapi ketika kami terus menawarkan program ini, kami akan belajar lebih banyak untuk membantu para peserta dengan lebih baik."

Hal inilah yang membuat segala sesuatu yang terlibat dalam pengoperasian program ini berguna, kata pemimpin gereja tersebut, khususnya sejak biaya sering kali diminimalisir.

"Tentu saja, kita harus melakukan sesuatu supaya program ini bisa terus berjalan," jelas Jeffress. "Kita harus menyalakan lampu merah, dan ada hal lain yang harus dikerjakan, tetapi itu harus minimal. Ketika kita tahu bahwa orang-orang yang meninggalkan gereja kita telah memiliki usaha yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan, itu adalah penghargaan yang besar. Dalam hal ini, kita semua menang: gereja, pencari kerja, masyarakat, kita semua menang." (t/Ratri)

*) Michael Michelsen adalah seorang penulis lepas yang tinggal di California.

Diterjemahkan dari:

Sumber
Judul Artikel: 
Reaching The Unemployed: How Churches Are Mobilizing To Minister As Jobless Rates Climb
Situs: 

http://www.christianitytoday.com/yc/2009/julaug/reachingtheunemployed.html">http://www.christianitytoday.com/ (ChristianityToday.com)

Komentar