Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

6 Cara Mengembangkan Rasa Percaya Diri dan Citra Diri yang Positif Pada Anak

Enam langkah ini dapat membantu Anda membangun rasa percaya diri dan citra diri yang positif pada anak Anda.

mendidik anak

Anna menyaksikan putranya yang berusia lima tahun, Jeremiah, berlarian di sekitar taman bermain dengan teman-temannya. Setiap anak laki-laki memilih untuk menjadi seorang pahlawan super, semua dengan nama paling konyol yang bisa dibayangkan: Captain Gerbil, Slime Boy, The Great Zack-a-roni and Cheese. Ketiganya berteriak saat mereka berlari menaiki tangga peralatan taman bermain dan menaklukkan benteng imajinasi. Jeremiah naik ke tempat tertinggi, perosotan, dan mengambil pose superman. Kepercayaan dirinya di taman bermain itu membesarkan hati. Anna bertanya-tanya bagaimana dia bisa mendapatkan kepercayaan diri dan citra diri positif yang sama untuk disebarkan ke area lain dalam hidup putranya dan bertahan selama bertahun-tahun yang akan datang.

Tentu, dia tidak ingin Jeremiah tumbuh besar dengan berpikir bahwa dia adalah orang yang sangat penting. Namun, Anna memang ingin menanamkan rasa menghargai diri dan mengajarinya bahwa dia memiliki nilainya sendiri. Sebagai orang tua baru, dia tidak yakin bagaimana melakukannya.

6 Cara Mengembangkan Rasa Percaya Diri

Jika Anda mengalami hal yang sama dengan Anna dan ingin mengembangkan rasa percaya diri dan citra diri yang positif pada anak Anda, berikut enam langkah yang bisa Anda lakukan.

1. Ciptakan Rasa Percaya Diri Dengan Menunjukkan Nilai Mereka

Efesus 2:10 memberikan kerangka dan dasar saat kita berusaha mengembangkan kepercayaan diri pada anak-anak kita. Paulus menulis, "Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya supaya kita bisa hidup di dalamnya."

Untuk membangun harga diri yang sehat dan seimbang pada anak-anak Anda, mulailah dengan menanamkan pemahaman yang mendalam tentang doktrin penciptaan yang alkitabiah. Beri tahu setiap anak, "Kamu sangat berharga karena Allah menciptakan kamu. Tidak hanya itu, tetapi Dia menciptakan kamu menurut gambar-Nya (Kejadian 1:27)! Dengan cara yang tidak akan pernah bisa kami jelaskan sepenuhnya, kamu seperti Allah. Karena itu, kamu dapat menikmati hubungan pribadi dengan Dia melalui Yesus."

"Terlebih lagi, Dia telah menjadikan kamu dengan tujuan khusus. Dia punya pekerjaan untuk kamu lakukan, dan kamu adalah satu-satunya yang bisa melakukannya. Kamu adalah mahakarya kreativitas Allah, unik di antara semua ciptaan!"

2. Tunjukkan Keunikan Mereka

Pada tahap proses ini, akan menjadi ide yang baik untuk mengembangkan prinsip keunikan anak Anda menurut Allah. Tanyakan kepada setiap anak, "Apa yang membuat kamu menjadi dirimu sendiri? Apa yang membuatmu bersemangat? Apa yang paling kamu suka lakukan?" Analisa kekuatan dan kecenderungan alami mereka dan bantu mereka menjadi bersemangat untuk mengembangkan kemampuan mereka di bidang-bidang ini.

Pada saat yang sama, kenali kelemahan mereka dan yakinkan mereka bahwa tidak apa-apa untuk tidak menjadi ahli dalam segala hal. Bantulah mereka untuk merasakan bahwa Anda mengenal mereka dan bahwa Anda sepenuhnya menerima mereka apa adanya. Berikan pujian kepada mereka saat mereka melakukan sesuatu dengan benar, tetapi berhati-hatilah agar pujian tidak menurun menjadi sanjungan kosong belaka. Sebaliknya, cobalah untuk membuat komentar Anda spesifik, akurat, dan diberikan berdasarkan fakta. Misalnya, "Kamu mungkin tidak mencetak gol dalam pertandingan sepak bola terakhir itu, tapi kamu bermain bagus. Saya tahu kamu sudah berlatih sangat keras untuk menjadi pemain terbaik semampumu."

3. Bicarakan Tentang Kasih Allah

Cara lain untuk mengembangkan kepercayaan diri seorang anak adalah dengan berbicara tentang kasih Allah. Tekankan gagasan bahwa kasih-Nya tidak bersyarat. Tidak ada yang harus kita lakukan untuk mendapatkannya dan tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membuat Dia berhenti mengasihi kita. Tandaskan bahwa Allah mengasihi kita hanya karena Dia adalah Bapa kita dan kita adalah anak-anak-Nya. Kemudian, ketika anak Anda telah benar-benar memahami konsep ini, tanyakan, "Menurut kamu apa yang dikatakan hal ini tentang hubungan kita?" Dengan tegas, tekankan gagasan bahwa anak-anak Anda tidak perlu melakukan apa pun agar dicintai oleh Anda. Ekspresikan cinta Anda secara verbal setiap kali Anda mendapat kesempatan. Tuliskan catatan kepada anak-anak Anda untuk memberi tahu mereka bahwa Anda memikirkan mereka dan berdoa untuk mereka. Dan bermurah hatilah dengan pelukan dan ciuman. Bahkan, sedikit kasih sayang fisik akan sangat bermanfaat.

4. Berikan Dosis Realitas yang Sehat

Setelah anak-anak Anda berada di jalan menuju citra diri yang positif, bagaimana Anda mencegah mereka beralih ke ekstrem lain? Bagaimana Anda mencegah mereka menyerah pada godaan untuk menyembah diri mereka sendiri sebagai dewa kecil dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain? Itu seharusnya relatif mudah. Dosis realitas yang baik dari waktu ke waktu – nilai buruk di rapor atau kekalahan mengecewakan di lapangan bisbol – seharusnya berhasil, terutama jika Anda ada untuk membantu mereka memahami pentingnya situasi tersebut. Jumlah yang sehat dari disiplin yang seimbang dan koreksi yang penuh kasih juga akan sangat membantu dalam mengecilkan sikap yang merasa memiliki hak istimewa dan mementingkan diri sendiri.

Anda juga dapat mengarahkan perhatian mereka pada apa yang Alkitab katakan tentang hal ini. Misalnya, Roma 12:3 mengatakan, "Jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang ia harus pikirkan." Filipi 2:4 menyatakan, "Janganlah masing-masing kamu hanya memandang kepada kepentinganmu sendiri, tetapi juga kepada kepentingan orang lain." Ketika sesuai dengan keadaannya, katakan sesuatu seperti, -Kamu tidak lebih baik atau lebih buruk dari orang lain. Kamu hanyalah dirimu sendiri. Jadi, jangan sembarangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Itu cara yang berbahaya untuk menemukan harga diri." Saat peluang muncul, doronglah anak Anda untuk memerhatikan dan mengakui kekuatan dan kualitas positif orang lain. Bantu mereka memahami bahwa mereka tidak perlu memandang orang-orang itu sebagai ancaman dan bahwa dikasihi tidak bergantung pada menjadi Nomor Satu.

5. Menjadi Contoh Citra-Diri yang Positif

Untuk membangun harga diri yang sehat dan seimbang pada anak-anak Anda, mulailah dengan menanamkan pemahaman yang mendalam tentang doktrin penciptaan yang alkitabiah.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Jika Anda ingin anak Anda memiliki citra diri yang sehat, berusahalah untuk memiliki citra diri yang sehat. Ingatlah bahwa sebagian besar pengajaran orang tua terjadi melalui penyerapan. Sikap yang baik terhadap kehidupan biasanya ditangkap daripada diajarkan (anak-anak lebih cepat belajar dari melihat tindakan orang tua daripada mendengar perkataan mereka - Red.). Jika Anda memiliki konsep yang baik tentang siapa Anda di hadapan Allah, itu akan menular pada orang-orang di sekitar Anda.

6. Bangun Rasa Percaya Diri Melalui Berkat

Praktik orang tua memberikan berkat kepada anak-anaknya sudah ada sejak zaman Alkitab. Memberi anak Anda berkat pada usia berapa pun dapat menjadi cara terbaik untuk menunjukkan nilai mereka dan membantu mereka mengembangkan rasa percaya diri. Anda dapat memelajari langkah-langkah khusus tentang bagaimana memberkati anak-anak Anda di sini.

Enam langkah ini dapat membantu Anda untuk menciptakan rasa percaya diri dan citra diri yang positif pada anak Anda. Menurut Anda, apa cara lain yang bisa bermanfaat untuk menanamkan harga diri pada anak-anak Anda? Buatlah daftar dan praktikkan secara teratur. Melakukan hal ini dapat membantu anak Anda bertumbuh dan menjadi dewasa tidak hanya dalam kehidupan dan hubungan dengan orang lain, tetapi juga dalam perjalanan mereka dengan Allah. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Focus on The Family.com
URL : https://www.focusonthefamily.com/parenting/6-ways-to-develop-self-confidence-and-positive-self-image-in-children/
Judul asli artikel : 6 Ways To Develop Self-Confidence And Positive Self-Image In Children
Penulis artikel : Carol Cuppy

Komentar