Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Keputusan

Edisi C3I: e-Konsel 119 - Bagaimana Mengambil Keputusan yang Sesuai dengan Kehendak Allah

Seperti diingatkan oleh Pengkhotbah 3:1, ada waktu untuk segala sesuatu di bawah kolong langit. Ada waktu untuk menyembah, ada waktu untuk mengumpulkan informasi, ada waktu untuk berdoa, ada waktu untuk berkonsultasi, ada waktu untuk meditasi--dan ada pula waktu untuk membuat keputusan. Kadang Allah memberi kita waktu yang begitu berlimpah untuk membuat keputusan, kadang begitu singkat. Namun, waktu untuk membuat keputusan itu berada dalam kendali Allah sehingga ketika tiba waktu untuk membuat keputusan, itu adalah bagian dari rencana-Nya. Keputusan yang kita ambil mengikuti langkah-langkah pertumbuhan Kristus sendiri ketika Allah mengubah kita seturut gambar-Nya (Roma 8:29). Lukas 2:40 menggambarkan pertumbuhan Yesus hingga berusia dua belas tahun: "Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya." Ayat ini secara tepat menampakkan dimensi rohani dari kekuatan Yesus. Lukas juga berbicara seperti itu mengenai Yohanes Pembaptis yang bertambah kuat dalam roh saat ia tinggal di padang gurun (Lukas 1:80).

Bertumbuh dalam hikmat merupakan model ilahi, bukan perubahan yang terjadi secara instan. Bertumbuh dalam pemahaman yang tepat atas kehendak Allah (Kolose 1:9-10) tampak dalam diri mereka "yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat" (Ibrani 5:14). Pelatihan indera moral ini dicapai sebagian melalui masa pembuatan keputusan yang Allah wajibkan bagi kita. Kita "dipaksa" untuk memutuskan bagaimana kita merespons permasalahan relasi, prioritas keuangan, keterbatasan, komitmen waktu kita di tempat kerja, rumah, gereja, sasaran jangka panjang kita, panggilan kita terhadap pelayanan tertentu, dan investasi kemampuan kita dalam pekerjaan.

Sering kali waktu membatasi keputusan-keputusan yang menuntut pertumbuhan iman yang sejati. Kita kadang "tidak sependapat" dengan Allah dalam hal apakah Ia telah menyediakan informasi yang cukup bagi kita untuk membuat keputusan yang baik dalam jangka waktu yang ada. Ada saatnya kita menghadapi keputusan yang monumental sementara kita kekurangan kepingan informasi yang penting.

Seorang komandan militer menghadapi tantangan ini dalam peperangan. Dalam perang saudara, Robert E. Lee harus memutuskan apakah ia akan menyerang pasukan koalisi yang sedang menggali lubang perlindungan di dataran tinggi Gettysburg. Jendralnya (Longstreet) sangat merekomendasikan untuk mundur dan menggali lubang perlindungan di dataran tinggi antara Gettysburg dan Washington, dan memaksa pasukan koalisi untuk terlebih dulu menyerang. Jeb Stuart (pimpinan staf pasukannya) "menghilang" sehingga Lee tidak tahu ukuran kekuatan yang sedang dihadapinya. Ia tidak tahu bahwa kekuatan lawan berkembang dengan cepat. Apakah ia harus menunggu dan mendapatkan informasi dari Stuart ataukah ia harus menyerang sekarang? Ataukah ia harus memakai taktik mundur seperti yang dianjurkan Longstreet? Lee percaya bahwa pasukan terbaik yang akan menang dan bahwa dalam perang saudara tidak seharusnya mundur ke arah yang tidak menentu, maka ia memerintahkan serangan. Tetapi Lee kalah dalam perang di Gettysburg tersebut.

Bila ditinjau kembali, Longstreet telah mengajukan taktik yang benar. Ia paham bahwa pasukan yang bertahan memiliki keuntungan strategis karena tersedianya persenjataan baru dalam perang saudara tersebut. Namun, keputusan Lee mungkin ditarik dari hikmat yang lebih tinggi. Ia percaya bahwa untuk memenangkan suatu perang, seseorang harus benar-benar berjuang. Ia telah berada dalam posisi bertahan sampai saat itu dan selalu menang. Tapi kemenangan karena bertahan tidak pernah menghentikan serangan pasukan koalisi.

Lee tahu ia harus mempercepat pertempuran menentukan yang akan mengakhiri perang itu (Shaara 1996: 488). Baginya, perang yang semakin lama akan mempertaruhkan ribuan nyawa tambahan dan memungkinkan pasukan koalisi menghabiskan sumber yang dimiliki negara-negara bagian konfederasi. Ia menghendaki perang itu ditentukan dengan segera, bahkan sekalipun ia mungkin harus kalah. Kekalahan di Gettysburg mengakhiri perang tersebut dan mengakhiri konflik paling berdarah pada abad itu. Dalam pengertian yang lebih tinggi, Lee mungkin saja telah melakukan perkara yang "bijaksana". Allah mungkin menjawab doa Lee yang memohon pertolongan-Nya dengan cara yang melampaui jangkauan pemahaman Lee sendiri.

Inti cerita ini adalah Lee terpaksa membuat sebuah keputusan tanpa mendapatkan informasi yang sangat penting. Ia taat pada panggilannya sebagai komandan pasukan Virginia Utara dan maju terus serta membuat keputusan yang sulit ketika memang dibutuhkan. Keyakinannya pada providensi Allah dan ketaatannya pada panggilannya merupakan batu fondasi yang memampukannya untuk mengambil keputusan dalam keadaan yang diberikan Allah kepadanya.

Sebagai orang Kristen, kita membuat keputusan dalam dunia yang sangat berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Kita mengambil keputusan sebagai suatu pertanggungjawaban atas panggilan Allah kepada kita (sebagai orangtua, pasangan, pekerja, dll). Allah telah memercayakan waktu, talenta, orang, dan kesempatan kepada kita, dan menginginkan kita menghormati keinginan-Nya untuk melihat semua sumber tersebut digunakan bagi rencana-Nya.

Dalam Lukas 19:11-27, Kristus mendorong kita untuk tidak menunda atau menghindari keputusan karena takut melakukan kesalahan. Dalam perumpamaan tentang talenta, orang yang menerima hanya satu talenta menyembunyikan talenta itu di dalam tanah. Ia tidak menginvestasikan talenta itu karena takut kehilangan. Hamba yang tidak setia itu membela diri dengan mengatakan bahwa ia tahu tuannya adalah seorang yang "kejam", yang terkenal suka mengharapkan hasil yang mustahil (lihat ay. 20). Tuan itu menghukum hamba yang takut itu, mengingatkannya bahwa jika ia memang benar-benar takut pada tuannya, ia tentu akan mengambil risiko yang perlu untuk memenuhi rencana tuannya, yaitu memberikan hasil dari investasi. Sebaliknya, hamba itu justru berusaha melindungi dirinya sendiri.

Keputusan membuat kita terbuka pada risiko melakukan kesalahan, namun jika kita mengizinkan hal itu mengendalikan ketaatan kita, ini berarti kita lebih melayani diri sendiri ketimbang melayani Allah. Dallas Willard mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita harus melawan godaan memakai bimbingan untuk mengamankan diri dari risiko (Willard 1993: 226-27). Sebaliknya, Allah sering menghendaki kita untuk berani membuat keputusan. Orang percaya membuat keputusan berdasarkan hikmat yang disediakan Allah dan janji pemeliharaan-Nya, serta maksud penebusan-Nya.

Suatu keputusan yang saleh harus ditandai dengan keberanian dan keyakinan, "sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2Timotius 1:7). Keyakinan kita dalam membuat keputusan yang sulit tidak pernah didasarkan pada pengetahuan seperti yang Allah miliki tentang situasi atau hasilnya. Keputusan itu juga tidak didasarkan pada kompetensi kita sendiri, namun pada keyakinan bahwa kita berada dalam providensi Allah dan kita sedang mengejar maksud-Nya bagi hidup kita. Kita adalah bejana tanah liat, namun kita didiami oleh Yang Mahakudus untuk menghendaki dan melakukan kehendak-Nya yang baik. Pengambilan keputusan yang kita lakukan merupakan bagian dari proses-Nya.

Oleh sebab itu, bagi orang Kristen yang membuat keputusan, dunia ini adalah tempat yang sangat berbeda dari apa yang dirasakan oleh orang non-Kristen. Kita telah melihat bahwa dunia adalah suatu tempat pertanggungjawaban kita kepada Allah sebagai pelayan atas segala sesuatu yang telah diberikan-Nya. Dunia ini adalah tempat kita dipanggil untuk membuat keputusan yang bersifat pelayanan dan yang bertujuan untuk melaksanakan maksud-Nya.

Dunia juga merupakan tempat yang aman bagi orang Kristen untuk membuat keputusan karena terdapat pagar pengaman berupa providensi Allah yang berdaulat. Pengendalian yang misterius ini tidak hanya melindungi anak-anak Allah tetapi juga memakai setiap peristiwa untuk mengubah hati mereka semakin serupa dengan gambar-Nya. Karena itu, sikap takut akan Allah sekaligus kedamaian dan ketenangan yang mendalam ketika kita membuat keputusan yang diwajibkan bagi kita, bisa muncul bersama-sama.

Tidak ada jasa manusia dalam menentukan keputusan yang sulit. Ketika data yang ada tidak jelas dan Allah memberikan waktu tambahan untuk menentukan keputusan, kita harus belajar menunggu dengan sabar sementara kita mencari hikmat atau informasi yang penting. Dinamika itu berakar pada pengharapan bahwa Allah akan memberikan hikmat dan arahan saat kita memintanya. Kita mengharapkan kejelasan; kita terus mencari pengertian hingga hal itu diberikan. Allah dapat mengesampingkan prosesnya, namun tugas kita adalah untuk mengharapkan pembekalan-Nya.

Beberapa waktu lalu, saya menggumulkan arah masa depan pelayanan saya. Saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan segala hal yang dapat saya lakukan untuk mencari pengertian. Namun, selama tiga tahun jawaban itu tidak kunjung datang. Syukurlah, saya tidak harus membuat keputusan dengan segera, jadi saya tetap menunggu. Saya terus mendoakan hal itu dan merenungkan hal-hal terkait. Kira- kira setahun kemudian jawaban itu datang. Allah mengaruniakan pengertian yang saya perlukan. Saya melihat arah yang harus saya tuju dan cara menuju ke sana. Tentu seperti semua rencana kita lainnya, rencana ini terbuka bagi koreksi Allah. Intinya, bagian saya dalam proses tersebut selesai setahun sebelum Allah memberikan jawaban. Saya harus menunggu selama itu sebelum dapat melihat jalan yang harus saya tempuh.

Dengan memahami karakter Allah kita, kerumitan hidup manusia, dan kekacauan yang ditimbulkan oleh karena dosa, kita seharusnya tidak terkejut jika pengertian yang sejati tidak datang secara tiba-tiba. Kita tidak boleh menyerah jika semuanya tetap tidak jelas bagi kita setelah usaha pertama kita untuk membuat keputusan. Allah mau kita terus mengejar pengertian sampai tiba waktunya bagi kita untuk mengambil keputusan. Mengejar hikmat dengan penuh kesabaran akan membuat kita lebih baik dalam mengasihi sesama dan melayani Allah, dan itu sungguh-sungguh benar dan dihargai oleh Allah.

Yakobus 1:5 juga menasihati kita untuk tidak merendahkan diri sendiri jika kita pernah membuat keputusan-keputusan yang mengerikan. Allah menjanjikan hikmat dengan murah hati kepada semua yang mengejarnya dengan hati yang tulus. Yakobus secara khusus berkata bahwa Allah memberikan kepada semua yang meminta dan Ia tidak membangkit-bangkit. Inilah permohonan yang Allah hargai di seumur hidup kita.

Sumber
Halaman: 
247--252
Judul Artikel: 
Selangkah Demi Selangkah: Bimbingan Ilahi bagi Setiap Orang Kristen, Juli 1992
Penerbit: 
Momentum, Surabaya 2004

Komentar