Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bila Cinta Selalu Bergema

Edisi C3I: e-Konsel 154 - Mengolah Emosi

Sebuah kata yang paling banyak digunakan manusia sejak abad permulaan ialah kata "cinta". Getar-getar cinta menggerakkan orang tua atau seorang ibu merapatkan bayinya ke dadanya. Cinta membuat seorang anak tidak mau memisahkan diri dari lingkungan orang tuanya. Cinta telah menjalin hubungan yang erat secara batiniah antara ayah/ibu dan anak ketika mereka jauh terpisah. Cinta telah mengubah seorang pria yang kurang simpati menjadi orang yang simpatik manakala bertemu dengan seorang gadis yang menggetarkan jantungnya.

Seluruh kehidupan manusia dari abad ke abad diwarnai oleh ragam cinta. Bahkan, hewan sekalipun tampaknya mengenal perasaan cinta. Buktinya, induk binatang selalu melindungi anak-anaknya atau hewan jantan melindungi betinanya.

Kisah dan sejarah manusia bergelimang dengan nuansa cinta, kasih sayang, dan semacamnya. Para pengarang tidak pernah lepas dari tema cinta ketika menggarap dan menganyam kisahnya. Fabel-fabel dan dongeng dari dunia binatang pun kerap kali dijalin manusia dalam jalinan cinta.

Mengapa manusia dan binatang selalu dapat merasakan getaran cinta dan kasih sayang itu? Mengapa cinta dapat mengubah wajah lingkungan manusia dan dunia?

Ragam Cinta

Cinta memiliki banyak "wajah". "Wajah" itu memberi makna yang beraneka ragam. Manusia memilah-milahnya ke dalam berbagai hubungan yang terdapat dalam kehidupan dan perasaan manusia itu sendiri. Mulai dari masalah makan dan minum, sebagai bagian dari kebudayaan manusia, nada-nada cinta selalu bergema.

Orang yang mengadakan ramah tamah selalu menghidangkan makanan dan minuman yang mereka sukai. Orang yang memadu cinta dan membentuk keluarga sebagai akhir dari percintaan, merayakannya dengan makan dan minum. Banyak makanan dan minuman yang diberi nama atas nama "cinta". Kenduri atau pesta pernikahan sebagai puncak pernyataan cinta pengantin pria dan wanita, selalu diikuti dengan sajian yang menarik dan melambangkan cinta kasih. Gambar-gambar yang mengabadikannya selalu digambarkan dengan adegan cinta dari kedua makhluk manusia yang berbeda kelamin itu.

Cinta memang dinyatakan dengan bentuk yang berbagai macam, bahkan kendaraan pun tidak jarang digunakan sebagai pernyataan cinta, misalnya, dengan menyerahkan kunci kepada orang yang dikasihi. "Kado" kendaraan, sebagai lambang kasih sayang yang luar biasa, sering mewarnai cinta umat manusia. Cinta yang beragam materialisme, menurut kalangan anak-anak muda diberi ungkapan "cinta bau bensin" (bagi gadis yang menyukai seorang pria karena kendaraan atau kekayaannya). Monumen Taj Mahal adalah lambang cinta seorang raja kepada permaisuri yang sangat dicintainya, dan ia menginginkan lambang cinta itu "abadi" melintasi kurun waktu zaman.

Sesungguhnya, cinta itu bermuka sangat rumit, diberi makna dan konsep yang berbeda-beda. Manusia memberinya makna teologis, etika, filsafat, budaya, dengan tafsiran yang tidak serupa pula. Kadang-kadang satu pemahaman berbeda dengan pemahaman orang lain karena masing-masing bertolak dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Kadang-kadang ada juga konsep dan makna yang bertentangan sama sekali. Ada pula kajian yang bersifat filosofis, mulai dari konsep yang jelas dan gamblang sampai kepada konsep yang samar-samar. Kajian lain mungkin bersifat psikologi dan juga dari sudut etis.

Sudut Pandang Agama

Kisah penciptaan Adam dan Hawa tidak sepi dari aroma cinta. Adam diciptakan Tuhan belakangan. Taman dan segala isinya, termasuk juga hewan yang berpasang-pasangan diciptakan Tuhan demi kepentingan manusia dan lingkungannya. Adam diberi Tuhan daya ingat yang canggih karena ia mampu memberi nama kepada setiap makhluk hewan yang diciptakan Tuhan itu. Tentulah ada getaran cinta menggema dalam benak Adam ketika ia menyaksikan hewan yang berpasang-pasangan itu. Semuanya serba serasi dan indah. Tuhan memberi kemampuan yang luar biasa kepada Adam, bagaimana ia mengenali hewan itu satu per satu dan memberi nama kepada mereka. Padahal, ia tidak memiliki pengalaman untuk melakukan hal seperti itu.

Aroma cinta yang konkret muncul pada Adam ketika ia terbangun dan menemukan seorang gadis cantik berdiri di sampingnya, dan secara kodrati keduanya saling jatuh cinta. Manusia leluhur yang pertama itu tiba-tiba saja menjadi dewasa dalam segala hal karena Tuhan pun memberi perintah kepada mereka supaya "menjadi sedaging" dan hendaknya "memenuhi bumi". Tuhan yang menjadikan keduanya. Pada pandangan pertama itu, sudah ada getaran cinta di hati keduanya, jauh sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Tuhan sendiri yang menikahkan mereka.

Sejak itu, manusia pun berkenalan dengan sejumlah istilah cinta. Dunia ilmu ketuhanan (teologi) mengenal makna cinta itu dalam berbagai istilah yang kemudian dikenal orang sampai zaman sekarang ini. Adam "bergairah" memandang Hawa, dan ia mengasihinya seumur hidupnya, "baik dalam susah maupun senang".

Kita pun mengenal apa yang disebut dengan istilah "agape" (cinta kepada Tuhan).

Agape

Agape pada hakikatnya adalah jenis cinta yang suka berkorban demi kepentingan orang lain. Cinta telah mendorongnya melakukan sesuatu karena kasih Tuhan yang telah tertanam dalam hatinya. Cinta itu berpusat kepada pengorbanan diri yang tulus sebagaimana Tuhan mengasihi manusia sekalipun sering melakukan pemberontakan kepada-Nya. Cinta itu, menurut David Augsburger, memiliki ciri-ciri seperti berikut.

  1. Kebajikan

    Orang yang memiliki cinta agape akan memiliki kebajikan, yaitu mengasihi orang yang tidak dikasihi dan tersisihkan dengan menunjukkan sikap murah hati. Ia melakukan tindakan yang mengandung kemurahan yang cenderung altruistik, dengan mengasihi sesama tanpa pamrih. Orang yang memiliki kebajikan dalam hidupnya akan berusaha memikirkan kesejahteraan orang lain dengan tidak mengharapkan balasan dari orang tersebut. Dalam hatinya ada dorongan yang kuat untuk membantu dan menenteramkan hati orang lain.

  2. Penurutan

    Ciri lain dari agepe ialah nuansa suka menurut sebagai pernyataan kasih yang sejati. Ia menurut bukan karena paksaan dari luar atau karena adanya ancaman yang tidak diharapkan. Sebuah perintah moral mendorongnya dari dalam dan karena ia beriman kepada Kristus, ia menuruti perintah-Nya. Orang-orang yang memiliki cinta agape tidak akan menentang perintah dan hukum Tuhan karena kebebasan yang dimilikinya adalah kebebasan yang sempurna dalam penurutan bahwa Tuhan telah menciptakannya dan memberi kehidupan kepadanya. Tidak ada perintah Tuhan yang akan mendatangkan bencana pada hidupnya.

  3. Pengorbanan diri

    Orang yang rela berkorban demi orang lain, mendapat dorongan dari dalam, bukan karena keinginan secara lahiriah. Ia menyatakan kasihnya kepada orang lain dan siap menanggung risiko apa pun karena pernyataan cinta yang tulus itu.

    Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dengan melayani orang lain atau sesamanya melalui pengorbanan diri. Kalau melakukan sesuatu, ia tidak lebih dahulu meminta bantuan orang lain, melainkan menyatakan lebih dahulu tindakan yang bersifat membantu walaupun dengan biaya tinggi yang harus dilakukannya. Ingatlah orang Samaria yang membantu orang yang dirampok di tengah jalan, yang menemukan dan kemudian merawatnya, menaikkannya ke atas keledai, membawanya ke tempat yang tenang, dan biaya perawatannya dibebankan kepada dirinya sendiri.

  4. Kesetaraan

    Kasih agape mendorong orang untuk menganggap bahwa orang lain berharga, patut dihormati seperti menghormati diri sendiri, dan memikirkan adanya kesetaraan dirinya dengan orang yang tidak mampu atau dianggap hina oleh orang lain. Pertolongan yang diberikannya selalu tanpa pamrih. Ia tidak menilai dirinya lebih tinggi dan mulia daripada orang lain -- bahkan kepada orang yang memusuhinya pun ia senantiasa menunjukkan sikap yang ramah dan penuh dengan belas kasihan.

Demikianlah, dalam teologi kekristenan, kasih agape amat dominan, mencakup makna keadilan, kesejahteraan orang lain, dan tidak memihak karena ia beranggapan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan itu semuanya sama di hadapan Tuhan.

Kasih yang kristiani amat erat kaitannya dengan pemahaman atas penjelmaan Kristus sebagai manusia, yaitu sebagai pernyataan kasih, kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan-Nya. Tidak ada ruang waktu yang membatasinya karena ia terdapat dalam masa lalu, kekinian, dan masa mendatang yang kesemuanya itu bertumpu kepada wujud tubuh Kristus.

Eros

Cinta pandangan pertama Adam kepada Hawa dan sebaliknya, mungkin sekali mengandung makna cinta eros, cinta antara Adam yang pria terhadap Hawa yang wanita cantik. Kecantikannya terkait dengan estetika. Keindahan tubuh Hawa dan kesempurnaannya di hadapan Adam amat menggairahkannya, menimbulkan gairah seorang pria terhadap wanita. Itu pun termasuk dalam suasana "kasih yang rohani".

Filia

Sebagai manusia yang "zoon politicon" (manusia yang selalu bermasyarakat, tidak dapat hidup seorang diri saja), manusia mengenal cinta filia (phileo). Manusia mengasihi sesamanya, bukan hanya cinta sekadar antara pria dan wanita, melainkan pria pun mengasihi sesamanya, begitu pula wanita mengasihi temannya sesama wanita, dalam kasih persaudaraan, dalam suasana solidaritas sosial.

Storge

Orang yang memiliki kasih storge umumnya merasa peduli kepada sesamanya dan menaruh belas kasihan kepada mereka karena keharuan atas keadaan mereka. Khususnya mereka yang tidak dipedulikan sama sekali.

Koinonia

Kasih itu terdapat di dalam komunitas secara timbal balik -- pada masyarakat yang saling membagi dalam suasana memberi dan menerima atau karena dorongan persahabatan untuk mencapai tujuan yang sama, misalnya seperti yang terdapat di dalam 2 Korintus 13:14, "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian."

Agape dalam Kerangka Berpikir Filosofis

Kalau sebelumnya telah disebutkan makna agape secara teologis atau berdasarkan sudut pandang agama, dari sudut pandang filosofis, orang yang menganggap dirinya orang Kristen sejati dan memiliki kasih Allah di dalam dirinya selalu menjauhkan sifat memikirkan diri sendiri dengan menunjukkan penghargaan kepada orang lain sebagaimana ia menghargai diri sendiri. Ia memiliki rasa keadilan dan membantu orang lain berdasarkan kesetaraan atau kesamaan.

Dinamika Psikologis

Para psikolog mengembangkan teori sendiri mengenai cinta. Bahkan, teolog Paul Tillich mengatakan bahwa "cinta adalah ketegangan antara kesatuan dan keterpisahan". Ada hubungan antara yang rohani dan perasaan terasing. Kasih menjadi kuasa hidup yang menggerakkan untuk mempersatukan yang terpisah. Sigmund Freud secara khusus mengembangkan psikologi cinta dengan pisau bedah "psikologi analitik"-nya.

Kebutuhan secara individual mencari kesatuan dengan diri orang lain, tetapi tanpa mengorbankan kepentingannya atau melanggar identitas orang lain.

Menurut Fritz Perls, sesuai dengan teori Gestalt, ia mengatakan bahwa "mengasihi orang lain adalah bergerak sedekat mungkin tanpa melanggar orang lain sehingga ia kehilangan dirinya."

Kasih adalah lebih daripada keseimbangan dan proses yang aktif dari keadaan hubungan yang timbal balik. Psikologi hedonisme mengajarkan bahwa kasih adalah upaya pencarian kenikmatan untuk diri sendiri sambil menghindari penderitaan.

Bagaimana Makna dari Sudut Pandang yang Etis?

Norma-norma yang diciptakan oleh manusia mengikat mereka dalam hubungan satu dengan yang lain. Macam-macam pendapat dan pandangan masyarakat serta tokoh-tokohnya mengenai aturan perilaku atau etika dalam masyarakat. Namun kalau kita bisa menyimpulkan, konsep dasar etika Kristen adalah pernyataan belas kasihan, keabadian, pengorbanan diri, dan pengenalan atas kasih Allah yang tiada batasnya atau tanpa syarat.

Kesimpulan

Cinta kasih telah membuat manusia bertahan dalam hubungan yang akrab satu dengan yang lain. Tanpa cinta kasih, manusia akan segera lenyap dari permukaan bumi ini. Ketahanan dan kelestarian manusia, perjuangan mereka untuk bertahan dan menjadi penopang hidup, hanyalah berkat adanya kasih. Jika kasih tidak ada, iman pun tidak akan ada. Kalau tidak ada Tuhan yang memberi napas kehidupan kepada manusia -- sebagai pernyataan kasih-Nya yang tidak mengenal batas itu, manusia sudah lama lenyap dari permukaan bumi ini.

Kalau komunitas tidak mengenal kasih yang timbal balik, manusia akan menjadi tanpa pengharapan sama sekali. Masyarakat diikat oleh sifat memberi dan menerima, memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap sesamanya sehingga mereka menjadi satu kesatuan yang saling berimbang.

Cinta yang hanya menyenang-nyenangkan diri saja, mencari kenikmatan duniawi, tidak akan bertahan lama dan akan membawa bencana atas pelakunya. Sejak semula Tuhan menanamkan cinta kasih di dalam diri manusia, dan manusialah yang berhak untuk mengembangkannya, apakah sesuai dengan citra Tuhan atau tidak sama sekali.

Berbahagialah orang yang dapat menggemakan cinta menjadi saluran berkat kepada sesamanya.

Sumber
Halaman: 
7 -- 12
Judul Artikel: 
Kalam Hidup, Edisi Februari 2005 Tahun ke-75 No. 708
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005

Komentar