Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengobati Kesepian

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin hidup dalam kesepian. Penting untuk diketahui bahwa kesepian berbeda dengan menyepi. Nah, jika saat ini Anda sedang kesepian atau ingin menolong orang yang kesepian, simak ringkasan tanya-jawab dengan Pdt. Paul Gunadi, Ph.D berikut ini!

T : Adakah ciri-ciri tertentu orang yang kesepian?

J : Mungkin saja orang yang sehat itu tidak merasa sepi, namun tidak menutup kemungkinan adanya situasi tertentu yang bisa terjadi dalam hidup kita itu. Misalnya, berpisah dengan lingkungan, orang-orang dekat dan kita sayangi, akan mengguncang hidup kita. Meskipun kita puas dengan hidup kita, mempunyai relasi dengan Tuhan yang akrab, tapi kondisi tertentu bisa benar-benar cukup mengguncangkan kita dalam kesepian itu.

T : Apakah orang yang suka menyepi mengalami kesepian juga?

J :

Ada perbedaan antara menyendiri dan kesepian. Kadang-kadang kita memang butuh menyendiri karena terlalu lelah berhubungan dengan manusia secara terus-menerus. Menyendiri dalam pengertian kita berarti mengumpulkan kembali kekuatan yang telah terkuras habis dan ini adalah sesuatu yang positif.

Kesepian bukan seperti itu sebab kesepian merupakan reaksi terhadap kesendirian di luar kehendak pribadi. Kita tidak menginginkannya, namun mengalaminya. Menyendiri itu atas dasar pilihan pribadi; kita memang merencanakan untuk menyendiri. Sedangkan kesepian merupakan reaksi, perasaan yang keluar terhadap fakta bahwa kita ini sendiri dan tidak menginginkan untuk sendiri di saat ini. Itulah bedanya.


T :

Bagaimana dengan orang-orang yang meskipun di tengah-tengah keramaian masih bisa merasa kesepian?


J :

Ini membuktikan bahwa kesepian itu bisa terjadi di tengah orang banyak atau di suasana hiruk-pikuk sebab kesepian adalah sebuah perasaan, bukan sebuah situasi atau kondisi. Maka ketika orang- orang yang mengalami kesepian diajak ke sana, ke sini, ke tengah- tengah keramaian, mereka tetap saja kesepian. Dia akan murung, dia tidak akan cerah, dan tidak bisa menikmati keramaian itu. Justru rasanya tidak betah, ingin tergesa-gesa pulang kembali ke rumah dan diam kembali di rumah, di dalam keheningan. Kita yang di luar mungkin tidak mengerti dan berkata "hening itu sepi", tetapi sebenarnya berbeda. Hening dengan hiruk-pikuk itu benar-benar tidak relevan dalam hal kesepian sebab kesepian adalah sebuah reaksi, sebuah perasaan yang keluar terhadap kesendirian yang tidak kita kehendaki.


T : Bagaimana kita bisa menolong orang yang kesepian itu?

J :

Obat kesepian bukanlah keramaian, melainkan KEINTIMAN. Sebagai makhluk sosial kita merindukan relasi yang intim dengan sesama dan kesepian adalah reaksi terhadap tidak adanya keintiman dalam hidup kita itu. Jadi, kita tetap bisa kesepian meskipun dari pagi sampai sore kita bekerja dan bertemu dengan rekan-rekan kerja. Di gereja pun kita kesepian. Mengapa demikian? Sebab tidak ada teman atau sahabat yang akrab dan intim dengan kita. Untuk bisa menjalin relasi yang intim kita harus berani mengundang orang masuk menempati ruang hati kita dan sebaliknya, kita pun mesti masuk ke dalam ruang hidup orang itu. Relasi intim benar-benar dua arah. Dalam kondisi seperti inilah kesempatan atau kemungkinan kita merasa kesepian hampir tidak ada.


T : Kalau ada seseorang yang datang pada kita dan secara terus terang menyatakan kesepiannya, apa yang kita lakukan untuk menolongnya?

J :

Kita bisa bertanya, "Apakah Anda berkeberatan jika saya datang ke rumah?" Tadi sudah kita singgung bahwa tidak semua orang yang kesepian sebetulnya mengizinkan orang masuk ke dalam kehidupannya. Jadi, kita memang harus bertanya. Kita mesti meminta izin, apakah dia tidak berkeberatan jika kita memasuki kehidupannya. Kalau dia berkeberatan kita mengunjunginya, kita bisa bertanya, "Apa boleh nanti saya menghubungi Anda via telepon saja?" Itulah beberapa hal yang bisa langsung kita lakukan secara konkret.


T :

Bagaimana jika kita melibatkan mereka dalam beberapa organisasi atau aktivitas atau di gereja supaya dia bisa merasakan kehangatan, perhatian orang, dan lain sebagainya?


J :

Tentu kita bisa mengajak dia ke tempat yang lebih ramai, misalnya ke persekutuan di gereja dan biarkanlah teman-teman yang lain juga menyapanya dan mungkin kemudian sesekali meneleponnya. Biarlah teman-teman itu secara alamiah mulai menghubunginya. Mudah-mudahan dari situ dia makin merasa disambut dengan baik. Atau kita bisa katakan pada orang yang kesepian dan tidak mau membuka diri itu, "Saya lihat Anda sedang susah. Saya tidak tahu apa masalah Anda, tapi silakan menghubungi saya kalau mau berbincang-bincang. Saya ingin sekali membantu Anda. Atau, kalau Anda perlu untuk pergi atau perlu bantuan, saya bersedia menemani Anda". Cara yang lain lagi, kita bisa katakan, "Saya melihat Anda dalam kesusahan. Saya tidak tahu apakah Anda mau membicarakan masalah Anda atau tidak, tapi saya akan mendoakan Anda". Ucapan-ucapan seperti itu bisa menyejukkan hati orang yang sedang kesepian.


T : Apakah seseorang yang mengalami kesepian juga kehilangan rasa percaya dirinya?

J :

Biasanya ya. Pada saat kesepian, dia akan kehilangan keyakinan bahwa dirinya bisa efektif dalam hidup ini, bahwa dia bisa melakukan hal-hal yang tadinya bisa dia lakukan dengan baik. Dia kehilangan kepercayaan diri sebab memang tiba-tiba dia merasa kehilangan semua. Dan salah satu kehilangan yang sering dialami oleh orang adalah kehilangan akan Tuhan. Orang itu beranggapan Tuhan pun telah meninggalkannya, tidak lagi menghiraukannya. Jadi, ia benar-benar kehilangan semua. Nah, jangan sampai kita makin membuat diri kita terpuruk. Oleh sebab itu, tanggung jawab ada di pundak kita sendiri. Pertanyaan yang harus kita tanyakan adalah "maukah saya mengambil risiko untuk memulai relasi dan meningkatkannya sampai pada tahap keakraban atau keintiman?" Akhirnya, terpulang pada kita lagi. Kita tidak bisa berharap semuanya berubah dengan sendirinya; kita juga harus melangkah. Jadi, tanggung jawab itu ada pada pundak sendiri.


T : Apakah nasihat firman Tuhan tentang kesepian ini?

J :

Firman Tuhan di Amsal 18:24 berkata, "Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara." Memang ada kalanya demikian. Artinya, kita dianugerahi Tuhan kesempatan untuk membangun relasi, bukan saja dengan saudara-saudara kita, tetapi juga dengan teman-teman. Persahabatan dengan mereka bisa lebih dekat daripada dengan saudara-saudara kita. Jadi, silakan keluar dari tempurung kita. Bangunlah relasi dan biarkan Tuhan memakai orang-orang ini untuk memperkaya hidup kita pula.


Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T161B
Penerbit: 
--

Published in e-Konsel, 02 May 2006, Volume 2006, No. 111


Komentar