Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Usia Senja, Siapa Takut?

Edisi C3I: e-Konsel 128 - Mendampingi Para Lanjut Usia

Pada umumnya, semua manusia ingin panjang umur, tetapi sedikit yang mau menjadi tua. Itulah salah satu penyebab bertumbuhnya salon-salon kecantikan atau pusat-pusat kebugaran yang menawarkan harapan untuk melawan kodrat. Namun, betapa pun manusia mampu memanipulasi penampilan jasmaniah sehingga tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya, pergumulan batiniah tetap tidak bisa disembunyikan. Oleh karena itu, setiap orang sebaiknya mempersiapkan diri guna menyongsong usia senja yang pasti datang menjelang, entah esok atau lusa.

Memelihara Kesehatan

Salah satu masalah serius yang dihadapi oleh seseorang di usia tengah baya adalah kesehatan. Pada usia ini banyak orang mulai terserang bermacam-macam penyakit, seperti jantung, kencing manis, kerapuhan tulang (osteoporosis), peradangan sendi (osteoartritis), kanker, ginjal, dll.

Dari segi anatomi, tubuh manusia diibaratkan sebuah sistem yang terdiri dari ribuan komponen yang dirangkai sedemikian rupa. Setiap komponen bekerja sesuai dengan karakteristiknya sehingga membentuk dan mengaktifkan fungsi tubuh.

Pada usia tengah baya, tentu ada bagian-bagian tertentu dari tubuh seseorang yang mengalami kemunduran fungsi (degradation of function) sehingga ia harus menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya yang tidak sebaik ketika masih berusia dua puluh tahun. Sebetulnya, setiap hari seseorang harus menyesuaikan diri dengan "situasi dan kondisi tubuhnya yang baru".

Seorang tengah baya sangat perlu memelihara tubuhnya agar senantiasa sehat dan bugar. Memelihara kesehatan dapat dilakukan dengan cara rajin berolah raga, mengonsumsi makanan berserat, banyak makan sayur dan buah, dan waktu tidur yang cukup. Tujuan memelihara kesehatan bukan untuk memuliakan tubuh melainkan untuk memancarkan kemuliaan Kristus, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami" (2Korintus 4:10).

Perubahan Karier, Emosi, dan Rohani

Masalah umum bagi setiap orang tengah baya adalah "perubahan". Mengapa? Karena pada usia inilah terjadi transisi secara fisik, emosi, relasi, bahkan rohani. Usia tengah baya adalah waktu ketika seseorang mulai mengevaluasi siapa dirinya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Banyak orang di usia tengah baya yang menghadapi masalah dengan karier sehingga harus mempertimbangkan memulai karier baru. Beberapa di antaranya terpaksa mengubah karier karena tidak diinginkan lagi oleh perusahaan sehingga disingkirkan secara halus, penutupan perusahaan, promosinya dialihkan kepada orang lain, menghadapi kejenuhan, konflik, masalah kesehatan, dan lain-lain.

Salah satu risiko terbesar di usia tengah baya adalah menjadi terikat untuk bekerja, memasuki karier terlalu dalam sehingga mengabaikan kesehatan, keluarga, dan Allah. Tidak semua orang siap menghadapi perubahan karier di usia tengah baya. Banyak yang stres dan kehilangan keseimbangan sehingga tidak lagi mampu menikmati hidup. Contoh yang menarik adalah bagaimana Yesus mempertahankan keseimbangan kritis antara yang mendesak dan penting. Yesus selalu tepat waktu dan selalu menemukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal yang utama.

Tuhan Allah menciptakan manusia dengan emosi. Dan emosi manusia berubah-ubah sesuai dengan usianya. Pada usia tengah baya, emosi yang paling menonjol adalah depresi, kesedihan, kemarahan, kesepian, kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan. Dengan bertambahnya usia seseorang, semakin banyak tantangan jasmani yang harus dihadapi sehingga semakin banyak pula kebutuhan untuk berjalan dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan akan membuat seseorang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang jauh dengan Tuhan. Namun, kedekatan dengan Tuhan tidak selalu berjalan mulus. Unsur dominan yang sering kali menganggu kedekatan hubungan seseorang dengan Tuhan adalah materialisme (Mat. 6:19-21) dan sikap hidup yang berpusatkan pada diri sendiri (Flp. 2:3-4).

Manusia juga harus memiliki sikap realistis terhadap dunia ini, dengan tidak membiarkan harapan-harapannya tentang masa depan membutakannya terhadap kenyataan-kenyataan hidup. Seseorang harus terus-menerus menjaga kesehatan spiritualnya dengan Tuhan. Perlu beristirahat, artinya pergi menyendiri dengan membaca Alkitab, berdoa, dan saat teduh dengan Tuhan.

Kadang-kadang seseorang terlalu sibuk memerhatikan orang lain yang menuntut perhatian sehingga mengabaikan Tuhan yang seharusnya mendapat perhatian penuh. Pastikan waktu tertentu setiap hari untuk menyendiri dan bersekutu bersama Tuhan.

Hubungan yang paling utama dalam hidup manusia adalah saling mengasihi. Pada usia tengah baya tidak ada kehilangan yang lebih besar daripada kehilangan pasangan hidup. Perubahan-perubahan hubungan tengah baya dapat terjadi oleh karena kehilangan pasangan, perubahan dalam hubungan pernikahan, konflik-konflik dalam keluarga dekat dan keluarga besar, dan berkurangnya kepekaan panca indera. Hal ini sering kali membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial. Seharusnya, persahabatan dibina berdasarkan kasih tak bersyarat.

Pertanyaan yang sering diajukan orang-orang Kristen adalah apakah perlu mempunyai tabungan hari tua, polis asuransi, atau pensiun. Banyak yang merasa semuanya tidak perlu karena dengan memiliki tabungan hari tua, pensiun, atau polis asuransi seolah-olah tidak percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Bukankah Allah memelihara burung-burung di langit yang tidak menanam dan menuai (Mat. 6:26)? Sebenarnya, mempunyai tabungan atau memiliki polis asuransi bukan berarti tidak percaya kepada pemeliharaan Tuhan, melainkan tindakan penatalayanan sumber daya dengan baik.

Hidup dengan Orang Tua

Keluarga tengah baya harus merencanakan tempat tinggal di usia senja dengan baik, misalnya apakah tinggal di rumah sendiri, ikut keluarga, atau tinggal di panti jompo. Semua pilihan disertai kelebihan dan kekurangannya. Tinggal di rumah sendiri berarti memiliki kebebasan, kenyamanan batin, dan keakraban. Tinggal dengan keluarga, berarti menjadi tergantung pada dukungan keluarga dan pendirian kita. Sedang tinggal di panti jompo dapat menimbulkan persoalan sosial budaya yang rumit.

Pada umumnya, orang lanjut usia di Indonesia lebih banyak tinggal dengan keluarga. Merupakan kehormatan bagi anak-anak jikalau orang tua mau tinggal bersama-sama dengan keluarga mereka. Kebanyakan keluarga di Indonesia beranggapan bahwa orang tua yang tinggal di panti jompo kurang terhormat. Ada perasaan seperti membuang orang tua. Padahal tinggal di panti jompo mungkin jauh lebih baik dari pada tinggal dengan keluarga.

Tidak kalah pentingnya adalah membuat surat wasiat ketika berada pada usia tengah baya. Tujuannya adalah untuk menghindarkan pertengkaran yang mengakibatkan perpecahan keluarga setelah seseorang tidak ada lagi di tengah-tengah keluarga. Ini juga menyangkut segi-segi perwalian, undang-undang, hak, dan waris dari semua yang ditinggalkan.

Banyak orang tua yang telah lanjut usia terserang penyakit alzheimer, suatu jenis penyakit yang melumpuhkan fungsi otak. Oleh karena itu, penyakit ini adalah momok bagi setiap orang berusia lanjut. Berbeda dengan organ tubuh lain yang dapat diamati dalam keadaan sedang bekerja, otak manusia tidak mungkin dianalisa ketika orang tersebut masih hidup. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Oleh karena itu, baik penderita maupun orang yang merawatnya sering kali mengalami stres berat. Apalagi kalau alzheimer tersebut sudah berada pada stadium lanjut. Namun, apa pun yang terjadi, seorang anak diwajibkan oleh Tuhan untuk merawat orang tua. Perintah Tuhan Allah jelas kepada setiap orang: "Hormatilah ayahmu dan ibumu" (Ul. 5:16).

Menjadi Tua, Siapa Takut?

"Jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak dirasa." Semua manusia akan menjadi tua, oleh karena itu berbahagialah orang-orang yang dikaruniai umur panjang sebab Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyaksikan dan menikmati banyak peristiwa. Penuaan adalah proses alamiah yang pasti dialami oleh setiap orang. Menjadi tua tidak selalu berkonotasi dengan panti wreda.

Ketika faktor-faktor pembatas berupa usia, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan fisik muncul ke permukaan, seseorang bisa melayani Tuhan dengan begitu banyak ragam seperti menjadi tim doa, bergabung dengan kelompok PA, pembimbing atau pengajar, yang tidak banyak menggunakan tenaga fisik. Bahkan bisa melayani doa atau konseling melalui telepon.

Penutup

Hidup orang Kristen adalah sebuah perjalanan menuju "kampung halaman", yaitu surga. Tetapi mengapa banyak orang takut mati? Tuhan tidak memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sesuatu yang diharapkan dengan penuh sukacita. Kematian bukanlah suatu terowongan gelap gulita yang suram dan tanpa tujuan yang jelas. Kematian berarti "tiba di rumah" setelah menjalani pengembaraan panjang. Tidak ada perasaan yang lebih lega selain akhirnya tiba di rumah dan berjumpa dengan Yesus.

Sumber
Halaman: 
37 -- 41
Judul Artikel: 
Kalam Hidup - Oktober 2005, Tahun ke-75, No. 714
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005

Komentar