Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagaimana Mengampuni Diri Sendiri?

Edisi C3I: e-Konsel 158 - Mengampuni Diri Sendiri

Apakah hari ini Anda berani membebaskan diri dari bayang-bayang kesalahan yang Anda lakukan kemarin? Apakah Anda berani mengampuni diri sendiri? Mengampuni diri sendiri sangat memerlukan keberanian. Lagipula, siapakah Anda sampai-sampai dapat membebaskan diri dari dosa yang

Apakah hari ini Anda berani membebaskan diri dari bayang-bayang kesalahan yang Anda lakukan kemarin?

Apakah Anda berani mengampuni diri sendiri?

Mengampuni diri sendiri sangat memerlukan keberanian. Lagipula, siapakah Anda sampai-sampai dapat membebaskan diri dari dosa yang jelas-jelas telah terukir dalam hidup -- seolah-olah apa yang pernah Anda lakukan dahulu tidak memengaruhi hidup Anda yang sekarang?

Di manakah Anda akan mendapatkan hak untuk mengampuni diri sendiri saat orang lain ingin membuat Anda malu ketika mereka tahu apa yang telah Anda lakukan? Beranikah Anda?

Jawabannya adalah Anda mendapatkan hak untuk mengampuni diri sendiri hanya dari kasih dan Anda berani mengampuni diri sendiri hanya dengan semangat kasih. Kasih adalah sumber tertinggi dari hak dan keberanian untuk mengabaikan penyesalan yang Anda tujukan pada diri sendiri. Saat Anda menjalani hidup seolah-olah kesalahan di hari kemarin tidak berkaitan dengan apa yang Anda rasakan terhadap diri Anda yang sekarang, maka Anda sedang memertaruhkan kasih yang membebaskan Anda, bahkan dari penghakiman diri sekalipun.

Namun harus ada kebenaran. Tanpa kejujuran, pengampunan kepada diri sendiri hanyalah tipuan kejiwaan. Aturan mainnya, kita tidak dapat benar-benar mengampuni diri kita sendiri kecuali dengan melihat kesalahan di masa lalu dan mengakuinya.

Memerlukan penilaian yang jujur untuk menjaga kita dari keinginan menuruti diri sendiri.

Ada empat tahap yang harus dilalui untuk mengampuni orang lain yang menyakiti kita, yaitu terluka, membenci, menyembuhkan diri sendiri, dan akhirnya kembali bersama-sama lagi.

Kita semua menyakiti diri kita sendiri. Kita menyakiti diri dengan tidak adil, dan kadang-kadang keterlaluan.

Allah tahu penyesalan atas kebodohan kita mencurangi diri kita sendiri. Seorang perokok misalnya, saat dia menghabiskan satu pak rokok setiap hari, dia takut kalau-kalau suatu saat nanti dia akan berkata, "aku bodoh, bodoh, sekarat sebelum waktunya", dan tidak ada seorang pun yang bisa disalahkan kecuali diri sendiri. Kemudian ada kesempatan-kesempatan yang ditolak, disiplin yang ditolak, dan kecanduan semakin menjadi -- itu semua bisa menghantui Anda dengan rasa bersalah yang mengatakan bahwa Anda telah menjalani hidup yang tidak benar.

Namun, luka hati yang paling membuat hati Anda sulit untuk mengampuni diri sendiri adalah luka hati yang timbul karena melukai orang lain.

Ingat saat Anda membohongi orang yang memercayai Anda! Saat Anda mengabaikan anak yang bergantung kepada Anda. Saat Anda mengabaikan orang yang meminta bantuan Anda! Semua itu dan ribuan hal lainnya menyerang dengan penilaian yang jujur terhadap diri kita sendiri.

Kita tidak harus menjadi orang yang jahat untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Andai saja orang-orang jahat melakukan hal-hal yang jahat kepada orang lain, maka kita akan hidup dalam dunia yang menyenangkan. Kita melukai orang lain karena kecerobohan dan sifat-sifat buruk kita.

Semakin baik sifat yang kita miliki, semakin dalam kita merasakan luka atas ketidakadilan yang kita lakukan. Luka kita menjadi kebencian kita. Luka yang kita timbulkan pada orang lain menjadi kebencian terhadap diri kita sendiri. Karena kita memerlakukan orang lain dengan tidak baik. Kita menghakimi, menghukum, dan memvonis diri kita sendiri. Biasanya secara diam-diam.

Beberapa di antara kita hanya merasakan kebencian terhadap diri sendiri yang sifatnya pasif. Kita hampir tidak memiliki kekuatan kasih untuk memberkati diri kita sendiri. Kita tidak dapat melihat di cermin dan berkata, "Apa yang aku lihat, membuatku bahagia bisa hidup di dunia." Sukacita kita menjadi diri sendiri dicabik-cabik oleh kebencian yang pasif.

Ada juga yang terbenam dalam kebencian terhadap diri sendiri yang sifatnya agresif. Mereka menghancurkan diri mereka sendiri dengan kemarahan yang meledak-ledak. Sebagian dari diri mereka menutup hidung dengan kedua tangannya dan membenamkan bagian diri yang lain dalam lubang hitam amarah. Musuh mereka adalah diri mereka sendiri. Dan kadang-kadang, yang paling parah, kebencian tersebut dilampiaskan dengan merusak atau menyakiti diri sendiri.

Jelas, penghakiman yang Anda lakukan terhadap diri sendiri mungkin adalah omelan yang tidak masuk akal, tuduhan yang palsu, dan tekanan yang tidak adil. Di sisi lain, sebagian dari diri Anda sering kali menyapu kesalahan Anda yang sebenarnya di bawah karpet kepuasan terhadap diri sendiri. Anda melawan diri sendiri hanya untuk menghindari luka yang dihadirkan oleh sebagian dari diri Anda yang lain.

Dalam beberapa kasus, Anda seharusnya tidak terlalu memercayai penghakiman dari dalam diri Anda.

Penghakiman diri itu tetap menjadi kritikus yang paling tangguh, dan Anda menyadari apa yang dikatakannya.

Sekarang marilah kita berpindah ke respons keberanian kasih.

Apa yang terjadi bila akhirnya Anda benar-benar mengampuni diri Anda sendiri? Saat Anda mengampuni diri Anda sendiri, Anda menulis kembali skenario Anda. Diri Anda yang sekarang tidak lagi terikat pada apa yang Anda lakukan di masa lalu. Orang jahat yang Anda perankan pada adegan pertama dibuang dan Anda kini menjadi orang yang baik pada adegan yang kedua.

Kini Anda melepaskan diri Anda dari skenario masa lalu. Anda berjalan menuju hari esok dan rasa bersalah hilang.

Sekali lagi, kata yang tepat untuk hal ini adalah "ketidakrelevanan". Lihat kembali masa lalu Anda, akui fakta yang tidak baik, dan katakan bahwa itu semua kini tidak ada hubungannya dengan Anda yang sekarang. Tidak ada hubungannya dan tidak penting! Masa lalu Anda tidak ada hubungannya dengan Anda atau apa yang Anda rasakan.

Memang tidaklah mudah untuk melakukannya. Bagian dari diri Anda yang melakukan kesalahan selalu berjalan bersama Anda ke mana pun Anda pergi. Mungkin ada suara hati yang mengatakan, "Bagus, tapi kita berdua tahu betapa buruknya dirimu, bukan?" Memerlukan mukjizat kasih untuk menyingkirkan sebagian dari diri Anda yang tidak mau mengampuni, yang bersembunyi dalam bayang-bayang hati Anda.

Mungkin tak ada seorang pun yang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang siksaan pengampunan diri selain Dostoevsky, seorang penulis ulung dari Rusia. Dalam novelnya, "Crime and Punishment", ia menggambarkan perjuangan seorang pembunuh bernama Ilyon Raskolnikov dalam mengampuni dirinya sendiri.

Raskolnikov melakukan sesuatu yang jahat seperti yang bisa dilakukan oleh orang lain. Dia dengan brutal membunuh seorang wanita yang tak berdaya, pemilik rumah gadai tua -- wanita yang tidak menyenangkan, pelit dan lekas marah, namun tetap tidak bersalah. Rasa bersalahnya sangat mendalam.

Tak seorang pun mampu menanggung rasa bersalah seperti itu sendirian, tak akan kuat menanggungnya dalam waktu yang lama. Cepat atau lambat orang itu harus mengatakannya. Raskolnikov bertemu dengan seorang gadis, seorang malaikat baginya, Sonia, dan dia mengakui semuanya kepadanya. Ia menceritakan semuanya kepada Sonia.

Sonia membujuknya supaya mengakui semuanya kepada polisi, dan akhirnya dia pun melakukannya. Dia dipenjarakan di Siberia.

Sonia mengikutinya ke Siberia dan menunggu kesediaannya mengampuni dirinya sendiri sehingga dia bisa mendapatkan kebebasan untuk menerima cinta Sonia.

Raskolnikov tidak bisa mengampuni dirinya sendiri. Sebaliknya, dia malah menyalahkan dirinya.

Dia berduka, dia berkata: "sudah takdir"; dia ditakdirkan untuk membunuh seorang wanita tua. Saat Anda menghadapi situasi seperti ini, apakah menurut Anda tindakannya sangat jahat? Tidakkah Napoleon juga melakukan hal yang sama dan tidakkah mereka membuat monumen baginya? Dengan cara pintar seperti ini, dia mengampuni dirinya sendiri dengan mencari alasan-alasan yang kuat sehingga dia tidak menyalahkan diri atas apa yang ia lakukan.

Raskolnikov tidak berani merasa bersalah.

"Oh, betapa bahagianya dia," tulis Dostoevski, "seandainya dia bisa menyalahkan dirinya sendiri! Sehingga dia bisa menanggung segalanya, bahkan rasa malu dan aib."

Namun dari dulu sampai sekarang, Raskolnikov merasakan adanya kepalsuan dalam dirinya. Dia tahu bahwa jauh di dalam dirinya, dia berbohong terhadap dirinya sendiri.

Dan akhirnya hal itu terjadi. Bagaimana hal itu terjadi, dia sendiri tidak mengetahuinya. Dia berlutut di bawah kaki Sonia dan menerima cintanya. "Dia menangis dan memeluk kaki Sonia." Akhirnya dia memiliki kekuatan untuk mengasihi. Dan kekuatannya untuk mengasihi itu menyatakan bahwa mukjizat benar-benar telah terjadi; dia telah mengampuni dirinya sendiri.

Dia mengampuni dirinya sendiri? Untuk kejahatan berdarah dingin seperti itu? Ya. "Semua hal, bahkan kejahatannya, hukumannya, serta vonis yang dijatuhkan kepadanya dan pemenjaraan dirinya sekarang adalah hal-hal yang tidak dipedulikannya.

Lepas! Lepas karena pengertian bahwa masa lalunya yang kelam tidak lagi ada hubungannya dengan dirinya saat ini dan di masa yang akan datang. Dia bebas dari penghakimannya atas dirinya sendiri dan hal itu membuatnya bebas untuk mencintai.

Raskolnikov berdiri tegak dalam keterpurukannya untuk menunjukkan bahwa dalam keadaan terburuk sekalipun, kita bisa mendapatkan kekuatan untuk membebaskan diri sendiri.

Akhirnya, puncak dari pengampunan diri muncul saat kita merasa bersatu lagi dengan diri kita sendiri. Luka itu disembuhkan. Bagian dari diri Anda, yang menghancurkan Anda, kini bersatu lagi. Anda kembali utuh, satu; tidak tercerai-berai lagi.

Anda tidak lagi dikendalikan oleh diri Anda sendiri. Anda benar-benar menyadari bahwa Anda dulu melakukan kesalahan dan Anda tidak ingin melakukannya lagi. Anda tidak ingin kesalahan di masa lalu itu menghantui Anda yang sekarang. Anda kembali mengambil langkah dalam hidup. Anda telah membuat diri Anda sendiri merasa nyaman.

Hal seperti ini tidak terjadi sekali untuk selamanya. Kebencian yang Anda rasakan selalu datang dan pergi, dan Anda menyangkal kesalahan yang pernah Anda lakukan. Namun, kemudian Anda kembali kepada diri Anda sendiri lagi, lagi, dan lagi.

Mengampuni diri sendiri adalah mukjizat pemulihan yang hampir bisa dikatakan paling pokok!

Namun, bagaimana Anda bisa melakukannya?

Yang terpenting adalah Anda harus jujur. Tidak ada cara lain untuk mengampuni diri sendiri tanpa kejujuran. Keterusterangan -- pemikiran yang siap untuk meninggalkan masa lalu dan menghadapi kenyataan -- adalah perlengkapan rohani pertama yang Anda perlukan.

Tanpa keterusterangan, Anda hanya bisa menjadi orang yang puas terhadap dirinya sendiri. Puas diri adalah pengampunan yang palsu. Beberapa orang menunjukkan dirinya yang tidak sebenarnya, tidak ada kata lain untuknya. Mereka bergantung pada akal mereka yang dangkal, mereka mengejar hidup yang tak teruji dengan kepuasan hati yang tak pernah diuji, seperti sapi yang sedang merumput daripada seorang manusia yang jujur.

Perbedaan antara orang yang berpuas diri dan orang yang benar-benar mengampuni dirinya sendiri adalah seperti orang yang sedang mabuk kokain dan seorang yang benar-benar memiliki alasan untuk bahagia.

Anda memerlukan kepala yang dingin untuk bisa memiliki hati yang mengampuni.

Sebagai contoh, Anda harus dapat membedakan penghargaan diri dan pengampunan diri.

Anda bisa mendapatkan penghargaan diri saat Anda tahu bahwa Anda patut dihargai. Menghargai diri sendiri berarti merasa bahwa Anda istimewa, benar-benar diinginkan, mahkluk yang Tuhan ciptakan sendiri, dan mahkluk yang sangat indah.

Kadang-kadang Anda hanya mendapatkan penghargaan diri setelah Anda menghadapi permasalahan hidup.

Ada seorang pria yang terkena sindrom "Manusia Gajah" (Elephant Man); memiliki tangan yang jauh lebih besar dari tangan normal, dan tangan itu adalah satu-satunya tangannya. Dia belajar melihat kelebihannya di balik kekurangan dalam dirinya dan dia menghargai dirinya sendiri apa adanya. Contoh lain, Kim adalah seorang anak adopsi yang cantik yang mewarisi penyakit turunan dari ibu kandungnya. Kim memilih untuk menerima dirinya sendiri sebagai anugerah terindah dari Tuhan apa adanya meskipun tangannya jauh lebih besar dari tangan orang normal.

Diberkatilah orang yang menghargai dirinya sendiri karena mereka telah melihat kelebihan di dalam diri mereka.

Namun, penghargaan diri tidaklah sama dengan pengampunan diri. Anda menghargai diri Anda sendiri saat Anda menemukan kelebihan dalam diri Anda. Anda mengampuni diri Anda sendiri setelah Anda menemukan kesalahan Anda sendiri. Anda menghargai diri Anda karena kebaikan yang ada dalam diri Anda. Anda mengampuni diri Anda karena kesalahan yang Anda lakukan.

Bila Anda tidak melihat perbedaannya, maka Anda pun tidak akan bisa mengampuni diri Anda sendiri. Jadi Anda membutuhkan kepala yang dingin untuk mengetahui apa yang akan Anda lakukan.

Anda juga perlu keberanian. Mengampuni diri sendiri adalah keberanian yang paling pokok untuk mengasihi.

Alasan mengapa mengampuni diri sendiri memerlukan keberanian, berhubungan dengan sikap orang lain terhadap orang yang mengampuni dirinya sendiri. Orang yang selalu memandang dirinya benar tidak ingin Anda mengampuni diri Anda sendiri. Mereka ingin Anda selalu berada dalam bayang-bayang rasa malu selamanya.

Saya memahami orang-orang seperti itu karena saya salah satunya. Ada sebagian dalam diri saya yang ingin agar orang yang melakukan kesalahan, terutama yang terkenal, tetap rendah diri, berada di tempat paling belakang, berbicara dengan suara yang hampir tak terdengar; saya ingin mereka merendahkan diri, atau mungkin sangat merendahkan diri.

Jadi, saat Anda berjalan dan berbicara selayaknya orang yang sudah memisahkan kesalahan masa lalu dengan diri Anda yang sekarang, Anda akan memerlukan keberanian untuk menghadapi khayalak ramai yang merasa diri benar.

Kemudian Anda juga harus tegas.

Anda tenggelam di dasar penghukuman diri karena kurang tegas. Anda hampir akan selalu gagal mengampuni diri saat Anda tidak mau menjadi tegas mengenai untuk apa Anda mengampuni diri sendiri.

Kebanyakan dari kita mencoba, misalnya, mengampuni diri karena keadaan diri kita. Kita jelek, kejam, picik, bawel; atau, sebaliknya, kita terlalu baik, kalahan, dan dimanfaatkan sana-sini.

Namun, orang yang mencoba mengampuni diri mereka sendiri karena kesalahan, sama sekali tidak biasa-biasa saja; mereka benar-benar bangga sampai-sampai mereka ingin menjadi Allah. John Quincy Adams, bukan yang terhebat, namun seorang presiden yang sangat kompeten, tidak dapat mengampuni dirinya sendiri. "Aku tidak pernah melakukan apa-apa," tulisnya di buku hariannya. "Hidupku sia-sia, penuh dengan aspirasi yang stagnan, dan doa-doa agar keberadaanku bermanfaat dengan orang lain tidak pernah terwujud." Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh seorang ahli hukum, Hugo Grotius, Bapak Hukum Internasional Modern, di ranjang tempat ia meninggal, adalah: "Aku tidak pernah melakukan hal yang berarti dalam hidupku." Beberapa orang nampak biasa-biasa saja dalam erangannya menghadapi kegagalan dalam hidup; namun mereka sungguh-sungguh merana karena hanya menjadi manusia.

Anda harus menghentikan kepura-puraan Anda: tepatnya, untuk hal apa Anda perlu pengampunan? Karena tidak setia dengan pasangan Anda pada tahun yang lalu? Bagus, Anda pasti bisa mengampuni diri. Karena menjadi orang yang jahat? Tidak, itu terlalu sulit; Anda tidak dapat menelan diri Anda seutuhnya.

Sebagian besar dari kita hanya dapat menangani satu hal pada suatu waktu. "Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari," kata Yesus. Saat kita membebani diri terlalu banyak dengan rasa bersalah, maka kita akan tenggelam dalam keputusasaan. Satu-satunya cara kita dapat mengampuni diri, bebas dari tirani suara hati yang lembut, adalah menjadi tegas dan mengampuni diri atas satu kesalahan pada satu waktu.

Akhirnya, Anda harus mengonfirmasikan tindakan berani Anda dalam mengampuni diri dengan sebuah tindakan kasih yang sembrono. Bagaimana Anda yakin bahwa Anda berjudi dengan rasa bersalah dan menang kecuali Anda memertaruhkan kemenangan Anda dalam kasih?

"Dia mengasihi karena dia telah diampuni" -- itu adalah perkataan Yesus yang ditujukan pada seorang wanita yang nekat masuk ke sebuah jamuan makan malam, berlutut pada kaki Yesus dan meminyakinya dengan narwastu.

Kasih adalah tanda bahwa Anda telah berhasil, bahwa Anda telah lepas dari rasa bersalah yang menghukum Anda. Anda tidak akan selalu tahu kapan tepatnya Anda telah mengampuni diri Anda sendiri. Seperti saat Anda mencapai puncak bukit melalui jalan raya yang menanjak -- Anda mungkin tidak yakin kapan Anda sampai ke dasar bukit, namun Anda dapat mengatakan bahwa Anda telah melalui puncak bukit saat Anda menginjak gas dan mobil melaju. Tindakan kasih seperti akselerasi yang cepat. Tindakan kasih yang bebas, kepada siapa pun itu dinyatakan, dapat memberi sinyal pada Anda bahwa apa yang Anda lakukan, berkuasa bagi orang yang sedang mengampuni diri.

Anda dapat memberinya hadiah! Mwngundangnya makan malam! Menjenguk orang sakit! Anda dapat merangkul seorang teman yang sebelumnya belum pernah Anda sentuh! Tulis surat yang berisi ucapan terima kasih. Atau mengatakan kepada Ayah Anda bahwa Anda mengasihinya. Saat kita melakukannya, kita melakukan mukjizat dari pengampunan atas diri kita sendiri.

Ya, kasih memberi Anda hak untuk mengampuni diri Anda sendiri. Dan kasih juga memberikan Anda kekuatan, setidaknya untuk mulai mengampuni diri. Proses pemulihan mungkin berjalan lambat, namun itu lebih baik daripada tidak berjalan sama sekali, kaki terkubur dalam semen penghukuman diri.

Mengampuni diri sendiri berarti menyatakan misteri seseorang yang memaafkan dan dimaafkan. Anda menghakimi diri: Anda akan menjadi tidak utuh. Anda mengampuni diri: Anda memulihkan keretakan.

Yang harus Anda tantang untuk memulihkan diri Anda sendiri dengan tindakan sederhana ini adalah sebuah sinyal yang ditujukan pada dunia bahwa kasih Allah adalah sebuah kekuatan dalam diri Anda. (t/Ratri dan Dian)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Forgieve; Healing The Hurts We Don`t Deserve
Judul asli artikel : Forgiving Ourselves
Penulis : Lewis B. Smedes
Penerbit : Pocket Books, New York 1984
Halaman : 97 -- 105
Sumber
Halaman: 
97 -- 105
Judul Artikel: 
Forgieve; Healing The Hurts We Don`t Deserve
Penerbit: 
Pocket Books, New York 1984

Komentar