Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Anak Favorit

Edisi C3I: e-Konsel 194 - Anak Favorit

J: Betul sekali.

T: Kalau cuma satu yang menjadi anak mama dan papa, lalu yang satunya tidak kebagian apa-apa?

J: Betul, adakalanya ada anak yang menjadi favorit kedua orang tuanya, dan ada anak yang sama sekali tidak menjadi favorit orang tuanya. Biasanya yang menjadi anak favorit adalah anak yang dapat dibanggakan sehingga menerima perhatian yang paling besar dari orang tuanya.

T: Memang kadang-kadang ada anak yang pandai mengambil hati. Jadi kalau lelah mijit-mijit, suka menolong sehingga mau tidak mau kita terpancing untuk memerhatikan atau mengasihi dia.

J: Betul sekali, saya tidak menyoroti hal ini sebagai sesuatu yang tidak wajar atau abnormal atau sangat salah. Sebagai manusia, kita memang mudah terpancing untuk dekat dengan orang yang lebih mengerti kita, lebih memberikan banyak kepada kita, lebih bisa membuat kita merasa bahagia; itu fenomena yang umum. Jadi, yang kita ungkit saat ini adalah bagaimana kita bisa menyadari diri kita, apakah kita memang memunyai kedekatan khusus itu dan apakah kita memahami dampak-dampaknya pada anak sehingga kita lebih bijaksana. Ini tidak bisa dihilangkan 100%.

T: Apa ada contoh konkretnya di Alkitab?

J: Ada, Ishak dan istrinya, Ribka. Kejadian 25:27-33, "Lalu bertambah besarlah kedua anak itu (anak dari Ishak dan Ribka): Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub." Di sini kita bisa membaca bahwa ada kesamaan tertentu antara si bapak dengan anak pertamanya, Esau, dan antara si ibu, yang juga adalah seseorang yang menyukai rumah sebagai ibu rumah tangga, dengan Yakub, yang rupanya juga senang tinggal di rumah.

"Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Kata Esau kepada Yakub: 'Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.' Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. Tetapi kata Yakub: 'Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.' Sahut Esau: 'Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?' Kata Yakub: 'Bersumpahlah dahulu kepadaku.' Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya." Di sini kita melihat ada suatu transaksi yang sebetulnya sangat penting, Esau menyerahkan hak kesulungannya kepada adiknya. Ada kepanjangan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di rumah tangga Ishak dan Ribka dan semua ini bersumber dari fakta ayah sayang kepada anak sulung, ibu sayang kepada anak bungsu.

Di Kejadian 27:6-10, Ribka menyuruh anaknya, Yakub, untuk menipu ayahnya, menipu dengan cara memakai bulu domba dan membawa makanan yang dipesan oleh ayahnya kepada si kakak, yaitu Esau, supaya Yakub akhirnya menerima berkat sebagai anak sulung. Berkat anak sulung adalah sesuatu yang sangat istimewa. Akibatnya, Kejadian 27:41 mengatakan, "Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: 'Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi, pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.'" Seperti itulah perjalanan rumah tangga Ribka dan Ishak yang membeda-bedakan anak, yang memfavoritkan anak, ujung-ujungnya begitu runyam.

T: Rasanya terjadi persekongkolan antara Ribka dan Yakub. Apa yang bisa kita pelajari dari hubungan Ribka dan Yakub?

J: Hubungan Ribka dan Yakub itu hubungan yang tidak sehat, dalam pengertian Ribka sampai-sampai berkenan untuk menjerumuskan anaknya dalam penipuan. Ribka dan Ishak, meskipun Alkitab tidak mengatakan apa-apa, kemungkinan memiliki hubungan yang tidak terlalu baik. Ribka sebagai istri mau menipu suaminya sendiri dan menggunakan Yakub. Ini mencerminkan hubungan suami-istri yang tidak terlalu baik lagi pada saat itu.

T: Bagaimana seharusnya mereka menghadapi masalah ini?

J: Ada beberapa prinsip yang bisa kita pelajari. Pertama, sebagai orang tua, Ribka dan Ishak gagal menerima anak apa adanya. Oleh sebab itu, anak yang cocok dengan merekalah yang mereka terima, yang tidak sesuai tidak mereka terima. Tidak bisa disangkal bahwa kesamaan sifat yang kita senangi atau pencapaian anak yang terpuji akan memengaruhi perlakuan kita terhadap anak. Namun kita perlu berhati-hati agar tidak menunjukkan kekhususan itu di hadapan anak yang lainnya. Kalau mau memuji karena hal yang sangat khusus, sebaiknya secara pribadi, itu lebih bijaksana.

T: Sulitnya hal seperti ini sungguh-sungguh tidak disadari dan pujian seperti itu lebih mudah muncul ketika ternyata yang dibandingkan itu terlalu jauh, tidak sepadan untuk dibandingkan.

J: Mungkin sekali, awal motivasi orang tua membandingkan anak, misalnya dengan kakaknya, adalah untuk memacu si anak. Belum lagi kalau ia bersekolah di sekolah yang sama dan si kakak prestasi belajarnya sangat tinggi, guru-guru akan cenderung membandingkannya juga. Jadi, tanpa disengaja atau disadari, omongan atau celotehan "ini baru anak mama", "ini baru anak papa" bukan tindakan yang bijaksana. Ini yang terjadi pada keluarga Ishak dan Ribka, kesamaan sifat akhirnya melekatkan mereka dan standarnya adalah kesamaan-kesamaan. Seharusnya Ishak lebih menerima Yakub apa adanya dan Ribka menerima Esau meskipun tidak sama dengan dia. Harus ada usaha ekstra yang mereka keluarkan untuk menunjukkan atau mengomunikasikan penerimaannya terhadap si anak yang berbeda itu. Tidak bisa disangkal, hobi yang sama itu mendekatkan. Orang tua harus berusaha mendekatkan diri meskipun hobinya berbeda. Kalau tidak, jarak ini makin membesar.

T: Bagaimana orang tua mengatasi kesenjangan itu sehingga tidak terlalu melebar?

J: Secara sadar, orang tua jangan membesar-besarkan kesamaan-kesamaan itu. Kalau mau membicarakan, bicarakan berdua saja, jangan di depan anak yang lainnya. Pelajaran lainnya adalah perlakuan yang berbeda menimbulkan iri hati. Itu sebabnya Yakub menginginkan hak kesulungan kakaknya seakan-akan dia ingin menjadi anak sulung yang diberkati oleh ayahnya. Kalau kita pikir-pikir, apa alasan Yakub meminta Esau menjual hak kesulungannya sewaktu Esau meminta kacang merah itu? Seharusnya Yakub sudah cukup senang dia disayangi oleh ibunya, tapi mengapa dia meminta? Saya menduga, meskipun spekulatif dan Alkitab tidak menjelaskannya, Yakub ingin menjadi anak yang sulung. Yakub merasa dibedakan. Ketika dia meminta hak kesulungan, itu menunjukkan keinginannya menjadi anak sulung, menjadi yang disayangi dan diberkati oleh ayahnya sendiri dan itu yang tidak dia terima dari ayahnya.

T: Apakah mungkin berkaitan bahwa anak sulung memunyai hak yang lebih besar di dalam rumah tangga pada waktu itu?

J: Betul sekali, anak sulung memang akan mendapatkan hak yang lebih besar, pelimpahan-pelimpahan warisan juga akan lebih besar, tapi apakah itu motivasi utama Yakub? Dia mendapatkan perhatian yang begitu besar dari ibunya sendiri, mungkin ada motivasi ingin lebih. Unsur yang lainnya, dia menjadi anak yang tertolak oleh ayahnya sebab ayahnya sangat dekat sekali dengan kakaknya.

T: Jadi, sebenarnya anak mengharapkan kedua orang tuanya mengasihi dia secara utuh?

J: Betul, ketika dia merasakan ayah atau ibu tidak memunyai kasih yang sama, reaksi pertamanya adalah dia akan berjuang mendapatkan kasih itu. Tatkala dia tidak mendapatkannya, baru muncul reaksi kedua, yaitu reaksi-reaksi negatif, iri hati, marah, berontak.

T: Walaupun tidak di depan anak yang lain, kalau kita memuji anak yang kita favoritkan atau memberi dia sesuatu, apakah kita tidak risau nanti anak itu bercerita pada saudaranya?

J: Kalau memberikan sesuatu, berikan yang sama. Kalau hanya dalam bentuk pujian, kita bisa sampaikan secara privat. Namun kalau kita hendak memberikan hadiah, berikan secara sama. Maksudnya, kalau kita hendak memberikan persenan, misalnya ketika Natal, berikan dalam jumlah yang sama kalau anak-anak kita usianya setara. Dalam hal pemberian yang bisa dilihat secara konkret dan bisa dipertontonkan kepada yang lainnya, penting bagi orang tua untuk sensitif, tidak memberikan pemberian-pemberian yang berbeda. Itu sangat menyakitkan dan selalu bisa diingat oleh anak karena bendanya terlihat.

T: Terkadang, orang tua melihat kebutuhannya memang berbeda. Katakan sebaya, tapi kebutuhan anak perempuan itu lebih banyak daripada pria?

J: Kalau si anak tidak memunyai rasa iri atau dipinggirkan oleh orang tuanya tidak apa-apa, karena si anak mengerti bahwa kedua orang tua mengasihi mereka dengan sama. Namun kalau ada persaingan dan yang satu mengeluh si kakak lebih didahulukan, kita harus lebih berhati-hati meskipun dia memang lebih memerlukan. Jadi, kalau kita tahu ada yang merasa kurang dikasihi, itu sinyal agar kita lebih memberikan perhatian kepadanya. Bila kita memuji anak yang memunyai sifat yang sama dengan kita, jangan sampai kita lupa memberikan pujian yang lain kepada anak yang satunya, sehingga kalaupun dia banggakan pujian itu, yang satunya akan bisa berkata: "Ya, Mama juga puji saya tentang ini."

T: Tadi dikatakan mungkin hubungan Ishak dengan Ribka tidak begitu baik, kira-kira seberapa jauh pengaruhnya terhadap masalah yang kemudian muncul ini?

J: Ini menjadi masalah yang berat, karena Ribka dan Ishak hidupnya terpisah dengan anak-anak. Yakub harus lari, jadi akhirnya masalah menjadi lebih kompleks. Ribka dan Ishak tidak lagi mementingkan hubungan suami-istri atau kepentingan suami-istri, malah membela kepentingan anak dan melawan satu sama lain dengan menggunakan anak. Poros keluarga adalah hubungan suami-istri, bukan hubungan orang tua-anak, jadi penting bagi orang tua memupuk hubungan suami-istri yang kuat dan sehat, jangan sampai terbalik seperti yang terjadi pada keluarga Ishak dan Ribka.

T: Sebagai kesimpulannya, apa dampak yang bisa kita pelajari yang tentunya tidak perlu terjadi pada kita sekarang ini?

J: Pertama, terjadinya penipuan antara keluarga. Ribka menggunakan Yakub untuk menipu suaminya sendiri. Kedua, kebencian Esau karena ditipu melahirkan niat untuk membunuh Yakub, adiknya sendiri. Ketiga, keluarga itu terpecah dan Yakub harus meninggalkan rumahnya selama bertahun-tahun. Kita tahu, untuk menikahi istri pertamanya, dia butuh 7 tahun, untuk menikah yang berikutnya perlu 7 tahun, sekurang-kurangnya 14 tahun dan kemungkinan besar lebih dari itu sampai anak-anaknya sudah cukup besar. Jadi, mungkin belasan tahun Yakub harus melarikan diri, keluarga mereka akhirnya berantakan dan dampaknya Yakub hidup dalam ketakutan selama itu. Esau selama belasan tahun itu hidup dalam kebencian, itu dampak yang begitu fatal. Maka penting menyadari tugas orang tua untuk menyayangi anak, bukan menciptakan anak kesayangan. Kalau orang tua memang memunyai kebutuhan yang besar untuk disayangi oleh anak, dia akan lebih mudah terjerumus ke dalam masalah ini. Kalau ada ana k yang bisa mengambil hati, dia akan lebih senang karena memang dia dari dulu butuh disayangi. Sudah tentu hubungan suami-istri yang bermasalah menambah masalah ini karena bila si istri kurang disayangi suaminya dia akan lebih membutuhkan kasih sayang si anak, suami kurang dihargai istrinya karena dia akan lebih membutuhkan penghargaan dari si anak. Jadi, karena anak, hubungan suami-istri bisa terpecah. Tetapi bisa juga karena hubungan orang tua yang sudah mulai renggang akhirnya meresap masuk ke dalam hubungan orang tua-anak dan anak akhirnya digunakan sehingga semua keluarga terpecah belah.

T: Kalau ternyata memang dalam keluarga terjadi favoritisme, apa sarannya?

J: Jangan membuat hubungan yang eksklusif dengan anak yang dengannya kita sudah dekat itu. Kita harus lebih membagi diri dengan yang lainnya, jangan pergi berduaan, bicara berduaan. Pergilah beramai-ramai dan secara khusus ajak anak yang lainnya untuk pergi berdua dengan kita, bicara berdua dengan kita, belikan sesuatu untuk diajuga, peluk dia, lebih banyaklah memberikan perhatian kepada yang satunya lagi. Mudah-mudahan kalau anak kita masih relatif kecil, rasa dibedakan itu bisa mulai menipis dengan berjalannya waktu.

T: Dalam hal ini, apakah yang firman Tuhan katakan?

J: Amsal 3:27 berkata: "Janganlah engkau menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." Menahan kebaikan bisa juga kita terapkan dalam hubungan orang tua-anak. Kalau orang tua memang bisa melimpahkan kebaikan kepada semua anak, mengapa tidak? Jangan hanya kepada 1 atau 2 anak saja yang memang memunyai kesamaan sifat dengan kita atau yang kita banggakan. Beri kebaikan kepada mereka sebab semua anak-anak kita berhak menerimanya dan kita mampu untuk memberikannya, jadi berilah dengan murah hati kebaikan kita kepada semua anak.

T: Kasusnya bisa tidak disenangi oleh saudara-saudara yang lain, seperti Yusuf dengan kakak-kakaknya itu?

J: Tepat sekali, itu salah satu contoh yang sangat tragis. Karena Yusuf akhirnya akan dibunuh oleh semua kakaknya.

Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T089B yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke:

< owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org> atau < TELAGA(at)sabda.org >.
Atau kunjungi situs TELAGA di:
==> http://www.telaga.org/audio/anak_favorit
Sumber
Judul Artikel: 
TELAGA - kaset No. T089B (e-Konsel Edisi 194)

Komentar