Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Tujuan yang Terkandung dalam Salib Yesus

Edisi C3I: e-Konsel 239 - Tujuan Penyaliban Yesus

Dalam bukunya yang berjudul "Receive Your Healing", Colin Urquhart berbicara tentang menerima segala sesuatu yang disediakan oleh Bapa melalui Salib Yesus dalam hidup kita. Banyak di antara kita memandang teologi sebagai sebuah pelajaran sejarah yang hebat. Akan tetapi, Perjanjian Baru memperjelas bahwa kita diharapkan mengakui semua pencapaian dan pemeliharaan berasal dari Salib. Semua itu menjadi nyata oleh karya Roh Kudus.

Iman berarti mengakui apa yang Bapa tawarkan kepada kita melalui pengorbanan Anak-Nya. Colin menguraikan hal tersebut demikian: "Ketika menerima roti perjamuan, saya seharusnya berkata seperti ini -- 'Tuhan, aku percaya bahwa saat aku makan roti ini, aku telah menerima segala kebaikan tubuh Kristus. Terima kasih atas semua kekuatan dan kesembuhan jasmani yang kuterima oleh karena bilur-bilur-Nya. Aku bersyukur untuk pemeliharaan-Mu atas segala kebutuhanku yang telah dipenuhi melalui anugerah-Mu yang melimpah.'"

Ini merupakan sebuah tindakan yang nyata dan kasat mata dalam menerima kebaikan Allah. Di dalamnya terkandung pengakuan bahwa sekarang Allah mengirimkan Roh-Nya untuk menghadirkan kepada kita kebaikan Kalvari seutuhnya. Penerapan Salib dalam kehidupan, saya alami secara langsung dan secara pribadi melalui iman. Ada berbagai peristiwa dalam hidup yang membuat saya perlu kembali ke Kalvari, untuk melihat bahwa setiap kebutuhan telah dipenuhi dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Setan ingin kita hidup dalam kondisi tidak percaya dan putus asa, serta berhenti memercayai bahwa Bapa sanggup memenuhi kebutuhan kita. Akan tetapi, Allah telah membuat janji maupun prinsip-Nya di Salib Kalvari. Jika Allah gagal memelihara umat-Nya dalam memenuhi kebutuhan mereka -- baik dalam hal rohani, jasmani, maupun materi; Dia tentunya akan menyangkal pekerjaan yang telah disempurnakan-Nya melalui Anak-Nya (2 Petrus 1:3).

Tujuan Bapa adalah memperkaya kita dengan setiap cara yang sudah dikerjakan-Nya untuk kita dalam penyaliban Yesus (2 Korintus 8:9). Kita tidak boleh goyah dalam memercayai pekerjaan yang telah diselesaikan Kristus pada setiap detik dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita mengingatkan diri kita sendiri terhadap segala kebaikan yang dilepaskan kepada kita, melalui kematian dan kehidupan Yesus.

1. Pengampunan

Menyalahkan diri sendiri adalah ciri-ciri yang biasa kita lakukan dalam pengalaman kita sebagai manusia. Kenyataan bahwa kita gagal dan tekanan yang dirasakan tatkala berinteraksi dengan orang lain acap kali menimbulkan perasaan bahwa kita tidak berharga dan tidak mampu. Padahal, pengampunan adalah sebuah fakta. Di dalam Kristus, Allah telah menebus semua dosa kita. Apabila kita datang kepada Dia dalam pertobatan dan pengakuan, Dia selalu bersedia membasuh hati kita dan memberi kita perasaan merdeka dan baru, yang merupakan hak kita melalui kematian Juru Selamat kita.

Menerima pengampunan tidak sama dengan yang disebutkan orang-orang kudus dahulu, yaitu kebenaran yang sah dan penting. Namun, setan tidak pernah membiarkan kita berpikir demikian. Ia mempermainkan perasaan kita yang lemah dan berusaha membawa kita kembali pada hati yang merasa dihukum dan terbelenggu. Sebagai konsekuensinya, banyak orang percaya tidak pernah menikmati kemerdekaan mereka sepenuhnya sebagai anak-anak Allah. Gagasan bahwa dalam beberapa hal kita perlu menebus dosa-dosa kita sendiri, bertolak belakang dengan ajaran Kitab Suci tentang karya di Kalvari. Yesus telah membayar semua utang kita dan kita tinggal menerima pengampunan sepenuhnya di dalam Dia.

2. Pemeliharaan

Saya sering kembali ke Kalvari ketika situasi tampak sulit. Ada saatnya setan mencoba membisiki hati saya bahwa Allah telah meninggalkan saya. Terkadang, ia mencoba meyakinkan saya bahwa Bapa tidak memedulikan saya. Percaya kepada Allah yang tidak dapat dilihat adalah sia-sia. Hidup di dunia sekuler yang materialistis, terkadang membuat saya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk memercayai Allah yang hidup.

Iblis tidak keberatan bila kita percaya kepada Allah, selama Allah tidak melakukan apa-apa. Hati manusia mendambakan sesuatu yang dapat mengisi kekosongan rohaninya. Akibatnya, mereka yang menolak Allah yang dinyatakan dalam Yesus, cenderung mengganti-Nya dengan allah buatan mereka sendiri. Tujuan setan ialah menghancurkan hubungan yang dilandasi rasa percaya yang dihadirkan Roh Kudus ke dalam hati kita, ketika kita dilahirkan kembali oleh kuasa-Nya. Melalui Roh itu, kita mengenal Allah sebagai Bapa kita, dan datang kepada-Nya dengan iman dan kepercayaan yang sederhana (Roma 8:15-16).

Lalu, apa hubungannya antara Salib dan kepercayaan kita bahwa Dia akan memenuhi kebutuhan kita sehari-hari? Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma 8:32. Ini bukan Injil kemakmuran, yang menawarkan kita sebuah cara licik untuk menjadi kaya. Ini semata-mata rasa percaya yang timbul, karena kita mengenal hati Bapa yang telah memenuhi kebutuhan kita yang terbesar, melalui kasih Anak-Nya yang telah mengorbankan diri-Nya sendiri. Dia seperti apa yang dikatakan oleh Yakobus -- Pemberi setiap anugerah yang baik dan sempurna, Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan.

3. Kemenangan

Melalui kematian-Nya, Yesus meraih kemenangan bagi kita atas musuh-musuh besar kita: dunia, dosa, dan maut. Setan senantiasa mencoba membuat kita kalah dan lemah melalui cara-cara ini. Kita perlu jelas akan kemenangan kita di dalam Dia, sehingga kita sanggup mengalahkan setiap serangan.

Dia Telah Mengalahkan Dosa

Yesus mengalahkan dosa ketika Dia mengalahkan maut. Maut adalah akibat dosa yang bekerja di dalam kita. Bagaimanapun juga, senjata-senjata setan dalam bentuk perasaan bersalah dan ketakutan, dibuat menjadi tidak berpengaruh lagi dalam kehidupan orang percaya, yang berdiri teguh pada karya Salib yang telah selesai.

Dia Telah Mengalahkan Dunia

Dunia di sini bukan mengacu kepada ciptaan Allah yang indah atau segala hal baik yang sudah disediakan Bapa untuk dinikmati anak-anak-Nya. Menurut Yohanes hal-hal duniawi mencakup keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Dunia yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah sistem kejahatan yang sudah meresap ke dalam masyarakat, menuntun laki-laki dan perempuan ke dalam kegelapan dan menjauh dari Allah. Namun, Kristus telah mengalahkan pemerintah dan penguasa kegelapan dunia ini, sehingga kita dapat berbagi bersama kemenangan-Nya hari ini (1 Yohanes 5:4-5).

Dia Telah Mengalahkan Setan

Salib adalah perubahan dan pertempuran besar antara kuasa setan dan kuasa Allah. Segala sesuatu yang mengalir kepada kita dari Salib, menimbulkan perubahan besar karena Yesus sudah meraih kemenangan. Kemenangan itu tidak dicapai di suatu sudut rahasia, tetapi di sebuah tempat yang dapat dilihat oleh mata semua orang. Ketika Yesus berseru, "Sudah selesai!" Dia tidak sedang menjerit karena putus asa, tetapi sedang memproklamasikan secara terbuka kemenangan Allah yang luar biasa. Paulus membuatnya lebih jelas, karena Yesus sudah mengalahkan segala bentuk kuasa kegelapan. Hal itu bukan lagi sebuah ancaman bagi mereka yang berdiri di dalam iman (Kolose 2:13-15).

4. Kesembuhan

Tiga fakta utama meyakinkan saya bahwa kesembuhan tubuh merupakan bagian dari tujuan Bapa di Kalvari. Pertama, Allah sudah menetapkan prinsip kesembuhan di dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Kendati tubuh Yesus memar, berdarah, dan hancur akibat pencambukan dan penyaliban, serta wajah-Nya kotor oleh tanah kuburan, Dia berdiri di samping kubur dalam keadaan pulih dan kuat. Ya, memang ada luka-luka pada kedua tangan dan pinggang-Nya, yang mendorong Tomas tersungkur untuk menyembah. Namun demikian, Tuhan sudah menang dengan utuh dan gemilang. Kesembuhan tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan keselamatan dan perwujudan Kerajaan Allah di bumi. Kita memang belum melihat Kerajaan itu dengan segala kemuliaannya; tetapi saat Yesus memerintah dengan penuh kuasa, barulah kita akan melihatnya.

Kedua, kitab Injil dengan jelas menunjukkan bahwa kesembuhan jasmani adalah bagian dari karya Kalvari. Hal ini disediakan melalui penebusan dosa, lebih daripada kesembuhan itu sendiri. Artinya, kita perlu melatih iman atau hidup dengan benar, sehingga kesembuhan dapat mengalir dari pemeliharaan dasar yang disediakan Salib. Ada sebuah rahasia mengapa kita tidak selalu mengalami kesembuhan, tetapi hal ini tidak menghentikan kita untuk berdoa dengan iman sambil memercayai Tuhan. Matius menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus yang menderita demam dan menyembuhkan banyak orang lain pada malam itu. Dia mengutip, Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17 -- Yesaya 53:4) Bukan saja merupakan salah satu sifat dasar Allah untuk menyembuhkan, namun Bapa memang punya tujuan untuk memasukkan kesembuhan ke dalam karya Salib. Yesus mati bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa, tetapi untuk manusia secara utuh: roh, jiwa, dan tubuh.

Ketiga, banyak orang Kristen masa kini menyaksikan kuasa Roh Kudus yang menyembuhkan. Seperti banyak orang lain, saya dididik untuk memercayai bahwa kesembuhan diutamakan untuk jemaat mula-mula, dan sekarang kita dibiarkan untuk menerima sakit-penyakit sebagai bagian dari penderitaan orang Kristen. Kita memahami Kalvari dengan versi yang sudah dipotong, sebuah Injil yang hanya menyentuh masalah dosa dan bukan sakit-penyakit.

Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan untuk melihatnya dengan cara yang lain! Kitab Injil memperjelas bahwa keselamatan adalah untuk manusia secara utuh. Bapa ingin kita mengerti dampak keselamatan Salib di dalam seluruh keberadaan kita. Tubuh kita merupakan bait suci Roh Kudus, dan Dia ingin kita sekarang hidup dalam kebaikan dan kuasa dari hidup kekal. Kesembuhan jasmani sendiri bukan Kabar Baik, tetapi hanya merupakan sebagian dari Kabar Baik secara utuh.

Sekarang dan Belum

Meskipun Salib merupakan pertemuan yang menentukan dalam pertempuran antara yang baik dan yang jahat, masih ada sebuah peperangan yang sedang berlangsung! Inilah alasannya mengapa kita tidak mengalami kesembuhan penuh sepanjang waktu. Walaupun demikian, Allah memanggil kita untuk melatih iman dengan ketaatan yang bertanggung jawab dalam setiap bagian hidup kita. Kita mudah jatuh ke dalam dosa dan sering tidak mengerti mengapa kita tidak mendapatkan semua yang kita minta dan inginkan. Akan tetapi, setiap mukjizat dari kasih karunia Allah adalah sebuah janji yang mengacu pada apa yang akan terjadi sepenuhnya, ketika Yesus datang dalam kemuliaan Kerajaan-Nya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Explaining the Cross
Judul buku terjemahan : Kuasa Salib
Judul asli artikel : Kebaikan Salib Sepenuhnya
Penulis : Bob Gordon
Penerjemah : Lily Christianto
Penerbit : PBMR ANDI, Yogyakarta 2004
Halaman : 37 -- 47

Komentar