Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bab III Tentang Gereja Dan Pelayanan

III. TENTANG GEREJA DAN PELAYANAN

  1. Apakah arti, sifat, dan tujuan gereja?
  2. Bolehkah kaum wanita mengajar atau menjadi pemimpin dalam gereja?
  3. Apakah setiap orang Kristen dipanggil untuk melayani?
    Bagaimana mengetahui panggilan Tuhan?
  4. Apakah gereja salah memperingati Hari Natal
  5. Mengapa kita harus mengabarkan Injil?
  6. Mengapa gereja beribadah pada hari Minggu?


T/J Kontemporer:

[Ke Atas]

1. Apakah arti, sifat dan tujuan gereja?

Konsep tentang gereja merupakan hal yang hakiki di dalam sejarah agama Kristen. Namun demikian sampai hari ini masih ada ajaran-ajaran yang simpang siur, sehingga mengaburkan pandangan orang Kristen. Karena itu, kita wajib menyelidiki secara saksama doktrin gereja yang terdapat di dalam Perjanjian Baru.

Arti kata gereja

  1. Arti Linguistik

  2. Kata "gereja" sebetulnya tidak terdapat dalam Alkitab bahasa Indonesia, tetapi kata ini sama dengan "jemaat" atau "sidang jemaat" (Mat 16:18; 18:17; Rom 16:1,5*). Kata-kata ini adalah terjemahan dari bahasa Yunani "ekklesia." Kata ekklesia terdiri dari kata depan "ek" yang berarti "ke luar" dan kata kerja "kalein" yang berarti "memanggil." Maka ekklesia berarti "orang-orang yang dipanggil ke luar."

  3. Arti Sekuler

  4. Di masyarakat Yunani kuno, ekklesia merupakan sebagian rakyat setempat yang berkumpul untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mereka di bawah pimpinan pemerintahan yang bersifat demokrasi. Dalam Kisah 19:39* istilah ini dipakai untuk menunjukkan suatu badan politik yang bercorak demokrasi, yaitu "Sidang Rakyat" di Efesus.

  5. Arti di dalam Perjanjian Lama

  6. Di dalam Septuaginta (Perjanjian Lama bahasa Yunani), kata Ibrani "Qahal" diterjemahkan sebagai "ekklesia." Qoahal menunjukkan sidang bangsa Israel di hadapan Allah. Misalnya: Jemaah/Congretation (Ul 31:30; 1Taw 29:1). Jemaah/Assembly (Hak 21:8*). Maka konsep orang Israel tentang "jemaah" adalah perhimpunan umat Allah di bawah kedaulatan teokrasi. Masih ada satu istilah yang mempunyai konsep ekklesia yaitu "Sinagoge" (Synogogue) yang diterjemahkan sebagai "rumah ibadat" (Mr 1:21-23*) atau "rumah sembahyang" (Luk 4:15-16*). Sinagoge merupakan suatu tempat di mana mereka berbakti kepada Tuhan dan kebaktian itu berkenan dengan berdoa, membaca serta menjelaskan ayat-ayat dalam Perjanjian Lama. Gagasan Sinagoge ini mirip dengan eklesia.

  7. Arti di dalam Perjanjian Baru

  8. Tatkala Yesus mengatakan "Aku akan membangun jemaat-Ku (Ekklesia)" (Mat 16:18*), para murid mengetahui apa yang dimaksud dengan "jemaat-Ku." Seolah-olah Tuhan mengatakan: "Lihatlah, orang-orang Yahudi mempunyai jemaat dan orang Yunani juga mempunyainya. Kini Aku akan membangun jemaat-Ku." Menurut Hall Lindsay, gereja di dalam Perjanjian Baru adalah suatu demokrasi-teokratik, suatu lembaga yang bebas, tetapi kebebasan mereka berdasarkan kesetiaan kepada Kristus. Maka gereja merupakan suatu tubuh, di mana anggota-anggota-Nya disatukan melalui kasih mereka terhadap Kristus dan ketaatan kepada-Nya (under the Lordship of Christ).

Sifat dasar gereja

Kata "ekklesia" dipakai di Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, di mana 92 kali dipakai untuk menunjukkan gereja setempat (local Chruch). Yang lain menunjukkan gereja di dalam pengertian yang umum. Dengan demikian kita megenal dua ganda sifat dasar gereja:

  1. Dalam pengertian umum Ekklesia

  2. "Ekklesia" mencakup semua orang yang beriman di dalam Kristus, tanpa menyinggung perbedaan waktu dan lokalitas (Mat 16:18*). Inilah yang disebut dalam Pengakuan Iman Rasuli sebagai "gereja yang kudus dan am." Gereja ini akan menjadi realitas sewaktu Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya (Ibr 12:23; Wahy 21:22*).

  3. Dalam pengertian lokal

  4. "Ekklessia" merupakan gereja setempat, gereja yang berkaitan dengan waktu dan tempat dan merupakan sebagian dari gereja yang kudus dan am.

    Tatkala Yesus mengatakan: "Aku akan membangun jemaat-Ku, kepadamu Aku berikan kunci Kerajaan Surga" (Mat 16:18*). Di sini "jemaat" menunjukkan gereja di dalam arti yang umum. Tetapi janji Tuhan itu diulang di dalam Matius 18:18-20*, di mana gereja setempat pun diberi "Kunci Kerajaan Surga."

Tujuan Gereja

Tujuan gereja tercantum dalam Efesus 1:12*, yaitu untuk memuliakan Tuhan. Untuk mencapai tujuan ini, hendaknya kita mengenal dua kata yang sering muncul di dalam Perjanjian Baru:

  1. Koinonia

  2. Yaitu persekutuan (Fellowship) yang mempunyai arti "sharing" di dalam persahabatan, iman, pelayanan bahkan harta benda (Kis 2:44*). Koinonia akan tercapai kalau kita rela diatur dan di satukan oleh Roh Kudus.

  3. Diakonia

  4. Yaitu pelayanan orang Kristen. Hal ini dijelaskan oleh D.I. Moody sebagai berikut: "Gereja adalah misi, tanpa misi berarti tanpa gereja. Tuhan memanggil dan mengasingkan gereja dan keduniawian dan kemudian mengutusnyakembali ke dunia dengan suatu misi."

    Memang bentuk organisasi dan liturgi boleh senantiasa berubah menurut kebutuhan masing-masing tetapi tujuan gereja adalah sama yaitu melalui Koinonia dan Diakonia kita memuliakan Tuhan.

[Lanjutkan] [Sebelumnya]



T/J Kontemporer:

[Ke Atas]

2. Bolehkah kaum wanita mengajar atau menjadi pemimpin dalam gereja?

Berbicara tentang kaum wanita dalam kepemimpinan gereja, ada tiga bagian Alkitab yang selalu menjadi bahan perdebatan di antara orang Kristen. Ayat-ayat tersebut adalah: 1Kor 11:5; 14:34* dan 1Tim 2:12*. Hal-hal yang mereka perdebatkan adalah:

  1. Bolehkah kaum wanita mengajar di dalam gereja?
  2. Bolehkah kaum wanita menjadi pemimpin di dalam gereja?

Karena interpretasi-interpretasi yang berbeda terhadap ayat-ayat bersangkutan, maka selama beberapa abad yang lalu kaum wanita telah menderita banyak diskriminasi dalam pelayanan gereja. Banyak dokumentasi yang membuktikan hal-hal tersebut.

Ada beberapa argumentasi yang akan kita bahas:

  1. "Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa dan bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya ..." (1Kor 11:5*). Menurut adat masyarakat sewaktu Paulus menulis surat ini, wanita-wanita yang sopan harus bertudung sewaktu mereka berada di tempat umum. Ayat ini ditujukan kepada wanita-wanita yang memimpin doa atau mengajar dalam kebaktian gereja. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus tidak melarang wanita-wanita yang mengajar atau berkotbah di dalam gereja, asal mereka berdandan dan bertindak dengan sopan, yang dapat diterima oleh adat.

  2. "Sama seperti dalam jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara ..." (1Kor 14:34*). Ayat ini seolah-olah melarang kaum wanita untuk mengajar atau berkotbah dalam gereja. Tetapi janganlah kita tergesa-gesa mengambil kesimpulan yang sedemikian sebelum memperhatikan konteks yang terdapat dalam ayat berikutnya. Ayat 1Kor 14:35* mengatakan: "Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakan kepada suaminya di rumah..."

    Maka perkataan "tidak diperbolehkan untuk berbicara" yang terdapat dalam ayat 34, adalah "menanyakan" sesuatu sewaktu kebaktian berlangsung. Kalau di tengah-tengah kebaktian mereka dengan spontan mengacungkan tangan untuk bertanya, hal ini akan mengganggu suasana kebaktian. Interprestasi sedemikian dapat kita yakinkan dengan ayat 1Kor 14:40*, di mana Paulus mengatakan: "Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." Jadi maksud Paulus adalah demikian: Jangan kebaktiang gereja diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan kaum wanita (ayat 1Kor 14:34-35*) ataupun diganggu oleh pemakaian "bahasa roh" (ayat 1Kor 14:39*). Dengan demikian kita mengetahui, pada hakekatnya ayat yang tersebut di atas bukan larangan Paulus kepada wanita untuk berdoa, mengajar dan berkhotbah dalam kebaktian gereja. Konteks ayat tersebut adalah membicarakan tentang "ketertiban" dalam kebaktian. Seperti halnya dengan bahasa roh, tetapi harus ada ketertiban dalam pemakaian bahasa roh.

  3. "Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki, hendaklah ia berdiam diri" (1Tim 2:12*). Kami yakin ayat ini mempunyai hubungan yang erat dengan situasi yang dialami oleh Timotius dalam gerejanya. Tentunya Timotius sering menghadapi seorang wanita yang "bossy" dalam gereja, sehingga Paulus tidak mengizinkan wanita tersebut menguasai Timotius. Kalau ayat ini kita ambil sebagai patokan bahwa wanita pada umumnya tidak boleh mengajar dan tidak boleh menjadi pemimpin, maka hal ini akan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain, misalnya:

    1. Debora adalah seorang hakim yang memerintah orang Israel (Hak 4:4-5*).
    2. Hulda adalah seorang nabiah (nabi perempuan) di Yerusalem (2Raj 22:14; 2Taw 34:22*).
    3. Hana adalah seorang nabiah yang beribadah dengan setia di Bait Allah (Luk 2:36-39*).
    4. Priskilla bersama suaminya adalah rekan kerja Paulus yang setia (Kis 18:18*) dan mereka sanggup menjelaskan Firman Tuhan kepada Apolos (Kis 18:26*). Bapa gereja yang bernama John Chryssostom (337-407 A.D.), berpendapat bahwa nama Priskila selalu disebutkan terlebih dahulu, sebab Priskila lebih unggul dalam pelayanan dan lebih dihormati oleh anggota-anggota jemaat (Kis 18:18, 26; Rom 16:3; 2Tim 4:19*).
    5. Febe juga sebagai rekan Paulus yang melayani di Kengkrea (Rom 16:1*). g. Euodia dan Sintikhe pernah berjuang dengan Paulus dalam pekabaran Injil (Filip 4:2-3*).

Belakangan ini banyak gereja di benua Amerika beranggapan bahwa pemakaian "exclusia language" (misalnya: policeman) adalah diskriminasi terhadap kaum wanita, sehingga mereka menganjurkan pemakaian "inclusive language" (misalnya: police officer). Bagaimana tanggapan gereja kita terhadap hal ini? Pada hakekatnya kita tidak menentang anjuran ini, tetapi kita pun tidak menentang pemakaian "exclusive language." Jadi kita bersikap netral terhadap isu tersebut, tergantung pemakai bahasa secara individual.

Tetapi hal yang kita anjurkan adalah berdasarkan firman Tuhan yang tertulis dalam Galatia 3:28* "dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." Ayat ini sekaligus menentang diskriminasi terhadap suku bangsa, kasta dan perbedaan kelamin.

Kesimpulan

Berdasarkan apa yang telah kita bahas tadi, kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dalam pelayanan dan jabatan gereja tidak boleh terjadi diskriminasi terhadap perbedaan kelamin. Tuhan pun memanggil wanita terjun dalam pelayanan sebagai majelis, tua-tua, misionari dan pendeta.

  2. Kaum wanita hendaknya melayani dalam gereja menurut panggilan dan karunia yang Tuhan berikan, misalnya dalam suatu gereja ada seorang saudari yang berkarunia untuk mengajar, hendaknya ia diberi kesempatan untuk mengajar.

Sesungguhnya kita mempunyai pandangan yang Alkitabiah terhadap segala isu yang sedang bergolak dalam masyarakat kita pada umumnya dan khususnya tentang kaum wanita dalam pelayanan gereja. Sekaligus kita anjurkan bagi kaum wanita yang mempunyai talenta rohaniah untuk terjun ke dalam pelayanan gereja secara aktif dan produktif.

[Lanjutkan] [Sebelumnya]



T/J Kontemporer:

[Ke Atas]

3. Apakah setiap orang Kristen dipanggil untuk melayani? Bagaimana mengetahui panggilan Tuhan?

"Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Rom 8:28*).

Ayat tersebut di atas memberitahu kita dua hal:

  1. Orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.

  2. Tuhan berjanji bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka.

Dalam Perjanjian Baru, istilah "dipanggil" (Kletos) dan "panggilan" (Klesis) timbul 22 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Panggilan-panggilan ini tidak melulu panggilan untuk menjadi seorang pendeta atau missionari, melainkan seluruh jemaat dipanggil oleh Tuhan dimana "kletos" + kata depan "ek" = "ekklesia." Istilah "ekklesia" timbul dalam Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, yang berarti "the called-out ones" dan diterjemahkan sebagai "gereja."

Suatu gereja yang didirikan oleh Tuhan pasti terdiri atas individu-individu yang dipanggil oleh Tuhan. Mereka dipanggil ke luar dari keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Segala aktivitas dan cara hidup dalam gereja seharusnya tidak "serupa dengan dunia" (Rom 12:2*), melainkan "berpadanan dengan panggilan itu" (Ef 4:1*).

Paulus mengatakan bahwa ia "dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah" (Rom 1:1*). Ini adalah panggilan khusus sebagai Pelayan Tuhan secara "Full time."

Dengan istilah-istilah yang sama Paulus mengatakan bahwa anggota-anggota di jemaat Roma dan Korintus juga dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya (Rom 1:6; 1Kor 7:22*). Ini adalah pelayanan umum yang harus dilakukan setiap orang Kristen. Tiada seorang pun yang boleh berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan. Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.

Secara praktis, banyak orang Kristen mempunyai alasan yang masuk akal untuk tidak terjun ke dalam pelayanan. Misalnya: "Aku tidak mempunyai talenta: Aku tidak berpendidikan tinggi; Aku lemah dan bodoh" dan lain-lain. Saya anjurkan orang-orang yang demikian membaca 1Korintus 1:26-28*. Di sana dikatakan bahwa "ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, meniadakan apa yang berarti ...". Ayat-ayat ini bukan berarti semua orang yang dipakai oleh Tuhan adalah yang bodoh-bodoh, memakai kita. Bahkan Tuhan berjanji akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rom 8:28*).

Dalam masyarakat modern yang berkompetisi tinggi, perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi dunia hanya mau memakai orang-orang yang "pandai, cakap, kuat dan mulia." Tetapi Tuhan memanggil segala macam orang yang "mengasihi Dia" (Rom 8:28*) dan "yang kudus" (Ef 4:12*), untuk diperlengkapi bagi pekerjaan pelayanan. Istilah "diperlengkapi" (katartismos Ef 4:12*), boleh diterjemahkan "dipersenjatai" atau "disempurnakan." Syukur kepada Tuhan bahwa karena kerelaan melayani Tuhan, maka kita yang lemah dan bodoh "diperlengkapi" menjadi orang-orang yang pandai dan kuat. Seorang tokoh iman yang bernama A.W. Tozer mengatakan: "Tuhan hanya dapat memakai orang yang selalu bersukacita dan tidak menolak didikan atau ajaran Tuhan."

Ada banyak orang yang melayani Tuhan secara "temprary." Artinya, kalau ia "senang hati, lancar, banyak berkat, dipuni" maka ia mau melayani Than. Tetapi kalau keadaan memburuk, maka ia tidak lagi berminat untuk melayani. Ini adalah sifat manusia yang egois. Ingatlah bahwa "Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya" (Rom 11:29*). Panggilan Tuhan bersifat "permanen", bukan "sementara."

Yang terakhir, bagaimana kita mengetahui panggilan Tuhan atas diri kita masing-masing?

  1. "Berusahalah sungguh-sungguh" (2Pet 1:10*a) untuk mengetahui panggilan Tuhan.

  2. "Jika kamu melakukannya (taat), kamu tidak pernah tersandung" (2Pet 1:10*b).

  3. Mintalah (berdoa) ... supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya (Ef 1:17-18*).

  4. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita meyakini panggilan Tuhan. Menurut Roma 8:28* "mereka yang mengasihi Dia" identik dengan "mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Maka ketaatan terhadap perintah Tuhan dan dorongan kasih kepada-Nya itulah yang mendasari pelayanan kita.

Setelah kita mengerti panggilan Tuhan, marilah kita siap untuk terjun ke dalam pelayanan dengan segenap hati dan pengucapan syukur. Sebagaimana ada sebuah poster yang mengatakan: "Uncle Sam needs you" demikian pula "we (our chruch) need you" Gereja membutuhkan orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan rela melayani-Nya.

[Lanjutkan] [Sebelumnya]



T/J Kontemporer:

[Ke Atas]

4. Apakah gereja salah merayakan hari Natal?

Aspek-aspek yang negatif tentang perayaan Natal

Belakangan ini banyak gereja yang memberikan konotasi negatif terhadap perayaan Natal. Bahkan mereka melarang anggota-anggotanya untuk berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Mereka mempunyai beberapa alasan yang boleh saya simpulkan sebagai berikut:

  1. Dalam Perjanjian Baru tidak ada indikasi bahwa gereja-gereja pada abad permulaan merayakan hari Natal. Demikian pula, pohon terang dan sinterklaas adalah tidak Alkitabiah.

  2. Menurut pendapat beberapa sarjana Alkitab, kelahiran Tuhan Yesus bukan pada musim dingin (bulan Desember), tetapi pada awal musim rontok (September).

  3. Dewasa ini hari Natal sudah terlalu komersial. Banyak yang menggantikan "Christmas" sebagai "Holiday Season."

  4. Banyak pemabukan dan kecelakaan terjadi karena orang merayakan "Holiday Season."

Hal-hal yang mereka katakan itu memang benar. Perayaan Natal yang sudah dikomersialkan memang tidak sesuai dengan tradisi Kristen, bahkan lebih menyerupai festival. Saturnalia yang dirayakan oleh gereja kafir pada zaman dahulu. Tetapi, apakah gereja salah memperingati kelahiran Tuhan Yesus? Mengapa setiap tahun gereja kita merayakan hari Natal? Marilah kita bahas hal ini.

Aspek-aspek yang positif tentang perayaan Natal

Walaupun perayaan Natal tidak terdapat di dalam Alkitab, kita pun boleh mengesahkan aplikasi Natal yang sehat tentang arti kelahiran Tuhan Yesus kepada dunia. Terutama dalam masyarakat yang semakin duniawi dan fragmental ini, alangkah baiknya kalau setiap tahun kita dapat memperingati suatu fakta yang terbesar di dalam sejarah manusia secara universal, sehingga di dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1Yoh 4:9*). Maka, perayaan Natal adalah suatu proklamasi bahwa "Kristus Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa" (1Tim 1:15*). Hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk penginjilan.

Di dunia Barat kita lazim mengadakan reuni dalam perayaan Natal, di mana anggota-anggota keluarga (mungkin disertai oleh teman-teman atau sanak saudara) berhimpun bersama di bawah pohon terang, kita menyanyi bersama atau mendengarkan lagu-lagu Natal sambil tukar-menukar kado. Inilah suatu komunikasi yang indah antar anggota keluarga dan sanak saudara. Banyak salah paham dan perbedaan pendapat yang sanggup didamaikan. Memang, tukar-menukar kado dapat menjerumuskan kita ke dalam ketamakan atau keduniawian. Namun kalau kita lakukan hal tersebut dengan kasih, tukar-menukar kado mengingatkan kita akan hadian yang terbesar, yang Allah Bapa karuniakan kepada kita, yaitu Tuhan Yesus (Yoh 3:16*). Maka sebelum kita memberikan kado kepada orang yang kita kasihi, kita terlebih dahulu memberikan diri kita sendiri sebagi kado untuk Tuhan.

Melalui perayaan Natal, kita pun boleh memberitakan cerita Natal kepada anak-anak kita. Banyak orang yang sudah meninggalkan Tuhan, bertahun-tahun tidak pernah ke gereja, namun mereka masih teringat cerita-cerita tentang orang majus dan bintang terang, kandang dan palungan, malaikat dan gembala di padang rumput, dan lain-lain. Kesan-kesan Natal inilah yang sering mengembalikan mereka yang terhilang untuk pulang ke rumah Bapa.

Pohon terang memang tidak terdapat di dalam Alkitab. Namun kini pohon terang sudah menjadi suatu simbol perayaan Natal. KIta boleh memakai simbol ini dengan aplikasi yang benar. Misalnya, pohon terang melambangkan Kristus sebagai terang dunia (Yoh 9:5*) dan hendaklah kita "bercahaya di depan orang" agar Bapa yang di surga dipermuliakan (Mat 5:16*).

Bilamana Tuhan Yesus dilahirkan? Sebagian sarjana Alkitab "mengusulkan" 29 September sebagai hari Natal. Hal ini lebih masuk akal, sebab bertepatan dengan perayaan Tabernakel orang Yahudi. Tetapi sebenarnya tidak ada seorang pun yang mengetahui dengan tepat bilamana Yesus dilahirkan. Walaupun demikian, kita percaya bahwa Yesus sungguh telah dilahirkan oleh anak dara Maria di Betlehem. Jadi Ia pasti mempunyai hari ulang tahun, walaupun kita tidak tahu tanggal berapa Yesus dilahirkan, melainkan sikap dan tujuan kita merayakan hari Natal.

[Lanjutkan] [Sebelumnya]



T/J Kontemporer:

[Ke Atas]

5. Mengapa kita harus mengabarkan Injil? Bagaimana caranya mengabarkan Injil?

Mengapa kita mengabarkan Injil?

  1. Karena mengabarkan Injil merupakan bahagian dari amanat Kristus yang agung kepada murid-murid-Nya. Amanat agung ini tercantum di dalam Matius 28:18-20; Markus 16:15-18; Lukas 23:47-49*; Yohanes 20:21-23; Kisah 1:8*. Ayat-ayat tersebut mengatakan bahwa sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Ia memerintahkan murid-murid-Nya untuk menjadi saksi-saksi-Nya dan mengabarkan Injil ke seluruh bumi. Tuhan berjanji akan menyertai mereka serta memberikan kuasa Roh Kudus.

  2. Karena Injil adalah kuasa Allah untuk menyelamatkan manusia (Rom 1:16*). Intisari Injil adalah kematian dan kebangkitan Kristus (1Kor 15:3-4*). Allah berjanji bahwa kalau kita mengakui dengan mulut, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan (Rom 10:9*). Ternyata banyak orang berdosa yang melakukan kriminalitas yang keji. Setelah mereka menerima Injil, kehidupan mereka telah berubah secara total. Mereka menjadi warga masyarakat yang baik dan berguna. Hal ini membuktikan kuasa Injil untuk menyelamatkan dan mengubah orang berdosa.

  3. Karena Injil Kristus adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan umat manusia (Yoh 14:6; Kis 4:12*). Seandainya keselamatan dapat ditempuh dengan pelbagai macam cara yang berbeda, maka pekabaran Injil itu bukan hal yang harus kita lakukan. Tetapi kalau Kristus adalah satu-satunya jalan Keselamatan, hanya Kristus yang dapat memberi hidup yang kekal, maka pekabaran Injil itu harus kita laksanakan.

  4. Karena yang mengabarkan Injil itu sedikit (Mat 9:37-38*). Jumlah populasi manusia terus bertambah dengan cepat, tetapi angka pertumbuhan gereja sangat kecil sekali. Menurut statistik yang paling baru, populasi dunia pada dewasa ini sudah mencapai 5,7 billiun, dan setiap minggu penduduk dunia akan bertambah 1,8 juta. Diperkirakan pada pertengahan abad yang akan datang, populasi dunia akan menjadi 125 billiun. Ada suatu stastitik mengatakan bahwa orang Kristen yang mengabarkan Injil hanya 10%. Artinya ada 90% orang Kristen yang hanya berpangku tangan, tidak pernah berusaha mengabarkan Injil.

Oleh karena sebab-sebab yang telah kita sebutkan, gereja harus memobilisasi setiap anggotanya untuk berbeban dan terjun ke dalam pekabaran Injil.

Bagaimana kita mengabarkan Injil?

  1. Teladan jemaat di Filadelfia (Wahy 3:7-9*)

  2. Walaupun gereja ini kecil dan kekuatan mereka "tidak seberapa" (Wahy 3:8*), tetapi mereka "menurut firman Tuhan" bersedia mempergunakan apa yang mereka miliki untuk mengabarkan Injil, sehingga Tuhan berkata: "Lihatlah, Aku telah membuka bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun."

    Dengan demikian kita mengetahui, pekabaran Injil tidak tergantung atas kemampuan kita. Kalau Tuhan tidak membuka jalan, gereja yang bersar pun tidak dapat mengabarkan Injil. Sebaliknya, kalau Tuhan berkenan membuka jalan, gereja yang tidak mampu pun sanggup berfungsi dalam pekabaran Injil. Kita harus berdoa agar Tuhan membuka pintu pekabaran Injil, sehingga kita dapat menunaikan amanat yang agung.

  3. Teladan Andreas

  4. Dalam Injil Yohanes, Andreas pernah tiga kali membawa orang untuk datang ke hadapan Tuhan. Andreas merupakan "jembatan" yang menghubungkan orang-orang tersebut dengan Tuhan:

    1. Andreas telah membawa saudaranya, yaitu Simon Petrus kepada Tuhan (Yoh 1:35-42*).

    2. Andreas telah membawa seorang anak ke hadapan Tuhan untuk mempersembahkan roti dan ikan (Yoh 6:8-9*).

    3. Andreas telah membawa beberapa orang Gerika untuk menemui Tuhan Yesus (Yoh 12:21-22*).

    Kiranya kita mengambil teladan Andreas untuk membawa sanak saudara, keluarga dan teman-teman kepada Tuhan Yesus. Dalam hal ini, kita harus selalu memperhatikan kebutuhan orang lain dan selalu bersedia untuk sewaktu-waktu sanggup memperkenalkan orang kepada Tuhan. Rasul Petrus menganjurkan kita: "Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat" (1Pet 3:15*).

  5. Pekabaran Injil melalui persahabatan

  6. Belakangan ini banyak orang membicarakan tentang "friendship evangelism" yaitu pekabaran Injil melalui persahabatan. Memang hal ini sangat menggembirakan. Sebab menurut stastitik yang kami dapatkan, 70% - 80% dari orang yang pertama kali mengikuti kebaktian di gereja, adalah hasil ajakan teman-teman mereka. Maka jangan lupa untuk selalu menyisipkan Injil Tuhan di dalam pergaulan Saudara.

  7. Kita harus "pergi" mengabarkan Injil

  8. Banyak orang tidak sempat atau tidak mungkin datang ke gereja. Karena itu janganlah membuang waktu untuk mengganggu kedatangan mereka. Sesuai dengan amanat agung, kita harus "pergi" ke tempat mereka untuk memberitahu bahwa Kristus adalah Tuhan. Di dalam missiologi, kita sering membaca istilah "Hidden People" yaitu "orang-orang yang tersembunyi." Siapakah mereka itu? Yang dimaksud dengan "the hidden people" bukan hanya orang-orang yang hidup di hutan atau di daerah yang tertutup, tetapi ada kemungkinan bahwa mereka berada di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karena sesuatu sebab yang tertentu, mereka tidak pernah mendengarkan berita Injil, atau tidak pernah berhubungan dengan gereja, atau bergaul dengan orang Kristen. Pernahkan Anda memperhatikan orang-orang yang demikian! Bersediakah Anda menjangkau mereka dengan kasih Kristus? Inilah tantangan yang kita hadapi: "Pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru" (Mr 16:20*).

[Lanjutkan] [Sebelumnya]



T/J Kontemporer:

[Ke Atas]

6. Mengapa gereja beribadah pada hari Minggu?

Banyak umat Kristen bertanya: "Mengapa gereja beribadah pada hari Minggu? Bukankah hal ini bertentangan dengan hukum Tuhan di dalam Perjanjian Lama?" Memang hal ini bukan suatu isu yang baru, namun banyak orang Kristen yang masih kabur dengan makna hari Minggu yang berkaitan dengan KEBANGKITAN Tuhan Yesus. Marilah hal ini kita bahas bersama:

Di dalam Perjanjian Lama

Hari Sabat adalah hari yang ketujuh menurut kalender kita adalah hari Sabtu. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama tercantum hukum-hukum yang ditetapkan oleh Tuhan tentang hari Sabat sebagai berikut:

  1. Hari Sabat dikuduskan oleh Tuhan: "Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu." (Kej 2:3*)

  2. Tuhan memerintahkan umat Israel untuk memegang hari Sabat: "... enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat ..." (Kel 20:8-11*). Hukum ini diberikan untuk memperingati pekerjaan penciptaan Tuhan yang selesai pada hari ketujuh.

  3. Sekali lagi Tuhan memerintah umat Israel untuk merayakan hari Sabat: "Tetaplah ingat dan kuduskan hari Sabat ... Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau di bawa ke luar dari sana oleh Tuhan ..." (Ul 5:12-15*). Hukum ini diberikan bukan untuk memperingati penciptaan Tuhan, tetapi untuk memperingati anugerah Tuhan yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di tanah Mesir. Umat Israel yang diperbudaki di tanah Mesir harus bekerja seminggu tujuh hari tanpa istirahat, maka setelah Tuhan menyelamatkan mereka, mereka diberi istirahat pada hari Sabat.

Di sini kita boleh mengambil kesimpulan bahwa dalam Kitab Keluaran, merayakan hari Sabat merupakan suatu upacara keagamaan yang harus dijalankan oleh umat Israel. Tetapi dalam kitab ulangan makna hari Sabat sudah berubah, bukan untuk memperingati karya penciptaan Tuhan, tetapi untuk memperingati pelepasan dari perbudakan. Mereka tidak perlu bekerja seminggu tujuh hari, mereka boleh menikmati liburan pada hari yang ketujuh. Jadi hari Sabat mengandung makna perikemanusiaan, bukan melulu syarat agama.

Di dalam Perjanjian Baru

  1. Tuhan Yesus berkata: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh 5:17*). Ini berarti bahwa kita tidak lagi memegang hari Sabat untuk memperingati selesainya karya ciptaan Tuhan.

  2. Pada suatu hari orang-orang Farisi mengecam Tuhan Yesus, sebab murid-murid-Nya memetik bulir gandum pada hari Sabat. Sebab itu Yesus mengutarakan ajaran yang penting tentang hari Sabat: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Jadi Anak manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (Mr 2:27*). Di sini Tuhan Yesus menghubungkan hari Sabat dengan perikemanusiaan (Mr 2:25-26*).

  3. Rasul Petrus berkata: "... mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipukul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?" (Kis 15:10*). Perkataan ini menyangkut keadaan orang Israel pada waktu itu yang menambahkan 1521 larangan pada hari Sabat. Misalnya orang dilarang mengikat tali pada hari Sabat, sebab hal itu berarti ia bekerja. Orang dilarang membawa pena, sebab hal itu berarti menggotong beban. Maka di hadapan sidang di Yerusalem, Petrus telah mengecam formalitas orang Israel pada hari Sabat.

  4. Setiap hukum di dalam Sepuluh Hukum Musa disebutkan di dalam surat-surat Perjanjian Baru kecuali hukum yang keempat, yaitu tentang hari Sabat. di dalam Perjanjian Baru, orang Kristen tidak pernah dinasihati untuk memegang hari Sabat. Bahkan Paulus memperingati orang-orang Kristen yang secara formalitas memegang hari Sabat (Kol 2:16-17*).

  5. Sebaliknya orang-orang Kristen pada abad permulaan berhimpun pada hari Minggu untuk berbakti kepada Tuhan:

    1. Tuhan Yesus bangkit pada hari Minggu (Mat 28:1*) dan para murid berhimpun bersama pada hari Minggu (Yoh 20:19,26*).

    2. "Pada hari pertama dalam minggu itu (hari Minggu), ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, ..." (Kis 20:7*). Orang Kristen berhimpun, mengadakan perjamuan kudus dan mendengarkan khotbah pada hari Minggu.

    3. "Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu, hendaklah kamu masing-masing ~~ sesuai dengan apa yang kamu peroleh ~~ menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan kalau aku datang" (1Kor 16:2*). Orang Kristen memberi persembahan pada hari Minggu.

Nubuat tentang hari Minggu sebagai Hari Tuhan

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah HARI yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya" (Mazm 118:22-24*).

Mazmur 118:22*a berbicara tentang KEMATIAN Tuhan Yesus, sedangkan ayat 22b tentang KEBANGKITAN Tuhan. Maka ayat ini pernah dikutip oleh Petrus di dalam khotbahnya pada hari Pentakosta untuk menerangkan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Kis 2:10-11*). Sedangkan ayat 24 merupakan nubuat tentang ibadah orang Kristen pada hari Minggu untuk memperingati kebangkitan Tuhan Yesus.

Kesimpulan

Gereja di dalam zaman Perjanjian Baru tidak pernah diperintahkan untuk memegang hari Sabat. Sebaliknya, untuk memperingati hari KEBANGKITAN Tuhan, sejak abad pertama orang-orang Kristen beribadah kepada Tuhan pada hari Minggu.

Kesimpulan

Gereja di dalam zaman Perjanjian Baru tidak pernah diperintahkan untuk memegang hari Sabat. Sebaliknya, untuk memperingati hari KEBANGKITAN Tuhan, sejak abad pertama orang-orang Kristen beribadah kepada Tuhan pada hari Minggu.

[Lanjutkan] [Sebelumnya]


Komentar