Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Korban Tindak Kekerasan

Edisi C3I: e-Konsel 136 - Pola Mendidik Anak dalam Keluarga Kristen

Pdt. Dr. Vivian Soesilo, seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, memaparkan dampak apa saja yang dialami korban kekerasan serta bagaimana cara mengatasinya. Berikut ringkasan tanya jawab dengan beliau. Kiranya bermanfaat. Selamat menyimak.

KORBAN TINDAK KEKERASAN
Belum, kalau orang yang sudah sembuh dari luka hatinya, dia
T : Penderitaan macam apa yang biasanya dialami oleh korban tindak
kekerasan?
J : Sebetulnya, penderitaan yang dialami adalah penderitaan yang
cukup dahsyat. Sering kali, hati atau batinlah yang terluka
sehingga pemulihannya membutuhkan waktu yang lama. Batin yang
terluka itu menyebabkan seseorang bisa merasa harga dirinya
rendah, memiliki rasa takut yang berlebihan, menjadi orang yang
cepat marah, tidak bisa mengendalikan emosinya, tidak bisa
berkembang dengan normal secara jasmani, rohani, emosi,
mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain, menjadi orang
yang cemburuan, bahkan menjadi orang yang ragu-ragu. Saat malam
hari, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena selalu bermimpi
buruk mengenai tindak kekerasan yang dia alami, jantungnya
berdebar-debar, sesak napas, keringat dingin, dan tidak
mempunyai rasa percaya diri.
T : Jika seseorang menjadi korban tindak kekerasan, apakah mungkin,
suatu saat nanti dia menjadi pelaku tindak kekerasan?
J : Sering kali terjadi seperti itu. Bukan dikatakan seratus persen,
tetapi kecenderungannya seperti itu. Kalau dia belum dipulihkan,
sering kali dia melakukannya lagi. Dampaknya, dia sering
marah-marah secara tak terkendali kepada orang lain karena
kemarahan terhadap orang yang melakukan tindak kekerasan
yang lalu belum terlampiaskan.
T : Apakah salah satu tanda yang cukup besar ini adalah masalah
emosi seperti ini?
J : Ya, biasanya emosi adalah salah satu tanda yang memperlihatkan
orang ini tiba-tiba meledak -- tidak bisa mengendAlikan diri.
Mungkin kita bisa bertanya, "Apa yang terjadi dalam dirimu?" Dan
dia menjawab, "Aku tidak tahu," lalu biasanya dia langsung
meledak. Ahirnya, kita perlu bertanya kepadanya, "Pernahkah
kamu mengalami sesuatu yang melukai hatimu?"
T : Bagaimana dengan korban yang merasa karena kesalahannya sendiri,
dia menjadi korban tindak kekerasan? Misalnya, seseorang
melukainya karena dia berjalan di jalan yang sepi atau memakai
perhiasan yang berlebihan.
J : Sebetulnya, tindak kekerasan itu adalah tindakan kriminal dan
pelakunyalah yang bersalah. Dialah yang melakukan tindakan
kekerasan dan orang lain adalah korbannya. Korban mungkin bisa
dikatakan sebagai pemicu karena dia berpakaian terlalu mencolok
yang mengundang perhatian orang lain, tetapi tidak tertutup
kemungkinan bahwa yang bertanggung jawab adalah orang yang
melakukan tindak kekerasan.
T : Korban ini membutuhkan dukungan dari keluarga untuk bisa cepat
sembuh. Kalau keluarganya juga terkena imbasnya, apa yang bisa
dilakukan oleh keluarga itu?
J : Yang dapat dilakukan keluarganya adalah harus menjadi kuat demi
si korban ini. Keluarga harus bisa berdiri bersama-sama mencari
bantuan untuk anggota keluarganya ini. Kalau tidak bisa mencari
bantuan kepada sesama orang beriman, carilah bantuan kepada
konselor, teman baiknya, dan siapa saja yang mau membantu,
supaya bisa berdiri lagi dan mampu menghadapi masalah ini.
Hal ini memang membutuhkan kesabaran, tidak hanya sekali datang
ke tempat konseling kemudian bisa sembuh, tetapi membutuhkan
waktu.
T : Kalau ada orang yang mengalami tindak kekerasan seperti ini, apa
yang bisa kita lakukan?
J : Pertama-tama, kita dengarkan ceritanya, percayai apa yang telah
terjadi, terutama korban tindak kekerasan seksual seperti anak
kecil. Dia akan bercerita kepada orang tuanya, tetapi orang
tuanya tidak percaya dan hal itu menambah sakit hatinya. Jadi,
kita perlu memercayai apa yang dia katakan dan kita mau
mendampingi orang itu di dalam pemulihannya. Dengan demikian,
dia tahu masalahnya dan bisa mengidentifikasikannya. Setelah
itu, dia tahu perasaan-perasaan apa yang dia alami -- perasaan
marah yang berkecamuk di dalam hatinya, perasaan takut, rasa
bersalah, dan rasa malu. Apalagi tindak kekerasan seksual,
hal-hal itu harus dikeluarkan dan setelah dikeluarkan, dia
harus mempunyai komitmen untuk mau sembuh. Kalau dia mau sembuh,
dia harus mempunyai cara untuk mengampuni orang yang
menyakitinya, dia juga harus mempunyai batasan tentang bagaimana
melindungi dirinya sendiri. Semua itu membutuhkan waktu yang
lama.
T : Adakalanya luka itu sudah terlalu dalam atau mungkin terjadi di
usia yang terlalu dini. Mungkin secara emosi, mereka memang
menyadari bahwa dirinya pemarah, tetapi ketika akan mengingat
peristiwa itu, rasanya sudah seperti samar-samar. Bagaimana bisa
menolongnya?
J : Untuk menolong orang yang mau sembuh dari hati yang terluka ini,
dia harus mengingat kembali apa yang terjadi, bukannya
melupakan. Dia harus berdoa, minta tolong kepada Tuhan supaya
mengingatkan kembali apa yang telah terjadi, bukan untuk
mendendam, melainkan untuk menghadapi dan membereskannya.
T: Kalau luka badan bisa kita lihat, tetapi kalau luka hati itu
sulit untuk melihatnya. Apakah orang yang menjadi korban tindak
kekerasan yang begitu hebat menunjukkan tanda-tanda yang nyata
sehingga kita tahu bahwa orang ini sudah mulai sembuh?
J : Tanda-tandanya memang tidak terlihat secara fisik, tetapi kita
bisa melihat bahwa beban orang ini sudah terlepas. Dia akan
merasa sebagai seorang yang sudah tidak tertekan lagi. Saat dia
menghadapi sesuatu hal, dia tidak cepat tersinggung. Jadi, dia
adalah orang yang sudah bisa menghadapi masa lalu dan masa
depannya dengan lebih tenang, terutama hatinya akan lebih damai.
T : Kalau dia terus berpikir untuk membalas dendam, berarti dia itu
belum sembuh betul?
J :
tidak akan berpikir untuk membalas dendam. Kemarahannya sudah
tidak ada lagi. Sebaliknya, dia bisa mengampuni. Dia menghadapi
masalahnya tidak dengan marah-marah tetapi dengan pengampunan.
T : Langkah apa yang biasanya ditempuh oleh seorang korban tindak
kekerasan supaya dia tidak menjadi korban kekerasan lagi?
J : Tentunya dia harus menjaga jarak dengan pelakunya. Dia harus
membuat batasan, supaya dia tidak dilukai oleh pelaku itu lagi.
Batasannya adalah bukan membenci dia, tetapi jaraknya tidak
terlalu dekat dengan orang itu lagi. Hal lainnya ialah dia harus
mengetahui kelemahan diri sendiri, apa yang dapat dia lakukan
dan mana yang tidak dapat dia lakukan, supaya tidak diperalat
oleh orang lain.
T : Apakah dengan melakukan pekerjaan yang positif, misalnya,
menjahit, memasak, dan sebagainya dapat menolong untuk melupakan
peristiwa yang menyakitkan?
J : Bukan melupakan, melainkan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal
tersebut. Memang orang yang mengalami tindak kekerasan tidak
boleh berdiam diri, dia harus mengingat kembali. Bukannya justru
dikendalikan oleh peristiwa itu, tapi dia bisa melakukan hal-hal
lain. Salah satu tanda orang sembuh dari tindak kekerasan adalah
dia tidak lagi dikendalikan oleh masa lampau, dia bisa bebas.
T :Sebenarnya, apakah peranan komunitas, misalnya, anggota sebuah
gereja atau organisasi lainnya? Apakah itu akan sangat membantu
proses kesembuhannya?
J : Tentu, komunitas yang mendukung akan membantu dia untuk cepat
sembuh. Komunitas yang mengerti, memerhatikan, dan mengasihi
tentu akan membantunya untuk pulih lebih cepat.
T : Kalau dia berbagi dengan sesama korban yang hampir sama
kasusnya, apakah itu dapat menolong?
J: Tentu bisa, itu merupakan suatu grup sendiri. Di negara-negara
tertentu, ada grup korban kekerasan seperti itu. Mereka bertemu
dan saling mendukung, itulah yang disebut grup terapi.
T : Orang-orang atau tentara yang terlibat di dalam peperangan,
apakah bisa menjadi korban tindak kekerasan?
J : Bisa, karena dia mengalami trauma dari apa yang dia lihat dan
lakukan di dalam peperangan, dia bisa menjadi pelaku tindak
kekerasan juga. Oleh sebab itu, karena banyaknya trauma yang
dialami oleh para veteran perang, penyembuhan sangat diperlukan.
T :Apakah ada ayat firman Tuhan untuk hal ini?
J : Surat Paulus kepada jemaatnya di Roma 12:17 dikatakan,
"Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa
yang baik bagi semua orang!" Jadi, memang ada orang yang
bertindak jahat, tetapi janganlah kita membalas kejahatan dengan
kejahatan. Pengampunan, itulah penyelesaiannya.

Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T221B yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat

e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org>
atau: < TELAGA(at)sabda.org >

atau kunjungi situs TELAGA di:
==> http://www.telaga.org/transkrip.php?korban_tindak_kekerasan.htm

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T221B
Penerbit: 
--

Komentar