Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bimbingan untuk Membantu Anak Berprestasi

Edisi C3I: e-Konsel 293 - Bimbingan Konseling dan Prestasi Siswa

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Apa itu bimbingan dan penyuluhan? Beberapa ahli menyatakan demikian.

  • A.J. Jones: bimbingan merupakan pemberian bantuan oleh seseorang kepada seorang lain dalam menentukan pilihan, penyesuaian, dan pemecahan permasalahan. Tujuannya adalah membantu orang yang dibimbing agar lebih mampu bertanggung jawab atas dirinya. Yang ditekankan adalah pemberian bantuan, sehingga orang yang dibimbing lebih berperan dalam menentukan arah bantuan itu.

  • A. Crow: bantuan/pendampingan sebaiknya diberikan oleh pembimbing yang memperoleh latihan khusus agar pemberian bantuannya bertanggung jawab, karena bantuan tersebut erat hubungannya dengan perubahan hidup dan nasib seseorang.

  • L.D. Crow dan A. Crow: bimbingan merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh pribadi yang terdidik (terlatih), kepada setiap individu yang usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan hidup, mengembangkan sudut pandangannya, mengambil keputusannya sendiri, dan menanggung bebannya sendiri.

Jadi, bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang, agar ia mengembangkan potensi-potensi di dalam dirinya sendiri untuk mengatasi persoalan-persoalan, sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab tanpa harus bergantung kepada orang lain. Untuk itu, pembimbing yang baik tidak menentukan jalan yang akan ditempuh seseorang, melainkan hanya membantu dalam menemukan dan menentukan sendiri jalan yang akan ditempuhnya. Agar tujuan ini berhasil, perlu pemahaman yang mendalam mengenai orang yang akan diberi bimbingan dan mengetahui latar belakangnya sebelum bimbingan diberikan.

Sedangkan penyuluhan merupakan teknik dasar dalam bimbingan. L.R. Wolberg mengatakan bahwa penyuluhan merupakan suatu teknik yang dipakai oleh seorang ahli (pekerja sosial, psikologi, pendidikan, dan agama). Penyuluhan biasanya dirumuskan sebagai suatu bentuk wawancara -- klien dibantu untuk mengerti dirinya secara mantap, supaya ia dapat memperbaiki kesulitan lingkungan (adaptasi). Konseling ini dapat menjadi bentuk perawatan yang sangat bermanfaat bila dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Bimbingan dan penyuluhan terutama diberikan di dalam keluarga. Keluarga adalah lingkungan pertama, di mana anak memperoleh pengalaman-pengalaman yang memengaruhi hidupnya. Di sinilah tugas orang tua untuk membimbing anaknya, supaya perkembangan anak dapat berlangsung dengan baik.

Anak-anak mulai sekolah pada umur 4 tahun dan menjalani pendidikan selama kurang lebih 14 tahun. Dengan demikian, sebagian waktu mereka dihabiskan di lingkungan sekolah. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan dan bimbingan dari sekolah, antara lain dari guru dan pembimbing konseling di sekolah. Itulah sebabnya, pemerintah memasukkan bimbingan dan penyuluhan dalam kurikulum sekolah.

Bimbingan di sekolah perlu dilakukan terus-menerus supaya anak didik dapat memahami dirinya, sehingga anak sanggup mengarahkan diri, bertingkah laku wajar sesuai dengan tuntutan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tujuan bimbingan adalah membantu anak didik untuk mencapai kebahagiaan hidup pribadi, kehidupan yang efektif dan produktif, kesanggupan hidup bersama dengan orang lain, dan keserasian antara cita-cita dan kemampuan yang dimilikinya. Tujuan ini dapat kita perinci ke dalam program bimbingan agar anak didik memiliki:

1. Kemampuan berprestasi di sekolah.

Masalah anak sekolah berkisar pada kemampuan berprestasi. Jika anak mendapatkan nilai rapor jelek, banyak orang tua menanyakannya pada guru/wali kelas mengapa anaknya memperoleh nilai jelek. Bahkan mungkin ada orang tua yang pergi ke psikolog untuk mengetes IQ anak. Sebenarnya, orang tua tidak perlu terlalu panik. Mereka hanya perlu meneliti faktor-faktor penyebab rendahnya prestasi anak. Misalnya, apakah anak sudah cukup berusaha dan belajar dengan teratur? Apakah anak sungguh-sungguh belajar atau banyak melamun dan berkhayal? Apakah anak ketat dalam disiplin belajar? Apakah anak sudah mengerti bahan yang harus dipelajari? Atau bagaimanakah sikap anak di dalam kelas sewaktu ada pelajaran?

Jika anak kurang ketat dalam disiplin belajar, anak perlu diingatkan lagi akan waktu belajar yang ditentukan baginya. Awalnya mungkin sulit karena sesudah belajar anak ingin segera meninggalkan meja belajar, lalu bermain/mengobrol dengan saudara-saudaranya. Dalam hal ini, anak perlu meningkatkan waktu belajar. Ajaklah anak untuk belajar 30 menit penuh, lalu istirahat 10 menit, dan belajar lagi. Sesudah ia berhasil, waktu belajar diperpanjang menjadi 3/4 jam, dan diteruskan sampai ia berhasil belajar selama 1,5 jam dengan konsentrasi penuh. Anak SMA dapat membuat Pekerjaan Rumah dan belajar selama 1,5 jam dengan waktu istirahat 15 menit, lalu belajar lagi. Anak SD waktu belajarnya lebih pendek. Pada permulaan belajar disiplin, orang tua perlu mendampingi anak supaya anak tidak meninggalkan buku pelajarannya. Setelah anak dapat ditinggal, maka secara berangsur orang tua dapat meninggalkan dan memercayakan anaknya belajar sendiri.

2. Sikap menghormati kepentingan dan harga diri orang lain.

Sikap ini harus dipupuk sejak kecil. Anak perlu dibimbing untuk belajar bersabar dan tidak selalu mengatakan saja apa yang diinginkan. Anak perlu belajar memahami perasaan orang lain. Anak-anak cenderung sangat terbuka dalam mengkritik atau memberikan komentar mengenai apa yang dilihatnya. Misalnya, seorang anak melihat seorang yang berjalan timpang, langsung bertanya: Mengapa orang itu jalannya aneh? Orang yang bersangkutan bisa merasa sedih atau mungkin tersinggung. Anak itu sebaiknya dibimbing supaya dalam spontanitasnya, ia tetap mempertimbangkan perasaan dan harga diri orang lain.

3. Cara-cara mengatasi kesulitan dirinya.

Membantu mengatasi kesulitan tidak selalu mudah. Bagi anak yang masih kecil, pada umumnya pihak yang memberi bantuan lebih banyak mengarahkan. Pada kesulitan yang mudah atau ringan, yang memerlukan perubahan kebiasaan, diperlukan pengawasan. Contoh: anak kecil yang sulit bangun pagi dan selalu terlambat tiba di sekolah. Biasakan anak untuk bangun pagi dan mandi, beberapa minggu kemudian anak akan terbiasa bangun pagi dan tidak terlambat ke sekolah. Tentunya, perlu diperhitungkan waktu tidur yang cukup (tidak terlalu malam), waktu sarapan, dan lamanya perjalanan ke sekolah termasuk kemacetan-kemacetan di jalan.

Bagi anak yang lebih besar, bantuan dalam mengatasi persoalan memerlukan prosedur yang lebih mendalam. Setiap persoalan harus dicari sumber penyebabnya. Pada anak SD, biasanya orang tua, pendidik, dan pembimbing masih harus menunjukkan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan anak tersebut. Bantuan bagi anak remaja di SMP lebih banyak diarahkan untuk memberikan kebebasan dalam hal memilih usaha atau cara pemecahan. Sedangkan pada anak remaja di SMA, persoalan dan latar belakang sumber persoalan perlu dicari bersama. Dalam hal menyelesaikan persoalan, anak bisa mencari jalan sendiri jika anak cukup pintar. Jika kurang berhasil, maka pembimbing harus lebih aktif dalam menunjukkan cara penyelesaiannya.

4. Pemahaman tentang kesulitan sekolah.

Sering kali, anak tidak memahami kesulitan yang dialaminya di sekolah. Kadang masalah pergaulan membuat suasana belajar di sekolah mencekamnya. Ia ingin bergaul, tetapi tidak dapat bergaul. Karena tidak ada teman, ia pun merasa kesepian dan hal ini kurang menguntungkan bagi dirinya untuk belajar. Jika ia lebih terbuka, dapat mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya, maka ia akan terangsang untuk belajar dan berlomba-lomba dengan teman-teman untuk memperoleh hasil yang baik. Di samping itu, persoalan di dalam keluarga juga sering menyebabkan anak tidak dapat belajar dan mengalami kesulitan di sekolah. Dengan memahami sumber kesulitan tersebut dan membuang sumber penyebabnya, maka kesulitan dapat diatasi.

5. Penyelesaian kesulitan dalam hal belajar.

Untuk membantu menyelesaikan kesulitan belajar, diperlukan data lebih banyak tentang prestasi anak di sekolah. Misalnya, mata pelajaran apa yang sulit dipelajari oleh anak. Apakah kesulitan belajar disebabkan oleh keadaan lingkungan atau faktor-faktor lain, seperti:

  1. kurang berusaha untuk berkonsentrasi terhadap pelajaran-pelajaran yang dihadapi,
  2. kurang melatih diri dalam menjawab atau menyelesaikan soal-soal,
  3. kurang banyak mengulang dan menghafal bahan pelajaran,
  4. terlalu banyak kegiatan lain yang mendesak kegiatan belajar,
  5. kurang dapat mengerti penjelasan/uraian yang diberikan oleh guru,
  6. kurang cermat dalam menangkap apa yang diterangkan secara klasikal,
  7. kurang tinggi kemampuan inteleknya sehingga terhambat dalam belajar,
  8. kurang dapat membagi waktu belajar dan waktu bersantai.

Untuk faktor "kurang" pada pihak anak, tentunya masih ada kemungkinan untuk memperbaiki "kekurangan" tersebut dengan mengaturnya lebih tepat, disesuaikan dengan keperluannya dan sifat pelajarannya. Misalnya Matematika yang memerlukan ketelitian melalui latihan. Dengan banyak latihan mengerjakan soal-soal yang sama cara pemecahannya, sedikit demi sedikit akan tumbuh pengertian-pengertian dan pemahaman-pemahaman. Untuk kekurangan kemampuan intelek memang tidak mudah menambah atau menyempurnakannya, tergantung berat-ringannya kekurangan kemampuan tersebut; semakin ringan kekurangan kemampuan intelek, semakin mudah mengusahakan pemberian bantuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar.

6. Pengarahan dalam mengatasi masalah dalam hal melanjutkan sekolah.

Masalah ini biasanya dialami pada akhir SD, akhir SMP, pertengahan kelas I SMA, dan akhir SMA. Tidak setiap anak dapat melanjutkan pendidikan ke SMP atau SMA. Faktor biaya dan ketidakmampuan anak mengikuti pelajaran terkadang membuat anak harus putus sekolah. Dalam hal ini, orang tua atau pendidik perlu memikirkan langkah yang paling baik bagi anaknya. Pada pertengahan SMA kelas I, anak harus memilih jurusan Bahasa, IPS, atau IPA. Untuk menentukan pilihan, perlu mempertimbangkan kemampuan anak dan faktor-faktor lain. Jangan sampai memilih jurusan karena pengaruh teman-teman akrabnya, karena salah memilih jurusan sering mengakibatkan kegagalan pada pendidikan selanjutnya. Menjelang akhir pendidikan di SMA, anak kembali menghadapi pilihan yang rumit. Jurusan apa yang harus dipilihnya? Apakah lebih baik mengambil pendidikan yang singkat, supaya cepat selesai, lalu bekerja dan membantu orang tua, atau meneruskan ke perguruan tinggi seperti anak lainnya.

7. Persiapan bidang kerja yang tepat untuk kemudian hari.

Untuk persiapan memilih bidang kerja, perlu mempertimbangkan berapa lama kesanggupan belajar, kemampuan belajar, dan keterampilan yang perlu dimiliki untuk pekerjaannya kelak. Pertimbangkan juga kesediaan orang tua, yang masih harus membiayai sampai tingkat pendidikan tertentu. Apakah memungkinkan untuk sekolah sambil bekerja untuk meringankan beban biaya orang tua.

Dalam membimbing anak, bimbingan berperan untuk:

  1. Membantu anak menemukan cara-cara mengatasi persoalan, yang mungkin akan menjurus ke penyimpangan perkembangan mental, tekanan jiwa, atau timbulnya kelainan/gangguan jiwa.

  2. Memelihara anak sebagai pribadi yang sudah mencapai perkembangan, baik keseimbangan emosi maupun keserasian kepribadian, agar berkepribadian kuat.

  3. Membantu penyesuaian diri anak, dengan cara membantu anak menghadapi, memahami dan memecahkan masalah untuk mencapai hasil yang optimal, baik dalam jenjang karier maupun dalam hubungan sosial.

  4. Memperbaiki/menyembuhkan bila terjadi penyimpangan/kesulitan yang sudah berakar, membantu mencari akar daripada penyimpangan kenakalan, gangguannya, supaya dapat disembuhkan dan tercapai taraf kehidupan normal.

Secara umum dapat kita simpulkan bahwa bimbingan sangat penting bagi perkembangan dan jalan kehidupan anak dalam mencapai masa depannya. Baik orang tua, guru, pembimbing (konselor), pembina dalam kepramukaan, atau siapa saja dapat memberikan bimbingan, asal dilakukan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.

Diringkas dari:

Judul buku : Psikologi untuk Membimbing
Judul asli bab : Bimbingan terhadap Anak
Penulis : Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa dan Dr. Singgih D. Gunarsa
Penerbit : PT. BPK Gunung Mulia
Halaman : 11 -- 21

Komentar