Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Takut akan Allah Adalah Penangkal Kecemasan Kita

Emosi Manusia yang Terkuat

Baaa! Itu adalah salah satu kata pertama yang kita nikmati. Ketika masih anak-anak, kita senang melompat ke teman-teman kita dan meneriakkannya. Namun, pada saat yang sama, kita takut pada kegelapan dan monster di bawah tempat tidur. Kita sangat senang sekaligus tidak senang dengan ketakutan kita. Dan, tidak ada banyak perubahan ketika kita bertumbuh dewasa: orang dewasa menyukai film-film menakutkan dan sensasi yang membawa kita berhadapan langsung dengan ketakutan terburuk kita. Namun, kita juga menderita atas semua hal mengerikan yang bisa terjadi pada kita: bagaimana kita bisa kehilangan nyawa, kesehatan, atau orang yang kita cintai; bagaimana kita bisa gagal atau ditolak. Rasa takut mungkin adalah emosi manusia yang paling kuat. Namun, itu membingungkan kita.

Takut atau Tidak Takut?

Gambar: anxiety

Ketika kita melihat Alkitab, gambarannya tampak sama membingungkannya: apakah rasa takut itu baik atau buruk? Banyak kali Kitab Suci dengan jelas memandang rasa takut sebagai hal buruk yang dari itu Kristus telah datang untuk menyelamatkan kita. Rasul Yohanes menulis, "Tidak ada ketakutan di dalam kasih, tetapi kasih yang sempurna mengusir ketakutan karena ketakutan berhubungan dengan hukuman. Orang yang takut belum disempurnakan dalam kasih" (1 Yohanes 4:18, AYT). Memang, perintah yang paling sering muncul dalam Alkitab adalah "Jangan takut!"

Akan tetapi, berulang kali dalam Kitab Suci kita diminta untuk takut. Lebih anehnya lagi, kita diperintahkan untuk takut akan Allah. Ayat yang segera muncul dalam pikiran adalah Amsal 9:10, "Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat." Dalam Perjanjian Baru, Yesus menggambarkan hakim yang tidak benar sebagai orang yang "tidak takut kepada Allah dan tidak menghormati orang lain" (Lukas 18:2, AYT). Paulus menulis, "Marilah kita membersihkan diri kita dari semua kecemaran tubuh dan roh sambil menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Allah" (2Kor. 7:1, AYT).

Semua itu bisa membuat kita agak bingung. Pada satu sisi, kita diberitahu bahwa Kristus membebaskan kita dari rasa takut; di sisi lain, kita diberitahu bahwa kita harus takut -- dan takut akan Allah, tidak kurang. Itu bisa membuat kita berharap bahwa "takut akan Allah" bukanlah ide yang begitu menonjol dalam Kitab Suci. Kita memiliki cukup ketakutan tanpa menambahkan lebih banyak, terima kasih banyak. Dan, takut akan Allah hanya terasa sangat negatif, tampaknya tidak sesuai dengan Allah penuh kasih yang kita temui dalam Injil. Mengapa Allah yang layak dikasihi ingin ditakuti?

Tujuan saya sekarang adalah untuk membuka kebingungan ini. Saya ingin Anda bersukacita dalam paradoks ini bahwa Injil membebaskan kita dari rasa takut dan memberi kita rasa takut. Ini membebaskan kita dari ketakutan kita yang melumpuhkan, dan justru memberi kita ketakutan yang paling menyenangkan. Dan, saya ingin menunjukkan bahwa bagi orang Kristen "takut akan Allah" sebenarnya tidak berarti takut kepada Allah.

Memang, Kitab Suci akan menyimpan banyak kejutan besar bagi kita karena menggambarkan rasa takut akan Allah. Ambil satu contoh saja untuk saat ini. Dalam Yesaya 11:1-3 kita diberi gambaran yang indah tentang Mesias, yang dipenuhi dengan Roh:

Sebab tunas akan keluar dari batang pohon Isai,
semua cabang dari akarnya akan menghasilkan buah.
Roh TUHAN akan berdiam di dalamnya,
Roh hikmat dan pengertian,
Roh nasihat dan kekuatan,
Roh pengetahuan dan takut akan TUHAN.
Dia senang dalam takut akan Tuhan.





Dua pernyataan terakhir itu seharusnya membuat kita mempertanyakan apa itu takut akan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa takut akan Tuhan bukanlah sesuatu yang tidak diinginkan Mesias. Bahkan, Dia takut akan Tuhan -- tetapi Dia tidak segan-segan akan hal itu. Justru sebaliknya: kesukaan-Nya adalah takut akan Tuhan. Ini memaksa kita untuk bertanya, apakah ketakutan ini, yang bisa menjadi kesenangan Kristus? Itu tidak mungkin sebuah panggilan yang negatif dan suram.

Budaya Takut Hari Ini

Namun, sebelum kita menyelami kabar baik yang dimiliki Alkitab tentang rasa takut kita dan takut akan Tuhan, perlu diperhatikan betapa cemasnya budaya kita. Melihat di mana masyarakat kita sekarang dapat membantu kita memahami mengapa kita memiliki masalah dengan rasa takut -- dan mengapa takut akan Allah benar-benar penyegar yang kita butuhkan.

Hari-hari ini, tampaknya, semua orang berbicara tentang budaya takut. Dari Twitter hingga televisi, kita mengkhawatirkan terorisme global, cuaca ekstrem, dan gejolak politik. Kehidupan pribadi kita dipenuhi dengan lebih banyak sumber kecemasan. Pola makan kita, misalnya. Jika Anda memilih versi penuh lemak pada menu, Anda sedang menuju serangan jantung. Akan tetapi, kita terus menemukan bahwa alternatif rendah kalori sebenarnya karsinogenik atau berbahaya dengan cara lain. Dan, ketakutan tingkat rendah dimulai dengan sarapan. Atau pikirkan paranoia seputar mengasuh anak hari ini. Ketakutan yang sah tetapi biasanya berlebihan terhadap penculik yang mengintai secara daring atau di luar setiap sekolah telah semakin memicu munculnya pola asuh helikopter dan anak-anak semakin dipagari untuk menjaga agar mereka tetap aman. Secara keseluruhan, kita adalah budaya yang semakin cemas dan tidak pasti.

Dan, di dalamnya terdapat paradoks yang luar biasa, karena (sekarang) kita hidup lebih aman dari sebelumnya. Meskipun kita lebih aman daripada hampir semua masyarakat lain dalam sejarah, rasa aman telah menjadi cawan suci budaya kita. Dan, seperti Cawan Suci, itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa kita peroleh. Dilindungi (sehingga aman) tidak sama seperti sebelumnya, kita gelisah dan panik tidak sama seperti sebelumnya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sederhananya, budaya kita telah kehilangan Allah sebagai objek takut yang tepat. Rasa takut akan Allah itu (seperti yang ingin saya tunjukkan) adalah takut yang bahagia dan sehat yang mengendalikan ketakutan kita yang lain, yang mengekang kecemasan. Dengan masyarakat kita telah kehilangan Allah sebagai objek takut yang sehat, budaya kita tentu menjadi lebih neurotik dan cemas. Dalam mengusir Allah dari budaya kita, perhatian pada hal lain -- dari kesehatan pribadi hingga kesehatan planet ini -- telah mengambil alih tujuan ilahi dalam pikiran kita. Hal-hal baik telah menjadi berhala yang kejam dan tanpa belas kasihan. Dan, dengan demikian kita merasa rapuh tak berdaya, dan masyarakat dipenuhi dengan kecemasan.

Warisan Ateisme yang Menakutkan

hilangnya rasa takut akan Allah adalah apa yang mengantarkan zaman kecemasan kita, tetapi (sebenarnya) takut akan Allah adalah penangkal dari keresahan kita.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Pendapat bahwa hilangnya rasa takut akan Allah adalah akar penyebab kecemasan budaya kita adalah pukulan nyata bagi ateisme. Karena ateisme menjual gagasan bahwa jika Anda membebaskan orang dari kepercayaan pada Allah, itu akan membebaskan mereka dari rasa takut. Namun, membuang rasa takut akan Allah tidak membuat masyarakat kita lebih bahagia dan kurang resah. Justru sebaliknya.

Jadi, apa yang dilakukan budaya kita dengan segala kecemasannya? Mengingat pada dasarnya itu merupakan identitas diri sekuler, budaya kita tidak akan berpaling kepada Allah. Maka, satu-satunya solusi yang mungkin adalah kita harus menyelesaikannya sendiri. Dengan demikian, masyarakat Barat telah memperlakukan rasa takut sebagai masalah medis. Ketakutan telah menjadi penyakit yang sulit untuk diobati. (Saya tidak bermaksud menyiratkan di sini bahwa penggunaan obat-obatan untuk mengekang kecemasan adalah salah -- melainkan bahwa obat-obatan itu bersifat paliatif, kadang-kadang penting, dan bukan solusi akhir.) Namun, upaya menghilangkan rasa takut yang kita lakukan seperti memberantas suatu penyakit telah secara efektif menjadikan kenyamanan (tidak ada rasa takut sama sekali) sebagai kategori kesehatan -- atau bahkan kategori moral. Di mana ketidaknyamanan pernah dianggap cukup normal (dan cukup tepat untuk situasi tertentu), sekarang dianggap sebagai hal yang pada dasarnya tidak sehat.

Ini berarti bahwa dalam budaya yang dibanjiri kecemasan, takut semakin dilihat sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dan, orang-orang Kristen telah terhanyut, mengadopsi penilaian negatif masyarakat terhadap semua ketakutan. Maka, tidak mengherankan jika kita menghindar untuk berbicara tentang takut akan Allah, meskipun hal itu menonjol dalam Kitab Suci. Hal ini dapat dimengerti, tetapi tragis: hilangnya rasa takut akan Allah adalah apa yang mengantarkan zaman kecemasan kita, tetapi (sebenarnya) takut akan Allah adalah penangkal dari keresahan kita. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Crossway
Alamat situs : https://crossway.org/articles/the-fear-of-god-is-the-antidote-to-our-anxiety
Judul asli artikel : The Fear of God Is the Antidote to Our Anxiety
Penulis artikel : Michael Reeves

Komentar