Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Penderitaan Yesus, Bukan Suatu Nasib Malang

Edisi C3I: edisi - 334 Penderitaan Anak Manusia

Bacaan: Lukas 9:22-36

Ada tulisan yang menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus disebabkan oleh gerakan-Nya untuk menjadi Mesias gagal. Karena itu, orang-orang yang berpandangan bahwa kematian Yesus di kayu salib sebagai seorang penjahat merupakan suatu konsekuensi politis yang wajar dan pantas. Menurut pemahaman ini, kematian Yesus di kayu salib dianggap tidak mampu membawa pengaruh apa pun terhadap karya keselamatan Allah. Singkatnya, kematian Yesus tidak membawa efek apa pun bagi penebusan umat manusia. Lalu, bagaimana mungkin umat manusia dapat ditebus oleh darah seorang tokoh yang gagal mewujudkan harapan Bangsa Israel yang ingin bebas dari penjajahan Romawi?

Pernyataan di atas tampaknya rasional dan realistis, tetapi ada sesuatu yang janggal. Lukas 9:30 mengatakan bahwa ketika tubuh Kristus mengalami transfigurasi atau perubahan bentuk (rupa), datanglah Musa dan Elia. Percakapan mereka bukannya tanpa arti, sebaliknya kedatangan Musa dan Elia tersebut hendak membicarakan sesuatu yang begitu penting dan hakiki bagi karya keselamatan Allah. Lukas 9:31 menyaksikan isi atau misi dari kedatangan Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi Kristus, yaitu: keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Lukas 9:31). Dengan demikian, tujuan kepergian Yesus ke Yerusalem bukanlah suatu nasib malang yang akan menimpa seorang Mesias Allah yang gagal.

Datang untuk Menderita

Dari sudut pandang manusiawi, penderitaan dan kematian Kristus di kayu salib mungkin hanyalah suatu kegagalan. Akan tetapi, dari sudut pandang teologis, realitas penderitaan dan kematian Kristus tersebut justru hendak mengungkapkan esensi kebenaran yang lebih mendalam. Sebab, melalui penderitaan dan kematian Kristus, Allah berkenan mengungkapkan rencana dan tindakan keselamatan-Nya yang paripurna kepada umat manusia. Dengan demikian, penderitaan dan kematian Kristus bukanlah nasib malang dari seseorang yang gagal membuktikan diri-Nya selaku Mesias. Justru karena Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, Ia harus menderita dan mengalami kematian. Itulah berita yang dinubuatkan oleh Alkitab. Dengan tegas, Tuhan Yesus berkata, "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." (Lukas 9:22)

Jika misi dan tujuan kedatangan Kristus ke dalam dunia bertujuan untuk menggenapi rencana Allah melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya, peristiwa transfigurasi Kristus merupakan bukti dari nubuat tersebut. Yesus adalah sosok yang dimaksudkan oleh para nabi sehingga Musa menubuatkan, "Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan." (Ulangan 18:15) Jadi, seandainya Yesus tidak mengalami transfigurasi, dan Musa serta Elia tidak datang secara khusus untuk membicarakan perihal kepergian Yesus ke Yerusalem untuk menderita dan wafat, pengajaran tentang kebangkitan Kristus dengan tubuh-Nya yang mulia hanya akan menjadi suatu ketidakmungkinan. Kematian Kristus di kayu salib juga menjadi tidak berarti, selain hanya menjadi suatu peristiwa tragis. Peristiwa transfigurasi Kristus justru menegaskan bahwa kematian-Nya mampu membawa keselamatan dan pembaruan hidup yang menyeluruh bagi seluruh umat manusia.

Memulihkan yang Menderita

Ketika Kristus menampakkan kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah di tengah-tengah kehadiran Musa dan Elia, Petrus meminta agar diperkenankan untuk mendirikan kemah bagi ketiganya, "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." (Lukas 9:33) Dengan permohonan tersebut, tanpa disadari Petrus ingin menghalangi kepergian Kristus ke Yerusalem untuk menderita dan wafat. Petrus ingin agar Yesus, Musa, dan Elia tetap tinggal di atas gunung itu bersama dengan mereka untuk menyaksikan kemuliaan.

Dengan peristiwa transfigurasi yang merupakan penyingkapan jati diri Kristus selaku Anak Allah, kita mengenal Dia selaku Tuhan dan Juru Selamat umat manusia. Jika demikian, apakah kita bersedia untuk hidup serupa dengan Kristus sehingga kita dimampukan untuk memancarkan cahaya kasih-Nya yang memberi pengharapan, kekuatan, dan keselamatan kepada sesama di sekitar kita? Ingatlah bahwa karya keselamatan Allah yang terpancar dalam kemuliaan Kristus adalah untuk menerangi seluruh aspek kehidupan umat manusia, dan memulihkan setiap kelemahan dan penyakit kita yang disebabkan oleh kuasa dosa. Cahaya kemuliaan Kristus bukan sekadar pancaran terang ilahi yang memesona, melainkan pancaran ilahi yang menyembuhkan dan memulihkan setiap orang yang menderita dan berharap kepada-Nya. Amin.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : mosalakitarega.blogdetik.com
Alamat URL : http://mosalakitarega.blogdetik.com
Penulis : Darius Leka Lawo
Tanggal akses : 15 Februari 2013

Catatan: Artikel ini juga dapat Anda baca di < http://paskah.sabda.org >

Komentar