Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Pendeta Juga Membutuhkan Teman

Apa yang membuat seorang pendeta bertahan dalam pelayanan?

Lilly Endowment menginvestasikan $84 juta selama 10 tahun untuk mempelajari dan mendukung praktik-praktik yang memungkinkan para pendeta Kristen di Amerika untuk mempertahankan keunggulan (kualitas pelayanan mereka) selama bertahun-tahun. Mereka mendanai 63 proyek di 25 denominasi dan tradisi yang berbeda. Dalam setiap organisasi ditemukan hal yang serupa: hubungan dengan sesama rekan adalah faktor kunci untuk pastoral yang bertahan lama.

Saya telah bekerja dengan dan memberikan pelayanan pastoral bagi para pendeta dalam berbagai bentuk selama tujuh tahun terakhir. Selama lima tahun terakhir saya telah membantu hampir seratus pendeta mengembangkan karakteristik yang mereka butuhkan untuk tetap bahagia dan sehat dalam pelayanan. Hasil saya tidak seilmiah seperti penelitian Lilly, tetapi saya sependapat: Pendeta membutuhkan persahabatan yang nyata, intim, rentan, jika mereka hendak bertahan dalam pelayanan.

Akan tetapi, isolasi pastoral adalah hal biasa. Terkadang penarikan diri, entah karena takut dikenal atau takut disakiti lagi oleh orang yang dia anggap sebagai teman. Namun, lebih sering, itu adalah isolasi publik, dia memedulikan dan berteman dengan banyak orang, tetapi memiliki sangat sedikit teman yang mempedulikannya. Seorang pendeta bisa tampak seakan-akan dia dikenal oleh banyak orang -- dia mengungkapkan sedikit tentang dirinya setiap minggu kepada ratusan atau ribuan jemaat -- sementara dia sesungguhnya dikenal oleh sedikit orang. Pengungkapan dirinya selama khotbah sering kali seperti publikasi melalui media sosial: Kerentanan yang dikontrol yang membuat orang menjaga jarak baik melalui sharing yang terlalu banyak atau yang kurang.

Gambar: teman

Sulit untuk menyalahkan mereka. Pekerjaan pastoral bisa menjadi tidak manusiawi. Orang-orang mengenal dan menghargai Anda atas pekerjaan yang Anda lakukan -- khotbah yang Anda sampaikan, perhatian yang Anda berikan, doa yang Anda panjatkan, kepemimpinan visioner yang Anda berikan -- lebih dari siapa diri Anda sebenarnya. Oleh karena Anda tampil di depan umum setiap minggu, apresiasi bisa menjadi hal yang berubah-ubah. Konselor yang baik menjaga diri dari hubungan ganda, mengetahui bahwa hampir tidak mungkin dan sering kali tidak etis untuk menjalin persahabatan pribadi dengan klien profesional. Para pendeta juga mengalami sebagian dari kenyataan itu.

Penulis Kitab Ibrani mengingatkan kita bahwa kesepian dan kesendirian berdampak pada kesehatan rohani kita juga: "Nasihatilah satu dengan yang lain setiap hari, selama masih ada yang disebut 'hari ini', supaya tidak ada di antaramu yang dikeraskan oleh tipu daya dosa" (Ibrani 3:13, AYT). Kita tidak dirancang untuk hidup dalam kesendirian; kita -- termasuk para pendeta -- membutuhkan penegasan yang bermakna setiap hari dari orang lain jika kita ingin berhasil dalam memerangi dosa.

Dalam Mazmur 25:16, Daud meminta Allah untuk berada di dekatnya, karena dia "sendirian dan tertindas." Daud mencontohkan respons yang tepat terhadap rasa kesepian: kerinduan akan hubungan yang intim. Kerinduan itu bukanlah tanda keegoisan atau kelemahan. Ini hanya sebuah pengakuan bahwa Anda adalah manusia. Allah tidak pernah menghendaki agar ada di antara kita yang hidup dalam kesendirian. Allah tidak hidup dalam kesendirian; ada persekutuan yang sempurna di dalam Tritunggal. Diciptakan menurut gambar-Nya, kita diciptakan untuk memiliki hubungan, dengan Dia dan dengan orang lain. Itu berlaku bagi kita semua, termasuk para pendeta.

Diciptakan untuk Memiliki Hubungan

Kita - termasuk pendeta - diciptakan untuk memiliki hubungan, dengan Allah dan dengan orang lain.

Seperti orang lain, hubungan seorang pendeta dengan Allah harus menjadi yang utama. Jika seorang pendeta tidak memiliki hubungan dengan Allah yang terus bertumbuh dalam keintiman, dia akan menuntut lebih banyak dari hubungannya dengan orang-orang lain daripada yang mampu mereka berikan kepadanya. Oleh karena itu, seorang pendeta harus terus-menerus berupaya untuk memperdalam keintiman dalam hubungannya dengan Allah.

Alkitab, doa, dan sakramen adalah sarana yang Allah berikan kepada umat-Nya untuk bertumbuh lebih dekat dengan-Nya (Kisah Para Rasul 2:42). Mereka bukan hanya alat yang digunakan pendeta untuk melakukan pekerjaan pelayanan; mereka juga merupakan sarana yang diberikan Allah untuk memperdalam keintiman dalam hubungannya dengan Allah.

Akan tetapi, Allah tidak menciptakan kita untuk hidup hanya dalam hubungan dengan-Nya. Dia menciptakan kita untuk juga hidup dalam komunitas dengan orang lain. Komunitas yang lebih besar itu ditemukan di gereja lokal, yang dipimpin oleh pendeta. Dan, kepemimpinan ini sering kali tampak memisahkan/membagi (peran pendeta); benar-benar sulit untuk menjadi teman dan juga pemimpin. Hal ini membuat pendeta memiliki kebutuhan relasional -- kebutuhan relasional yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri oleh seorang istri.

Seorang pendeta membutuhkan istrinya sebagai temannya, tetapi bukan satu-satunya temannya. Istri pendeta sering merasa terisolasi dan sendirian, membawa rahasia pelayanan dan keraguan serta pergumulan rahasia suaminya, yang bukan mengesampingkan dosa, tetapi juga bukan hal yang bisa diceritakan dengan sembarangan.

Seorang pendeta juga membutuhkan lebih dari sekadar rekan pelayanan atau rekan kerja. Mereka sangat membantu. Mereka dapat memberikan persahabatan. Akan tetapi, Anda dapat memiliki banyak rekan kerja, tetapi tetap merasa kesepian. Teman tidak hanya bermitra dalam proyek; mereka mendampingi dalam hidup.

Persahabatan Membutuhkan Kesengajaan

Persahabatan tidak bisa dijejalkan ke dalam jadwal yang sudah padat; tetapi membutuhkan kesengajaan dan itu membutuhkan pengorbanan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Saya mendapati bahwa orang yang paling cocok untuk menjadi teman seorang pendeta adalah sesama pendeta, paling sering mereka yang berada di gereja yang berbeda. Sangat mudah bagi pendeta untuk melihat pendeta lain dan meminjam ungkapan yang dikatakan C. S. Lewis pada awal setiap persahabatan: "Kamu juga?" Pendeta biasanya bersedia mengambil langkah kerentanan berikutnya dengan pendeta lain dan melanjutkan, dengan mengutip Lewis, "Saya kira saya adalah satu-satunya."

Agar persahabatan bertumbuh dari sana, diperlukan upaya yang disengaja.

Untuk melakukan upaya itu, Anda harus memandang persahabatan bukan sebagai kemewahan, tetapi kebutuhan. Ketika Daud menulis, "Lihatlah, betapa baik dan indahnya jika saudara-saudara duduk bersama-sama!" (Mazmur 133:1, AYT), dia menonjolkan karunia persahabatan dan mendorong kita untuk melihat ke belakang ke Taman Eden ketika segala sesuatu -- termasuk persahabatan -- adalah baik, seperti yang Allah rencanakan. Mazmur diakhiri dengan "hidup selama-lamanya," yang mendorong kita untuk melihat ke depan menuju kekekalan ketika semuanya akan selama-lamanya seperti yang seharusnya (Mazmur 133:3) Persahabatan bukanlah kemewahan; itu adalah berkat yang Allah berikan kepada kita sekarang karena Dia mengasihi kita. Allah itulah, seperti yang ditulis Lewis, yang bekerja di belakang layar untuk membuat persahabatan kita terjadi dan membantu mereka berlanjut terus.

Persahabatan tidak hanya baik untuk kesehatan dan pelayanan yang bertahan lama; mereka juga penting untuk ketekunan kita (Ibrani 3:12-13). Adalah bijaksana untuk memiliki teman (Amsal 17:17; 27:9-10, 17). Membutuhkan teman itu baik. Paulus, di tengah masa yang sangat sulit, mendapatkan penghiburan yang nyata ketika Titus tiba (2 Korintus 7:6-7). Pada akhir hidupnya, Paulus menyesali kesendiriannya dan meminta Timotius untuk datang mengunjunginya sebelum dia meninggal (2 Timotius 4:9-16). Pria terhebat yang pernah hidup, Yesus Kristus, mengalami karunia persahabatan dengan Yohanes. Yohanes lebih dari sekadar mitra dalam pelayanan; dia adalah teman yang Yesus kasihi (Yohanes 13:23).

Upaya disengaja yang diperlukan untuk persahabatan dapat digambarkan sebagai memberi ruang dalam hidup Anda untuk orang lain. Itu berarti Anda akan memberikan ruang dalam jadwal, anggaran, tujuan pelayanan, dan kehidupan keluarga Anda untuk persahabatan. Persahabatan tidak bisa dijejalkan ke dalam jadwal yang sudah padat; tetapi membutuhkan kesengajaan dan itu membutuhkan pengorbanan.

Pendeta, persahabatan akan memerlukan waktu, uang, dan kesempatan Anda untuk pencapaian pelayanan yang lebih banyak. Dan itu akan membutuhkan kerentanan, yang berarti Anda mungkin akan terluka/tersakiti. Kerentanan bisa datang saat Anda mengakui kebutuhan Anda akan persahabatan: ambil risiko untuk memberi dan menerima karunia persahabatan. Ini akan sangat berharga. Berkat -- untuk diri Anda sendiri, keluarga Anda, dan jemaat Anda -- terbungkus di dalam persahabatan Anda. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/pastors-need-friends-too
Judul asli artikel : Pastors Need Friends Too
Penulis artikel : Elliot Grudem

Komentar