Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagaimana Merawat Orang Sakit

Edisi C3I: e-Konsel 080 - Merawat Orang Sakit

Pembaca setia e-Konsel, kali ini Kolom TELAGA hadir dengan format yang berbeda dari biasanya. Di edisi ini, Kolom TELAGA tidak kami sajikan dalam bentuk ringkasan tanya jawab, melainkan dalam bentuk artikel. Artikel ini kami ringkaskan dari tanya jawab dengan narasumber Dr. Vivian Andriani Soesilo, seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, didampingi oleh dr. Yanti. Adapun materi yang kami sajikan adalah berupa ringkasan kesaksian dari dr. Yanti dan Dr. Vivian dalam merawat orangtua mereka yang sakit serta hal-hal penting apa saja yang perlu diperhatikan dalam merawat orang sakit. Tanpa perlu penjelasan yang panjang lebar lagi, silakan langsung menyimaknya!

BAGAIMANA MERAWAT ORANG SAKIT?

Berikut ini adalah pengalaman merawat orang sakit yang diceritakan oleh:

Ibu Yanti:

Pada waktu saya masih SMA, papa saya mengalami stroke. Mula-mula, stroke itu mengakibatkan papa saya lumpuh separuh badan, dia masih bisa berbicara dan merawat dirinya sendiri. Papa orang yang sibuk, dan karakternya keras, sehingga sulit baginya untuk pulih, dan penyakitnya pun semakin progresif. Ia terkena stroke berulangkali, sehingga akhirnya mengalami kelumpuhan kiri-kanan atau pseudobulber. Makan pun jadi susah, seperti dipaksa masuk karena otot lidahnya sudah kaku. Berjalan pun harus dipapah, lama-lama lumpuhnya bukan semakin lemas, tetapi semakin kaku dan bagi orang yang memapahnya, pasti terasa berat sekali. Mama sendirilah yang sehari-hari merawatnya, karena papa justru tidak mau dirawat oleh orang lain. Mula-mula, papa masih bisa makan, tapi lama-kelamaan tidak bisa makan. Buang air besar harus dikorek karena saraf pengontrol pembuangannya sudah lumpuh. Kadang-kadang, tidurnya juga tidak teratur, saat kami hendak tidur, dia malah terjaga. Waktu kami sudah tidur, dan dia mau buang air atau yang lainnya, dia memanggil- manggil kami, dan kami harus bangun.

Ibu Vivian:

Mama saya sakit kanker sudah cukup lama, setelah 13 tahun menderita sakit, akhirnya ia meninggal. Saya melihat sendiri bagaimana perjuangan mama, dan saya juga sempat merawatnya. Ada waktunya untuk merawat dengan sungguh-sungguh, tapi ada juga waktunya untuk beristirahat. Biasanya, orang sakit minta dirawat oleh orang yang dicintai, seperti mama saya dulu, beliau tidak mau dibantu oleh perawat, beliau meminta anaknya sendiri yang membantu di RS, termasuk urusan buang air. Dalam hal ini, saya rasa kekompakan di antara saudara itu penting sekali, karena ini adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Jika tidak, ini akan menjadi beban bagi saudara-saudara yang lain. Kami sebagai anak, secara bergantian merawat mama di situ, jadi kadang suster yang merawat, dan kadang kami, anak-anaknya. Ketika kita sedang bersama dengan orang yang sakit, maka harus sungguh-sungguh 100% merawat, tapi juga ada waktunya keluar sebentar, ya ... untuk bernafas sedikitlah. Bila si sakit itu sedang emosi, seharusnya kita yang merawat tidak boleh ikut-ikutan emosi, keluar dulu dari kamarnya dan kalau emosi sudah reda, baru kita masuk lagi. Jika kita selalu memikirkan apa yang dia lakukan, maka kita akan berpikir seperti "Kok tidak tahu berterima kasih, malah marah-marah." Dan kalau kita ladeni pasti akan terjadi "perang", karena sama-sama emosi, sehingga terjadi gesekan yang keras. Di dalam merawat orang sakit, orang yang mendampingi sedikit banyak harus tahu apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya, dan sebagainya.

Dari dua kesaksian di atas, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merawat orang sakit, yaitu:

  1. Yang paling tepat dan seharusnya merawat orang yang sakit adalah pihak keluarga dan perawat.

  2. Usahakanlah untuk terus berkomunikasi dengan orang yang sakit.

  3. Merawat orang sakit bukan hanya sekadar melakukan tugas, tetapi kita juga harus bisa menumbuhkan kasih dalam merawatnya. Jadi, dalam merawat orang sakit harus ada kasih.

  4. Baik orang yang merawat maupun yang dirawat harus mempersiapkan hati untuk menghadapi apa yang akan terjadi di kemudian hari.

  5. Satu hal penting yang bisa kita lihat dari pengalaman merawat orang sakit ini, adalah kasih. Kasih yang sering kita alami perlu dibagikan kepada orang sakit. Dan juga kepada orang-orang yang di sekelilingnya, karena dalam keadaan demikian semua pasti menjadi lebih peka. Kita harus menyadari bahwa yang sakit ini perlu mendapat prioritas yang lebih untuk merasakan kasih Tuhan melalui kita.

  6. Percaya bahwa segala sesuatu yang dikerjakan bersama-sama dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T035A
Penerbit: 
--

Komentar