Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Remaja, Mencari Identitas dan Pengakuan

Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak remajanya susah diajak bicara dan perilakunya sukar dimengerti.

Ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja. Pertama, identitas dan kepribadian. Sedang yang kedua, remaja membutuhkan pengakuan.

  1. Identitas dan Kepribadian

    Penulis pernah dititipi anak remaja. Dari percakapan terbuka dengannya, penulis mendapat informasi bahwa remaja ini pernah tertarik merokok karena memerhatikan bagaimana pemuda-pemuda pengangguran di depan rumahnya begitu menikmati menghisap rokok pada pagi hari.

    Satu kali, seorang remaja datang ke studio foto dengan potongan rambut seperti helm tentara Romawi kuno. Kepalanya dicukur klimis, kecuali bagian tengah rambutnya, dari depan ke belakang diatur tegak lurus. Barangkali ia salah satu pengagum tentara Romawi.

    Anak remaja memang seperti itu. Mereka akan berusaha tampil seperti idolanya. Kalau idolanya pemain sepak bola terkenal seperti David Backham, rambutnya akan dicukur mirip potongan rambut idolanya. Bahkan, anak remaja yang suka menonton film laga seperti Wiro Sableng, sering kali kakinya bergerak seolah menendang dan tangannya bergerak seolah-olah memukul atau menangkis pukulan. Dari sini terlihat bahwa anak remaja memang sedang mencari identitas diri.

    Yang pasti, idolanya bukan pribadi yang cengeng dan "memble", melainkan satu tokoh yang dianggapnya keren, gagah, dan populer. Ketika anak tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan idola dari ayah atau ibunya, mereka tidak sulit untuk mengambil tokoh idolanya dari tayangan tv, komik, atau majalah.

    Apakah orang tua pernah menyediakan waktu untuk berbicara secara jujur dan terbuka dengan anak remajanya sehingga mengerti benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan, serta kerinduan hatinya?

    Tidak sedikit orang tua yang menghadapi kesulitan karena sibuk bekerja, baik di luar maupun di dalam rumah sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk berbicara dengan anak remajanya. "Koran Tempo" pernah memuat hasil survei yang menyatakan bahwa 59% orang tua di London sulit berperan sebagaimana layaknya orang tua, seperti meluangkan waktu untuk anak (Senin, 19 Juli 2004, hlm. B1). Juga harus dibuang mitos yang dipegang kebanyakan orang tua bahwa anak kelak juga akan mendapat pengertian sendiri sesuai dengan tingkat kedewasaan umurnya.

    Sesungguhnya, remaja sangat membutuhkan bimbingan dan arahan untuk hidupnya. Berikan bimbingan dan pengarahan kepada remaja dengan kasih, tetapi tegas. Hindari cara memerintah dengan keras. Usahakan berbicara dengan sabar perihal hak dan tanggung jawab, pendidikan dan disiplin, juga hukum tabur-tuai. Misalnya, setiap sore ingatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, menyiapkan perlengkapan sekolah dan menaruh di meja belajarnya. Baru keesokan paginya diperiksa kembali sebelum dimasukkan ke dalam tas. Dengan cara itu, diharapkan tidak ada perlengkapan yang tertinggal. Demikian juga harus terus-menerus diingatkan untuk menyimpan pakaian, tas, sepatu di tempat yang disediakan agar tidak menimbulkan kesulitan ketika diperlukan.

    Penulis pernah menguping seorang remaja yang menelepon temannya. Ketika telepon tersambung dan di seberang sana ada yang mengangkat, ia segera bicara, "Halo, saya mau ngomong sama Nurdin." Setelah ia menelepon, penulis memberitahu, "Sebaiknya ketika telepon diangkat, katakan `selamat pagi` jika waktu itu pagi. Selanjutnya, dengarkan baik-baik suara lawan bicara. Jika nada suaranya tidak pasti apakah itu suara orang tua atau bukan, sapalah dengan sebutan `Pak` jika itu suara pria, dan `Ibu` jika itu suara wanita."

    Bimbingan dan arahan orang tua kepada remaja tidak hanya melulu perkara lahiriah dan berhubungan dengan sekolah maupun etika pergaulan, tetapi juga berkenaan dengan kehidupan iman yang sangat penting artinya dan sangat perlu diberikan untuk remaja dengan kasih, tetapi tegas.

    Ada seorang remaja diterima di salah satu SLTA. Setelah mulai bersekolah, dia mengetahui bahwa hanya dia sendiri yang beragama Kristen. Dia memilih keluar dan tidak bersekolah. Ia mengalami kecemasan karena sendirian beragama Kristen.

    Ada seorang lulusan SLTA diterima bekerja di salah satu instansi pemerintah. Ketika akan menjalani pendidikan prajabatan, dia memilih mengundurkan diri karena tidak ada teman lain yang beragama Kristen. Dia tidak memiliki keyakinan bahwa beragama Kristen akan memberikan jaminan rasa aman.

    Penulis bertanya kepada seorang remaja, "Apakah kamu dapat berdoa?" Jawabnya, "Sulit, sebab di rumah, Mama mengajar bahwa berdoa harus memakai bahasa yang sesuai dengan anak-anak, remaja, atau orang dewasa." Lalu penulis memberitahu bahwa berdoa itu tidak keluar dari pikiran, melainkan percakapan dari dalam hati kita kepada Tuhan Yesus. Alamat doa harus benar, yaitu Tuhan Yesus (Mzm. 62:8).

    Sangatlah strategis menanamkan kehidupan iman kepada remaja. Bahkan semestinya lebih dini lagi. Sejak kanak-kanak, mereka harusnya sudah diperkenalkan secara pribadi kepada Tuhan Yesus. Tidak perlu harus menunggu ketika mereka sudah beranjak remaja. Sejak balita, anak-anak dituntun untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, baik pada saat bangun tidur, sebelum tidur, sebelum makan, atau sebelum berangkat ke sekolah. Dan yang penting diperhatikan, anak-anak maupun remaja akan dengan mudah mengambil teladan hidup dari iman orang tuanya sendiri. Oleh sebab itu, orang tua patut hidup dalam iman dengan sungguh-sungguh. Setiap orang tua perlu memerhatikan perkataan Tuhan Yesus, "Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu dibuang ke dalam laut" (Mrk.9:42).

    Betapa seriusnya Tuhan Yesus memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada orang tua untuk membimbing dan mengarahkan anak kecil yang sudah dikaruniai iman kepada-Nya. Penyesatan yang menyebabkan anak berbuat dosa dapat dilakukan orang tua secara pasif atau aktif. Secara pasif, misalnya dengan cara orang tua tidak memberitahukan dan membimbing anak untuk melakukan hal yang benar; tidak memberikan teladan yang benar. Secara aktif, penulis menjumpai di suatu daerah gersang sewaktu musim palawija, anak-anak disuruh orang tuanya mencuri mentimun, terong, atau buah nangka untuk disayur. Atau anak disuruh berbohong dengan mengatakan ibunya tidak ada ketika tukang kredit datang menagih angsuran pembayaran.

    Pembentukan identitas dan kepribadian sedemikian penting pada masa remaja. Sehingga kelalaian dan pengabaian memberikan bimbingan dan arahan identitas hidup iman Kristen tentu akan memunyai pengaruh dan akibat yang jauh di dalam hidup remaja.

    Pembentukan kepribadian dapat diperoleh melalui didikan dan disiplin yang terus-menerus dengan sentuhan kasih. Didikan yang dimaksud bukanlah belajar di sekolah, melainkan didikan orang tua kepada anak sejak balita, anak-anak, dan remaja menuju dewasa. Remaja, bahkan sejak anak-anak, harus banyak mendapat didikan, pemberitahuan, informasi, nasihat, teguran, bahkan jangan dihindarkan hajaran atau disiplin bilamana diperlukan. Hajaran atau disiplin itu bisa berupa suatu hukuman tidak diberi uang saku untuk sementara waktu.

  2. Remaja Butuh Pengakuan

    Ada orang tua yang menyebutkan anak remajanya sangat cinta teman. Hampir sepanjang hari dan malam bersama teman-temannya sehingga sangat sedikit waktu berada di rumah, kecuali untuk tidur malam saja.

    Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Orang tua harus mampu meneropong penyebab yang mengakibatkan perilakunya demikian. Remaja mendapat tempat dan pengakuan sebagai satu pribadi, baik dalam hal mengemukakan pendapat maupun dalam mengekspresikan dirinya di antara sesama temannya. Mereka dapat dengan leluasa berbicara dengan sesamanya, dapat bercerita asyik mengenai idolanya, hobi, dan kesukaannya tanpa takut dicemoohkan atau diremehkan.

    Seorang remaja dengan jujur mengakui bahwa ia merasa lebih tenang dan khusyuk berdoa di gereja tetangganya daripada di gedung gereja lingkungannya sendiri di mana orang tuanya bergabung. Hal seperti ini memungkinkan terjadi di kota-kota. Janganlah hal seperti itu dipandang sebagai satu kesalahan yang perlu dicela, melainkan yang terpenting ialah bagaimana kita menyikapinya.

Sumber
Halaman: 
34 -- 37
Judul Artikel: 
Kalam Hidup, Edisi Januari 2005, Tahun ke-75 no. 707
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005

Komentar