Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Konseling Krisis

Edisi C3I: e-Konsel 022 - Konseling Krisis

Untuk terlibat dalam pelayanan krisis, kita harus mengerti betul tentang arti krisis itu. Webster mendefinisikan kata krisis sebagai suatu "masa yang gawat/kritis sekali" dan "suatu titik balik dalam sesuatu". Istilah ini sering digunakan untuk suatu reaksi dari dalam diri seseorang terhadap suatu bahaya dari luar. Suatu krisis biasanya meliputi hilangnya kemampuan untuk mengatasi masalah selama sementara waktu, dengan perkiraan bahwa gangguan fungsi emosi dapat kembali seperti semula. Jika seorang mengatasi ancaman itu secara efektif, maka ia dapat kembali berfungsi seperti keadaan sebelum krisis.

Huruf Tionghoa untuk krisis terdiri atas dua lambang; yang satu melambangkan keadaan tanpa harapan dan yang lain melambangkan kesempatan. Apabila para dokter berbicara tentang krisis, yang mereka maksudkan ialah saat-saat terjadinya perubahan dalam suatu penyakit, entah perubahan menjadi baik atau perubahan menjadi lebih parah. Apabila seorang konselor berbicara tentang suatu krisis pernikahan, yang mereka maksudkan ialah titik balik ketika pernikahan itu bisa menuju ke dua arah: arah menuju pertumbuhan, keindahan, dan perbaikan, atau menuju ketidakpuasan, penderitaan, dan dalam beberapa hal, tanpa penyelesaian.

Apabila orang berada dalam keadaan tidak seimbang karena peristiwa yang terjadi, mereka mengalami suatu krisis. Istilah ini sering kali disalahgunakan karena dipakai untuk peristiwa yang menjengkelkan yang terjadi tiap-tiap hari. Istilah stres dan krisis dipakai dengan cara dipertukartempatkan tetapi secara salah.

Suatu krisis dapat disebabkan oleh satu atau beberapa faktor. Krisis dapat merupakan suatu masalah yang terlalu besar atau hebat, misalnya mengalami kematian seorang anak. Krisis dapat juga merupakan masalah yang tidak serius bagi kebanyakan orang, tetapi untuk orang-orang tertentu mempunyai arti khusus sehingga menjadi masalah yang hebat sekali. Krisis dapat merupakan suatu masalah yang terjadi pada waktu orang dalam keadaan rentan atau ketika orang tersebut tidak siap untuk hal itu. Orang-orang biasanya mengatasi masalah tersumbatnya bak tempat cuci piring atau W.C. seperti tanpa kesulitan. Tetapi jika hal ini terjadi ketika mereka sakit, mereka bisa merasa tidak berdaya. Ini dapat terjadi apabila mekanisme normal dari seseorang untuk mengatasi masalah tidak berfungsi dengan baik, atau ketika orang itu tidak mendapat bantuan dari orang lain yang ia butuhkan.

Krisis tidak selalu buruk. Sebaliknya krisis menunjukkan suatu titik yang sangat penting di dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu krisis dapat membawa kesempatan, dan juga bahaya. Waktu orang-orang mencari metode-metode untuk menanggulangi krisis, mereka dapat memilih jalan kehancuran -- tapi mereka dapat juga menemukan suatu metode baru yang lebih baik untuk menganggulangi masalahnya daripada metode yang mereka punyai sebelumnya.

Jadi kita melihat bahwa krisis mempunyai empat unsur yang jelas.

UNSUR-UNSUR YANG UMUM DALAM KRISIS
Unsur yang pertama adalah kejadian yang penuh risiko. Ini adalah kejadian yang mengawali suatu reaksi berantai dari kejadian- kejadian yang mencapai puncaknya dalam suatu krisis. Seorang istri yang masih muda yang bersiap-siap menghadapi kariernya selama tujuh tahun sekarang menemukan dirinya hamil. Seorang mahasiswa tahun terakhir yang menyerahkan dirinya untuk bermain sepak bola selama waktu kuliahnya agar dipilih sebagai pemain profesional, mengalami kecelakaan sehingga pergelangan kakinya hancur. Seorang duda yang memelihara lima orang anak pra remaja kehilangan pekerjaannya dalam suatu profesi yang sangat khusus. Semua orang yang disebut di atas mempunyai banyak persamaan. Adalah penting bagi orang-orang yang berada dalam krisis dan bagi para penolong untuk mengenal peristiwa- peristiwa yang menimbulkan krisis itu.

Unsur yang kedua adalah keadaan rentan. Tidak semua peristiwa ini membawa seseorang kepada suatu krisis. Kalau orang tidak rentan, pasti krisis itu tidak mungkin terjadi. Tidak tidur dua malam saja bisa membuat seorang menjadi rentan terhadap suatu situasi yang biasanya dapat ia tanggulangi tanpa kesulitan. Keadaan sakit dan tertekan menyebabkan mekanisme untuk mengatasi masalah makin menurun. Baru-baru ini saya berbicara dengan seorang wanita yang ingin melepaskan anak angkatnya, membatalkan suatu peristiwa pengumpulan dana yang penting dan meninggalkan usahanya. Ia sedih karena ada ancaman suatu kehilangan lain dalam hidupnya. Saya mengatakan kepadanya untuk tidak membuat keputusan selama ia mengalami depresi, karena keputusan-keputusan itu sering disesalkan kemudian.

Unsur ketiga adalah faktor yang menimbulkan krisis tersebut. Cara lain untuk mengatakan hal ini ialah bahwa ini adalah faktor terakhir yang ditambahkan pada faktor-faktor lain. Sebagian orang kelihatannya dapat menguasai diri pada saat dilanda kehilangan yang cukup berat atau kehancuran hati, tetapi kemudian mereka ambruk karena suatu persoalan kecil saja. Ini merupakan persoalan yang terakhir, tetapi reaksi dan air mata saat itu merupakan tanggapan terhadap kehilangan yang cukup berat sebelum itu.

Unsur yang terakhir adalah keadaan krisis yang aktif. Ketika seseorang tidak dapat lagi mengatasi situasi, maka krisis yang aktif dapat berkembang. Ada beberapa petunjuk tentang keadaan ini.

  1. Ada gejala-gejala stres -- secara psikologis, fisiologis, atau kedua-duanya. Ini dapat termasuk depresi, sakit kepala, kegelisahan, luka lambung. Selalu ada suatu jenis kegelisahan yang ekstrem.

  2. Ada sikap panik atau gagal. Orang itu mungkin merasa bahwa ia telah berusaha sekuat tenaga, namun tidak ada hasilnya. Karena itu ia merasa seperti seorang yang gagal -- kalah dan tidak berdaya. Tidak ada harapan. Ia mempunyai dua jalan untuk menanggapi hal tersebut saat ini: pertama, menjadi terdorong untuk berperilaku yang tidak produktif, misalnya: mengikuti arus zaman, mabuk-mabukan, memakai obat bius, kebut-kebutan, atau terlibat dalam suatu perkelahian. Jalan yang kedua adalah menjadi acuh tak acuh atau apatis. Satu contoh adalah tidur terus- menerus.

  3. Fokusnya adalah pada pembebasan. "Keluarkan aku dari keadaan ini!" merupakan keinginan dan jeritannya. Ia ingin lepas dari penderitaan karena stres tersebut. Kondisinya tidak memungkinkan dia untuk bertindak secara rasional dalam menghadapi masalah itu. Kadang-kadang seseorang yang berada dalam keadaan krisis kelihatan bingung atau bahkan memberikan reaksi dengan cara yang aneh-aneh. Dalam usaha-usaha mereka, mereka dalam keadaan agak kalut sehingga mengharapkan orang lain untuk menolong. Mereka mungkin akan terlalu bergantung kepada orang lain untuk menolongnya keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.

  4. Pada masa itu efisiensi menurun. Orang-orang dalam krisis yang aktif mungkin akan tetap berfungsi secara normal, tetapi daya bereaksi mereka yang seharusnya 100% mungkin menurun sampai sekitar 60%. Semakin besar ancaman dari penilaian orang itu akan situasi yang dihadapi, semakin kurang efektif kemampuannya untuk mengatasi. Mereka mungkin sadar akan hal ini yang selanjutnya mematahkan semangat mereka.

Aspek penilaian terhadap suatu situasi merupakan bagian penting dari rangkaian krisis. Penilaian itulah yang "didapat" orang dari suatu peristiwa. Setiap pribadi mempunyai cara sendiri dalam melihat suatu peristiwa. Kepercayaan-kepercayaan, ide-ide, harapan-harapan, dan daya memahami dari orang itu, semua bertemu pada saat ini untuk mengevaluasi apakah suatu keadaan merupakan krisis atau bukan krisis. Dan adalah penting bahwa orang-orang dibantu untuk mencoba melihat peristiwa itu melalui mata mereka sendiri dan bukan melalui mata Anda. Meninggalnya seorang sahabat akrab dapat dinilai dari beberapa segi: bagaimana akrabnya hubungan itu sendiri? seberapa seringnya mereka berhubungan, bagaimana tanggapan orang itu terhadap kehilangan-kehilangan lain yang pernah ia alami dan berapa banyak kehilangan yang telah ia alami akhir-akhir ini? Kehilangan suami bagi seorang janda yang sungguh terlibat di dalam kehidupan suaminya itu berbeda dengan kehilangan sahabat akrab, teman usaha, atau paman yang dikunjungi oleh suaminya sekali dalam lima tahun. Kebanyakan orang yang mengalami krisis merasakan kehilangan atau ancaman kehilangan sesuatu yang penting bagi mereka.

Sumber
Halaman: 
10 - 14
Judul Artikel: 
Konseling Krisis
Penerbit: 
Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur, 1985

Komentar