Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Ibu Full Time Bekerja Dan Ibu Full Time Di Rumah

Edisi C3I: e-Konsel 125 - Wanita Karier dan Keluarga

Sebelum menikah, kita menyusun cita-cita setinggi langit. Kita berusaha meraih pendidikan setinggi bintang dan karier setinggi- tingginya. Ketika baru menikah kita mengangankan anak-anak yang lucu dan mungil. Kita pun menyusun idealisme orang tua yang baik. Tanpa terasa konflik antara idealisme dan cita-cita mulai muncul. Kita mulai dihadapkan kepada realita bahwa hidup sangatlah kompleks. Anda tidak sendiri. Ada banyak ibu-ibu yang bergumul untuk hal ini.

Ibu Full Time Bekerja:

Saya ibu dari dua orang anak (usia dua dan tiga tahun) dan bekerja "full time" sebagai sekretaris. Kedua anak saya sepenuhnya diasuh oleh "baby-sitter". Saya hanya bertemu dengan anak saya pada waktu malam hari (mereka tidak tidur dengan pengasuhnya itu), pagi hari sebelum saya berangkat bekerja, dan "week-end".

"Baby sitter" yang baik bagi saya adalah yang ringan tangan, sopan, dan tahu statusnya sebagai penolong, bukan pengatur. Tapi kita pun harus memperlakukan "baby-sitter" dengan baik, seperti layaknya keluarga sendiri sehingga ia dapat memperlakukan anak kita dengan baik juga. (LID)

Anak saya yang laki-laki mengalami sakit "hiper-pigmentasi" (separuh wajahnya berwarna hitam dan berbulu). Sejak ia lahir saya selalu bertanya, "Mengapa Tuhan mengaruniakan anak seperti ini kepada saya?" Saya melalui kehidupan dengan stres dan air mata. Apalagi saya tinggal dengan mertua. Oleh sebab itu, waktu kerja di kantor merupakan penyegaran dan penghiburan untuk saya. Tapi selain itu, tujuan utama saya adalah supaya saya bisa mengumpulkan cukup biaya untuk operasi anak saya tahun depan. Ketika dia lahir, saya sudah berjanji akan berusaha sekeras mungkin demi kesembuhannya. Saya sangat berharap mujizat dari Tuhan karena saya tidak bisa bayangkan bagaimana anak usia tiga tahun harus melalui operasi. Hati saya sangat susah kalau mengingat penderitaan anak saya. (LK)

Saya ingin sekali berhenti bekerja dan mengasuh anak saya sendiri. Saya sangat mencintai anak-anak dan saya tahu betul bahwa mengasuh anak sendiri jauh lebih baik daripada memasrahkannya kepada orang lain. Akan tetapi, hal itu belum memungkinkan. Pekerjaan suami saya sangat tidak stabil. Kami bahkan pernah kehabisan uang sama sekali, hanya tersisa beberapa ratus rupiah saja. Dalam keadaan seperti ini saya harus bisa menerima keadaan saya dengan berat hati. Saya betul- betul ingin punya waktu sebanyak-banyaknya mendampingi anak saya. Oleh sebab itu, hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling menyenangkan, tapi paling melelahkan. Pada hari-hari itu saya mengasuh anak saya sepenuhnya. Di hari-hari biasa pun saya selalu menyuapi anak saya sepulang kantor, sekalipun saya masih lelah. (YAN)

Selama bekerja, anak saya diasuh oleh "baby-sitter" dan diawasi oleh ibu saya. Kebetulan "baby-sitter" ini cukup baik, tidak suka memerintah, dan mau bekerja sama dengan saya. Dia melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan saya. Sepulang kerja saya selalu berusaha untuk langsung memegang anak saya. Memang kadang-kadang saya rasanya ingin membiarkan "baby-sitter" yang terus mengurus anak saya karena saya sangat lelah, tapi saya tahu itu tidak baik. Risikonya, kadang-kadang saya tidak mempunyai waktu untuk suami, bahkan untuk diri sendiri. Itupun tidak baik, tapi itulah yang terbaik yang saya bisa lakukan. Kadang-kadang saya merasa ingin makan malam hanya dengan suami, akan tetapi demi kebersamaan dengan anak, saya biarkan dia duduk di samping saya dan ikut makan sedikit lagi. Memang saya tidak selalu harus mengurusnya sepulang kerja. Film "Doel anak Sekolahan" dan kegiatan bermain kadang-kadang lebih menarik daripada kehadiran saya. Akan tetapi, ketika saya pulang ataupun di hari Sabtu dan Minggu, itulah kesempatan saya untuk membimbing kerohanian anak saya. Tiap malam saya menceritakan kisah dari Alkitab bergambar, kemudian berdoa bersama. Kadang-kadang permintaan doa anak-anak sangat lucu dan saya sangat menikmati waktu bersama seperti itu. (NAT)

Ibu Rumah Tangga Full Time:

Saya adalah orang yang tidak suka macam-macam; pikiran saya sederhana saja. Bagi saya mendidik tiga anak ini saja sudah kompleks. Kalau ditambah harus bekerja, saya bisa kebingungan. Tiap hari anak-anak harus diawasi belajarnya karena mereka belum punya kesadaran disiplin sendiri. Zaman sekarang, pengaruh buruk sering mengganggu pikiran anak-anak. Oleh karena itu, saya menyibukkan mereka dengan banyak kegiatan (les mandarin, berenang, piano, dan gambar). Selain harus mempersiapkan pelajaran dan ulangan sekolah, kegiatan-kegiatan di luar sekolah tidak akan memberikan peluang bagi mereka untuk berpikir atau melakukan yang tidak-tidak. Sudah barang tentu saya harus terus mengawasi dan mendampingi. Memang saya harus bersabar, saat ini mereka harus dipaksa disiplin. Tapi saya yakin suatu saat, pola disiplin itu akan menjadi bagian dalam diri mereka. (LIL)

Saya dan suami menggembalakan jemaat kecil yang sangat menuntut. Sebagai penginjil wanita dan istri penginjil, akhirnya saya "full time" sebagai ibu rumah tangga dan "full time" melayani. Anak saya sudah mulai bisa jalan dan harus terus diawasi. Tapi saya juga harus tetap khotbah, memimpin PA, atau persekutuan. Terpaksa saya harus menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa mempersiapkan pelayanan sebaik dulu lagi. Saya hanya bisa melakukan persiapan pada saat anak dan suami sudah tidur. Di luar waktu itu sudah tidak mungkin. Waktu yang paling melelahkan dan membingungkan adalah pada saat suami pergi pelayanan ke luar dan saya harus melayani penginjil tamu. Di saat yang bersamaan saya harus melayani anak, tamu, dan jemaat. Badan saya sekarang sudah kurus kering. Sukacita saya adalah pada saat melihat bagaimana anak saya bertumbuh. (LIDW)

Hal yang paling mendorong dan terus memotivasi saya di tengah kesibukan dan kejenuhan mengasuh dan mendidik anak adalah prinsip dasar yang saya pegang. Prinsip tersebut adalah "Tuhan memberikan anak ini untuk saya didik sehingga saya bertanggung jawab penuh untuk menjaga dia dari pengaruh dunia dan mendidik dia ke arah kebenaran firman Tuhan". Ada beberapa alasan mengapa saya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga "full time".

  1. Ibu sebagai pengembang bakat anak.

    Berdasarkan prinsip dasar tadi, saya bertanggung jawab untuk mengembangkan bakat yang sudah Tuhan berikan kepada anak saya. Saya adalah satu-satunya orang yang tepat untuk melakukannya karena saya yang paling mengenal dia dan yang paling mengerti bagaimana mendorongnya untuk berkembang. Saya melihat bahwa anak ini istimewa sehingga saya harus menuangkan konsentrasi saya pada anak ini.

  2. Ibu sebagai penyeleksi pengaruh lingkungan.

    Saya dan suami sepakat untuk mendidik anak kami tanpa campur tangan ataupun pengaruh dari orang lain. Kami berusaha menjaga anak kami dari pengaruh yang tidak sesuai dengan prinsip kami karena kami sadar bahwa di usia balita ini, anak kami belum bisa membedakan "tangan kiri dari tangan kanan" (yang baik dari yang jahat). Saya berusaha selalu mendampingi anak saya di mana saja, sehingga pada saat ada pengaruh lain yang masuk saya bisa cepat menetralisir. Misalnya, banyak orang (termasuk orang Kristen) yang menertawakan hal yang salah yang dilakukan oleh anak saya. Tentu saja hal ini menjadi pendorong bagi anak saya untuk mengulanginya lagi. Saya harus segera menetralisir dan menegaskan bahwa hal yang salah itu tidak lucu dan harus dibuang. Kehadiran saya mutlak diperlukan oleh anak saya selama 24 jam karena saya tidak bisa "aplusan" dengan suami. Suami saya seorang penginjil yang sibuk sekali selama seminggu penuh.

  3. Ibu sebagai pembangun benteng perlindungan.

    Zaman kita sekarang ini sudah kotor dengan polusi pendidikan. Dari TV, majalah, pergaulan, dan tempat umum lain, anak belajar soal kekerasan, seks, dan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan dengan firman Tuhan. Zaman ini telah membentuk pola pikir masyarakat yang jauh dari kebenaran. Oleh sebab itu, sejak dini saya harus menolong anak saya agar memiliki pola pikir yang dapat melindungi dirinya dari polusi tersebut saat dia besar nanti.

  4. Ibu sebagai kebanggaan anak.

    Belajar dari pengalaman sendiri, saya tidak mau di masa yang mendatang anak saya berkata, "Saya menyesal sekali ibu saya mendidik dengan cara seperti ini." Saya tidak mau anak saya salah didik. Banyak orang yang menganggap saya terlalu idealis, akan tetapi bagi saya kalau yang ideal itu dapat dikerjakan, mengapa tidak? Bukankah sebagai anak Tuhan justru kita harus berusaha mencapai yang ideal itu di tengah-tengah realita yang ada? Memang kadang-kadang ada perasaan takut "cupet". Pekerjaan di rumah dan tugas menjaga anak sering menyita waktu sehingga saya tidak pernah punya waktu untuk menambah ilmu. Tapi saya cari jalan keluar dengan cara berdiskusi dengan suami dan teman. Sehingga saya tetap dapat memperoleh informasi dari buku-buku ataupun jurnal yang mereka baca.

    Mengenai waktu doa dan baca Alkitab yang sering kali tidak bisa dilakukan seperti dulu lagi, kadang saya harus menerima dengan sedih dan rasa bersalah. Selain menerima kenyataan ini, saya juga terus berusaha mencari kesempatan di sela-sela kesibukan yang ada. (SUS)

Hanya Anda dan Tuhan yang tahu hal terbaik yang dapat Anda berikan untuk anak Anda. Karena itu, dasarilah segala pergumulan Anda dalam rasa takut dan bersandar pada Tuhan Yesus. Hanya Tuhan Yesus yang dapat menunjukkan yang terbaik dan yang unik untuk keluarga Anda. Hiduplah dalam keberanian iman. "Do the best and He will do the rest.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Eunike
Penerbit: 
geocities.com/~eunike-net/01_10/01_05/antar.html

Komentar