Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Alkitab Sebagai Dasar Konseling

Ada dua pemikiran yang keliru tentang pengajaran konseling yang umum. Salah satunya yaitu pemikiran bahwa konseling itu seluruhnya pengajaran -- apabila seseorang memunyai suatu masalah, kita cukup mencari ayat-ayat Alkitab yang cocok dengan masalah tersebut, kemudian mengkhotbahi orang tersebut mengenai hal itu.

Pemikiran keliru kedua yakni konseling hanya mencakup sedikit pengajaran atau tidak sama sekali. Mereka yang berpegang pada pemikiran ini berpendapat bahwa setiap orang mengetahui semua jawaban bagi masalah mereka dan bahwa konselor seharusnya cukup mengajukan berbagai pertanyaan, mendengarkan, dan memberikan dukungan kepada mereka. Dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa apabila kita membangun hubungan yang kokoh dengan konseli, maka para konseli akan menemukan sendiri jalan keluar bagi permasalahan mereka, dan mengatasi masalah tanpa menyuruh kita memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan.

Akan tetapi, pendekatan konseling seperti ini adalah tidak alkitabiah, sebab Kitab Suci telah menjelaskan bahwa pengajaran memegang peranan penting dalam pertumbuhan rohani setiap orang dan bahwa pengajaran itu tidak dapat diabaikan dalam proses penyelesaian masalah.[1] Maka, apabila kita bermaksud menolong sesama untuk berubah, kita harus terampil dalam pengajaran konseling alkitabiah dan menjadikan pengajaran itu sebagai bagian penting dari konseling kita.

Mengingat pengajaran adalah bagian penting dari konseling alkitabiah, kita perlu mengetahui pengajaran macam apa yang diperlukan. Supaya dapat menyenangkan bagi Tuhan dan bermanfaat bagi para konseli, pengajaran kita harus memenuhi tiga persyaratan pokok: harus didasari oleh Alkitab, harus akurat secara alkitabiah, serta harus pantas menurut Alkitab.

Pengajaran Harus Berdasarkan Alkitab

Bila kita mengatakan bahwa pengajaran harus berdasarkan Alkitab, maksudnya semua pengajaran yang kita tanamkan kepada konseli untuk menolongnya mencapai perubahan harus dimulai dari Alkitab. Pengajaran tersebut sebaiknya hanya didasari oleh Alkitab saja, dan jangan sekali-sekali hanya merupakan pemikiran atau pengamatan manusia. Mengapa? Sebab Alkitab itu praktis, komprehensif, patut dipercaya, dan benar-benar merupakan sumber kebenaran yang memadai, sementara pengetahuan manusia tidak mampu membahas semua masalah yang kita hadapi dalam hidup secara efektif.

  1. Alkitab itu praktis. Alkitab bukan sekadar risalah teologis yang menguraikan secara rinci berbagai doktrin yang esoteris (bersifat khusus/rahasia), melainkan merupakan pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105). Alkitab diberikan untuk mengajarkan cara menjalani hidup sehari-hari yang menyenangkan bagi Tuhan; selain itu, juga diberikan untuk menolong kita mengatasi berbagai masalah. Seperti kata Henry Ward Beecher, "Alkitab adalah peta Tuhan untuk memimpin manusia, untuk menjaga manusia agar tidak tenggelam ke dasar laut, serta menunjukkan kepada manusia di mana tempat berlabuh, dan bagaimana mencapainya tanpa menabrak batu-batu karang dan berbagai penghalang."[2]

  2. Alkitab itu komprehensif. Kitab Suci seharusnya merupakan dasar dan materi pengajaran kita dalam konseling, karena bersangkutan dengan segala isu kehidupan yang perlu dipahami. II Petrus 1:3 menyebutkan, "Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib." Pengetahuan yang dibicarakan oleh Petrus itu terbatas pada realita-realita yang digambarkan dalam Kitab Suci; jadi ia bermaksud mengatakan bahwa segala yang perlu diketahui agar dapat berhasil dalam hidup terdapat dalam lembaran-lembaran firman Allah.[3] Ada orang-orang yang bereaksi tidak masuk akal terhadap pernyataan tersebut, namun itulah yang dikatakan oleh Alkitab. II Petrus 1:3 itu mungkin benar, mungkin juga tidak -- dan andaikata tidak benar, tentunya seluruh Alkitab akan dipertanyakan.

  3. Namun kita tahu bahwa II Petrus 1:3 itu benar. Kitab Suci memuat semua informasi yang perlu untuk "hidup dan kesalehan," dan pendalaman isinya akan mendatangkan pahala berupa pemahaman-pemahaman ke dalam pengalaman manusia yang paling rumit sekalipun. Namun demikian, yang sering terjadi dalam konseling yaitu, konselor berasumsi bahwa Alkitab tidak berbicara tentang masalah tertentu konseli; oleh sebab itu, konselor terlalu dini meninggalkan firman Allah dan berusaha mendapatkan masukan dari pemikiran-pemikiran manusia. Apabila konselor semacam ini mau memulai dengan berasumsi bahwa isi II Petrus 1:3 itu benar, tentu ia akan memandang masalah-masalah yang rumit sebagai suatu tantangan agar ia memperdalam pemahamannya akan teologi dan bertumbuh dalam pengetahuannya tentang bagaimana hal tersebut cocok dengan situasi-situasi tertentu.

    Saya telah melewatkan hidup saya dengan mencoba membantu orang lain. Selama ini saya belum pernah menjumpai suatu kasus di mana penerapan prinsip-prinsip Kitab Suci tidak relevan, tidak memadai, dan tidak lebih unggul daripada apa pun yang harus diberikan dunia. Hal itu tidak berarti bahwa kita seharusnya melemparkan begitu saja ayat-ayat Alkitab ke atas meja para konseli. Namun yang dimaksud di sini yaitu satu-satunya tujuan dari pengajaran kita seharusnya adalah menyampaikan kebenaran alkitabiah yang berkaitan dengan permasalahan mereka. Kebenaran dari II Petrus 1:3 tentunya menunjukkan bahwa semua riset atau teori psikologi sekular tidak diperlukan (setidak-tidaknya) dalam proses menolong orang berubah secara rohaniah (sama halnya seperti berbagai pemikiran yang dihimpun sedikit demi sedikit dari agama-agama kaum kafir).

  4. Alkitab itu patut dipercaya. Alasan ketiga dari pengajaran kita seharusnya yaitu hanya didasari oleh Alkitab sebagai satu-satunya buku yang berhubungan dengan masalah-masalah praktis dalam hidup, dan dalam cara yang benar-benar dapat diandalkan dan patut dipercaya. Apabila kita mengajarkan para konseli menggunakan Alkitab, kita dapat mengetahui tanpa mempertanyakannya; apabila diterapkan, hal ini akan mengubah hidup mereka ke arah yang lebih baik. Tidak ada sumber informasi lain atau pemikiran lain yang dapat mengilhami keyakinan semacam itu.

  5. Renungkan apa yang dikatakan si Pemazmur mengenai buku pegangan bagi para konselor alkitabiah ini:
    - "Hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya." (Mazmur 19:10)
    - "Untuk selama-lamanya, ya Tuhan, firman-Mu tetap teguh di surga." (Mazmur 119:89)
    - "Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu." (Mazmur 119:128)
    - "Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya." (Mazmur 119:160)

    Perkataan Yesus menggemakan pernyataan si Pemazmur sewaktu Ia mengatakan, "Firman-Mu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17) Baik ayat-ayat ini maupun ayat-ayat serupa mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang dikatakan oleh Alkitab itu benar. Namun, ayat-ayat tersebut juga menghasilkan suatu epistemologi alkitabiah yang mencurigai semua pernyataan mengenai sifat manusia atau kebenaran rohani yang tidak diajarkan oleh Kitab Suci.[4] Menurut epistemologi tersebut, sebagai manusia, kita tidak dapat menemukan kebenaran mutlak di luar penyataan khusus Tuhan.[5] Suatu pengamatan atau pendapat yang dikembangkan tanpa mengacu pada firman Tuhan mungkin benar, tetapi kita tidak dapat memastikan bahwa pengamatan atau pendapat tersebut benar, sebab kita sendiri adalah makhluk yang terbatas dan jatuh dalam dosa. Mari kita pertimbangkan konsep ini lebih jauh.

    1. Keterbatasan Manusia
    2. Salah satu alasan mengapa kita tidak dapat mengetahui secara mutlak segala yang berada di luar penyataan khusus Tuhan adalah karena kita ini terbatas. Pengetahuan kita hanya sebatas yang dapat kita amati, dan sebatas itu pula yang dapat kita pahami. Di samping itu, karena kita tidak mengetahui segala sesuatu, maka kita tidak dapat mengetahui dengan pasti segala sesuatu mengenai isu-isu terpenting dalam hidup beserta maknanya (oleh kita sendiri), sebab kita mungkin akan selalu menemukan hal-hal baru yang membuktikan bahwa apa yang kita ketahui itu keliru.

      Pemikiran ini digambarkan oleh sebuah kisah tentang empat orang buta yang sudah kita kenal itu. Mereka berjalan bersama-sama dan menubruk seekor gajah. Salah satu dari mereka menubruk kaki gajah tersebut, dan berkesimpulan bahwa yang ditubruknya itu adalah batang pohon yang besar. Orang buta kedua menubruk belalainya dan berpikir bahwa belalai tersebut adalah selang pemadam kebakaran. Orang buta ketiga menabrak ekornya, dan mengira bahwa ekor tersebut adalah seutas tali. Sedangkan orang buta keempat menubruk bagian samping gajah, dan memutuskan bahwa bagian tersebut adalah sebuah tembok. Keempat-empatnya menubruk benda yang sama, namun keterbatasan pengamatan masing-masing membuat setiap orang buta berpendapat bahwa benda tersebut adalah benda yang berbeda. Kita juga dapat menarik kesimpulan yang keliru apabila kita hanya mengandalkan pengamatan serta pemikiran sendiri tanpa mengacu pada firman Tuhan; sebab seperti keempat orang buta tadi, kita hanya dapat memahami sebagian saja dari keseluruhannya. Sebaliknya, Tuhan adalah tidak terbatas dalam pengetahuan serta pemahaman-Nya. Seperti Yesaya 40:14 menanyakan secara retorik, "Kepada siapa Tuhan meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?" Tidak ada batasan bagi kebijaksanaan Tuhan. Kata-Nya, "Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana." (Yesaya 46:9-10)

      Tuhan mengetahui akhir dari permulaan. Ia mengetahui masa lampau, masa sekarang, dan masa akan datang. Ia mengerti setiap bagian dari kita dan setiap bagian dari dunia kita secara sempurna. Dan Ia sudah senang mengungkapkan kebenaran-Nya kepada kita dalam firman-Nya. Itulah sebabnya mengapa kita harus mengajari para konseli dari gudang kebenaran yang memadai itu, dan tidak pernah meninggalkannya demi gagasan-gagasan manusia yang amat sangat terbatas itu.

    3. Jatuhnya Manusia
    4. Sebab lain dari mengapa manusia tidak dapat mengetahui secara mutlak segala sesuatu yang berada di luar pernyataan Allah adalah karena kita ini makhluk-makhluk yang berdosa. Menurut Alkitab, pikiran kita sangat dipengaruhi oleh dosa, sehingga meskipun kita telah mengamati sesuatu secara cermat, kita cenderung salah menafsirkannya. Pikiran kita yang penuh dosa cenderung menyelewengkan kebenaran, dan satu-satunya cara supaya dapat berpikir dengan benar yaitu membiarkan Roh Kudus memperbarui pikiran kita (Roma 1:18-32; 12:2; Efesus 4:23). Hal ini hanya dapat dicapai dengan belajar memandang kehidupan melalui lensa Kitab Suci.

      Keterbatasan dan keberdosaan kita membuat kita tidak mampu memastikan kebenaran, kecuali bila Tuhan telah mengungkapkan-Nya kepada kita. Kita tidak memiliki standar yang dapat digunakan untuk menilai benar atau tidaknya sesuatu selain daripada firman Allah. Jadi, meski kita bisa yakin bahwa apa pun yang kita ambil dari firman Tuhan dan kita bagi para konseli itu benar, namun kita sebaiknya memunyai skeptisisme yang sehat bagi segala teori atau wawasan yang tidak dimulai dari Kitab Suci.[6] Apabila tidak diajarkan oleh firman Tuhan, mungkin teori atau wawasan tersebut keliru.

  6. Alkitab itu memadai. Pengajaran kita dalam konseling seharusnya hanya didasarkan pada Alkitab, karena "segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (II Timotius 3:16-17) Kedua ayat tersebut jelas-jelas menyatakan bahwa kita memiliki segala yang kita perlukan dalam firman Tuhan yang menjadikan kita memadai atau lengkap (terjemahan lain untuk kata Yunani). Kita tidak perlu menjadi lebih daripada memadai; selain itu, kita tidak dapat menambahkan apa pun pada soal kelengkapan. Seperti dituliskan oleh J. C. Ryle, "Orang yang memiliki Alkitab, dan Roh Kudus di hatinya, memunyai segala sesuatu yang mutlak diperlukan untuk membuatnya bijaksana secara rohani... Ia memunyai mata air kebenaran yang terbuka di hadapannya, dan apa lagi yang dapat diinginkannya? Ya! Walau ia terkurung seorang diri dalam penjara, atau dibuang ke sebuah padang pasir, ... namun apabila ia memunyai Alkitab, berarti ia memunyai sebuah pedoman yang sempurna, dan tidak menginginkan yang lain.[7]

Apabila kita sungguh-sungguh memercayai semua kata yang mendatangkan ilham itu, maka kita tidak akan pernah tergoda untuk berpikir bahwa kita perlu mempelajari semua teori manusia yang ada di luar Kitab Suci, supaya kita mampu memberikan pengajaran yang bermanfaat kepada para konseli. Sebaliknya, kita hanya akan berpegang pada satu-satunya pedoman yang sempurna untuk upaya tersebut, yakni Alkitab. Alkitab itu praktis, komprehensif, patut dipercaya, serta mencukupi.[8] Jadikanlah keinginan untuk mempelajarinya dengan penuh semangat, merenungkannya dalam-dalam, serta menyampaikannya secara akurat sebagai tujuan Anda. Selain itu, jangan sekali-sekali meremehkannya dengan berasumsi bahwa Alkitab tidak membahas masalah tertentu; jangan sekali-sekali meninggalkannya demi "kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air." (Yeremia 2:13) Apabila kita setia mengikuti firman Tuhan, maka Ia juga akan setia kepada kita dengan menguatkan pelayanan kita sehingga menghasilkan buah bagi kehidupan para konseli kita.

Keterangan:
[1] Bdg. Amsal 6:23; Matius 22:29; Efesus 4:11-12; I Tesalonika 4:13; I Timotius 4:6, 11, 16; II Timotius 2:16-18; Titus 1:10-11.
[2] Dikutip dalam F. S. Mead, ed., The Encyclopedia of Religion Quotations (Westwood, N. J.; Revell, 1965), 24.
[3] II Timotius 3:16-17 mengajarkan kebenaran yang sama dengan mengatakan bahwa Kitab Suci mampu membuat kita "memadai, diperlengkapi untuk semua pekerjaan yang baik."
[4] Epistemologi adalah bidang filsafat yang biasa disebut sebagai "ilmu pengetahuan tentang mengetahui," yang mencari jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan "Bagaimana kita mengetahui?" dan "Apa yang dapat kita ketahui?"
[5] R. Pratt, Jr. menulis, "Semua yang patut disebut kebenaran, bukan saja yang disebut 'kebenaran religius' yang ada terletak terlebih dahulu pada Tuhan dan manusia hanya dapat mengetahui dengan benar apabila mereka menyadari pernyataan Tuhan mengenai diri-Nya sendiri sebagai sumber kebenaran, sebab Tuhanlah yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia (Mazmur 94:10) ... Ketergantungan manusia pada Tuhan di bidang pengetahuan ini tidak berarti bahwa manusia tidak benar-benar memunyai kemampuan berpikir dan bernalar, atau pun bahwa mereka 'diprogram' oleh Tuhan dalam analogi seperti cara komputer 'mengetahui.' Manusia memang benar-benar berpikir, namun pengetahuan sejati bergantung pada Tuhan, dan datang dari pengetahuan Tuhan seperti sebagaimana telah diungkapkan kepada manusia." Every Thought Captive (Phillipsburg, N. J.: Presbyterian and Reformed Publishing, 1979), 17.
[6] Hal ini tentunya saja berlaku bagi apa pun yang ditulis oleh orang yang tidak diselamatkan, seperti seorang psikolog sekular; sebab meskipun seorang yang tidak diselamatkan membuat pengamatan dasar mengenai dunia atau mengulangi gagasan yang diajarkan oleh Kitab Suci, tetap masih ada bahaya berupa adanya sedikit kekeliruan dalam apa yang dikatakan oleh orang tersebut. Richard Pratt, Jr. menuliskan, "Kita boleh mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan semacam ini keliru karena bukan merupakan hasil dari ketaatan yang dilakukan secara sukarela terhadap pernyataan Tuhan... Di luar ini, semua pernyataan tersebut dipalsukan oleh kerangka kerja makna yang nonkristiani, dan karena itu menuntun kita menjauh dari menyembah Tuhan. Apabila tidak hal lain, sekadar berkomitmen kepada kebebasan manusia saja dapat memalsukan pernyataan-pernyataan mereka yang non-kristiani tadi" (ibid.).
[7] J.C. Ryle, Practical Religion (Cambridge: James Clark, 1959), 81.
[8] Sebuah buku terbaru berisi pembahasan-pembahasan yang bermanfaat mengenai sifat-sifat Alkitab adalah Noel Weeks, "The Sufficiency of Scripture" (Carlisle, Penn.: Banner of Truth, 1988). Bacalah juga John MacArthur, Jr., "Our Sufficiency in Christ" (Dallas Word Publishing, 1991).

Sumber
Halaman: 
305 -- 311
Bab: 
Memberikan Pengajaran Melalui Konseling Alkitabiah
Judul Artikel: 
Sifat dari Pengajaran dalam Konseling
Judul Buku: 
Pengantar Konseling Alkitabiah: Pedoman Dasar Prinsip dan Praktik Konseling
Pengarang: 
John F. MacArthur. JR. dan Wayne A. Mack
Penerbit: 
Gandum Mas
Kota: 
Malang
Tahun: 
2002

Komentar