Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagi yang Sedang Berpacaran

Oleh: Dr. Paul Gunadi

PARAKALEO bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah berkeluarga. Kerinduan kami adalah agar PARAKALEO dapat bermanfaat bagi mereka yang berkeluarga dan yang belum berkeluarga. Bahkan kami berharap PARAKALEO dapat menjadi salah satu sumber masukan dan informasi yang sangat diperlukan oleh pemuda-pemudi Kristen umumnya.

Kali ini saya ingin mengajak Saudara menengok sedikit ke arah masa pranikah. Banyak sekali hal yang perlu diperhatikan namun semuanya mempunyai satu kepastian: Setiap orang yang berpacaran cepat atau lambat harus mengambil keputusan! Pada umumnya dilema yang dihadapi sama, yakni memastikan bahwa kekasih kita adalah pasangan hidup kita yang tepat. Nah, memastikan inilah yang sering kali menjadi masalah, sebab adakalanya hari ini kita merasa yakin, besoknya malah merasa bingung. Untuk mereka yang sedang berpacaran dan termasuk dalam kategori "ya-bing" (ya yakin, ya bingung), di bawah ini ada beberapa butir petunjuk. Mudah-mudahan bermanfaat.

Pertama, nikahilah seseorang yang mengasihi Tuhan. mungkin ada sebagian Saudara yang berteriak, "Saya tidak setuju! Orang tua saya adalah orang Kristen, namun pernikahan mereka tidak harmonis." Kepada Saudara yang berkata demikian, saya menjawab, "Saya setuju dengan keberatan Saudara!" Tidak dapat dipungkiri, di dunia ini ada pernikahan Kristen yang harmonis, namun ada pula yang tidak harmonis. Pernikahan bukan hanya berkaitan dengan hal sorgawi, pernikahan juga merupakan ajang dimana hal yang sorgawi dijelmakan dalam interaksi dengan sesama manusia. Di sinilah kita bergumul karena kita tidak senantiasa hidup dalam kehendak Tuhan yang menekankan pentingnya hidup damai satu sama lain.

Namun demikian, izinkan saya sekarang menjelaskan pandangan saya ini. Dalam 1 Kor 7:39, Rasul Paulus menyampaikan firman Tuhan kepada para istri yang suaminya telah meninggal,"... ia bebas kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya." Menikah dengan sesama orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah kehendak Tuhan sendiri. Dengan kata lain, unsur ketaatan memang diperlukan untuk hidup sesuai dengan kehendak- Nya.

Selain dari itu, pilihlah pasangan hidup yang bukan sekadar mengaku bahwa ia seorang Kristen, melainkan seseorang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budinya. Saya dan Santy tidak berani mengklaim bahwa kami senantiasa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Namun, kami berani berkata bahwa kami berupaya untuk senantiasa mengasihi (mengutamakan) Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Tatkala saya memintanya untuk kembali ke Indonesia, ia mengalami pergumulan yang berat (adakalanya masalah ini masih mencuat sampai sekarang) sebab situasi kami saat itu sudah lebih berakar di Amerika Serikat. Secara manusiawi, kedua pandangan ini sukar ditemukan karena kami berdua tidak mau sembarangan menggunakan nama Tuhan untuk mengesahkan keinginan pribadi masing-masing. Faktor mengasihi Tuhanlah yang akhirnya menyelesaikan masalah ini. Berbekal keinginan dan tekad untuk hidup menyenangkan hati Tuhan, Santy memutuskan untuk pulang mendampingi saya.

Hati yang rindu menyenangkan hati Tuhan, yang keluar dari kasih kita kepada-Nya adalah faktor pertama yang harus dimiliki oleh pasangan kita (sudah tentu oleh kita pula). Keharmonisan dalam pernikahan bergantung pada kemampuan kita menyesuaikan diri satu sama lain. Kemampuan kita menyesuaikan diri tidaklah terlepas dari keinginan untuk menyesuaikan diri; sedangkan keinginan untuk menyesuaikan diri sering kali harus timbul dari ketaatan kita pada Tuhan.

Kedua, nikahilah seseorang yang mengasihi diri Saudara. Pasti ada di antara Saudara yang bergumam,"Sudah pasti ia mengasihi saya, kalau tidak, mana mungkin ia bersedia menjadi pacar saya sekarang." Komentar saya untuk tanggapan Saudara adalah, ya dan tidak, dalam arti tergantung pada pemahaman kita akan makna kasih itu sendiri. Tatkala saya masih remaja, saya tergila-gila dengan buku-buku silat. Sekarang, saya, istri, dan anak-anak kami sedang menggemari kisah Return of The Condor Heroes. Dalam salah satu episodenya, si Gadis Naga Kecil berkata kepada Yoko, "Asalkan aku dapat bersamamu, aku akan bahagia." (Saya tidak ingat secara persis kalimatnya, tapi kira- kira itulah intinya). Sudah tentu ungkapan seperti ini adalah salah satu akibat dari perasaan kita tatkala sedang mengasihi seseorang. Namun, ungkapan ini sekali-kali bukanlah kasih itu sendiri.

Saya akan menjelaskan apa yang saya maksudkan. Bedakanlah kedua makna pernyataan ini. Pertama, "Karena saya mengasihimu, maka saya ingin hidup bersamamu." Kedua, "Saya ingin hidup bersamamu, oleh sebab itu pastilah saya mengasihimu." Kedua kalimat ini tidaklah sama meskipun secara sepintas terdengar serupa. Kalimat pertama menunjukkan bahwa keinginan hidup bersama timbul dari kasih; jadi kasih dahulu setelah itu baru muncul keinginan untuk hidup bersama. Kalimat kedua memperlihatkan bahwa keinginan hidup bersama mendahului kasih dan kasih seolah-olah dianggap pasti ada, oleh karena adanya keinginan hidup bersama.

Menurut saya, yang sehat adalah yang pertama. Kita mengasihi seseorang dan karena mengasihinya, kita mulai berhasrat untuk hidup bersamanya dalam mahligai pernikahan. Namun jika kita tidak berhati- hati, kita bisa terperangkap dalam kesalahpahaman yang berkaitan dengan kalimat kedua tadi. Kita bisa saja ingin hidup bersama dengan seseorang, misalnya karena ia membuat kita bahagia. Sebelum kehadirannya, hidup kita bak awan mendung dirundung kekecewaan. Setelah kita bertemu dengannya, hidup kita ceria ibarat rumput yang diselimuti embun pagi. Reaksi seperti ini tidak selalu salah, tetapi apabila tidak mawas diri, kita bisa berpikir bahwa kita mengasihi seseorang, padahal yang terjadi adalah, kita senang berada di dekatnya sebab ia berhasil memenuhi kebutuhan kita atau membawa perubahan tertentu dalam hidup kita. Saya kira ini bukan kasih.

Kasih, sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan kita, dapat disarikan dalam satu kalimat, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal ..."(Yoh. 3:16). Dengan kata lain, kasih bersifat mengutamakan kebutuhan atau kepentingan orang lain, sebagaimana Tuhan Allah mengaruniakan Anak- Nya agar kita dapat menikmati hidup yang bebas dari kuasa dan kutukan dosa. Jadi, nikahilah seseorang yang mengasihi kita, yang bersedia berkorban demi kebutuhan dan kepentingan kita. Kasihnya kepada kita diwujudkan dalam kerelaannya mengutamakan kita, sekurang- kurangnya ia berusaha untuk melakukannya, meskipun tidak sempurna. (Tidak usah saya tekankan lagi, sudah tentu kita pun harus menjadi orang yang mengasihi dia seperti itu pula, baru kita layak mengharapkan kasih yang serupa).

Ketiga, nikahilah seseorang yang dapat mengasihi dirinya. Secara sepintas, saran ini bertentangan dengan butir kedua tadi. Bukanlah kalau kita mengutamakan kepentingan orang lain, hal itu berarti kita mengesampingkan kepentingan pribadi? Betul, kita harus dapat mengesampingkan kepentingan diri dulu baru bisa mengasihi seseorang sedemikian rupa, namun ini tidak berarti bahwa kita menjadi orang yang tidak mengasihi diri kita sendiri. Mengasihi diri hanya dimungkinkan apabila kita telah mengenal siapa kita dan tidak berkeberatan menerima diri apa adanya. Mengasihi diri hanya dapat muncul apabila kita sudah memiliki konsep yang jelas dan tepat akan siapa kita serta memandang diri dengan "kacamata" yang positif. Mengasihi diri berarti mengutamakan kepentingan dan kebutuhan diri; dengan kata lain, menganggap diri cukup berharga untuk diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya.

Butir kedua dan ketiga harus berdampingan; apabila tidak, timbullah masalah yang serius dalam pernikahan. Seseorang yang hanya mengutamakan kebutuhan orang lain tanpa menghiraukan kebutuhannya sendiri mungkin sekali adalah seseorang yang belum memiliki kepribadian yang mantap. Sebaliknya, seseorang yang mengutamakan kepentingannya belaka ialah seseorang yang egois dan serakah. Keseimbangan antara mengutamakan orang lain dan mengutamakan diri sendiri memang harus dijaga dengan hati-hati. Namun, yang jelas adalah, orang yang dapat menghargai dirinya barulah bisa menjadi orang yang menghargai orang lain. Tanpa penghargaan diri, penghargaan kita terhadap orang lain merupakan kewajiban semata-mata atau keluar dari rasa kurang aman.

Pada awal pernikahan kami, Santy dan saya juga terjebak dalam perangkap "hanya mengutamakan kebutuhan yang lain". Ternyata sikap seperti ini tidak dapat bertahan lama, karena kebutuhan dan kepentingan kami masing-masing tidak bisa dikesampingkan terus menerus. Sampai pada suatu titik, kami harus lebih vokal menyuarakan apa itu yang menjadi kebutuhan kami. Setelah itu kami pun harus dan baru bisa belajar memenuhi kebutuhan satu sama lain secara lebih terarah. Apabila kita tidak mengkomunikasikan kebutuhan kita dengan jelas, bagaimana mungkin pasangan kita memenuhinya dengan tepat pula?

Ketiga butir ini sesungguhnya merupakan penguraian dari perintah agung Tuhan kita, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat. 22:37-39). Singkat kata, nikahilah seseorang yang hidup dalam perintah dan firman Tuhan yang agung ini. Barulah setelah itu kita dapat menikmati pernikahan yang agung.

PERSPEKTIF PSIKOLOGIS

Iri hati, Stres, dan Depresi

Oleh: Dr. Paul Gunadi

Sekali lagi kaitan yang erat antara stres dan depresi dikukuhkan kembali melalui hasil studi yang dilakukan oleh Robert C. Pianta dan Byron Egeland yang dilaporkan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology, Vol. 62, Number 6, December 1994. Dalam artikel mereka yang berjudul, Relation Between Depressive Symptoms and Stressful Life Events in a Sample of Disadvantanged Mothers, mereka memperlihatkan bahwa stres dan depresi mempunyai dampak yang saling mempengaruhi. Artinya, stres dapat menimbulkan gejala depresi tetapi sebaliknya, gejala depresi itu sendiri berpotensi membuahkan stres dalam hidup kita. Studi mereka pun mendemonstrasikan pengaruh gejala depresi terhadap masalah relasi dengan orang lain dan gangguan kesehatan tubuh. Ada banyak hal lain yang diungkapkan melalui penelitian ini namun saya hanya akan memfokuskan pada kaitan antara stres yang berasal dari masalah relasi dengan orang lain dan depresi.

Ada banyak masalah yang dapat meruak ke dalam relasi atau hubungan kita dengan orang lain. Salah satu di antaranya adalah iri hati. Iri hati biasanya tumbuh dari suatu pengakuan bahwa pada dasarnya kita tidaklah sebaik, seberuntung, sekuat, secantik (dan sebagainya) orang lain. Pengakuan ini sendiri sebetulnya sehat dalam arti berhasil mengakui keterbatasan kita. Namun, jika kita berhenti sampai pada tahap pengakuan belaka, kita akan terjebak dan mulai mengecat kanvas kehidupan kita dengan kuas yang tajam dan tinta yang kelam. Sebaliknya, kita mengecat kehidupan orang lain dengan kuas yang halus dan tinta yang berwarna-warni. akibatnya, kita merasa malu dengan siapa diri kita dan marah terhadap orang yang lebih "berwarna-warni" dari kita.

Iri hati muncul dari hati yang tidak lagi merasa puas dengan keadaan sekarang ini dan keinginan untuk memiliki apa yang ada di tangan orang lain. Dampak langsung dari iri hati adalah kegetiran dan kemarahan. Sudah tentu kegetiran dan kemarahan mengganggu hubungan kita dengan orang lain dan membuat orang lain enggan bergaul dengan kita. Ibarat bom waktu, kita siap meledak kapan saja dan biasanya orang lain pun melihat gejala ini. Mungkin mereka merasakan kegetiran dan kemarahan kita melalui ucapan-ucapan kita yang bernada menyindir atau pun melalui perkataan-perkataan kita yang mencerminkan keinginan kita memperoleh apa yang dimilikinya. Sikap kita yang seperti ini membuat mereka takut menyinggung perasaan kita dan sudah dapat diterka, hubungan kita dengan mereka semakin memudar.

Semakin kita merasa terkucil dari pergaulan, semakin besar iri hati kita (dan juga kegetiran serta kemarahan kita), dan semakin bertambah besar kemungkinannya kita terlibat dalam masalah dengan orang lain. Misalnya, kesalahpahaman, tersinggung, dan terluka menjadi hal-hal yang semakin sering kita alami dalam relasi kita dengan orang lain. Semua ini menimbulkan stres. Dan orang yang mengalami stres yang terlalu berat tanpa dukungan atau bantuan orang lain dapat membuahkan gejala depresi. Dalam depresi, kita marah, namun menyimpan kemarahan itu: kita geram, tetapi menelan kegeraman kita; kita menyerah walaupun kita belum berserah.

Firman Tuhan datang bagaikan air sejuk. Coba simak dengan seksama, "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." (Amsal 14: 30). Hati yang tenang dan iri hati didampingkan bersama bukan sebagai kawan, melainkan lawan. Hati yang tenang berasal dari sikap yang menerima dan mensyukuri pemeliharaan Tuhan meskipun ada hal-hal yang tidak kita mengerti. Hati yang iri keluar dari pemberontakan terhadap kebaikan Tuhan. Mari kita segarkan tubuh kita dan jangan biarkan tulang kita membusuk.

PERTANYAAN ANDA

Apa pengaruh hati yang gembira terhadap kesehatan kita ?

Beberapa tahun yang lampau, Norman Cousins, seorang warga Amerika, menderita suatu penyakit yang serius sehingga membutuhkan perawatan rumah sakit yang intensif. Dalam masa yang sulit itu, ia menghabiskan waktunya hari lepas hari menonton video film-film lucu yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Suatu hal yang aneh terjadi. Perlahan-lahan ia pun pulih dari penyakitnya yang serius itu hingga akhirnya ia sembuh secara total. Kesembuhannya itu, ia percaya, adalah sebagai akibat atau pengaruh dari film-film lucu yang ditontonnya yang sangat menghibur hatinya. Norman Cousins pun mengabdikan sisa hidupnya menyelidiki pengaruh hati yang gembira terhadap kesehatan tubuh manusia.

Beberapa ribu tahun yang lalu, firman Tuhan sudah mengungkapkan butir kebenaran yang diamati oleh Norman Cousins tersebut. Perhatikanlah baik-baik. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang" (Ams.17:22). Ada satu lagi yang juga mencuatkan kebenaran sorgawi yang kekal. " Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat" (Ams. 15:13). Semua ini menunjukkan kaitan yang erat antara hati yang gembira dengan kesejahteraan jasmani kita.

Di Amerika Serikat, jam berkunjung di rumah sakit biasanya sangat fleksibel (kecuali untuk perawatan intensif dan khusus). Saya dapat mengunjungi istri saya dan menengok bayi kami kapan saja tanpa dibatasi jam berkunjung. Gagasan yang melatarbelakangi kebijakan ini tidak terlepas dari pemahaman bahwa orang yang sakit membutuhkan perhatian dari orang-orang yang dekat dengannya. Sanak keluarga dan orang-orang yang dikasihi si sakit, sesungguhnya adalah rekan para dokter dan perawat yang dapat berpartisipasi dalam proses pemulihannya.

Hati yang gembira dan pandangan yang positif menaikkan daya tahan tubuh kita. Sebaliknya, semangat yang patah menurunkan daya tahan tubuh.

CATATAN REDAKSI
Kesulitan dalam berteman, bergaul dan bekerja sama dengan orang- orang yang seiman sering kali muncul oleh karena "ekspektasi yang tidak realistis". Seolah-olah setiap orang Kristen harus dengan sendirinya berkepribadian dewasa, punya integritas tinggi, bijaksana dan penuh kasih. Realitanya ? Kita semua tahu, menjadi Kristen tidak menjamin kehidupan pribadi yang lebih baik. Berpacaran bahkan menikah dengan sesama orang Kristen (seiman) tidak dengan sendirinya menjamin keharmonisan dan kebahagiaan. Bahkan, jikalau kita benar- benar memahami firman Tuhan, kita akan mengerti bahwa menikah dengan orang yang seimanpun tidak dengan sendirinya sesuai dengan kehendak Allah. Mengapa demikian ?

  1. Allah adalah Allah yang berencana dan yang menyukai keteraturan (1 Kor. 14:33). Allah yang mengasihi setiap orang percaya adalah Allah yang memberikan talenta dan karunia-karunia roh yang berbeda- beda (Mat. 25:14-30; 1 Kor. 12). Allah tidak menuntut pertanggungjawaban yang sama dari setiap orang. Ia mempunyai rencana yang khusus untuk setiap pribadi. Memang Allah menghendaki setiap anak-Nya menikah dengan orang yang seiman (II Kor. 6:14), tetapi menikah dengan orang yang seiman tidak berarti menikah dengan "siapa saja", pokoknya seiman.

  2. Allah mempunyai rencana dan Allah menghendaki setiap orang percaya menikah dengan "orang yang tepat". Sayang sekali realitanya tidak selalu demikian. Kehendak Allah (God's will) untuk pernikahan bukanlah merupakan kehendak Allah "yang ditetapkan" (decreed will of God). Ada perbedaan antara God's will dan God's decreed will. God's will tidak selalu terlaksana (oleh karena Allah tidak memaksakan kehendak-Nya), sedangkan God's decreed will selalu dan pasti terlaksana ( oleh karena ditetapkan Allah dari kekal sampai kekal). Bicara tentang kehendak Allah dalam pernikahan adalah bicara tentang God's will. Dan bicara tentang God's will adalah bicara tentang hubungan antara apa yang Allah kehendaki dan apa yang manusia perbuat. Allah memang punya kehendak, tetapi Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menerima atau menolak. Tetapi heran jikalau dalam realita kehidupan orang percaya sekalipun, banyak kehendak Allah yang tidak terlaksana. Allah menghendaki orang percaya untuk mengasihi sesama, tetapi realitanya berapa orang percaya yang betul-betul mengasihi sesama ? Allah menghendaki setiap orang percaya memberitakan injil, tetapi siapakah yang betul- betul mempunyai komitmen untuk memberitakan injil ? Begitu juga dengan pernikahan, Allah menghendaki orang percaya menikah dengan orang yang tepat, yang sesuai dengan kehendak-Nya. Realitanya, sering kali kebebasan manusia yang menentukan, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak setiap orang percaya (walaupun dengan orang yang 'seiman' sekalipun) adalah kehendak Allah.

    Memahami kebenaran ini, akan menolong setiap orang percaya mengerti akan keunikan kebebasan dan tanggung jawabnya sebagai anak-anak Tuhan. Setiap orang percaya terpanggil untuk mencari, memahami, dan mematuhi Kehendak Allah (Ef. 5:17). Tanpa itu ia akan hidup dalam kebodohan, memilih orang yang "tidak tepat" dan menyia-nyiakan waktu bahkan tidak mengerjakan hal-hal yang bernilai kekal dalam kehidupan pernikahannya.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Parakaleo (Edisi Apr. - Juni 1995)
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRI

Komentar